Seperangkat Alat Sholat yang Sah

0
77

Lembayung senja kali ini sepertinya terkesan lebih manja. Hm, mungkin karena siangnya diguyur hujan dan baru mau berhenti selepas ashar. Selama hujan yang tak begitu deras—kupikir hujan kali ini juga manja, seperti merayu bumi. Bukankah kata pujangga hujan adalah cara langit menyampaikan rindunya kepada bumi? Ah. Atau bisa jadi, langit sedang brebes mili tanpa sesenggukan, saking rindunya pada bumi? Sudah. Jangan bicara rindu—laptop di depan frame kaca mataku sudah menyala dari sebelum hujan datang sampai berhenti lagi.

Kaca jendela di samping mejaku sudah kinclong dibersihkan hujan—yang ada hanya embun yang menghalangi pandanganku menatap lalu lalang kendaraan sore hari—sesuatu yang selalu kulakukan sejak awal menempati meja kerja ini. Ya, selain menyeruput coklat panas yang kali ini sudah habis tiga cangkir, bersandar di kursi sambil menikmati pemandangan jalan raya di balik jendela kanan bahuku adalah hiburan di sela-sela mata bermain dengan Photoshop.

“Mbak Dea?” Sebuah suara mampir di membran tempaniku.

Kisah rindunya langit kepada bumi mendadak tamat tanpa kata. Aku baru sadar sudah melamun ratusan detik hingga laptopku gelap.

“Eh, Yunita. Makasih coklat panasnya ya.” Kataku menerima pesanan secangkir coklat panas keempat. Menukarnya dengan cangkir kosong yang dinding porselennya telah dingin.

“Sama-sama, Mbak. Mau ngelembur to?” Tanyanya.

Ah, Si Yunita hafal sekali PR-ku banyak. Biasanya kalau aku memesan minuman bercangkir-cangkir sebelum akhirnya kembung sendiri, itu tandanya kerjaan benar-benar bejubel, deadline mepet, sudah ditanyain Mbak Tita kapan ready buat dicetak, belum lagi pikiran-pikiran lain yang seenaknya tanpa permisi bergelantung macam lutung. Dan aku bisa saja ngelembur, tidur di kantor karena malas balik ke kost-an.

“Hm, belum tau, Yun. Sebenernya masih banyak yang belum selesai, tapi kok rasanya mataku udah capek, ya. Mana abis hujan lagi. Tidur di kantor ntar adem banget pasti.” Kataku.

Yunita hanya manggut-manggut, kemudian berpesan sebelum kembali ke habitatnya di dapur kantor.

“Jangan lupa sholat ashar, Mbak. Sudah jam empat lewat.”

Aku mengusap wajahku yang sudah pasti berminyak.

“Oke. Makasih, Yun.”

Kadang aku bersyukur ada Yunita yang meskipun cerewet, dia adalah good listener buat aku, dan tentu saja alarmku buat makan siang, sholat, dan rehat tentu saja. Gadis berhijab itu lima tahun lebih muda di bawahku. Dia hanya lulusan SMK jurusan tata boga yang memilih bekerja di kantor. Tetapi dia juga produktif membuat kue kering di akhir pekan. Untuk ukuran anak muda, Yunita sudah dibilang berpenghasilan cukup. Katanya, setidaknya bisa bayar SPP adiknya yang masih SD. Dan beli kuota plus alat make up juga.

Di sela pekerjaannya, kadang ketika aku ingin membuat coklat panasku sendiri ke dapur kantor, Yunita memang asik buka channel Youtube resep-resep makanan. Semua orang kantor selalu kepingin dibuatkan makan siang olehnya. Di dapur itu juga kadang kita sering ngobrol. Atau pas Yunita nemenin ngelembur. Sambil mantengin layar laptop, sambil cerita ke Yunita yang hanya memerhatikan gerak pointer-ku membuat vektor.

“Yun, aku ini sudah umur segini tapi kok belum nikah juga ya,” Celetukku suatu saat.
“Eh lho, Mbak. Mas Geri bukanya digosipin sama Mbak e to?” Timpalnya.
“Lha itu tau cuma gosip.”

Yunita tertawa lost of control karena kantor sepi—hampir tengah malam.
“Terus dulu katane deket sama Mas Dwi, gimana?” Yunita masih saja ingat cerita-ceritaku yang lain.
“Aku ga nyaman sama dia, Yun.” Keluhku.
“Mbak ini cari yang gimana to?
“Ya yang bikin aku seneng deket sama dia.”
“Nah, sayangnya dari dulu belum ada yang bikin mbak seneng. Atau mbak itu susah senengnya sama orang.”

Aku diam. Tarian vektorku sudah tak beraturan. Mataku sudah 5 watt. Sayup-sayup suara Yunita memanggilku, lalu hilang. Esoknya Yunita sudah sigap membangunkanku sholat shubuh berjamaah. Aku tertidur semalam—sebuah kebiasaan yang biasa. Kebiasaan Yunita juga yang akan menyelimutiku lalu men-save lembar kerjaku dan tak lupa mematikan laptopku. Salah sendiri dia insomnia.

Jujur. Bacaan Qur’anku masih berantakan, gratul-gratul. Beda dengan Yunita, Setidaknya dia lebih baik segalanya dari padaku. Sholat shubuh pun Yunita yang jadi imam. Dia hafal dzikir dan do’a. Sedangkan aku tidak.

Kadang, selama berjamaah dengan Yunita, aku benar-benar berpikir keras untuk segera dapat menikah, melepas rutinitas karir dan beralih menghabiskan hari dengan anak-anak yang lucu nan menggemaskan, berharap jodohku segera datang, mengimami sholat dan berkenan mengajariku abatasa. Kadang juga berpikir apa aku karma karena sering menolak banyak pria yang sebenarnya sudah datang atau sekedar mendekat? Ah, bagaimanapun di mataku, nyaman adalah nilai utama.

Tinggal 95 km dari ibuk yang lewat paruh baya, yang saban tiga bulan sekali pasti telefon, menanyakan kabar—diri dan pekerjaan. Sungguh, ibu tidak pernah membahas tentang—cincin, lamaran, resepsi, buku nikah, de-el-el. Dua kakak perempuanku sudah menikah dan aku sudah punya ponakan. Ibu sudah punya cucu yang selalu disayang kalau bertandang ke rumah. Aku hanya anak bungsu. Mungkin itu sebabnya ibu tidak terburu-buru menginginkan aku lekas menikah. Hanya saja, setiap kali ada pria yang datang sekedar menanyakan perihalku, ibu pasti cerita. Gimana?mau tidak? Dan kalau aku sedang malas, atau mendengar sekilas profilnya sudah tak suka, jawabanku sama saja—ndak dulu ah, buk. Masih enakan kerja. Dan ibu selalu mengakhiri dengan kata ‘ya sudah kalau begitu’. Hanya saja, Mbak Eka dan Mbak Dwi yang kadang geger pengen aku cepat menikah.

Iya. Dulu memang aku ogah dideketin Mas Geri juga Dwi. Males juga dengan pria-pria yang datang ke rumah. Tapi itu dulu, sebelum ceramah seorang ustadz yang videonya mampir di salah satu grup whatsappku—yang entah grup mana aku lupa saking banyaknya, menjelaskan kesunahan menyegerakan menikah dan tetek bengeknya. Sejak itu aku sadar, aku butuh seseorang yang menyadarkanku pentingnya berhijab—meskipun Yunita sudah sering mengajak, tapi toh aku serasa masih belum punya hidayah, orang yang mengajariku baca Al Qur’an, tata cara sholat yang benar, dan banyak hal lainnya. Kini aku sadar, aku sedang ‘benar-benar’ mencari dalam penantian.

***

“De, Aku duluan ya!” Teriakan Meli dari meja seberang membuyarkan lamunanku.

Aku kembali mengusap wajahku yang semakin berminyak.
Aku ini kenapa, kok mikirin jodoh sampai melamun gini, rutukku dalam hati.

“Oke Mel, duluan aja.” Jawabku. Meli sudah di ambang pintu dan hanya mengangkat tangannya, lalu menghilang. Mataku menyapu ruang kerja lantai dua ini. Ternyata semua sudah hilang dari menit-menit lalu. Aku jadi curiga, jangan-jangan tadi mereka juga berpamitan padaku, tapi aku masih tenggelam dalam lamunku.

“Mbak Dhea?” Yunita masuk dengan seperangkat alat kebersihannya, siap-siap membereskan ruang kerja. Jam dinding di seberang mataku menunjukkan pukul empat lebih 15 menit.

“Aku pamit dulu ya, Yun.” Kataku sembari membereskan meja kerjaku.
“Oke, Mbak.” Jawabnya yang sudah mulai menyapu.

***
Di luar dingin sekali. Sore kali ini dingin. Sedingin hatiku mungkin. Wajah paruh baya Ibu entah mengapa tiba-tiba seolah menempel di kaca helmku. Beliau tersenyum, seperti tidak ada apa-apa. Tetapi seperti bisa kubaca hatinya, setiap kali tetangga-tetangga menanyakan perihal mengapa aku masih bujang, membicarakanku yang memilih berkarir di luar kota—tidak seperti kedua mbakku. Mendadak aku ingin memberi ibu cucu. Duh, beginikah rasanya hati ketika rindu dengan sesosok jodoh? Mengapa aku seakan terlambat menyadari usiaku?

Sebuah mushola kecil di kanan jalan memanggilku. Mushola yang sepi, gumamku. Setelah berwudhu, aku berniat hendak sholat. Tetapi pria di ujung teras membekukan langkahku. Lelaki dengan kopiah dan koko putih tersebut tersenyum saat menyadari kehadiranku.

Hatiku bergetar. Semua seperti paradoks. Baru saja beberapa menit lalu aku berfikir tentang jodoh. Sekarang sosok itu hadir di mataku, seolah malaikat kiriman Tuhan untuk menyadarkan keras kepalaku. Benarkah seperti dia yang kucari? Ah, mungkin ini hanya efek pikiran-pikiran liarku. Tapi mengapa aku mendadak beku? Air wudhu tadi memang dingin, tapi tidak lantas membekukan sekujur kakiku. Senyum dia benar-benar membuatku jatuh cinta. Logikaku menolak, aku tidak boleh gegabah. Terpaksa kuseret kakiku menuju mihrab.

Doa. Setidaknya itu adalah pemahaman sederhanaku tentang sholat. Kita sholat, untuk berdoa. Dengan begitu dapat dibedakan siapa hamba, siapa Tuhan. Dengan berdoa kita artinya menghamba. Kalian pasti tau apa yang sedang kuadukan kepada Pemilikku.

Setelah sholat, kulipat mukena parasut potongan warna ungu muda. Mukena ini terkenal praktis karna dapat dilipat sekecil mungkin, dan tentu saja pas di tas jinjingku yang tidak seberasa besar, berjejal dengan bedak dan lipstick tentu saja.

Aku harap sosok itu sudah enyah dari bibir teras. Tapi nyatanya, punggungnya dapat kunikmati sedemikian rupa. Punggung yang nyaman, otak burukku mulai terpacu.
Ingin aku pura-pura berjalan cepat melewatinya lalu menghilang. Tapi sebelum langkahku genap bertemu sepasang widgetsku, pria itu berdiri, berbalik, dan menemuiku.

Tuhan, hatiku menjerit. Lagi-lagi betisku linu, tertahan.

“Mbak tadi sholat pakai mukenah apa?” Tanyanya tiba-tiba.
“Ini Mas.” Jawabku salah tingkah, mengangkat tas jinjingku.
“Maaf, tadi saya sempat lihat Mbak sholat pakai mukena potongan yang parasut ya? Saya takmir mushola sini, Mbak. Jadi kami sudah menyediakan mukenah terusan di almari. Bukan bermaksud menyalahkan, tapi alangkah baikknya jika kita menghadap Allah, mukena kita bersih, lebih afdhol bewarna putih, dan tentu saja menjaga agar aurat kita tidak tampak.” Jelasnya panjang lebar.

Aku tak bergeming. Dia menghentikan penjelasannya, seolah menunggu tanggapanku. Tapi bagaimana bisa? Sedang pandanganku terjebak di balik lensa matanya.

“Nah, kalau mukena parasut kan transparan, terus potongan, bisa memicu terlihatnya aurat ketika mbak mengangkat tangan.” Tambahnya.

Sepersekian detik. Aku tidak mau kelihatan bodoh di depan pria sholeh dan tampan ini.

“Oh, gitu ya, Mas.” Hanya itu yang keluar dari mulut ini.

Seketika aku berpikir keras. Aku baru tahu jika sholat bukan sekedar tentang menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim. Lebih dari itu, kita harus tahu aturan, bagaimana wudhu kita, tempat sholat kita, pakaian sholat kita, apakah sudah membuat sholat kita sah kemudian diterima Yang Maha Kuasa? Apakah bacaan, gerakan, dan hati kita sudah sepenuhnya sempurna?

Dia tersenyum. Lalu menyerahkan sebuah mukena putih yang terbungkus sajadah.
“Ini, ambil saja untuk Mbak. Terima kasih sudah mengingat Allah dan mampir ke rumah Allah untuk menemui-Nya.” Katanya, lagi-lagi dengan senyum manisnya.
Kuterima seperangkat alat sholat tersebut. Mendadak aku seperti berada di hari ketika pria di hadapanku mengucap ijab qobul, lalu orang-orang di sekitarku menyerukan ‘sah’, disusul doa, diaminkan sejagat raya.

Rasanya otak nakalku beradu dengan ketulusan hatiku yang tiba-tiba muncul, ingin memintanya menikahiku. Sebelum akhirnya, kebekuan beberapa detik di antara kita mencair karena lekingan manja seorang wanita.

Aku menoleh ke arahnya yang baru saja tiba dari ruangan kecil di ujung mushola.

“Mas,” sapanya.

Nanar sekali memandang perempuan dengan gamis biru telur asin dan kerudung donkernya. Dia seperti bidadari yang dibocorkan pada penduduk bumi. Wajahnya bersih berseri. Senyumnya tak kalah manis dengan pria yang seketika dipegang bahunya. Manis, tapi ngilu sekali aku memandangnya.
Mimpiku melayang sudah.

“Ini istri saya.” Katanya memperkenalkan.
Dia menjabat tanganku, “Fatimah,” tersenyum lebih manis.
“Mukenah kamu saya kasihkan Mbaknya.” Jelas pria tersebut.
“Oh iya, gapapa.” Lagi-lagi dengan tersenyum.

“Mbak, selalu ingat Allah dimana saja, ya.” Pesannya menyentuh kedua punggung tanganku.
Mungkin dia berpikir, mengapa perempuan tanpa hijab di depannya seperti mayat berdiri, kulitnya dingin melebihi udara di sekitarnya.

Aku menunduk, mengucapkan terima kasih sekali lagi. Lalu pamit, mengajak kaki, hati, dan segenap mimpi yang terbangun seketika lalu sertamerta hancur saat itu juga.

***
Kupandangi lamat-lamat seperangkat alat sholat—tanpa ‘dibayar tunai, shah’ itu. Ini justru gratisan. Ah, tapi aku ingin yang disertai mahar. Sungguh, pria tampan dengan senyum manis itu masih membayang. Dia seperti pelangi sehabis hujan. Pun aku tahu, pelangi tidak hadir lama.

Selimut yang menyentuh kulitku begitu dingin. Aku hanya menghangat bersama segenap kerinduanku. Kerinduan untuk menyempurnakan agama dan imanku.

***
“Cantik nggak, Yun?” Tanyaku.

Yunita yang sedari tadi mengamati kelakuanku berdecak,
“Kamu diapa-apain tetep cantik, Mbak.”

Dia mendekat dan merangkul pundakku.
“Tapi hijab bukan tentang cantik nggak cantik, Mbak,” katanya.

Aku tersenyum memandang pantulan mata Yunita di cermin.
***
Katanya hidup ini adalah proses. Proses sampai entah kapan Allah akan menghentikan waktu kita. Itu sebabnya, tetaplah berproses, karna kita tidak tahu kapan Allah akan meminta kita kembali kepada-Nya.

Sejak saat itu, aku kerap sholat ashar di musholla kecil. Mengenal keluarga kecil Mas Hidayat dan Mbak Haniah. Mereka yang tinggal sederhana di bilik kecil samping musholla. Mengajari anak-anak kecil untuk baca tulis Al-Qur’an setiap sore hari, merawat kebersihan musholla, hingga mengadakan santunan anak yatim dari hasil kerja sederhana mereka. Ya, mungkin aku tidak berhak berharap Mas Hidayat. Tapi setidaknya aku selalu berharap bertemu seseorang yang memberiku seperangkat alat sholat berserta maharnya. Seseorang yang bersedia membimbing dan menjadi imam hidupku.

Untuk sekarang, biar kuperbaiki diri lebih dulu. Biar kutemukan jejak-jejak Islam yang selama ini telah kuabaikan. Biar kukenal Tuhanku lebih baik dari sebelumnya. Biar kupahami agamaku lebih baik dari sebelumnya. Biar kujalankan sunah Rasulku yang bahkan tak pernah kudengar sebelumnya.

Kemudian, biar bagaimana Allah menunjukkan jalan terbaik-Nya untukku.

Sekian

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here