Simfoni Bunga Rumput 12

1
78

Icha, Liza, Tracy dan Angel tampak gelisah. Semua gelisah. Mereka duduk di dekat Kinanti dengan tubuh mematung, mulut terkunci. Ada banyak yang ingin mereka lakukan, namun tak tahu apa yang harus diejawantahkan. Meski baru sesaat, terutama di benak Liza, Tracy dan Angel, perjumpaan dengan Kinanti telah merangkai kesan mendalam. Icha, yang telah bertahun-tahun menjadi sohib terdekat, tak mampu menahan sedu sedan. Dia memegang tangan Kinanti erat-erat, terkadang menciuminya.

Clarissa sudah dibawa oleh beberapa panitia ke rumah pak Asep. Kabarnya, sore itu juga gadis itu akan dipulangkan ke Jakarta. Sedangkan Tika, ia berjalan mondar-mandir seraya menghela napas panjang berkali-kali, entah apa yang tengah dipikirkan. Tak jauh dari situ, Zaky menyimpan kecemasan diam-diam yang lebih dari yang lain. Tuhan, selamatkan Kinanti… batinnya, galau.

“Gimana, Har?” tanya Icha kepada Harinta, mahasiswi kedokteran sebuah PTN, anggota Korps Suka Rela PMI yang disewa panitia, yang barusan mencoba membuat napas buatan.

Harinta, mahasiswa semester akhir kampus calon dokter itu mengangkat bahu, tampak bingung. “Jika Kinanti tak juga sadar, sore ini juga dia harus dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat pertolongan dokter.”

“Apa? Jadi Kak Kinanti harus….” Angel tampak sangat gugup.

“Tenang! Jika kita gugup, segalanya akan menjadi lebih berantakan,” tukas Harinta, dingin.

“Ya Tuhan…,” Angel menyeka peluh yang mendadak mengucur dengan derasnya membasahi kening. Ajaib, karena hawa pegunungan sore itu justru sudah mulai mendingin.  “Ini semua gara-gara aku.”

“Clarissanya juga yang abnormal!” Tracy menatap Angel, dibalas dengan tatapan yang terasa janggal dari Angel. Mereka sudah beberapa minggu satu kelompok, tetapi kedekatan di antara mereka masih terasa aneh. Apalagi sebelumnya, masing-masing dari mereka memang sangat terkesan menjaga jarak. Angel menganggap Tracy yang jelita dan famous itu sebagai sosok Diva yang tak mungkin terjangkau… apalagi oleh orang yang sudah kehilangan masa depan seperti dirinya. Sedangkan Tracy selalu merasakan bahwa di sekitar Angel telah terbangun sebuah bentang kokoh yang tak seorang pun dapat memasukinya.

“Kamu tenang saja. Kamu nggak salah, kok….” hibur Tracy lagi, dan entah mengapa, Angel merasa sedikit tenang. Kini ia menatap sekujur tubuh Tracy yang basah kuyup.

“Kayaknya, kamu harus ganti baju, deh. Nanti masuk angin dan ikutan sakit, kan malah barabe! Aku buatin minuman hangat, ya?”

Tracy ternganga sesaat. Baru kali ini ia mendengar suara yang keluar dari bibir itu tidak lagi ketus. Ia tersenyum sesaat. Sangat manis.

Thanks, ya… sudah diingatkan. Gue tadi sempat lupa kalau baju gue basah.” Lantas ia pun bangkit, melenggang tenang menuju ke tenda, diikuti oleh pandangan Tika yang lagi-lagi terpancar begitu aneh. Setiap gerak-gerik Tracy memang seakan-akan tak pernah lepas dari pengamatan gadis itu.

“Gimana, Har?” tanya Icha lagi dengan gugup. Saking gugupnya, ia tak sempat  merasakan perkembangan yang cukup berarti itu  di kelompok trouble maker binaan Kinanti, yakni kedekatan yang mulai terbangun antara Tracy dan Angel.

“Kayaknya, Kinanti memang harus dibawa ke rumah sakit terdekat. Tolong minta panitia menyediakan mobil.”

“Ya!” Icha bangkit. “Zak… mobil! Kin harus dibawa ke rumah sakit.”

“R…rumah sakit?” wajah Zaky pucat pasi. “Kinanti kenapa? Apakah kondisinya parah?”

“Iyalah! Harinta minta dia dibawa ke rumah sakit. Ayo, siapin mobil segera, panitia ada kan?”

“Adanya bus, tapi kan baru besok datang. Eh, Andra… Andra bawa mobil. Tapi ….”

“Tapi apa?”

“Gue sungkan … eh, nggak, gue mau pinjamkan. Tunggu sekitar lima menit! Gue cari Andra dulu ya.”

“Aku ikut ke rumah sakit!” ujar Angel. “Harus ikut!”

“Sepertinya tidak perlu,” tukas Zaky.

Wajah Angel memerah. “Kau tidak punya hak melarang aku!”

“Sudahlah…,” lerai Icha cepat. “Biarkan Angel ikut!”

“Aku juga ikut!” ujar Tika tiba-tiba.

“Aku juga…!” teriak Tracy yang muncul mendadak dengan pakaian keringnya. “Aku harus ikut!”

“Aku… ikut!” ujar Liza, lemah.

Zaky angkat bahu. “Gimana, Icha? Mobil Andra kecil, gak cukup bawa semua orang ini.”

“Muat kok kayaknya, biarkan mereka ikut, Zak. Mereka mau support Kinanti, kok.” Ujar Icha.

“Baiklah ….”

* * *

Rumah sakit terdekat adalah sebuah rumah sakit swasta di Cianjur. Begitu memasuki ruang IGD, Kinanti langsung ditangani oleh tim dokter yang terlihat sangat kompak. Setelah sadar dan kondisi mulai membaik, beberapa jam kemudian, Kinanti pun sudah pindah ke bangsal, menempati sebuah ruang yang cukup asri. Kelas VIP, Zaky yang memesan khusus untuk ditempati gadis yang diam-diam ia cintai itu.

“Wah… tersanjung banget nih… ada di tengah kerumunan orang-orang beken,” ujarnya, setengah berkelakar ketika mendapati sosok-sosok yang cukup membuatnya takjub berkerumun di ruang yang cukup nyaman itu. Ada Tracy, Liza, Angel, Tika, Icha dan Zaky yang sesekali nongol di balik pintu dengan wajah khawatir.

“Alhamdulillah, kata dokter kondisimu sudah mulai membaik, Kin…,” desah Icha, lega. “Aku sudah tidak lagi sport jantung, nich! Diam-diam, kamu kan sohib terdekatku. Bila kau mati… kujuga mati….” Kalimat yang terakhir Icha lantunkan dengan gaya mirip Naif, grup penyanyi beraliran klasik itu.

“Jieee… yang sohib dekat,” goda Zaky. Sepasang matanya jelas menyiratkan ucapan yang tak sempat terlontar. Gue juga mau, jadi sohib terdekatmu. Bahkan lebih dari seorang sahabat.

“Sebenarnya, apa sih yang terjadi sama aku? Kok… jadinya banyak orang direpotkan, nich! Aku ada di rumah sakit, ya?”

“Iyalah, Kak!” kata Tracy seraya tersenyum manis. “Masak di pasar.”

“Tracy ini tadi yang menolong kamu, Kin,” kata Icha. “Aksinya heroik banget. Bayangin coba, ia bertempur  melawan Clarissa yang sedang mencoba menenggelamkan kamu.”

“Iya, jago renang dia!” celetuk Zaky. “Gue aja mungkin kalah!”

“Setahuku, kamu memang nggak bisa renang, Zak!” goda Gagah yang rupanya juga ada di antara mereka. “Jangankan renang, lihat air saja kamu udah ketakutan. Ya, nggak? Ngaku nggak?”

“Yeee… enak aja kamu!” gerutu Zaky. Lagi-lagi pandangan matanya mengucapkan kata-kata yang juga tak ia keluarkan. Kalau mau matiin pasaran gue, jangan gitu dong caranya. Tengsin, euy!

“Lho, kok kalian ada di sini semua? Kalian kan panitia. Yang ngurusin Pomaru siapa?” tanya Kinanti.

“Tenang! Panitia banyak, kok! Lagian, nanti aku dan Zaky bakal balik ke perkemahan. Biar cewek-cewek saja yang nemenin kamu. Hitung-hitung, kelompok kamu kemahnya pindah di sini,” gurau Gagah lagi.

“Hei, aku tetap di sini aja!” ujar Zaky, cepat. “Masak yang jaga cewek semua. Ntar kalau ada apa-apa gimana?”

“Cewek aja sudah cukup!” tegas Gagah. “Kamu lebih dibutuhkan di tenda. Besok aja pagi-pagi kita kesini lagi buat ngecek kondisi Kin. Besok kan kita pulang ke Jakarta.”

“Nggak deh, aku tetap di sini. Panitia banyak. Di sini cewek semua, gue harus menjaga mereka,” Zaki ngotot.

“Nggak bisa, Zak!” Gagah tak kalah ngotot. “Ini panitia juga banyak yang sakit. Cuaca sedang kurang bagus. Mereka kelelahan.”

Zaky tampak kecewa. Namun diam saja. Icha yang usil-lah yang kemudian mengkonsumsi peristiwa itu untuk menggoda Zaky.

“Diih… yang kecewa!” ujarnya, cekikikan.

“Huzzy!” bentak Zaky kemudian, malu.

“O, ya… thanks ya Tracy! Kamu ternyata baik banget…, nggak nyangka deh,” kata Kinanti, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. Barabe kalau gosip bahwa Zaky naksir dia itu terendus para mahasiswa baru. Kin tentu tahu sekali bahwa Zaky suka padanya. Meski tak terucap, beberapa kali dia memberi isyarat. “Aku pasti akan selalu ingat peristiwa ini.”

Teteh jangan bilang begitu, dong! Selama ini Teteh sudah sangat baik pada kami, masak untuk hal seperti itu saja, kami nggak coba nolongin!” ujar Tracy.

Sekilas Kin melihat Tika melirik gadis itu dengan tatapan aneh. Sejak tadi, Tika memang lebih memilih mengunci mulut. Ia duduk di  bangku kayu kosong samping tempat tidur Kin dengan tangan menopang dagu. Sedangkan Liza, ia tak henti-hentinya memijit-mijit telapak kaki Kin yang masih terasa sangat dingin.

“Sebenarnya, akulah biang dari semua permasalahan ini…,” desah Angel, tampak menyesal. “Coba jika aku nggak bikin Clarissa marah….”

“Eh, gimana kabar Remo? Katanya kamu mau izin pulang tadi,” potong Kin.

“Tadi aku  barusan telepon… Ibu sudah membawanya ke dokter, cuma flu biasa. Jadi, aku tak perlu pulang sekarang. Kalau diizinkan, aku akan menemani Kakak malam ini,” ucap Angel, lirih. “Bareng sama teman-teman yang lain. Boleh kan, Kak?”

Dada Kin mendadak terasa sesak. Pelan ia raih tangan Angel, ia genggam erat. Mata Angel tampak berkaca-kaca. Ia balas genggaman itu, tak kalah erat.

“Aku berdoa, semoga Allah menjadikan Kakak sebagai kakakku yang sebenarnya…,” desisnya, serak. “Selain ibu dan Remo, aku memang nggak punya siapa-siapa di dunia ini. Bahkan sekadar teman pun aku nggak punya. Maukah… kakak jadi temanku? Jadi saudaraku?”

“Angel…, kami semua adalah teman kamu, saudara kamu?” ujar Icha sambil merangkul tubuh Angel.

“Aku… aku nggak tahu lagi harus ngomong apa…,” ucap Angel, serak. “Aku… yang jelas… aku bahagia banget saat ini!”

Tracy memalingkan muka, menyembunyikan sepasang matanya yang juga berkaca-kaca. Ketika berkelana sesaat, tatapannya sejenak bertemua bertemu dengan pandangan Tika, dan ia terpana. Hei, mata Tika juga berkaca-kaca.

“Kok jadi kayak adegan film India?” Icha memecah suasana dengan tawa riangnya. “Eh… pada ngerasa lapar, nggak sih? Yuk, temani aku cari makan di luar! Siapa bersedia jadi pengawalku?”

“Aku!” ujar Angel dan Tracy, serentak. Sedangkan Tika dan Liza tetap diam di tempat.

“Oke, kita pergi dulu, ya! Zak, Gah … Lo mau pada ikutan makan kan?”

“Ya, kecuali kalau kalian tega ngelihat kami kelaparan di sini,” ujar Zaky seraya nyengir memelas.

* * *

“Anda yang bernama Kinanti?” tanya lelaki setengah baya berwajah tampan itu ketika memasuki ruang tempat Kin dirawat. Sekilas Kin tahu, siapa lelaki itu. Dr. Ir. H. KGPH. Wisnu Darmadi Suryaputera, M.Sc, ketua yayasan yang membawahi kampus mereka sekaligus seorang dirjen dan mantan menteri di sebuah departemen basah negeri ini. Sosok tampan dan halus berwajah kebapakan itu sungguh berbeda dengan puterinya yang liar dan judes, Clarissa.

Tetapi, buat apa beliau berada di tempat ini segala?

BERSAMBUNG KE BAGIAN TIGA BELAS

CATATAN PENULIS:

Novel “Simfoni Bunga Rumput” ditulis pada tahun 2005 dan pernah terbit sebagai buku di FBA Press. Penayangan di website ini setelah melewati proses rewrite dengan penambahan bab-bab baru. Karena ditulis tahun 2005, setting novel ini tentu sangat berbeda dengan Jakarta saat ini. Ingin baca novel ini secara lengkap? Silakan klik NOVEL SIMFONI BUNGA RUMPUT.


1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here