Suara Hati Mbok Nartih

0
51

Mbok Nartih duduk bersila di atas tikar pandan di halaman rumah. Tangannya sibuk menyiangi daun bayam yang akan ia masak menjadi sayur bening untuk makan siang. Di depan rumah, pohon mangga berayun pelan terkena hembusan angin. Namun tidak ada ketenangan yang bisa dirasakan Mbok Nartih. Pikirannya melayang jauh, memikirkan suaminya, Slamet, yang kini resmi menjadi anggota dewan. Padahal dulunya, suaminya adalah salah satu tukang kayu terbaik di kota mereka.

Keberhasilan Slamet bukanlah sesuatu yang membanggakan bagi Mbok Nartih. Sejak suaminya memutuskan untuk terjun ke dunia politik, kehidupan mereka berubah. Rumah yang dulunya sederhana kini jauh lebih besar. Baju-baju lusuh suaminya yang dulu selalu dipenuhi serbuk kayu, kini digantikan dengan pakaian rapi; kemeja batik halus, kain jarik yang dililit rapi, dan sesekali jas hitam yang membuatnya tampak lebih berwibawa di mata orang-orang desa. Namun, bagi Mbok Nartih, dia lebih merindukan suaminya yang dulu.

Hari itu, suaminya baru pulang dari kantor dewan. Dia mengenakan setelan batik lurik hitam coklat dengan blangkon rapi menghiasi kepalanya. Sepatu kulitnya mengkilap, sebuah pemandangan yang masih saja terasa asing bagi Mbok Nartih. Slamet yang dia kenal dulu adalah pria yang pulang dengan kaki berdebu setelah seharian mengukur kayu dan mengetam papan.

“Nartih, kopi sithik, yo!” Suara Slamet terdengar riang. Di luar, anak-anak kampung menyambutnya dengan sorak-sorai, seakan ia adalah pahlawan baru di desa itu. Di dalam rumah, Mbok Nartih berjalan ke dapur dengan langkah pelan. Tangannya sibuk mengangkat cerek air panas dari anglo, menyiapkan secangkir kopi hitam, seperti biasa.

Namun, hati Mbok Nartih tidak lagi tenang. Sejak suaminya memutuskan untuk maju sebagai calon anggota dewan, semua terasa salah baginya. Mbok Nartih tahu bahwa suaminya bukanlah orang yang berpendidikan, apalagi berpengalaman dalam urusan politik. Tapi entah bagaimana caranya, suaminya berhasil terpilih sebagai anggota dewan. Sering dia mendengar desas-desus bahwa suaminya itu memalsukan ijazah dan menyogok beberapa orang penting agar bisa maju dan terpilih. Kini, setiap kali suaminya berbicara tentang masa depan mereka yang lebih baik, Mbok Nartih hanya bisa tersenyum getir, menahan rasa sakit yang terus menggerogoti hatinya.

Suaminya sedang duduk di ruang tamu, menikmati kopi yang baru saja disuguhkan, Mbok Nartih memandangnya dari balik pintu dapur. “Mas, sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Aku tidak bisa diam saja,” ucap Mbok Nartih akhirnya, memberanikan diri untuk membuka topik yang selama ini selalu ia pendam.

Suaminya yang awalnya tampak santai, mengangkat wajahnya. “Kenapa, Nartih? Aku nggak ngerti maksudmu,” jawabnya dengan nada datar.

“Kamu betul nggak ngerti? Mas, aku tahu semuanya. Aku tahu bagaimana caramu jadi anggota dewan. Aku tahu ijazahmu palsu. Ini nggak benar, Mas,” suara Mbok Nartih mulai bergetar. Dia tidak mampu lagi menahan beban di hatinya. Selama ini, dia diam karena takut memperkeruh keadaan, tapi sekarang dia tidak bisa lagi berdiam diri.

Suaminya tersenyum tipis sambil menyesap kopinya dengan pelan. “Sudah aku bilang, Nartih. Ini urusanku, nggak usah kamu pikirkan. Lagian, mana buktinya kalau aku memalsukan ijazahku dan menyogok? Sebagai istriku, seharusnya kamu jangan terlalu mendengarkan desas-desus yang berupaya memojokkanku. Dunia politik itu memang kotor, Nartih!”

Mbok Nartih mendekat, duduk di lantai dengan tangan diletakkan di atas lutut. “Aku ini istrimu. Aku nggak butuh apa-apa, aku cuma pengen hidup tenang. Kalau kamu terus seperti ini, bagaimana anak-anak kita?”

Suaminya terlihat mulai merasa tidak nyaman. Dia merapikan blangkon di kepalanya sebelum kembali menatap istrinya. “Hidup itu perjuangan, Nartih. Kalau aku nggak cerdik, kita akan tetap miskin, melarat. Aku nggak mau anak-anak hidup susah seperti aku dulu.”

“Tapi, Mas, ini salah,” ucap Mbok Nartih lirih, air matanya mulai menetes. Dia merasa begitu kecil di hadapan ambisi suaminya, yang begitu besar hingga menutupi segalanya.

Suaminya tidak lagi menanggapi. Dia beranjak keluar rumah, diiringi suara riuh tetangga yang menyalaminya, memujinya sebagai “wakil rakyat” yang mereka banggakan. Sementara itu, Mbok Nartih masih terduduk di lantai, merenung. Dulu, ketika mereka masih hidup sederhana, suaminya adalah seorang pria yang jujur. Dia selalu bekerja keras di bengkel kayunya, membuat meja dan kursi yang dipesan orang-orang desa. Setiap serutan kayu yang jatuh ke lantai adalah hasil dari keringatnya sendiri. Kini, semuanya terasa palsu.

Pagi-pagi berikutnya, Mbok Nartih pergi ke pasar untuk membeli sayur. Di sana, dia disapa oleh beberapa tetangga yang mengenalinya. Mereka memuji keberhasilan suaminya, seolah-olah Mbok Nartih ikut serta dalam kebanggaan itu.

“Bu Slamet, saya mau tanya, nanti pas pilihan lurah, sebaiknya saya pilih siapa, ya?” tanya seorang ibu-ibu penjual tempe.

Mbok Nartih sedikit terkejut. Dia tidak pernah mengira akan ada orang yang meminta nasihat politik padanya. “Nggih, nyuwun sewu, kulo mboten ngertos nggih, Bu,” jawabnya pelan, berusaha menghindari pembicaraan lebih lanjut. Dia tahu dirinya tidak pantas memberikan nasihat apa pun.

Mbok Nartih kembali duduk termenung di beranda rumah, memandangi halaman yang kini tampak lebih terawat sejak suaminya menjadi anggota dewan. Rumputnya rapi, dan tanaman hias seperti anggrek serta kemuning ditata dengan apik.

Saat Mbok Nartih sedang hanyut dalam pikirannya, Parjo, anak sulungnya, muncul dari dalam rumah. Parjo kini jarang sekali menghabiskan waktu di rumah. Da lebih sering berkumpul dengan teman-temannya, mengikuti berbagai kegiatan politik ayahnya. Parjo, yang dulunya pemuda sederhana dengan semangat kerja keras, kini mulai berubah.

“Bu, aku mau pergi ke acara pertemuan di balai kota. Ada rapat penting,” katanya sambil merapikan jaket kulit hitam yang ia kenakan. Parjo kini lebih sering tampil gaya, mengenakan pakaian modern.

“Nak, kamu nggak capek terus-terusan ikut acara begini? Kenapa nggak fokus dulu cari kerja atau menyelesaikan kuliahmu, biar nanti punya ilmu yang bisa dipakai?” tanya Mbok Nartih dengan nada lembut.

Parjo hanya tersenyum kecil. “Bu, sekarang ini nggak semua hal bisa dicapai dengan sekolah tinggi. Lihat saja Bapak. Dengan pintar mengambil peluang, beliau bisa sampai jadi anggota dewan. Kita harus cerdik, Bu. Nggak bisa cuma mengandalkan buku,” jawabnya enteng.

Mbok Nartih terdiam mendengar jawaban anaknya. Pikirannya semakin penuh. Dia merasa usahanya untuk menanamkan nilai-nilai yang baik di keluarga ini perlahan-lahan hilang, tergantikan oleh ambisi dan keserakahan yang mulai merasuki setiap sudut kehidupan mereka.

Tidak lama kemudian, Teguh, anak bungsunya, keluar dari kamar dengan tampang lesu. Dia masih mengenakan sarung kotak-kotak dan kaos oblong yang lusuh. Berbeda dengan Parjo yang lebih aktif terlibat dalam kegiatan ayahnya, Teguh lebih senang bermalas-malasan di rumah. Meskipun begitu, Mbok Nartih bisa merasakan bahwa anak bungsunya itu pun mulai terpengaruh, dengan cara yang berbeda.

“Bu, aku nggak masuk kuliah hari ini.” Teguh menggumam sambil menguap lebar. “Ngapain capek-capek belajar kalau nanti nggak dipakai juga.”

“Kamu bilang apa, Nak?” Mbok Nartih menoleh tajam ke arah Teguh. Hatinya berdesir mendengar anak bungsunya yang mulai kehilangan semangat untuk belajar. “Sekolah itu penting, Teguh. Bapakmu dulu nggak punya kesempatan untuk sekolah, makanya sekarang ini beliau—”

“Justru karena Bapak nggak sekolah, tapi lihat sekarang, Bu. Bapak tetap sukses, malah lebih sukses dari orang-orang yang kuliah tinggi-tinggi,” potong Teguh dengan nada menantang. “Nggak semua hal di dunia ini perlu sekolah.”

Mbok Nartih terhenyak. Kalimat yang diucapkan Teguh serupa dengan apa yang sebelumnya dikatakan Parjo. Dalam hati, dia merasa semakin kehilangan kendali atas keluarganya. Dia tahu, anak-anaknya melihat apa yang terjadi pada Ayah mereka sebagai contoh sukses. Namun, nilai-nilai yang pernah dia ajarkan, tentang pentingnya kejujuran dan kerja keras, kini terasa seperti bayang-bayang usang di mata anak-anaknya.

“Nak, dengerkan Ibu baik-baik,” ucap Mbok Nartih. Suaranya bergetar, menahan perasaan yang semakin sesak di dadanya. “Apa yang kamu lihat dari Bapak sekarang ini, bukanlah hal yang bisa kamu jadikan contoh. Ibu tahu kalian bangga karena Bapak jadi anggota dewan, tapi kalian nggak tahu bagaimana caranya dia bisa sampai di sana. Bapakmu sudah mengambil jalan yang salah, dan Ibu nggak ingin kalian mengikuti jejak itu.”

Teguh menatap ibunya dengan ekspresi datar, seakan tak sepenuhnya mengerti maksud dari nasihat yang disampaikan. Dia hanya mengangkat bahunya dan masuk kembali ke dalam rumah, meninggalkan Ibunya dalam kebingungan dan kesedihan yang mendalam.

Setelah kedua anaknya pergi, Mbok Nartih merasa benar-benar sendirian. Bahkan rumah yang dulunya penuh dengan canda tawa dan kehangatan kini terasa dingin dan asing. Dia merasa kehilangan arah, kehilangan keluarganya, dan yang paling menyakitkan, dia merasa kehilangan dirinya sendiri.

Waktu pun berlalu. Mbok Nartih semakin jarang berbicara dengan suami dan kedua anaknya. Hubungan mereka yang dulunya dipenuhi oleh keakraban sederhana, kini tergantikan oleh keheningan yang menyesakkan. Suaminya semakin sibuk dengan urusan politik, sementara Mbok Nartih hanya bisa merenungi kehidupan yang perlahan-lahan berubah menjadi sesuatu yang tak pernah ia bayangkan.

Malam ini, Mbok Nartih kembali memberanikan diri untuk kembali berbicara dengan suaminya. Kali ini dengan harapan bisa mengembalikan sedikit kemesraan dalam hubungan mereka. Setelah kedua anaknya tidur, dia menghampiri suaminya yang sedang duduk di ruang tamu, masih mengenakan setelan rapi yang dia pakai setelah pulang dari rapat.

“Mas,” panggilnya pelan, duduk di sebelah suaminya. “Aku cuma ingin kita bicara, tanpa marah-marah. Aku cuma ingin tahu, apa kita masih bisa kembali seperti dulu?”

Slamet menatap istrinya dengan alis terangkat. “Apa maksudmu, Nartih?”

“Dulu, kita hidup sederhana, tapi aku merasa bahagia, Mas. Sekarang, aku nggak tahu apa yang sedang kita kejar. Aku nggak kenal lagi dengan kehidupan kita sekarang. Aku takut anak-anak kita akan tumbuh jadi orang yang salah karena mereka melihat ini sebagai contoh,” kata Mbok Nartih dengan lirih, menahan air mata yang hampir jatuh.

Suaminya menghela napas panjang. “Nartih, kita nggak bisa terus hidup seperti dulu. Dunia berubah, dan kita harus berubah juga. Aku cuma ingin yang terbaik untuk kalian, untuk keluarga kita. Nggak semua orang bisa mengerti apa yang aku lakukan, tapi aku tahu ini demi masa depan kita semua.”

“Apa masa depan yang kamu maksud harus dibangun dengan kebohongan?” balas Mbok Nartih, suaranya semakin pelan, nyaris berbisik. “Aku nggak peduli dengan kekayaan atau jabatan. Aku cuma ingin kita hidup dengan tenang, Mas.”

Slamet terdiam, menatap cangkir kopinya yang sudah kosong.

“Kamu nggak ngerti dunia yang aku hadapi, Nartih! Ini bukan cuma soal benar atau salah.” Jawaban suaminya terdengar pelan dan samar.

Mbok Nartih memejamkan matanya sejenak, merasakan keputusasaan yang semakin dalam. Tidak ada lagi yang bisa dia katakan. Suaminya telah memilih jalannya, dan dia tidak bisa mengubahnya. Meskipun begitu, di dalam hati kecilnya, Mbok Nartih tetap berharap bahwa suatu hari nanti, suaminya akan menyadari bahwa jalan yang dia pilih bukanlah jalan yang benar.
***

Keterangan:
“Nartih, kopi sithik, yo!”: “Nartih, tolong buatkan kopi sedikit, ya!”
“Nggih, nyuwun sewu, kulo mboten ngertos nggih, Bu,”: “Maaf, saya nggak tahu, Bu”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here