Tugas Pertama Habibi

0
1

Entah sudah berapa kali siang ini Habibi menggesek layar ponselnya. Siklus inilah yang terus dilakukannya: mengetik PIN untuk membuka kuncian layar ponselnya yang tak menampilkan notifikasi apa pun, kembali menyimpan ponselnya di saku celana, lalu memandang ke luar jendela kantor.

“Kenapa, Bib? Kok kamu kelihatan muram begitu? Nungguin chat dari tunanganmu?” tiba-tiba komandan regunya yang entah kapan menghampirinya, menepuk pundaknya.
“Ah, enggak, Ndan.” Habibi menyahut sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. “Cuma ini, Ndan. Sepi! Gabut!”

Pak Herman, komandannya itu, tertawa terbahak-bahak mendengar kalimat anak buahnya yang baru dua pekan resmi menjadi anggotanya. Ia turut memandang ke luar jendela kantor, seakan mengingat masa lalu. “Begitulah, Bib. Yah… gimana ya? Pekerjaan kita ini ‘kan, sebenarnya menanggulangi bencana. Kalau nggak ada bencana, bukankah kita harusnya senang? Tapi kalau nggak ada bencana atau panggilan, ya begini lah…. Masa’ sih, kita menunggu-nunggu bencana? Nggak elok, ‘kan?”

Pak Herman mengerti perasaan anak buahnya yang masih muda itu, karena ia pun dulu pernah merasakannya ketika baru menjadi anggota pemadam kebakaran. Ketika tidak ada panggilan atau pun bencana, maka kesibukan regunya adalah berlatih, mengadakan penyuluhan, maupun bekerja sama dengan lembaga pendidikan dalam rangka student visit.

Selama dua pekan ini memang belum ada satu pun proposal student visit maupun penyuluhan yang masuk, sehingga kegiatan sehari-hari mereka terbatas dalam berlatih.
Habibi merenungkan kalimat komandannya itu. Pak Herman ditunjuk sebagai komandan bukan tanpa alasan. Habibi pun malu dan menyesal telah mengatakan hal-hal tersebut di depan komandannya.

“Siap, salah, komandan…” katanya sambil menundukkan kepalanya.
Pria paruh baya itu tersenyum mendengarnya. “Lho, enggak salah, Bib… Cuma, kamu kan baru dua pekan di sini. Tenanglah… Nanti akan ada waktunya kamu turun bertugas dan merasa bersyukur setelahnya. Saya tahu, kamu cuma sangat bersemangat saja setelah dilantik. Hahahaha.”
***

“Bib! Gue pulang dulu, ya!”
Habibi menengok ke arah suara. Salman dan yang lainnya sudah akan pulang. “Yo!” sahutnya.

Malam ini, Habibi dan tujuh rekannya yang lain bertugas jaga malam. Tugas pemadam kebakaran itu tak kenal waktu, maka harus ada petugas yang berjaga setiap malam. Sehingga jika ada keadaan darurat tengah malam maupun dini hari, dapat ditindaklanjuti segera.

Pukul 23.15, tiba-tiba telepon kantor berdering. Habibi segera mengangkatnya pada dering kedua.
“Ya, dengan pemadam kebakaran sektor A. Ada yang bisa kami bantu?” dada Habibi bergedup dengan kencang, mengantisipasi tugas apa yang akan ia terima mendekati tengah malam seperti ini.
“…”
“Halo?”
“Om… Ada api… Di dapur… Kandang Cilo ada di dapur… Kasian Cilo kepanasan…” suara anak perempuan yang bergetar terdengar oleh Habibi.
“Adik siapa namanya?” Habibi bertanya hati-hati. Saat ini teman regunya telah bersiap-siap memakai baju anti api. Mereka ikut mendengarkan telepon yang masuk melalui pengeras suara.
“Bilqis…” jawab anak perempuan itu.
“Oke, Bilqis. Mama Papa ada di mana?”
“Mama udah meninggal. Papa lagi pergi beli air…”
“Oke, sekarang Om mau kamu tunggu Papa di dekat pintu depan rumah, ya. Jangan kemana-mana. Kamu bisa sebut alamat kamu?”
“Jalan Damai No. 15.”

Habibi bersyukur karena alamat itu hanya memerlukan waktu tempuh 5 menit.
“Oke. Sekarang Om ke sana, ya. Kamu tunggu Papa kamu pulang. Tunggu di dekat pintu rumah, ya. Jangan ke belakang.”
Sesaat kemudian sebuah mobil pemadam kebakaran berisi empat orang termasuk Habibi, berangkat menuju alamat yang disebutkan. Tak urung hati Habibi berderap seperti rombongan kuda liar. Ini adalah misinya yang pertama, dan pikiran mengenai seorang anak perempuan sendirian di rumah yang mengalami kebakaran membuatnya sedikit bergidik.

Sambil terus berdoa dan berdzikir, Habibi sibuk memakai baju anti apinya.
Dalam waktu enam menit, mobil pemadam kebakaran telah sampai di rumah yang dimaksud. Rumah itu adalah rumah dua lantai yang cukup bagus, namun tanpa pagar. Salah satu rekan Habibi segera mengecek pintu belakang, dengan asumsi pintu itu mengarah ke dapur. Benar saja, kobaran api telah melahap sebuah teko air di atas kompor dan sedang menjalar ke kusen jendela.

Sementara tiga rekannya memadamkan api di dapur, Habibi mengetuk pintu depan seraya memanggil nama anak yang menelepon tadi. “Bilqis! Bilqis! Ini Om yang tadi di telepon!”
“Ya, Om! Bilqis di depan pintu.” sahutnya, membuat Habibi lega.

Hanya dalam waktu sekejap, api berhasil dipadamkan. Cilo, yang disebut oleh Bilqis, ternyata adalah kucing peliharannya yang kandangnya berada di dapur. Habibi melongokkan kepalanya ke dalam kandang Cilo yang cukup besar. Terlihat kucing berbulu abu-abu putih itu mendekam di sudut kandang. Untunglah kandang itu cukup kokoh dan terletak di sisi lain dapur, sehingga tidak terlahap api. Ia mengulurkan tangannya untuk menggendong Cilo, memberikannya pada Bilqis yang ada di pintu depan.

Sementara semua itu terjadi, ternyata keributan di rumah tersebut telah memancing perhatian warga sekitar. Ayah Bilqis datang dengan membawa dua buah galon berisi air mineral. Rupanya benar, ia baru saja membeli air.
“Ada apa ini, Mas?!” ia bertanya dengan bingung dan panik. Banyak warga berkumpul di sekitar rumahnya dan ada empat orang pemadam kebakaran. Tentu saja ia panik!

Sebelum satu orang pun sempat menjawabnya, ia langsung menghambur memeluk anaknya yang sedang menggendong kucing peliharaannya. Pria berusia tiga puluh tahunan itu mengusap wajah Bilqis dan memeriksa keadaan seluruh tubuhnya. Lalu ia menengok kembali pada Habibi dan mengulang pertanyaan yang sama.
“Ada apa ini, Mas?”
Kali ini intonasi sudah lebih tenang.

Secara singkat, Habibi menjelaskan apa yang terjadi di rumah Pak Umar, ayah Bilqis. Pak Umar menangis sambil menyesali keteledorannya yang membahayakan nyawa anaknya. Beruntung ia tak melepas catatan nomor darurat yang ditulis almarhumah istrinya di dekat pintu kamar. Ia pun berjanji akan lebih berhati-hati dan tidak lagi meninggalkan kompor dengan api menyala.

Beberapa saat kemudian, keadaan berangsur tenang. Tetangga sekitar rumah Pak Umar membantu Pak Umar membereskan bekas kebakaran di dapurnya.
Pukul 00.17, regu pemadam kebakaran sektor A kembali menuju markas dengan hati yang lega.
***

Habibi melepas kedua bluetooth earphone-nya sambil mengumpulkan nafas. Ia baru saja menyelesaikan rute lari paginya. Lari pagi selepas subuh adalah rutinitasnya. Berlari membuatnya berhenti memikirkan hal-hal yang tidak menyenangkan, sekaligus membuatnya merenungkan berbagai hal.

Kali ini, ia tidak bisa tidak mengingat kembali tugas pertamanya di rumah Pak Umar, tiga hari yang lalu. Tugas pertama itu begitu berkesan, karena untuk pertama kalinya ia merasa berguna sebagai seorang pemadam kebakaran. Ia dan teman-temannya menyelamatkan seorang anak perempuan berusia sebelas tahun bernama Bilqis, yang meminta mereka menyelamatkan kucingnya.

Ia bukannya bersyukur bahwa kebakaran itu terjadi, namun ia bersyukur karena mereka dapat menyelamatkan setidaknya dua nyawa malam itu.
“Ah… ternyata rasa syukur seperti ini ya, yang dimaksud oleh Pak Herman.” Ia bergumam sambil memutar kunci pintu kosnya.

“Assalamualaikum, Ibu… Iya, Habibi baru mau siap-siap. Ini mau mandi dulu habis itu cari sarapan. Iya… Alhamdulillah, Bu, hehehe… Iya dong, selalu semangat dan bersyukur kok…” sayup-sayup terdengar dari luar pintu kosnya, Habibi yang sedang menelepon ibunya di kampung halaman.

Tidak semua orang mendapatkan kehormatan untuk membantu mereka yang sedang dalam keadaan darurat. Meskipun tugas-tugas pemadam kebakaran seperti menyemprot sarang tawon dan menolong kucing di atas pohon terdengar sepele untuk orang lain, namun tidak untuk Habibi dan rekan-rekannya. Mereka mengerti betapa berharganya keselamatan. Karena itulah, Habibi berjanji akan selalu mensyukuri setiap detik yang ia habiskan sebagai seorang pemadam kebakaran.
***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here