Rumah, Tempat Hati Pulang (Puisi Dien Diani)

0
89

Rumah, Tempat Hati Pulang

Rumah adalah tempat pulang yang paling nyaman,
ketika dunia begitu riuh,
ia berdiri tenang, menunggu dengan sabar,
menawarkan damai pada jiwa yang lelah.

Rumah, selalu terasa hangat,
bukan berasal dari dinding dan atap,
tapi dari wajah-wajah tulus, yang mencintai tanpa syarat,
cinta yang abadi, seperti doa yang tak pernah padam.

Setiap jengkal ruang menyimpan kisah,
dari tawa yang pecah riuh, air mata yang jatuh perlahan,
hingga bisikan doa yang terselip di antara sunyi.
Kenangan melekat pada setiap sudutnya,
menjadi benang halus yang menjahit lembaran hatiku.

Rumah adalah anugerah Allah,
yang selalu kupeluk dengan syukur
Di balik pintunya, tersimpan nikmat tak ternilai,
tempat cinta bertumbuh,
dan doa-doa bersemi menuju ridha-Nya.
Di rumah, aku bertumbuh.
Kasih Ibu menuntunku memahami arti sabar dan cinta,
seperti pelita yang tak pernah padam di kegelapan.
Keteguhan Ayah mengajarkanku
arti tanggung jawab dan ketangguhan,
menjadi tiang kokoh tempatku bersandar.

Di sana pula aku belajar menjaga, melindungi,
dan menyayangi saudara,
mengenal arti kebersamaan,
serta makna sederhana dari kata pulang.

Aku belajar melangkahkan kaki menjejak bumi
dimulai dari rumah.
Belajar mengeja aksara bersama Ibu di setiap senja,
suaranya lembut, menuntunku menyusun mimpi,
huruf demi huruf.

Bersama Ayah belajar mengayuh sepeda roda dua,
susah payah, sementara tangan kokohnya menopangku gagah.
Ayah, menuntunku perlahan mengenal dunia luar,
mengenalkanku arti saling menghargai dan melindungi.
Kini aku beranjak dewasa.
Waktu menorehkan kisah lain di wajah Ayah dan Ibu.
Tubuh mereka tak lagi setegar dulu,
uban berkilau bagai bintang menghiasi kepala mereka.
Namun, cinta keduanya selalu jadi rumah terindah.

Rumah, selalu menjadi tempat terhangat untuk bercengkrama.
Tempat aku kembali menjadi diriku sendiri
tanpa takut dibenci,
hanya dipeluk, dicintai, dan diterima sepenuhnya.

Rumah adalah tanah penuh cinta dan kerinduan,
yang setiap jengkalnya menjadi rahim kehidupan,
pelukannya selalu hangat
dan doa-doa terus mengiringi langkah,
hingga aku mengerti …
tak ada tempat pulang terindah bagi hatiku,
kecuali hanya rumah.

Tentang Rindu Kita

Tentang Rindu Kita

Kita merindukan momentum-momentum, di mana kita menitipkan kasih sayang yang tidak akan usang menjadi kenangan

Kita merindukan jalan-jalan, di mana kita menautkan jejak indah yang tidak akan pudar tergerus waktu

Kita merindukan semangkok hangat bakso di siang hari, di mana kita menuangkan rasa yang masih sedap terkecap dalam angan

Kita merindukan segelas jeruk dingin, di mana kita lelehkan kebekuan yang sempat menyesak antara hati dan hati

Kita merindukan malam-malam yang sunyi, di mana kita tangkupkan doa-doa yang menautkan hati-hati meski berteman dengan jarak

Kita memandang langit yang sama dari tempat yang berbeda
Kita melukis kasih sayang dalam kanvas yang sama dengan kuas dan warna yang berbeda
Kita memadukan perbedaan dengan pemakluman dan penerimaan
Kita adalah cinta yang tak akan pernah usai, seperti surya yang selalu bercahaya tanpa meminta balasan

Kita ada musim hujan dan kemarau yang selalu dipergilirkan, tak penting berada di musim yang mana, selama hati kita masih saling berpegang pada pilar-pilar kebaikan dan teguh berkeyakinan

Kita adalah ombak yang akan terus menyapa bibir pantai, tanpa henti menawarkan keindahan semesta

Kita kini….
Adalah kita yang telah bertumbuh dalam ketabahan

Kita kini….
Adalah kita yang telah menjadi taman bagi kupu dan serangga yang berlalu lalang

Kita kini….
Adalah kau dan aku
Yang telah berubah menjadi sosok yang berbeda dengan hati yang tetap sama

Kita kini …
Adalah dua hamba yang berjalan di jalan yang berbeda dengan tujuan yang sama, yakni keridhoanNya semata

Rumah Cahaya
Panggung – Tegal Timur
Tegal, 25 Januari 2023

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here