Simfoni Bunga Rumput 19

0
95

Sangat mendadak, Icha mengerem laju mobilnya. Kin terkejut. Jika saja tak sedang memakai seatbelt, pasti badannya bakal membentur dashboard dan menimbulkan efek yang cukup menyakitkan. Di belakang, Zaky juga hampir menabrak badan mobil Icha.

“Cha, Lo ngapain?!” teriak Zaky, sambil berlari menuju samping mobil Icha dengan masih memakai helm. “Hampir saja gue nabrak Elo tahu, nggak? Ini lalu lintas agak ramai, Lo segera menepi.”

“Okay, Zak!” Icha menyalakan mesin mobilnya lagi, lalu merapat ke tepi. Untung ada tempat yang cukup nyaman untuk parker mobil, tanpa harus menganggu lalu lintas jalan kecil yang membelah sebuah perumahan asri itu. “Kin, coba lihat di sana!”

Kin menatap ke arah yang ditunjukkan Icha. Sekitar beberapa puluh meter, tampak sebuah mobil SUV berhenti di tepi jalan, tepatnya di depan sebuah rumah bercat ab-abu alami. Jalan yang mereka lewati, adalah sebuah jalan di kawasan perumahan yang tak terlalu ramai untuk ukuran Jakarta. Mungkin karena kawasan tersebut termasuk kawasan elit yang dihuni oleh masyarakat kalangan atas. Hanya orang-orang berdompet tebal yang mampu membeli rumah di sana.

“Ada apa, sih?” Kin penasaran, karena belum juga mampu membaca pikiran Icha.

“Coba kamu cermati, siapa yang barusan turun dari SUV hitam itu!”

Kin memicingkan matanya.

“Cha, itu … Ayu, kan?” tanya Zaky yang sudah berada di samping mobil Icha.

Icha sontak membuka kaca jendela mobilnya. “Nah, benar kan, gue gak salah lihat. Itu Ayu!”

Seorang perempuan, turun dari mobil SUV tersebut, lalu membuka gerbang rumah bercat abu-abu di tepi jalan itu. Rumah megah, dua lantai. Di tangannya terjinjing beberapa tas belanja. Benarkah Ayu? Tetapi, mengapa begitu kontras dengan kejadian yang baru terjadi barusan? Mana rumah Ayu yang sebenarnya? Rumah kontrakan sempit di gang kumuh tadi, atau rumah megah harga milyaran rupiah itu?

“Siapa yang ada di mobil itu, ya? Yang bersama Ayu?” tanya Zaky, dia masih belum melepas helmnya. Mungkin sengaja, agar tidak dikenali beberapa orang yang ada di sekitar lokasi tersebut, khususnya Ayu.

“Gak terlalu jelas dari sini. Tapi, tampaknya masih ada orang lain di mobil itu, selain Ayu dan sopir mobil SUV itu,” bisik Icha.

“Benarkah itu Ayu?” Kin masih belum percaya.

“Gue 90% yakin, itu Ayu, Kin.”

“Tapi rumah itu …? Kok … aneh ya? Itu rumah siapa? Kenapa Ayu di situ?”

Perempuan mirip Ayu itu membuka gerbang, kemudian berbalik, melambaikan tangan ke arah mobil yang kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan mobil Icha. Baik Icha maupun Zaky cepat memalingkan muka, agar tidak tertangkap basah sedang mengamati mereka. Setelah mobil SUV hitam itu melaju, perempuan mirip Ayu itu masuk dan menutup gerbang besar yang membatasi pandangan orang luar terhadap halaman dan seluruh bagian rumah megah itu, kecuali bagian atas dan atapnya.

“Cha, Zak … aku tadi melihat sesuatu di mobil hitam yang barusan lewat itu,” kata Kinanthi.

“Apaan, Kin?”

“Stiker Unmaja.”

What? Lo yakin?” Zaky membuka kaca penutup helmnya. Sepasang matanya yang gemintang, terasa menganggu ketenteraman hati Kin. Pelan Kin menundukkan pandangan. Mengapa dia mulai merasakan sesuatu yang berbeda saat bersama pria muda itu? “Jadi, menurut Lo, mobil itu punya orang Unmaja?”

“Mungkin Ayu yang nempelin ke mobil itu,” tebak Icha.

“Nggak Cha, aku yakin banget … aku pernah melihat beberapa kali mobil itu terparkir di Unmaja,” ujar Kin lagi. “Cuma aku gak tahu itu mobil siapa.”

“Wah, teka-tekinya makin rumit. Sangat menarik untuk diungkap lebih lanjut. Tapi ini udah jam 5 lebih seperempat. Bentar lagi maghrib. Kita harus pulang,” kata Icha.

“Rumahku udah dekat dari sini, Cha. Mau gak shalat di tempatku aja? Di sana juga ada Liza. Dia udah beberapa hari nginep di rumahku. Aku khawatir dengan kondisi keamanannya. Kemarin …,” Kin tidak melanjutkan ucapannya.

“Kemarin kenapa? Ada apa lagi nih?” kejar Icha.

“Ntar aku ceritakan, deh. Tapi, sebaiknya, Liza kau ajak pergi dari rumahku deh, Cha. Mungkin rumahmu lebih aman. Mending gue yang ngalah tidur di rumahmu. Soalnya Mas Danu juga sedang pulang ke Wonogiri.”

“Lo kok ngomongnya tumben gak sistematis gitu? Tapi gak papa deh, terlalu banyak hal menegangkan yang terjadi akhir-akhir ini, ya? Kalau gitu, kita sholat di rumah Lo aja, terus ntar gue pick up Liza, sekaligus Lo. Dah lama kan, gue nawarin Lo nginep aja di rumah gue, apalagi saat Mas Danu gak ada. Tapi Lo selalu nolak.”

“Kalian ngobrol sendiri, gue dicuekin!” timpal Zaky, sambil nyengir.

“Gue mau mampir rumah Kin, Zak. Lo mau ikutan? Sholat di masjid dekat rumah Kin aja, ada masjid besar yang bagus dan ramai jamaahnya, lho. Kamu cowok sholeh kan, bukan sholehah?”

“Sialan, jelas dong gue sholeh dan macho seratus persen!”

“Iyeee, pendekar gitu deh,” Icha menjulurkan lidah.

Zaky terbahak. Saat tertawa, barisan giginya yang rapi bersinar bak deretan mutiara. Zaky memang tak terlalu tampan, tapi sangat menarik. Terlebih saat tertawa seperti itu. “Okay, gue ikutan ke rumah Lo, Kin. Boleh, kan?”

“Tapi rumah kontrakan gue sederhana banget, lho Zak, jangan kaget!” ujar Kin. Mendadak merasa gugup. Bagaimana kalau Zak melihat kontrakannya yang berada di gang sempit, dan tentu sangat jauh berbeda dibandingkan rumah megah orang tua Zak.

 Zaky tersenyum. “Justru kesederhanaan itu, yang paling menarik dari Elo!”

“Jiaaah, dilarang menggombal di senja kala, awaaas … banyak setan menggoda!” Icha terbahak.

Semburat hangat menghias wajah Kin. Ya Tuhan, perasaan apa ini?

“Tenang, yang digoda setan tuh kalau gue cuma berdua sama Kin, sebab jika ada dua orang laki-laki dan perempuan berduaan, yang ketiga adalah setan. Sekarang kita kan bertiga. Jadi…?”

“Sialan, Lo nuduh gue setan yaaa?” Icha kembali terbahak.

* * *

Liza menyambut kedatangan tiga kakak kelasnya itu dengan wajah bungah. Usai shalat maghrib, mereka kini duduk di ruang tamu yang tertata sangat rapi, meski bersahaja. Kin sendiri terbelalak, melihat ruangan tersebut menjadi jauh lebih indah dari biasanya. Sebuah pigura terpasang, berisi lukisan abstrak dari cat air yang sangat indah. Sebuah gordin baru menutup kaca, berwarna hijau tosca, sangat serasi dengan warna cat temboknya. Bantal kursi, telah berubah sarungnya. Siapa yang telah menyulap ruangan ini menjadi sedemian indah?

“Liz, kamu yang telah membuat ruangan ini seindah ini?”

Liza tersenyum. “Daripada gak ada kerjaan, Kak. Tadi kan Mpok Rini, tetangga samping Kak Kin mau belanja, trus nawarin aku ikutan. Nah, aku sekalian belanja beberapa peralatan ini.”

“Eh, tapi ini pasti mahal, lho. Aku ganti berapa?” Kin mengernyitkan kening.

“Gratis, Kak. Anggap saja pengganti uang aku indekost di sini.”

“Halah, kamu kan baru dua hari di sini.”

“Tapi, aku dah ngerepotin Kak Kin banget.”

“Serius nih, gak diganti duitnya?” Basa-basi tentunya. Rekening Kin memang sedang agak menggembung, tapi kan dia jarang-jarang punya duit agak banyak seperti sekarang ini. Belanja hal-hal seperti yang dilakukan Liza jelas bukan prioritasnya. Setahun dua tahun lagi, dia harus lulus kuliah, dan mungkin akan melanglang buana ke luar negeri. Butuh modal banyak!

“Seriuuuus ….” Liza menggelendot manja di pundak Kin.

“Trus, lukisan ini? Kamu yang buat juga?”

“Lo gak tahu, ya, Kin? Liza pernah beberapa kali menjadi juara lomba melukis tingkat provinsi, bahkan nasional, pas SD dan SMP dulu,” ujar Icha.

“Wah, keren banget, lukisan elo, Liz,” ujar Zaky. “Kenapa Lo gak kembangin bakat Lo ini biar makin profesional? Kayaknya Lo lebih pantes masuk jurusan seni daripada hukum, deh.”

“Sebenarnya aku dah memikirkan, Kak Zaky. Pas aku merenung, tampaknya aku memang gak cocok di hukum. Mungkin, kalau Papa setuju, besok aku mau ikutan tes masuk perguruan tinggi lagi, ambil jurusan yang cocok.”

“Ini, ITB juga pasti tembus, Lo, Liz,” puji Zaky. “Lo sangat berbakat.”

Suara dering HP Nokia Kin memutus percakapan. Terdengar di layar HP mungil itu, nomor Danu.

Assalamu’alaikum, haloo Mas …,” balas Kin. “Oh, Mas Danu pulang malam ini, pakai kereta, ya? Kok cepet? Oh … mendadak ada panggilan dari rektor? Ada rapat? Besok sampai subuh, ya? Tapi rencananya aku malam ini nginep di rumah Icha, Mas. Boleh, ya? Besok aku gak ada kuliah, pagi-pagi aku pulang deh. Oke Mas, siap! Fii amanillah, hati-hati di jalan.”

“Kok Lo gak sampaikan salam gue sama Mas Danu sih, Kin?” kata Icha, sambil mengedipkan mata sebelah.

“Emangnya kamu nitip?”

“Lo gak nanya. Harusnya otomatis, hehe ….”

“Cha, kamu serius naksir kakakku?”

“Emang gue pantes buat kakak Lo, Kin?”

“Ditanya malah nanya.”

“Gak pantes,” kata Zaky sambil menyeringai. “Lo kan rakyat jelata, Pak Danu pejabat. Bentar lagi kabarnya mau jadi Kaprodi lho.”

“Eh, kata siapa?” Kin mengerutkan kening.

“Lho, malah Lo adiknya gak tahu gosip yang lagi ramai di kampus?”

“Gosip apaan? Kok aku selalu kudet, sih.”

“Gosip bahwa kakakmu itu mau diangkat jadi kepala program studi ilmu hukum S1.”

“Serius, Zak? Mas Danu gak pernah cerita.” Itukah yang menyebabkan Mas Danu mendadak kembali ke Jakarta? “Memang akhir-akhir ini Mas Danu sangat sibuk sih, tapi sama sekali nggak pernah ngobrolin soal itu.”

“Mungkin Pak Danu mau kasih kejutan buat adik kesayangan,” kata Icha. “Ih, tapi bener ya, kalau Mas Danumu itu jadi pejabat, makin unreachable, hehe. Jadinya pungguk merindukan bulan dong ….”

“Kakak-kakak, apakah kalian sudah lapar?” tanya Liza tiba-tiba.

Kin dan Icha saling pandang. Mereka sampai lupa makan gara-gara kejadian dipalak preman di dekat Pejompongan tadi. “Eh, kalau lapar, biar aku pesankan ….”

“Aku masak kok, Kak. Cukuplah, kalau dimakan berempat,” kata Liza, sambil tersenyum lebar. “Dicoba yuk, dicicip.”

“Eh, lo masak apa, adekku?” tanya Icha, terbelalak.

“Ayam teriyaki sama cah brokoli.”

“Waaah, enak … tapi gak yakin kalau lo yang masak, Liz.” Icha masih tak percaya.

“Ayolah kalau gak percaya, buktikan aja. Makanan sudah aku siapin di meja makan.”

Baik Kin, Zaky, apalagi Icha, terkagum-kagum ketika menyaksikan meja makan Kin sudah tertata rapi. Taplaknya pun baru. Di atasnya ada hidangan masakan Liza, tampak begitu lezat menggoda.

Tanpa menunggu dipersilakan, Icha meraih piring dan menyendok cah brokoli, memasukkan ke mulut. “Wah, enak … Lu keren, Liz … kereeeen!”

“Kamu hebat, Liz!” puji Kinanti. Bahkan masakannya pun tidak selezat racikan pecandu narkoba yang sedang berusaha untuk sembuh itu.

Mereka pun tak sabar mengambil piring masing-masing. Tak sampai 10 menit, semua hidangan di meja makan telah licin tandas. Ternyata mereka sangat kelaparan.

* * *

Belasan lelaki bertubuh kekar dan rata-rata berambut gondrong itu tiba-tiba mendatangi rumah kontrakan Kin ketika gadis itu tak ada di rumah. Sesaat mereka berkerumun di depan pintu seraya mempelajari lokasi rumah itu dengan tatapan bengis. Kebetulan siang itu suasana begitu lengang. Anak-anak pergi sekolah, para lelaki sibuk bekerja, sementara ibu-ibu kebanyakan tengah memasak di dapur. Mereka pun bisa bergerak dengan leluasa.

“Hancurkan rumah ini!”

“Biar tahu rasa!”

Braaak!!

Braaak!!

Mereka mendobrak pintu dengan pipa besi dan golok yang mereka bawa. Pintu terbuat dari kayu itu pun jebol. Danu yang baru sampai tadi pagi dari kampung dan baru saja beristirahat, kaget bukan main. Ia segera meloncat dari tempat tidurnya dan berlarian turun ke bawah.

“Hei, siapa kalian?”

“Hajar lelaki itu!” teriak seorang dari preman itu.

Danu yang tak siap dengan serta merta menjadi bulan-bulanan mereka. Tendangan, hantaman, pukulan bertubi-tubi menghajarnya. Sementara yang lain merusak segenap isi ruangan. Memporak-porandakan segala yang ada. Membanting pesawat TV 14 inchi, menggunting-gunting kabel telepon, menginjak-injak buku, memecah piring dan gelas, menyobek gorden, menghancurkan komputer ….

Ketika Danu sudah tergeletak tak berdaya dengan tubuh babak belur, sementara ruangan sudah berantakan seperti kapal pecah, baru mereka puas dan menghentikan aksinya.

“Ini akibatnya kalau berani mengusik kami, tahu! Untung saja wanita brengsek itu tidak di rumah. Seorang teman kami masuk penjara gara-gara cewek bernama Kinanti! Kalau dia ada di sini, pasti dia sudah dibikin remuk, tahu!”

Danu meringis. “Ka … kalian ini … ada urusan apa sama adik saya?”

“Adikmu itu rese, tahu! Kalau dia berulah lagi, akan kami pecahkan batok kepalanya, tahu!”

“Jack! Go!” teriak seorang preman kepada lelaki yang tengah berhadapan dengan Danu itu. Lelaki bernama Jack itu pun berlalu setelah sebelumnya menendang dan meludahi tubuh Danu.

Suara trail yang berkoar-koar kencang memekakkan segenap gang, membuat para penduduknya yang kebetulan ada di rumah berlarian keluar. Dan mereka tersentak melihat kontrakan Danu porak poranda, dan lelaki muda itu sendiri tergeletak dengan tubuh babak belur.

“Teman-temannya preman yang kemarin, kali!” tebak Bu Anah, penjual gado-gado. “Mereka ngamuk. Mas Danu jadi sasarannya, kasihan!”

“Dasar preman busuk!”

“Wah, mas Danu kondisinya parah! Ayo bawa ke rumah sakit!”

“Yang lain telepon Kinanti, cepat!”

“Iya, bu!”

BERSAMBUNG KE BAGIAN 20

CATATAN PENULIS:
Novel “Simfoni Bunga Rumput” ditulis pada tahun 2005 dan pernah terbit sebagai buku di FBA Press. Penayangan di website ini setelah melewati proses rewrite dengan penambahan bab-bab baru. Karena ditulis tahun 2005, setting novel ini tentu sangat berbeda dengan Jakarta saat ini. Ingin baca novel ini secara lengkap? Silakan klik NOVEL SIMFONI BUNGA RUMPUT.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here