La Tahzan! Kalimat Penenang dari Gua Tsur yang Terus Menggema

0
1

Pernahkah kamu merasakan kecemasan hingga muncul pikiran-pikiran negatif berlebihan atau yang kini dikenal dengan istilah overthinking? Merasa seolah dunia tidak pernah adil karena harus menghadapi semua ini sendiri? Kecemasan adalah suatu hal yang umum dirasakan oleh setiap manusia, baik itu orang dewasa, remaja bahkan anak-anak (Paskalis Arisandi Ginting dkk., 2024).

Bahkan dalam perspektif Al-Qur’an dan psikologi modern, kecemasan dipahami sebagai respons alami manusia terhadap tekanan hidup yang dapat dikelola melalui keimanan kepada Allah (Kirana & Nurrohim, 2024). Selain itu, dalam kehidupan mahasiswa modern, kecemasan juga sering dipicu oleh tekanan sosial dan penggunaan media sosial yang berlebihan, sehingga memperkuat fenomena overthinking yang berdampak pada kesehatan mental (Sovia Dewi Maulita dkk., 2024). Namun, memendam perasaan cemas tentu bukanlah suatu keputusan yang bijak.

Saat seseorang sedang berada di fase yang kurang menyenangkan, dia akan mencari sesuatu yang bisa menghadirkan kebahagiaan baginya. Mungkin bisa dengan mendatangi tempat kesukaannya atau sekedar mendengarkan lagu untuk menenangkan pikiran yang berkecamuk. Musik atau lagu memiliki gaya komunikasi yang unik, maka tak jarang musik menjadi sebuah pelarian dalam mengekspresikan apa yang sedang dirasakan (Alexander & Utami, 2024).

Musik bernuansa religi bisa menjadi pilihan untuk menjadi teman di kala kesedihan melanda. Salah satunya seperti lagu milik penyanyi internasional Maher Zain yang berjudul “La Tahzan”. Melalui lagu “La Tahzan”, Maher Zain mengingatkan para pendengarnya pada satu kisah populer yang mana Nabi Muhammad SAW bersembunyi di Gua Tsur dengan sahabat terkasih, Abu Bakar Ash-Shiddiq. Lagu ini menjadi pengingat bahwa kesedihan tidak hanya melanda kita sebagai manusia biasa, namun juga menimpa seorang yang terkasih juga sahabatnya.

Kisah Dramatis di Gua Tsur

Di tengah persembunyian Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar ada detik-detik yang begitu menegangkan. Bagaimana tidak? Nyaris saja keduanya tertangkap oleh orang kafir Quraisy yang mengejar dan hendak membunuhnya. Bahkan mereka telah menaiki Gunung Tsur yang di sana terdapat gua tempat persembunyian Nabi SAW dan Abu Bakar. Jika orang kafir itu menoleh sedikit saja ke bawah sudah dapat dipastikan mereka akan menemui Nabi SAW dan Ash-shiddiq sedang bersembunyi di dalamnya. Dalam situasi genting itu, Abu Bakar merasakan ketakutan yang sangat (Shomad, 2013).

Nabi Muhammad SAW yang melihat sahabatnya ketakutan lalu berbisik kepadanya “Jangan bersedih hati. Allah bersama kita”. Dalam beberapa riwayat disebutkan, setelah Abu Bakar menyadari kepergian orang Quraisy yang mengejar mereka, dia berkata dengan gelisah “Wahai Rasulullah, andai saja diantara mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat kita”. Mendengar hal tersebut Nabi SAW menjawab “Wahai Abu Bakar apa yang kamu kira bahwa kita ini hanya berdua; ketahuilah, yang ketiganya adalah Allah yang melindungi kita” (Zulfatmi, 2021).

Kesedihan Pemicu Iman

Itulah kenangan di Gua Tsur yang mencekam. Namun, dari peristiwa menegangkan itu justru menambah keimanan seorang Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada Allah dan Rasul-Nya. Peristiwa ini juga diabadikan dalam Al-Qur’an tepatnya pada Q.S At-Taubah ayat 40.

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ ٤٠ ( التوبة/9: 40)

Terjemahan Kemenag (2019):
40. Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. At-Taubah/9:40)

Ayat ini mengandung pesan bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya menghadapi segala situasi sendiri. Bahkan saat dunia berpaling darinya, Allah tetap akan menjadi penolong bagi mereka yang beriman kepada-Nya. Dalam kajian Al-Qur’an dan psikologi Islam, kondisi kecemasan dan ketakutan seperti ini merupakan bagian dari fitrah manusia yang dapat dikelola melalui keimanan dan ketergantungan kepada Allah (Harits, 2026).

Pesan inilah yang juga ingin disampaikan Maher Zain dalam lagunya berjudul “La Tahzan”. Melalui musik yang lembut juga lirik yang menyentuh, pesan itu kian terasa dekat oleh pendengarnya. Bahwa kesedihan, rasa takut dan cemas adalah hal yang wajar dirasakan oleh manusia bahkan juga dirasakan Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya, Abu Bakar.

Ketakutan adalah perasaan yang wajar, yang terpenting ialah bagaimana respon kita terhadap rasa takut itu. Kalimat la tahzan, innallaha ma’ana mungkin terdengar seperti kalimat penenang biasa, namun nyatanya kalimat itu adalah bukti kuatnya iman kita akan pertolongan Allah SWT.

Mungkin kita tidak merasakan tegangnya berlari dari kejaran orang kafir atau bersembunyi di tempat gelap nan sempit seperti Gua Tsur. Namun kita juga memiliki ‘ketakutan’ versi kita sendiri. Di situlah kalimat la tahzan innallaha ma’ana menjadi sangat relevan untuk diri kita. Bahwa kita tidak pernah benar-benar sendiri dalam menghadapi dunia ini, karena Allah senantiasa bersama kita.

Wallahu a’lam bisshawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here