Aku ingin bernama Ayyash, lengkapnya Yahya Ayyash. Keren bukan?
Kata orang, Ayyash adalah seorang warga Palestina yang sangat pemberani. Dia adalah tokoh pejuang Hamas yang telah membunuh puluhan tentara Israel. Dia adalah seorang pemuda yang mencintai agama dan Tuhannya. Dan ia mati dibunuh oleh Shin Bet*) Israel di usia 30 tahun. Warga Palestina mengatakan kalau Ayyash syahid, dan surga adalah balasannya.
Aku membaca semua itu dari buku-buku dan klipingan koran yang dikumpulkan papa di ruang kerjanya. Aku ingin, setelah besar nanti juga bisa seperti Yahya Ayyash, aku ingin mati syahid dan mendapatkan ganjaran surga, makanya aku ingin bernama Ayyash, semoga keberaniannya bisa tertular padaku.
Oh ya, namaku Thomas, umurku 10 tahun. Aku adalah anak tunggal mama dan papa. Papaku seorang pimpinan tentara. Kami tinggal di sebuah apartemen mewah di tengah-tengah kota. Beberapa bulan terakhir, papaku sangat sibuk sekali. Papa sibuk karena sedang berperang. Perang? Ah, aku sangat tidak suka dengan kata itu. Tidak ada perang yang tidak meneteskan darah. Tidak ada perang yang tidak merenggut nyawa.
Pagi ini, aku berangkat sekolah seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Hampir semua topik pembicaraan teman-temanku dan juga guru adalah kebencian terhadap rakyat Palestina, sama seperti bencinya papa terhadap mereka.
“Bom bunuh diri, benar-benar perbuatan keji dan tidak berperikemanusiaan.”
“Itu hanyalah pekerjaan teroris.”
“Semoga mereka bisa secepatnya ditumpas.”
”Perang ini pasti kita menangkan.”
Kata-kata itu, hampir setiap hari kudengar, sejak dahulu, bahkan mungkin sejak aku mulai bisa mendengar. Tidak hanya di ruang kelas. Di mana-mana, bahkan seluruh siaran televisi juga menyiratkan kebencian itu. Sorakan membahana akan terdengar serentak saat pembaca berita mengatakan sebuah rudal tentara Israel berhasil memporak-porandakan sebuah kamp pengungsian rakyat Palestina. Sebaliknya, makian dan hujatan akan terlontar saat pembaca berita mengatakan bahwa seorang pemuda palestina meledakkan dirinya di sebuah restoran tempat tentara Israel melepaskan lelah.
Dari semua anak-anak di sekolah, mungkin hanya aku yang tidak ikut menghujat para pemuda Palestina. Saat semua orang bersorak ketika mendapat kabar sebuah rudal tentara Israel berhasil memporak-porandakan sebuah kamp pengungsian rakyat Palestina, aku malah berlari bersembunyi, hingga ke kamar mandi. Di sana aku berdoa, Ya Tuhan, selamatkan mereka, selamatkan mereka dari kekejaman tentara-tentara suruhan papaku.
Lain lagi ketika orang-orang memaki dan menghujat Palestina ketika seorang pemudanya meledakkan diri di sebuah restoran tempat para tentara Israel melepaskan lelah, aku kembali lari bersembunyi, hingga ke kamar mandi. Di sana aku tersenyum sembari mengucap syukur, Ya Tuhan, terima kasih kau telah membantu mereka.
Sejak dulu, aku sangat kagum saat mendapat cerita kalau seorang bocah Palestina berhasil melukai tentara Israel dengan lemparan batu di tangannya. Bocah Palestina? Batu? Aku yakin dia seumuran denganku. Begitu beraninya dia. Melawan todongan senapan tentara Israel hanya dengan lemparan batu. Hal itulah yang membuatku kagum dengan mereka. Dari mana datangnya keberanian itu? Pasti ada tangan-tangan tidak kelihatan yang menggerakkannya. Dan semangat serta keberanian Ayyash, pasti telah merasuki jiwa mereka.
***
Suatu hari, diam-diam aku masuk ke dalam bagasi mobil papa. Aku dengar pembicaraannya dengan mama semalam. Papa akan ke Gaza, ada pertemuan dengan beberapa tokoh terkemuka Palestina. Katanya perang akan diakhiri. Katanya akan ada gencatan senjata, entah apa itu artinya.
Inilah saatnya, batinku. Lalu sebelum Papa dan mama bangun, diam-diam aku menyelinap ke dalam bagasi mobil papa. Sambil tak hentinya berdoa, Ya Tuhan, izinkan aku bertemu mereka, walau tidak bisa bermain dan bersahabat dengan mereka, izinkan aku melihat bocah-bocah pemberani itu dari dekat, tak perlu banyak, satu saja di antara mereka bisa kujadikan kawan, maka aku akan sangat senang.
Aku meringkuk kepanasan di dalam bagasi mobil papa. Aku sudah siap menerima apapun risiko yang akan terjadi seandainya papa tahu apa yang telah kulakukan.
Tapi semua berjalan sesuai rencana. Aku yakin. Tuhan telah menolongku.
Tidak ada yang melihat ketika bagasi mobil papa kudorong dari dalam. Dengan gerakan yang sangat cekatan aku segera melompat ke luar. Lalu menyelinap di antara mobil-mobil yang diparkir. Aku berjalan menjauhi gedung pertemuan tempat papa tengah bermusyawarah dengan beberapa orang pimpinan Palestina.
***
Entah sudah berapa lama aku berjalan, dan sekarang aku entah berada di mana. Ini pasti perkampungan yang sudah ditinggalkan penghuninya. Hanya ada bangunan dan rumah-rumah yang hancur dan setengah hancur, tidak ada kehidupan sama sekali semua warganya pasti telah mengungsi.
Berita terakhir yang kudengar di tivi, jumlah korban meninggal dunia akibat perang beberapa bulan terakhir sudah mendekati angka 30.000 jiwa, dan lebih dari 60.000 mengalami luka-luka. Sungguh keji.
Di atas batu-batu kerikil kecil di pinggir sungai, aku melihat seseorang (usianya mungkin sama denganku) sedang beribadah. Aku tahu, dia sedang salat. Aku duduk di balik sebuah batu besar berjarak sekitar 30-an meter darinya. Beberapa saat kemudian, kulihat seorang anak berusia jauh lebih muda datang berlari menghampiri anak yang sedang salat itu.
“Ahmad, ada apa? Seperti dikejar tentara Israel saja.” Kulihat dada anak yang dipanggil Ahmad turun naik, napasnya memburu.
“Benar, Bang. Tadi Ahmad melihat tentara Israel memasuki desa. Dua mobil besar. Ahmad takut, makanya Ahmad menyusul Bang Hamid ke sini.” Tergesa-gesa Ahmad memberikan laporan. Aku sangat terkejut mendengar penuturan Ahmad. Tentara Israel ke sini? Apakah mencariku? Mengapa secepat itu mereka mengetahui kalau aku berada di sini? Aku sangat yakin sekali sudah berjalan sangat jauh. Bahkan bekal makanan dan minuman yang tadi pagi memenuhi tasku sudah tidak tesisa lagi.
“Apa yang mereka cari? Bukankah seluruh kawasan pemukiman di Sudania sudah mereka hancurkan? Dan bukankah katanya tidak ada perang lagi?” kata anak yang tadi salat.
Ternyata aku berada di Sudania. Ini adalah kawasan di Gaza sebelah utara.
“Mari kita pulang.”
“Tapi, Bang…”
“Ahmad, seorang mujahid tidak boleh takut. Hanya murka Allah yang pantas ditakuti. Katanya ingin seperti Ayyash, ingin seperti Abu Ubaidah.”
Sebelum kedua anak itu pergi, aku segera keluar dari persembunyian dan berteriak memanggil mereka. Mereka menyebut Ayyash, idolaku.
“Tunggu!” kataku sambil berlari menghampiri.
Mereka tampak terkejut. Lalu menatapku tanpa berkedip.
“Tentara itu pasti mencariku, tapi kumohon, tolong bantu aku, sembunyikan aku agar mereka tidak menemukanku.”
Kedua kakak beradik hanya saling pandang, kebingungan.
***
Sejak awal aku memang sudah bertekad akan menerima perlakuan apapun yang akan mereka berikan padaku. Keinginanku hanya ingin melihat bocah Palestina dari dekat, dan itu sudah terkabul saat pertama kali bertemu Hamid dan Ahmad. Aku sudah siap untuk dibunuh, karena aku adalah anak seorang jenderal pembunuh. Tapi ternyata tidak. Mereka memperlakukanku dengan sangat baik.
Saat bertemu denganku dulu, dalam kebingungannya, Hamid dan Ahmad mengantarkanku ke rumah seseorang yang aku yakin adalah orang yang disegani di kampung itu. Mereka menanyakan siapa aku. Lalu dengan sembunyi-sembunyi, mereka membawaku ke pusat Gaza, dipertemukan dengan beberapa orang yang pastinya pimpinan-pimpinan berpengaruh di sana.
Tanpa sungkan aku langsung bercerita, bahwa aku adalah seorang anak tentara Israel, papaku adalah pimpinan satu batalyon tentara. Aku katakan bahwa aku lari dari rumah untuk berkenalan dengan anak-anak Palestina yang pemberani. Aku juga mengatakan bahwa dalam waktu dekat akan ada serangan dari tentara Israel. Gencatan senjata hanyalah alasan mereka mempersiapkan diri lebih baik. Dan terakhir, aku mengatakan kalau aku ingin bernama Ayyash, aku ingin bisa berani seperti Ayyash. Aku mencintai sosok Ayyash, dan sangat membenci tentara Israel.
”Kau tahu siapa Ayyash?” tanya pemuda tampan berjenggot yang duduk di sebelah kananku. Ketika aku menebak apakah ia Abu Ubaidah, dia hanya tersenyum tidak menjawab.
Lalu seperti membaca sebuah buku yang sudah kuhafal teksnya, aku menceritakan sosok Ayyash yang kukenal. Hal yang sudah kubaca berulang-ulang dari klipingan-klipingan yang dikumpulkan papa.
“Aku lebih senang memanggilnya dengan Sang Insinyur daripada Yahya Ayyash. Ia adalah seorang anggota Hamas. Ia menyelesaikan pendidikan dasarnya di Rafat dengan predikat memuaskan, hal itu membuatnya memenuhi syarat belajar keahlian teknik di Universitas Bir Zeit. Ayyash menerima gelar sarjana teknik elektro pada 1988. Ia aktif dalam barisan Brigade Ezzul Deen Al Qassam di awal 1992, di mana ia mengkhususkan pada pembuatan bahan peledak dari bahan mentah yang tersedia di daerah Palestina. Ayyash menjadi salah satu ketua pembuat bom di Hamas. Dalam kapasitas itulah ia menerima gelar “Sang Insinyur.” Dan terakhir, ia syahid saat telpon yang digunakannya disisipi bahan peledak oleh tantara Israel.
“Wah… benarkah begitu? Aku saja baru mengetahui cerita ini sekarang darimu,” Hamid menyentuh pundakku.
”Bisakah aku belajar untuk menjadi Sang Insinyur, di sini?” tanyaku kemudian.
Akhirnya mereka menerimaku. Mengizinkanku tinggal bersama Hamid dan Ahmad. Mengizinkanku bermain perang-perangan bersama anak Palestina, walau aku lebih sering disuruh bersembunyi, takut ada yang melihat.
Berita kehilanganku sudah tersebar kemana-mana. Fotoku terpampang dengan jelas di koran-koran, pemberitaan di radio juga sangat sering mengabarkan tentang diriku. Tapi aku sudah bertekad untuk tidak pulang, aku bahagia berada bersama orang-orang Palestina.
***
Dua bulan kemudian.
Masih terlalu pagi saat aku turun dari mobil yang mengantarku ke daerah perbatasan. Hamid dan Ahmad memelukku lama.
“Ayyash, apakah kita akan bertemu lagi?” kata Hamid saat memelukku.
Aku hanya tersenyum, “Pasti” jawabku kemudian, lalu dalam hati aku melanjutkan, kalau tidak di dunia, insyaallah di surga.
Aku turun dari mobil. Lalu menyuruh mereka yang mengantarku untuk segera pergi. Sementara itu, aku segera mengendap-endap memasuki daerah perbatasan.
“Tolong…tolong…!” kataku sambil berlari begitu melihat dua orang tentara Israel yang tengah mondar-mandir dekat pintu gerbang perbatasan.
Mereka langsung menyorotkan bola senter yang sangat terang ke arahku.
“Bukankah itu Thomas?” kata salah seorang sebelum akhirnya aku jatuh ke tanah. Pingsan? Tidak. Aku hanya pura-pura. Aku sangat malas melayani rentetan pertanyaan yang pasti mereka ajukan. Aku hanya ingin secepatnya mereka mengantarku pulang ke rumah. Aku rindu susu hangat buatan mama. Entah seperti apa kehidupan mama selama aku menghilang, pasti setiap hari menangis.
“Thomas…” mama langsung memelukku begitu keesokan harinya aku membuka mata. Aku yakin sekarang aku sudah berada dalam kamarku. “Thomas, apa yang terjadi?”
Aku tersenyum dan menceritakan semuanya. Bahwa aku diculik oleh dua orang anak buah papa yang sangat membenci papa, lalu aku disiksa dan menjualnya dengan harga sangat mahal kepada warga Palestina untuk dijadikan sandera, tapi orang Palestina malah sangat menyayangiku. Setelah merawatku dan menyembuhkan semua luka-lukaku, aku kembali di antar pulang. Aku mengakhiri ceritaku dengan senyuman. Ketika papa menanyakan siapa kedua orang anak buahnya itu, aku dengan fasih segera menyebutkan nama mereka.
“Tapi mereka pasti hanya suruhan, Pa, pasti ada yang menyuruh, rekan papa yang iri sama Papa.”
Tak lama setelah itu aku mendengar kabar kematian kedua anak buah papa itu. Aku tersenyum. Beginikah rasanya menjadi Ayyash? kebahagiaan selalu menyelimuti. Tak ada keraguan dalam menghadapi apapun, meski itu harus berurusan dengan kematian.
***
“Sampai kapan papa akan terus berperang?” kataku keesokan hari pada papa.
“Perang ini akan segera berakhir, sayang?” Papa mejawab sambil memelukku.
“Tapi kapan? Sampai seluruh anak-anak Palestina itu mati terbunuh?” Papa memandangku dengan tajam. Mungkin tidak suka dengan apa yang kubicarakan.
“Tentu saja sampai kita menang. Sampai Al Aqsa rata dengan tanah, dan di atas puing-puing Al Aqsa kita akan membangun Al Haikal, tempat peribadatan ummat Yahudi. Dan itu akan terkabul dalam waktu tidak lama lagi.”
Setelah berkata begitu, Papa meninggalkanku, ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Setelah papa menghilang, aku segera memasuki ruang kerja papa. Membongkar semua laci-laci, lalu tanpa membaca, aku memasukkan beberapa buah surat dan dokumen yang mungkin saja berharga ke dalam sebuah koper kecil milik papa. Aku memadati koper-koper itu dengan kertas-kertas dari dalam laci meja kerja papa. Lalu kemudian meninggalkan ruangan itu dan buru-buru masuk ke kamarku.
Malam ini, seperti yang telah kujanjikan dengan Hamid dan beberapa orang lainnya, aku akan memberikan koper-koper berisi dokumen-dokumen itu, semoga saja ada beberapa yang berharga. Malam ini, aku akan meninggalkan mama dan papa untuk selamanya, aku akan bergabung dengan bocah-bocah pemberani itu, sampai Palestina merdeka, hingga Ayyash datang menjemputku.
***
Tidak sampai lima belas menit aku menunggu saat kulihat dari kejauhan sebuah cahaya berkedip berulang-ulang kali dalam interval 5 detik. Aku segera menuju ke arah cahaya itu. Hampir dua minggu aku dan Hamid tidak bertemu. Masih banyak hal yang harus kupelajari darinya.
Aku sampai di sumber cahaya yang berkedip itu. Tiba-tiba lampu mobil menyala terang menerpaku. Mataku silau, berani sekali mereka menghidupkan lampu mobil, apakah tidak takut akan ketahuan?
Pertanyaanku terjawab saat satu sosok melangkah ke hadapanku. Papa!
“Thomas, apa yang kau lakukan malam-malam begini?” suara papa terdengar lain, sangat tidak bersahabat. Aku yakin, dia sudah mengetahui semuanya. Aku tidak perlu basa-basi lagi.
“Di mana mereka?” kataku.
Lalu sesosok tubuh bersimbah darah dilemparkan kehadapanku. Aku langsung mengenali tubuh tak bernyawa itu. Hamid.
“Sekarang impas, dua nyawa anak buah papa yang melayang karena ulahmu telah tergantikan dengan tujuh nyawa para sahabatmu.” Lalu tubuh-tubuh lain dilemparkan begitu saja dari atas mobil, jatuh menimpa tubuh Hamid. “Sekarang Thomas, cepat serahkan koper itu.”
Aku tersenyum.
“Impas? Tidak Papa, itu sama sekali tidak sebanding, bahkan mendekati pun tidak. Surga sekarang telah menjadi tempat mereka bermain. Pasti jauh berbeda dengan anak buah Papa yang telah mati. Satu lagi Papa, aku bukan Thomas, namaku Ayyash, lengkapnya Yahya Ayyash, aku adalah Sang Insinyur!”
Lalu aku menarik sesuatu dari balik bajuku dan dengan cekatan menyambungkan kabel merah dan kabel biru yang melilit badanku. Tak sampai waktu satu bulan bagiku mempelajari semua ini hingga aku benar-benar mahir.
Di angkasa yang gelap, aku melihat satu sosok lelaki berpakaian serba putih tersenyum padaku, pasti itu adalah ‘Sang Insinyur” yang datang menjemputku. [*]
*) Sherut haBitachon haKlali yang disingkat Shabak atau lebih dikenal sebagai Shin Bet adalah agensi kontraspionase Israel, dan dikenal pula dengan nama GSS (General Security Service – Pelayanan Keamanan Umum). Lembaga ini bertanggung jawab atas keamanan dan perlindungan Perdana Menteri Israel dan pejabat pemerintah lainnya seperti industri pertahanan, lokasi ekonomi sensitif dan instalasi Israel. Shin Bet, yang kadang-kadang dibandingkan dengan Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI).
































