Puisi Heru Patria; Tentang Tuhan dan Takdir

0
217

KUTEMPUH JALAN TAKDIRMU


Merenung bersama gunung yang sedang tercenung
Mengikis bingung dari hati limbung
Hadapi hidup jauh dari beruntung
Lewati hari langit berselimut mendung

Mencoba bangkit di puncak bukit kering
Menakar hasrat tentang angan terbanting
Gapai mimpi tersangkut langit tinggal puing
Sisakan tangis mata sembab kepala pusing

Kepada karang kurangkai syair tentang penyesalan
Di atas batu kuukir kelu berbalut kesedihan
Hingga saat matahari mencumbui embun pagi
Masih saja aku terjaga mendekap illusi

Hamparan pasir setia bisikkan kalimat takbir
Dansa gelombang tawarkan asa tanpa akhir
Anganku terbang menembus cakrawala hitam
Nyanyian jiwaku lengang membentur dinding kelam

Akankah kutemui lagi sepenggal kata damai
Di sela harapan berserak tersapu kegamangan hati
Hanya pada Tuhan tempatku bersandar pasrah
Kan kutempuh takdirMu tanpa lelah

Blitar, 2022

SECUIL ASA DARI TUHAN

Kudengar bisik angin di kala senja
Ketika burung-burung kecil pulang ke sarangnya
Pada ranting-ranting rapuh kutitipkan harap
Disambut daun kering yang mulai dimakan rayap

Matahari tergelincir pelan ke peraduan sepi
Bulan mengintip garang siap jadi pengganti
Indah kenangan hendak kurangkai malam ini
Agar nyeri dada tak lagi mengakrabi

Saat selimut malam hadir membawa udara beku
Aku urung melangkah diam tergugu
Lalu aku coba bertanya pada bintang gemintang
Kemana cahaya hatiku pergi menghilang

Tak ada jawaban pasti yang aku dapati
Bahkan rumput bergoyang, pun tak mau peduli
Akhirnya pada camar laut aku berbagi duka
Agar sisa air mata dibawa terbang ke samudra

Kini baru aku sadari
Dunia bukanlah tempat sandarkan diri
Langit sekadar pembatas tirai mimpi
Angin bukan pendengar baik cerita duka
Ia hanya sebarkan air mata ke penjuru dada
Hanya kepada karang aku titipkan
Secuil asa Tuhan bernama iman

Blitar, 2022

BERKACA PADA LANGIT, BERGURU PADA BUMI

Berkaca pada langit, berguru pada bumi
Tentang jalan hidup yang semakin tak pasti
Angin timur bertiup ke arah barat
Waktu kemarau hujan turun lebat

Berkaca pada langit waktu batin menjerit
Ratapi nasib penuh persoalan menghimpit

Tangis tak henti bibir merintih pedih
Hati terluka bola mata semakin perih

Berguru pada bumi saat hati retak
Sesali takdir kebaikan tak pernah berpihak
Nganga luka dada kucurkan darah dan nanah
Nelangsa jiwa tak usai dirundung resah


Hanya pada angin diri berani mengadu
Tentang luka jiwa tak henti ditikam waktu
Raga terkulai bersandar di pundah rapuh
Jiwa lunglai tertindas kehidupan riuh


Tak ada yang bisa kudengar dari gulita malam
Tak ada yang terlihat dari masa lalu hitam
Aku terpuruk di lembah duka terdalam
Aku terhina tapi mulut dipaksa diam
Aku dipaksa bungkam tak boleh bicara
Harus menahan geram meski kalbu terluka


Ibu pertiwi dinodai putranya sendiri
Semua mata melihat tak ada yang peduli
Berkaca pada langit
Berguru pada bumi
Kala masalah menghimpit
Bersandarlah pada illahi

Blitar, 2022

BIODATA PENULIS

HERU PATRIA adalah nama pena dari Heru Waluyo seorang novelis dari Blitar yang juga suka baca dan nulis puisi. Puisi dan cerpennya banyak dimuat di buku antologi nasional serta berbagai media cetak dan online di antaranya : Radar Malang, Radar Banyuwangi, Radar Madiun, Bhirawa, Tanjungpinang Pos, Sinar Indonesia Baru, BMR Fox, SuaraKrajan, NegeriKertas, Gokenje.Id, ProNusantara, Balipolitika, Ngewiyak.Com, dll. Novel terbarunya berjudul Bidadari Supermarket (2022) dan Kerontang Kesaksian Pohon (2022). Buku puisinya yang baru terbit berjudul Senyawa Kopi Sekeping Hati (IA Publisher, 2021). Penulis bisa dihubungi di FB. Heru Patria, IG. @heru.patria.54, Twitter @HERUPATRIA3, WA. 0813 5746 5016. Alamat : Bogangin RT.01 RW.06 Kel. Bajang Kec. Talun Kab. Blitar, Jawa Timur 66183. Email : herupatria9@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here