Suamiku Bukan Pangeran

4
104

Dengungan percakapan menjadi latar suara malam Minggu Afi dan keluarganya di sebuah restoran. Di sekelilingnya, semua tampak sedang menikmati suasana. Ada yang datang bersama pasangan dan ada yang datang dengan keluarga.

Afi mengelap dagu putrinya dari sisa makanan dengan tisu. Usia Alifah 14 bulan. Sementara itu, dua anak Afi yang lebih besar duduk di samping suaminya. Dua jagoan, Alif berusia 7 tahun dan Bima 5 tahun. Mereka terkadang melempar makanannya atau bercanda keterlaluan sampai Afi harus berteriak menegur mereka. Suami Afi, Farhan, tidak menghiraukan anak-anaknya. Farhan hanya memedulikan sesuatu di layar ponselnya.

Afi mendesah keras. Selalu saja seperti ini kalau makan di luar. Niatnya supaya dia tidak perlu repot masak di malam Minggu. Ujung-ujungnya tetap repot karena harus menyuapi sambil menjaga anak bungsunya, sementara suaminya tidak mau gantian.

“Mami, Bima mau main perosotan!” Seru anak kedua Afi.

“Hati-hati, ya. Alif, jaga Bima.”

Anak sulungnya menyahut, “enggak mau.”

Melihat Maminya melotot, Alif langsung nyengir dan membuntuti Bima ke area tempat bermain. Afi menggeleng-geleng kesal. Diliriknya Farhan yang tidak bergeming. Kening suaminya berkerut saat dia berkonsentrasi. Entah sedang main game atau apa. Sesekali Farhan berdecak sebal.

Melihat kakak-kakak lelakinya bermain, Alifah ingin ikut juga. Namun, Afi belum selesai makan. Alifah menarik-narik kerudung Afi sambil merengek. Saat mencoba menenangkan putrinya, sepasang suami istri masuk ke restoran. Yang lelaki memakai kaus putih dan celana jins, istrinya memakai tunik dan kerudung warna pink, sewarna lipstiknya. Mereka berjalan bergandengan melewati meja Afi, lalu duduk di meja tepat di belakangnya.

Afi melirik mereka dengan pandangan iri. Tampaknya usia pasangan itu tak lebih muda dari Afi dan Farhan. Enaknya bisa pergi berdua. Afi tidak ingat kapan terakhir dia pergi hanya berdua dengan Farhan.

Afi melanjutkan makan malam, meski dia merasa sudah tidak bernafsu. Dia terlalu lelah untuk makan. Terlebih, pasangan di belakangnya tidak henti-henti saling merayu.

Si istri memuji kebaikan suaminya. Dia lalu mengejek suaminya karena wajahnya memerah atau salah tingkah. Terkadang suaminya tertawa dengan suara yang dalam. Afi mendelik kepada lelaki di hadapannya, tapi percuma, Farhan tidak mendongak sedikit pun.

Afi sudah hampir selesai makan saat pesanan pasangan itu disajikan. Si istri tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang membuat Afi menajamkan kupingnya.

Wanita itu mengatakan dengan nada kesal yang dibuat-buat, “Eh, Sayang, sebenarnya ada satu hal sih yang nggak enaknya menikah denganmu…”

“Oh ya? Apa?” Si suami menanggapi dengan serius.

Afi berhenti menyuap demi ingin tahu kekurangan suami wanita tersebut. Tidak mungkin seorang lelaki tidak punya kekurangan. Tidak mungkin ada pernikahan yang sempurna. Afi merasa sedikit lebih baik, karena bukan cuma dia yang sengsara dalam pernikahan.

Wanita di meja sebelah itu pun menjawab, “Sejak menikah sama kamu… aku gak bisa lagi nulis status galau. Soalnya, kamu bikin aku bahagia terus setiap hari.” Lalu dia terkikik, sementara wajah suaminya merah karena malu.

Pundak Afi langsung merosot mendengarnya. Dia merasa menjadi istri paling merana sedunia. Kenapa sih suamiku tidak bisa seperti itu?!

Afi menghabiskan makanannya. Dia merasa sudah tidak tahan. Ingin cepat-cepat pulang. Mau istirahat.

Kebetulan, wanita di sebelah tadi pergi ke toilet. Afi cepat-cepat menitipkan Alifah ke suaminya. Farhan langsung memangku putrinya, tapi lalu perhatiannya kembali tertuju ke layar ponselnya.

Di toilet, Afi menunggu di wastafel. Dia mencuci tangannya sambil menunggu wanita tadi keluar. Saat wanita itu keluar dan mencuci tangannya, dia tersenyum pada Afi. Afi balas tersenyum dan mengajaknya mengobrol.

“Mbak sama suaminya, ya?”

Wanita itu menoleh padanya. “Saya? Iya, Mbak. Sama suami.”

“Newly wed, ya?”

“Iya mbak, baru, hehe…”

Afi mengomel dalam hati. Oh, pantas saja… Masih masa bulan madu.

“Baru 3 tahun,” lanjut wanita tadi.

Afi terbelalak. Waktu pernikahannya dengan Farhan menginjak 3 tahun, mereka tidak sehangat itu. Boro-boro, mereka kerepotan dengan anak pertama mereka waktu itu. Mungkin pasangan ini belum punya anak.

“Oh, ya? Asyik, ya, Mbak. mumpung belum punya anak. Kalau kayak saya, punya anak 1 repot sendiri. Suami asyik main game aja, gak di rumah, gak di luar. Saya aja lupa kapan terakhir digombali sama suami.” Tanpa sadar, Afi mengumbar aib suaminya.

Wanita tadi mengangguk-angguk mendengarkan. Dia maklum, seorang istri pasti butuh curhat. Kalau bukan kepada suaminya, pasti jadinya harus curhat kepada orang asing. Dia tersenyum menenangkan pada Afi.

“Oh gitu ya, Mbak… Memangnya kapan terakhir kali Mbak ini memuji suaminya?”

“Lho, kok saya?”

Wanita itu tersenyum sabar. Afi jadi sebal melihatnya yang tersenyum terus.

“Iya. Mbak dengar kan, dari tadi saya yang gombalin suami saya. Suami saja diam-diam aja, bahkan tidak membalas memuji atau menggombali saya.”

“Eh, iya juga. Kenapa begitu, Mbak?”

“Kenapa enggak? Kenapa harus menunggu suami yang memulai? Suami saya memang bukan orang yang romantis melalui kata-kata, tapi dia menunjukkan rasa cintanya dengan cara lain. Tapi saat saya memuji suami duluan, saya happy, dia happy, kami pun happy. Kan, itu yang saya mau?”

“Ck. Tapi masa saya yang duluan. Harusnya dia, dong. Kan dia laki-laki.”

“Dalam memperbaiki hubungan, dibutuhkan minimal satu orang yang mau berubah, Mbak. Kalau Mbak nunggu suami Mbak yang memulai, Mbak akan kecewa. Karena Mbak tidak bisa mengontrol sikap suami. Yang bisa kita kontrol adalah sikap kita sendiri. Kalau kita ingin ada yang berubah dari hubungan kita dengan suami, maka ada sikap kita yang perlu berubah juga.”

Afi tidak menduga akan ucapan wanita asing itu.

Saat Afi masih tertegun, wanita itu berkata, “Oh ya, kami sudah punya anak. Kembar. Usia mereka 12 bulan. Lagi dititipkan ke saudara, soalnya malam ini kami khusus kencan berdua, karena kami menganggap kencan berdua itu penting meski sudah punya anak. Jadi harus diusahakan. Saat anak-anak melihat orang tuanya bahagia, mereka tumbuh jadi orang yang bahagia juga.”

Wanita itu sekali lagi tersenyum dan pamit. Mereka pun berpisah. Tak lama kemudian Afi pun kembali ke mejanya, sambil masih memikirkan ucapan wanita tadi. Dia mendapati kedua anak lelakinya sudah kembali ke meja mereka.

Afi mengambil putrinya dan mengajak Farhan untuk pulang. Farhan menyimpan ponselnya dan berdiri. Anak-anak lelaki mereka mengikuti Farhan. Afi di paling belakang, satu lengan menggendong Alifah, satu lagi membawa tas.

Dipandanginya suaminya dari belakang. Suaminya memang bukan pangeran. Tapi, ini lelaki yang dipilihnya menjadi pendamping hidupnya. Lelaki yang ia ingin menghabiskan sisa hidup bersama. Lelaki yang sudah berkorban banyak hal untuknya dan keluarganya. Sampai kapan dia harus ‘merasa’ menderita hidup dengan lelaki yang dia cintai? Dia ingin situasinya berubah.

Setelah dari kasir, ketika keluar restoran menuju tempat parkir mobil, Afi menyejajari langkah suaminya. Dia berkata, “Papi, makasih, ya, sudah mengajak Mami sama anak-anak makan di resto.”

Farhan menoleh padanya dan tersenyum berbinar. Afi tak menduga. Ia pun membalas senyum suaminya. Tiba-tiba, rasa lelahnya sirna begitu saja. Saat menuju ke mobil, ia membatin, benar kata wanita tadi, tak perlu menunggu suami berubah duluan agar aku merasa bahagia dalam pernikahan.


4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here