Simfoni Bunga Rumput 26

0
92

Mendadak saja, semua berubah dengan begitu cepat. Masih tampak jelas di benak Kinanti, ketika saat itu, di suatu siang yang mendung, dia menghadap menghadap pak Wisnu Darmadi. Terbata, sesak dan memelas, dia menceritakan kondisi Ayu. Lalu dia meminta yayasan mencabut, atau paling tidak memberi waktu tenggang atas keputusannya men-DO Ayu.

“Saya mohon, Pak! Beri kesempatan kepada Ayu untuk mengubah dirinya.”

Pak Wisnu, yang sangat dia hormati, menatapnya dengan tatapannya yang khas. Karismatik. Penuh wibawa. Dia memang seorang pria yang terlihat begitu dewasa, tampan dan mempesona.

Saat itu, sesungging senyum ada di bibirnya. Kin membacanya sebagai sebuah senyum kecut penuh penyesalan.

“Ayu? Berubah? Wah… itu sih urusan kamu dengan Ayu. Tetapi yayasan memiliki kebijakan tersendiri, Saudari Kinanti. Saya menghargai maksud baikmu, tetapi… keputusan ini sudah bersifat final. Kami sudah melakukan rapat dengan segenap dewan pembina, pengawas, dan seluruh pengurus yayasan. Keputusannya, nama baik Unmaja harus diperbaiki. Kamu sendiri tentu juga senang jika predikat ‘sarang ayam kampus’ itu segera lenyap dari kampus kita, bukan?” ujar pak Wisnu.

Sarang ayam kampus. Ya, Unmaja memang keterlaluan. Kin baru sadar bahwa sudah lebih dari lima kali beberapa media melakukan semacam investigasi tentang prostitusi yang melibatkan para mahasiswi cantik kampus mentereng itu. Bagaimana mungkin saat itu Kin begitu lugu mempercayai, bahwa itu sekadar ulah para mahasiswi itu sendiri. Tak lebih dari itu?

“Tetapi, Pak….”

“Saya akan sangat senang jika kegiatan-kegiatan semacam Kerohaniahan Islam, dan kerohaniahan agama lain, atau kegiatan kemahasiswaan seperti yang kamu lakukan, membuat kampus ini terkenal. Saya sangat ingin Unmaja dikenal sebagai kampus religious, kampus penuh prestasi, meski swasta, namun menjadi incaran siswa-siswa SMA terbaik di Jakarta, kalau perlu Indonesia. Karena itu, saya sangat berterimakasih atas penghargaan demi penghargaan akademis yang kamu persembahkan untuk Unjama. Kamu juga setuju, bukan?”

“Orang seperti Ayu, harus diberi kesempatan untuk berubah!” Kin menelan ludah yang terasa pahit.

“Orang seperti dia tidak akan bisa berubah.” Pak Wisnu menghela napas panjang. “Bagaimana mau berubah, jika dengan kecantikan dan kemolekan tubuhnya, dia bisa mendapatkan jutaan uang dengan begitu mudah?”

“Saya tetap yakin, bahwa motivasi seseorang terjun di dunia prostitusi, bukan karena uang, Pak, tetapi karena keterpaksaan.”

“Jangan terlalu lugu. Para aktivis perempuan dan juga para pengacara mungkin mengatakan begitu. Pada kenyataannya, tidak!”

“Bapak begitu yakin?”

“Saudari Kinanti, saya sudah tua. Usia saya sudah setengah abad. Saya sudah cukup banyak makan asam garam kehidupan dibanding kamu yang masih terlalu begitu muda dan lugu. Sudahlah… saya menghargai maksud baikmu, saya juga respek dengan sikapmu yang setia kawan dan mau berusaha memperbaiki kondisi temanmu, meski dia bermental bobrok. Maaf, tetapi keputusan ini sudah final. Lagipula, apakah jika Ayu memang tidak di-DO, kamu bisa menjamin bahwa dia pasti akan berubah?”

Kin menggeleng. “Siapa yang bisa menjamin, tak ada yang bisa menjamin.”

“Kinanti, belajarlah untuk tidak terlalu mudah jatuh kasihan dan terlalu mempercayai orang lain, apalagi orang yang belum kamu kenal dengan baik.”

Grrr … tubuh Kin mendadak gemetar mengingat percakapan itu.

Bukan, ia bukan ingin menjadi pahlawan. Hanya saja, ada seseorang yang pernah mampir di kehidupannya, dan orang itu kini mendapat masalah, salahkah jika ia berempati kepadanya?

Kinanti, belajarlah untuk tidak terlalu mudah jatuh kasihan dan terlalu mempercayai orang lain, apalagi orang yang belum kamu kenal dengan baik.

Terimakasih, Pak Wisnu semuanya telah terbongkar kini. Terimakasih telah mengajariku untuk tidak mudah percaya.

Kin benar-benar merasa menjadi bocah sangat bodoh yang begitu mudah dipecundangi.

* * *

Pagi yang cerah….      

Mereka masih berada di Karawang, di salah satu rumah Bang Jali. Ada 3 kamar kosong, sehingga mereka bisa menempati untuk sementara. Demi keamanan, kata pria yang telah sukses merintis bisnis warung kopi sejak 20 tahun silam itu.

Kin meraih sebuah koran nasional langganan Bang Jali yang tergeletak di depan pintu, lantas membaca halaman depan sekilas. Gambar mobil box putih yang telah remuk menyedot perhatiannya. Meski sudah berlangsung 3 hari yang lalu, kecelakaan maut itu masih diberitakan di headline, lengkap dengan perkembangan penyelidikan dari pihak kepolisian.

Beberapa buah berita politik nasional… hm, tak ada yang berubah. Dukung-mendukung, jegal-menjegal serta berbagai trik dan intrik para kandidat capres-wapres. Berita olahraga, tentang kegagalan tim Thomas dan Uber Indonesia…. Berita selebritis, perceraian si ini, pernikahan si anu…. Biasa!

Lantas sebuah berita, juga di halaman depan….

Sepasang mata Kin tertuju pada sebuah judul yang cukup eye catching.

Pejabat Ditemukan Meninggal Bersama Teman Kencan

WD (51 th), mantan menteri, pejabat eselon satu di sebuah departemen elit yang juga ketua yayasan yang membawahi sebuah PTS favorit di Jakarta ditemukan meninggal di vilanya bersama seorang wanita cantik bernama A (19 th). Diperkirakan bahwa A adalah wanita simpanan WD. Mayat mereka ditemukan oleh Boy (24 th), sopir WD di kamar mereka. Boy mengaku curiga, karena mendengar HP WD terus menerus berdering namun tak juga diangkat. Akhirnya ia membuka pintu yang ternyata tidak terkunci dan mendapatkan majikannya tewas dalam kondisi nyaris telanjang bersama wanita simpanannya itu. Boy mengatakan, bahwa telah terjalin hubungan terlarang sejak lama antara WD dengan A yang juga mahasiswa di PTS yang dibawahi oleh yayasan yang diketuai WD. Polisi memperkirakan bahwa keduanya meninggal karena overdosis. Untuk hasil lebih akurat, pihak kepolisian akan mengotopsi mayat keduanya.

Saat dikonfirmasi….

WD …, A …, meninggal?

Mendadak ada yang bergolak di hati Kin, membuat hatinya terasa sangat gelisah. “Mas Danu, Icha, Zaki, Tika… sini!!!” teriaknya, panik dan gugup.

“Ada apa, Kin?” orang-orang yang dia panggil berlarian mendekat dan mengerumuni Koran yang masih di tangan Kin.

“Pak Wisnu? Ayu?” Suara Icha lemas.

“Betul, Icha.”

“Pak Wisnu Darmadi. Ayu ternyata benar-benar simpanan beliau.”

“Mereka … meninggal, overdosis?”

“Atau bunuh diri?”

“Sangat mungkin bunuh diri. Semua telah terbongkar kini.”

Kin jatuh terduduk. Kekagumannya pada sosok pejabat ningrat dan terpelajar itu benar-benar hancur berkeping-keping. Pantas lelaki itu mati-matian bersikeras untuk men-DO Ayu. Ia tak ingin boroknya terbongkar. Dasar bejat!

“Bisnis haram Pak Wisnu sudah level internasional, tidak hanya melibatkan para mahasiswa, tetapi juga artis-artis nasional,” ujar Mas Danu, dengan wajah muram. “Sebelum Bram dan Tika mendatangiku untuk minta bantuan hukum, sebenarnya sudah banyak dosen kasak-kusuk, tetapi aku merasa itu hanya rumor belaka. Maka, aku sangat kaget ketika ternyata rumor itu memang benar adanya.”

Seisi ruangan termenung mendengar penuturan Mas Danu.

“Ketika aku dihabisi kemarin, sebenarnya bukan kasus Robert. Mereka, geng Drakula, mendompleng kasus Robert dan Liza, untuk menutupi motif seolah-olah itu balas dendam teman-teman Robert. Seharusnya, aku mestinya mati saat itu. Tetapi Allah masih melindungiku. Setelah itu, ancaman demi ancaman terus berdatangan, sehingga aku memutuskan untuk pergi secepatnya dari Unmaja.”

“Dan sekarang…,” Tika meraih gambar mobil box yang hancur itu. “Seseorang yang tak ada sangkut paut dengan peristiwa ini, menjadi sasaran.”

“Kita harus mencari alamat keluarga sopir box itu dan memberinya santunan. Seandainya tidak ada mobil box kembar ini, mungkin aku dan Mas Yudo telah mati.”

Kin dan yang lain mengangguk setuju.

BERSAMBUNG


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here