Simfoni Bunga Rumput 27

2
92

EPILOG

Leiden, di musim dingin, 2010

Barusan aku melihat salju yang terus menerus berjatuhan, membasahi bumi sehingga semua yang ada pun berwarna putih. Pepohonan, jalanan, atap-atap rumah, mobil yang merayap … semua berwarna putih. Dan sejuk yang terpendar, tak lagi kunikmati sebagai sebuah kumparan hawa yang menentramkan, karena aku harus menggigil karenanya. Tak ada pilihan selain menyalakan penghangat ruangan, menutup gordin rapat-rapat, mengenakan baju tebal serta bergulung di atas tempat tidur di bawah selimut, dengan menggoreskan berbait kalimat di lembar-lembarmu, Diari. Ini rupanya pilihan yang terbaik, yeaah… daripada iseng memaksakan diri menggarap segudang paper tugas kuliah atau lebih gila lagi, mencoba keluar menembus hujan salju menuju perpustakaan kampus.

Ini musim dingin keempat yang pernah kualami selama menetap di kota dimana terdapat universitas tertua di negeri yang pernah 3,5 abad menjajah negeriku. Belanda. Jadi, sudah empat tahun aku berada di sini. Namun, darah tropisku yang terbiasa dengan keringat sebab panas mentari membakar, masih sulit beradaptasi dengan cuaca sedingin ini.

Ya, hampir empat tahun aku tinggal di Leiden, mengambil master, lalu berlanjut ke PhD, di Universitas Leiden yang bergengsi ini. Lima tahun silam, aku lulus dari Unmaja, menyandang predikat lulusan terbaik. Meski sedang berduka karena kasus yang mendera, kampus berusaha optimis. Mereka menawariku mengajar di almamater, yang kuterima dengan senang hati. Bagaimanapun, di Unmajalah aku dibentuk menjadi sekarang ini.

Hanya beberapa bulan mengajar, aku berhasil mengalahkan pesaing yang berjibun, dan kebanyakan dari PTN ternama, untuk mendapatkan beasiswa melanjutkan studi di sini, Leiden Law School!

Tapi aku tidak akan menulis tentang Leiden … meski aku benar-benar sangat bersyukur, bisa menuntut ilmu di kampus yang dijuluki ‘Leiden is the place for Law’ ini. Aku hanya ingin mengenang sebuah rentetan peristiwa yang terjadi lima tahun silam.

Diary… aku tak punya istilah tepat untuk menyebutkan hasil dari tantangan yang diberikan oleh Icha saat itu. Tantangan itu memang sangat berat, dan rupanya tak sanggup kusangga dengan sepasang tanganku yang memang lemah ini. Enam bunga rumput yang pernah dipercayakan untuk kupelihara… ada yang mekar indah tiada tara, namun ada yang justru bergerak semakin liar. Uniknya, aku hanya bisa menjadi penonton yang baik atas drama yang tergelar tepat di depan mataku. Tahu kan, artinya penonton yang baik? Ia melihat setiap adegan, ikut larut dalam emosi—menangis saat sedih, tertawa saat senang, dan bertepuk tangan jika menemukan sesuatu yang hebat—terkadang mungkin juga ada kesempatan untuk berkomentar. Tetapi seorang penonton jelas tak punya kuasa untuk mengubah alur cerita. Kusadari, ternyata selama ini… tak lebih peran semacam itulah yang kumainkan.

Dan inilah akhir dari drama yang terjadi di depan mataku… membuatku bersyukur, namun di sisi lain, seringkali kehabisan napas, terengah-engah… dan harus mengempos energi yang ekstra untuk kembali menyemangati diri sendiri.

Ayu, ia memenuhi ajal dalam kondisi yang mengenaskan. Bersama sosok yang juga sempat sangat kukagumi. Meninggal dengan meninggalkan cerita yang jika kukenang sampai saat ini pun selalu membuat tubuhku merinding karena sedih, sekaligus marah.

Bagaimana dengan Liza? Setelah sempat kembali dirawat di RSKO, ia sebenarnya sudah sembuh. Namun ketika Robert keluar penjara dan kembali mengejar-ngejarnya, Liza mengaku tak sanggup menghindar. “Nggak tahu, Kak. Mungkin aku memang sudah ditakdirkan untuk menjadi budak narkoba, hingga ajal menjemput seperti yang menimpa Andre, abangku. Aku sudah putus asa. Biarlah aku begini. Aku tak mungkin sembuh. Nonsens!” ucapan dari telepon itu sempat membuatku termangu.

“Mungkin Kakak menuduh jika aku bodoh, lemah, nggak punya kemauan yang kuat atau apapun. Yah, tuduhan yang benar. Aku memang lemah. Tetapi masalahnya tak sesederhana itu. Aku sekarang bukan lagi pemakai, tetapi juga pengedar, aku sudah terjebak dalam jaring rumit, dan aku tak mungkin bisa keluar. Bukan saja Robert yang berhak atas penjara, aku pun begitu. Jika aku tertangkap, aku juga akan menjadi narapidana. Dan satu yang aku nggak pernah jujur sama kamu, sebenarnya… aku masih mencintai Robert. Seburuk apapun dia, aku tetap cinta sama dia. Bodoh memang, tetapi aku sudah tak mengerti lagi, apa yang mesti aku lakukan.”

Menjadi siapapun dan seperti apapun, itu hak kamu Liz. Tetapi mengapa harus dunia itu yang kamu pilih? Dengan menjadi budak narkoba, dan kekasih lelaki tak berperi kemanusiaan. Untuk itu, aku nggak lagi sepakat, bahwa cinta itu buta. Mata hati kamulah yang sebenarnya telah buta.

Ya, kamu telah buta, Liz! Betulkan, Diar… ia telah buta mata hatinya.

Diary, kepedihan yang dalam atas peristiwa yang menimpa Ayu dan Liza belum juga pupus. Di saat seperti itulah surat Icha melengkapi segalanya. Membuatku limbung dan nyaris hilang keseimbangan saat membacanya, Diary. Inilah petikan dari surat panjang lebar yang masih kuingat. Surat yang bercerita tentang Clarissa, Angel dan Tracy. Kamu pun pasti ingin tahu kelanjutan kisah mereka, bukan?

Clarissa semakin parah, Kin. Dia menusuk pembantunya dengan pisau dapur hingga meninggal. Sekarang ia mendekam di sel isolasi sebuah RSJ. Kematian ayahnya yang diikuti dengan serangkaian gossip yang terus menerus oleh media, membuat ia dan keluarganya depresi. Kini, ia benar-benar dirawat di rumah sakit jiwa.

Entahlah… Diary, aku merasa satu persatu orang yang pernah diberi kesempatan mampir dalam kehidupanku, semakin hari justru semakin terjebak dalam sebuah perputaran dunia yang rumit. Dunia yang semu.

Angel? Ternyata tak jauh beda. Kesulitan hidup yang mendera membuat ia tak tahan. Berita terakhir yang kuterima, Angel terlibat dalam penipuan senilai ratusan juta rupiah. Kini ia buron polisi.

Ya Allah! Laa haula walaa quwwata illa billah.

Sementara Tracy, satu-satunya orang yang kuharapkan, yang tampaknya memperlihatkan perkembangan luar biasa, juga tak kalah mengecewakan. Semula, ketika semangat telah meledak-ledak, ia nekad keluar dari dunia model, dan sempat memakai jilbab. Namun keputusan itu ternyata membuat berang orang tuanya. Mereka marah besar. Sebuah kejadian yang sangat wajar sebenarnya. Banyak teman-teman jilbaber yang mengalami hal semacam itu dan mereka bisa menyelesaikannya dengan sangat baik.

Tetapi seperti Liza, Tracy pun tak mampu menepis badai yang menimpanya. Ia menganggap masalah yang ia hadapi itu sebagai sebuah sergapan malakul maut yang tak mungkin ia hindari.

“Kak… maafkan aku. Aku nggak bisa melawan keinginan Mama. Aku nggak bisa keluar dari dunia model. Maafin aku!” tulis Tracy pada email yang ia kirim kepadaku. Email terakhir mungkin, karena sejak itu, nama Tracy tak lagi tertera di inbox-ku. Surat Icha-lah yang kemudian memberi penjelasan kepadaku.

Rupanya Tracy merasa enjoy setelah kembali terjun ke dunia mode. Ia semakin terkenal, apalagi setelah terpilih sebagai pemegang peran utama di sebuah film layar lebar yang meledak hebat di tanah air. Ia menjadi idola remaja Indonesa dan mendapat pujian dari sana-sini, termasuk penghargaan tingkat internasional. Itu mungkin yang membuat Tracy semakin terlena. Kalau kamu ngelihat Tracy yang sekarang, pasti kamu ngelus dada, Kin. Tracy semakin berani, jauh lebih berani dari dulu. Pernah dia tampil di sebuah cover majalah dengan pakaian yang sangat minim. Ketika dikritik, dia dengan enteng bilang, “ini kan seni!” Ya ampun, Kin… aku benar-benar schook.

Diar…, salahkah jika aku kecewa? Kecewa dengan kegagalanku memainkan simfony untuk mereka. Atau, aku sendiri yang sebenarnya tak pernah sungguh-sungguh mencoba membantu mereka keluar dari kesulitan.

Namun, masih ada angin segar berhembus. Ya, dari Tika. Sudah tiga tahun ini Tika menikah dengan Mas Danu. Meskipun masih kuliah, dia nekad untuk menerima pinangan pria itu. Pernikahan itu telah membuahkan seorang bayi yang baru lahir beberapa bulan yang lalu. Baru kemarin aku mendapat email terbaru darinya.

Dear Kin….

Kalau kamu melihat wajah bayiku, keponakanmu, kamu pasti akan terpana. Ya, Kinasih sangat mirip denganmu, sampai-sampai aku bingung, Kin Yunior ini anakku atau anak kamu. Kami memanggilnya Kin, agar sama denganmu. Karena kedua orangtua Kin Yunior, sama-sama mencintai Kin Senior. Cinta seorang kakak kepada adiknya yang hingga sekarang belum juga berjumpa pujaan hati. Semoga kamu segera bertemu dengan sesama mahasiswa PhD yang sedang menuntut ilmu di sana. Agar kami tidak khawatir karena bertahun-tahun kamu seorang diri di negeri asing.

Kin, menjadi wanita sejati itu menyenangkan. Aku tahu, aku belum seratus persen merasakan. Jujur, kadang aku masih merasakan orientasi yang salah. Meski sudah berkurang jauh. Tapi, aku akan selalu berusaha menterapi diri sendiri. Aku sayang pada Mas Danu, sayang pada Kin Yunior. Mereka keluargaku, buah hatiku. Aku tak ingin apa yang telah kudapatkan, hancur berantakan.

Yang jelas, aku sekarang percaya, bahwa kelainan orientasi seksual itu bisa disembuhkan, asalkan ada support dari lingkungan. Dan kau adalah sahabat terbaik yang pernah memberikan support terbaik untukku.

Terimakasih, ya….

Aku tersenyum membaca email Tika. Di Nederland yang liberal ini,  aku sudah terlalu sering melihat orang-orang seperti Tika yang dulu dengan bangga memproklamirkan diri atas ketidaknormalannya. Yah, aku sangat memahami… betapa menjadi tidak normal itu adalah sebuah kenyataan yang menyakitkan. Apalagi jika banyak orang yang tidak memberi ruang meski hanya untuk sekadar memahami, mengapa mereka harus ada. Itu mungkin yang dirasakan oleh Tika dahulu. Alhamdulillah, setitik cahaya yang kemudian memberkas terang berhasil membawa Tika untuk menangkap cahaya itu dan mengikutinya kemana pun cahaya itu bergerak.

Akhirnya, dari 6 bunga rumput yang sempat dekat denganku, hanya ada setangkai bunga yang berubah menjadi kuntum mawar mempesona. Apakah aku harus kecewa?

Setelah lama kurenungkan, akhirnya aku menyadari, bahwa mereka itu ibarat pasien yang sedang sakit parah. Mereka datang kepadaku dengan kepercayaan yang besar, menganggap aku sebagai dokter spesialis yang ahli. Tetapi, apa yang bisa kulakukan? Aku hanya memberi mereka vitamin-vitamin, yang itu pun tak rutin, sehingga sangat tak cukup untuk mengobati mereka.

Mereka melintas di depanku, sementara aku hanya menatap mereka dengan tatap kasihan. Tak ada hal apa pun yang telah aku lakukan.

Semestinya aku memang harus berkaca diri. Semoga Allah kelak mempertemukan aku kembali, dan memberi kesempatan padaku untuk bisa lebih mengerti mereka. Sekadar mengerti… memang tidak cukup, tetapi yang itu pun tak ada padaku.

* * *

Kin menutup diarinya dengan gundah. Setelah termenung lama di atas tempat tidurnya, kini diambilnya selembar kertas tebal berwarna hijau muda yang tergeletak di meja dekat tempat tidur.

Sebuah undangan.

Menikah:

Monicha Ardi Saputri, SH, M.H dengan Ahmad Zaky Al-Katiri, SH, MH.

Satu-satunya kabar gembira dari tanah air yang ia terima bulan ini. Kabar gembira? Tidak… ada ada gegar perih di sana, di lubuk hati yang terdalam. Tetapi, bukankah itu adalah kesalahannya sendiri?

Zaki sudah melamarnya, dan dia menolak. Karena dia ingin terus menuntut ilmu, sementara ibu Zaki yang mulai sakit-sakitan, tidak mau sang putera ikut terbang bersamanya ke Eropa.

Itu sebuah konsekuensi. Sekarang usianya sudah 28 tahun. Dan dia masih melajang. Belum ada satupun pria yang berhasil menggetarkan hatinya sebagaimana dia dahulu diam-diam merindukan Zaki, pria yang sebentar lagi akan menikahi sahabat terbaiknya.

SELESAI

Catatan Penulis

Alhamdulillah, Simfoni Bunga Rumput telah selesai. Insya Allah, dalam waktu dekat, novel ini akan dibukukan, sehingga Anda bisa membacanya dengan lebih nyaman. Apakah sama edisi buku dengan edisi online di website ini? Inti cerita tentu sama. Tetapi, di novel, akan ada pengembangan-pengembangan yang membuat lebih kaya. Jadi, jangan ragu untuk segera memesannya ya. Cek updatenya di website penulis: afifahafra.com


2 COMMENTS

  1. Sediiiiih… Sekali Kin.
    Kita bagaikan satu not di sebuah lagu.
    Apalah kita ? Apalah kita?
    Tapi terima kasih Kin, pernah hadir di masa tersulit dan menorehkan asa dalam dada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here