Simfoni Bunga Rumput 03

4
149

Dalam kondisi basah oleh keringat, kerudung acak-acakan dan napas ngos-ngosan, Kinanti menuju ruang BEM, Badan Eksekutif Mahasiswa yang baginya sangat mewah, ber-AC dingin,dan terdesain super elegan—mirip kantor sebuah perusahaan bonafid.

“Tumben Lo telat, Kin!” tegur Anton, ketua BEM Fakultas, anak seorang jenderal bintang 2, dengan wajah ditekuk, suntuk. Kelihatannya mahasiswa bertampang macho itu memang sedang bete berat. Jumlah kerut di kening itu menjadi penanda. Beberapa orang terdekat Anton kabarnya sudah membuat klasifikasi. Kalau tak ada kerut, berarti Anton sedang ceria. Kalau ada kerut satu, dia sedang kurang enak badan. Kerut dua, berarti sedang sedih atau gelisah. Kerut tiga, sedang marah. Nah, kalau kerutnya empat keatas … berarti sedang bete berat. Uh, ada-ada saja.
“Aduh, sorry … ada kejadian seru barusan. Motorku yang antik itu, tadi barusan ditabrak BMW. So, masuk bengkel, deh!”

Tawa Zaky, wakil sekjen yang tampangnya mirip seorang aktor pribumi keturunan Arab itu meledak. “Motor butut kamu itu? Mental dong!”
“So pasti,” Kin yang sudah sangat paham karakter wakilnya itu tersenyum kecil. “Tahu sendiri kan, motorku itu sudah ketinggalan zaman, produk zaman bauhela. Ini bukan sekadar kecelakaan biasa, tetapi sudah masuk lingkup perseteruan borjuis vs proletar, tahu nggak?”“Makanya, segera ganti motor kamu sama Altis kek, atau Camry!”

“Wah, duit darimana awak?” Kin angkat bahu. Tak merasa rendah diri. Buat apa rendah diri? Bikin orang dengan seenak hati menindas dirinya. Tidak! Bagi Kin, harga diri adalah segalanya. Siapa yang akan menghargai kita jika bukan kita sendiri.
Zaky geleng-geleng kepala. Pribadi cewek berjilbab ini memang unik. Ia berasal dari kalangan kebanyakan, tetapi siapa yang berani berhadapan face to face dengannya. Ia sangat cerdas, PeDe, pintar berargumen, dan penuh dengan kreativitas. Meski sosoknya kelewat maskulin alias tomboy … namun, ehm … wajahnya lumayan manis juga. Banyak, bejibun bahkan, cewek cantik di universitas itu, tetapi bagi Zaky, pesona Kinanti adalah segalanya. Zaky punya puisi khusus untuk Kinanti.

Gadis yang bersahaja ….
Jika elang yang lelah berkelana ini
Singgah di taman bunga yang kau tanam
Dengan penuh kelembutan
Percayalah ….
Elang itu akan meluruhkan sayapnya
Berubah menjadi kumbang
Yang akan setia
Menjaga taman bunga itu

Puisi itu jelas konyol, produk cinta tempo doeloe yang terpendam rapat-rapat di lubuk hati. Meski Zaky cukup berpengalaman dalam urusan percewekan, ia tidak berani bersikap lebih kepada Kinanti. Nggak Pede, euy! Puisi itu, yang semula ingin ia berikan kepada Kin, sampai sekarang pun masih tersimpan rapi di salah satu lembar kertas dalam organizer-nya.

“Jadi, kamu naik bus kota, Kin?” tanya Icha, bendahara BEM, anak seorang taipan raksasa yang selama ini bergaul sangat dekat dengan Kinanti.
“Iyalah ….”
“Kasihan!” Icha tertawa ramah. “Besok kita berangkat bareng, deh. Biar aku jemput kamu.”
“Ah, nggak usah. Rumahmu kan melewati kawasan macet. Jauh lagi. Nanti bisa-bisa sebelum subuh kamu sudah harus berangkat. Padahal ngaku aja, kamu paling males bangun pagi kan?”
Icha nyengir malu.
“Tenang aja, bentar lagi motorku juga beres.”
“Kamu punya duit buat bayar bengkelnya?”
“Ah, tahu aja kau kalau saldoku tinggal limapuluh ribu perak.”
“Berapa sih, abisnya?”
“Mau bayarin?”

“Kalau nggak sampai harus jual mobil, why not?”
“Hei … hei!” Anton mengetuk meja dengan palu kecil. “Masalah kita saat ini bukan sekadar masalah motor. Ada masalah sangat besar yang harus segera kita bereskan!”
“O, ya? Sori …,” ujar Kin. “Tapi ngomong-ngomong, masalah apa ya?”
“Itulah jadinya kalau telat ….” Suara Anton terdengar berat, tampak kesal.
“He, kan sudah jelas alasan keterlambatan Kin,” bela Zaky, tak rela gadis pujaannya disemprot sang ketua. “Sudahlah, nggak usah dipermasalahkan. Kamu sendiri juga sering molor kalau rapat.”
“Oke, baik!” Anton memilih untuk mengalah. “Sori, Kin.”

“It doesn’t matter!” Kin mengangguk-angguk sok culun, membuat Zaky diam-diam menelan ludah. Betapa bahagianya ia jika Kin mau jadi … pacarnya, ugh! Sayang, rasanya nggak mungkin. Orang-orang tipe Kin mana mau pacaran. Maunya langsung nikah. Sementara ia … hm, boro-boro nikah. Ngurusin kuliah saja nggak kelar-kelar.
Lagian, apa mau Kin nikah sama orang yang masih suka cengengesan seperti dia? Hm, benar-benar pungguk merindukan bulan.

“Begini! Saya mendengar isu yang sangat tidak sedap didengar. Bukan cuma nggak sedap, tapi juga bikin mau muntah! Andra c.s. ingin menjatuhkan kepemimpinan kita melalui cara-cara yang sangat murahan.”
Andra adalah pesaing kuat Anton ketika pemilihan ketua BEM Fakultas Hukum beberapa bulan silam. Bukan rahasia umum jika kedua orang itu terlibat dalam perseteruan yang cukup seru. Masing-masing mencoba unjuk kekuatan untuk memperlihatkan, siapa sebenarnya sebenarnya the first-man sejati di fakultas itu. Jika Anton menguasai jalur formal, leader yang diakui birokrat, Andra adalah leader informal yang pengaruhnya tak kalah kuat dibanding Anton.

Kinanti sendiri cool saja menghadapi masalah itu. Baguslah kalau sebuah kepemimpinan disertai pihak oposan, bisa saling melengkapi biar balance. Yang penting, ia jangan terjebak untuk masuk dalam persaingan itu. Toh ia bukan antek Anton, juga bukan musuh Andra. Dalam banyak sisi, Andra juga sering ada benarnya kok. Andra sering menuduh Anton itu kekanak-kanakan, pada kenyataannya, Anton memang benar-benar anak mami tulen!

“Andra memasukkan orang-orangnya ke dalam kepanitian pekan orientasi mahasiswa baru.”
“So, apa salahnya?” Kinanti mengerutkan kening. “Bukankah kita memang melakukan rekruitmen terbuka untuk panitia-panitia acara Pomaru kali ini? Membawa seratus mahasiswa baru ke sebuah tempat asing selama tiga hari untuk berkemah, bukan sebuah pekerjaan ringan. Kita butuh banyak SDM.”
“Jika niatan mereka cuma sebatas membantu, aku justru sangat berterimakasih. The problem is…, mereka itu masuk untuk menghancurkan program kita, tahu? Mereka telah merancang sebuah skenario agar Pomaru kali ini gagal total, dan hal tersebut akan mereka gunakan sebagai senjata untuk menghancurkan kepengurusan kita!”

“Apa ada bukti kongkrit?” tanya Umar, ketua bidang Kerohaniahan Islam, teman Kinanti sesama aktivis masjid kampus, hati-hati.
“Saya mendengar rencana ini dari seorang teman yang sangat bisa kupercaya. Teman saya itu menguping pembicaraan mereka di sebuah kafe. Ini benar-benar sebuah rencana kudeta,” jawab Anton, muram.
“Bagaimana skenario mereka?”
“Sayangnya, teman saya itu tidak mendengar secara lengkap.”

“Dan kau percaya begitu saja?” tembak Zaky. “Informasi yang tidak akurat, hasil menguping pembicaraan lagi, sebaiknya tidak perlu kita permasalahkan. Pomaru seminggu lagi. Sebelum itu, kita harus lebih dulu mengkondisikan mahasiswa baru lewat kelompok-kelompok pendampingan yang kita buat. Rasanya, kita tidak punya waktu untuk membicarakan apa yang kau khawatirkan, Ton!”
“Tidak bisa begitu. Jika acara kita gagal, kita akan dilengserkan!”
“Acara kita justru akan gagal jika kita tak sesegera mungkin membicarakan hal-hal yang lebih penting!” potong Kinanti. “Saya sepakat dengan Zaky, masih banyak sekali hal yang harus diputuskan dalam rapat kita kali ini, termasuk hal-hal teknis seperti perizinan, transportasi, acara, akomodasi dan seterusnya. Masalah teror Andra, asal aturan main kita jelas, dan kita juga bisa bersikap tegas serta kompak, insya Allah akan bisa teratasi.”

Zaky mengacungkan ibu jari kepada Kinanti, senang karena bisa satu ide.
“Oke… oke…,” kata Anton akhirnya. “Baiklah, masalah Andra kita buang!”
“Bukan dibuang, Bung!” tegas Gagah, ketua bidang PSDM. “Tetapi tidak akan kita bicarakan sekarang. Bahwa ini sebuah masalah, tentu kita tidak akan mengingkari. Tetapi, kita akan membicarakan sesuatu yang lebih penting. Oke?”
Anton tersenyum kecut. “Baiklah. Rapat saya lanjutkan. Kemarin saya dan Andien sudah mencoba menyusun kelompok-kelompok pendampingan berikut pemandunya.”

“Ehem… ehem!” dehem Prastawa, ketua bidang minat dan bakat. “Menyusunnya di mana nich? Bioskop, kafe remang-remang… atau….”
“Tentu saja di sini!” sentak Andien, ketua bidang Litbang yang juga ketua panitia acara Pomaru, agak tersinggung. “Gue nggak ada affair sama ketua, tahu! Emangnya Lo!”
“Sudahlah… nggak usah mbicarain yang enggak-enggak!” ketus Anton, kesal. “Wasting time, tahu! Ini draftnya sudah kufotokopi. Tolong dipelajari. Ada limabelas kelompok dengan 15 pemandu. Jadi satu kelompok anggotanya 6 atau 7. Sejak hari ini, sampai Pomaru dan 1 semester ke depan, pemandu bertanggungjawab membina mereka. Aku sengaja tidak memasukkan orang-orang Andra sebagai pemandu. Ingat, target kita adalah kaderisasi. Kita akan bentuk mereka sebagai aktivis mahasiswa yang nggak cuma mikirin perut sendiri doang. Kerja yang sangat berat untuk universitas kita yang mayoritas mahasiswanya berkarakter pragmatis. Tersaring lima persennya saja sudah lumayan.”

“Lima persen?” Kinanti mengerutkan kening. “Berarti cuma sekitar lima orang doang?”
“Itu sudah prestasi kubilang. Universitas kita ini jauh dari karakter mahasiswa UI atau UNJ. Boro-boro mau demo nurunin pejabat, mau berpikir sedikit kritis saja sudah untung.”
Kinanti meraih draftnya, sepasang mata di balik lensa minusnya langsung tertuju pada kelompok 12, dimana namanya tertulis sebagai pemandu. Ada 6 anak yang ada dalam pembinaannya. Alhamdulillah, semua puteri. Rupanya saran dia yang separuh memaksa, agar antara putera dengan puteri dipisah, diindahkan oleh Anton. Pelan ia pun membacanya.

Eliza Cindika Tri Murti, Clarissa Ambarwati Putri Darmadi, Kartikasari Setya Wardani, Angelika Ekabudi Hermawan, Tracy Miriam Siregar dan Ida Ayu Dewanti Prasetyo. Ck…ck, namanya panjang-panjang seperti gerbong kereta api ekonomi, tak sesimpel namanya yang cukup 3 suku kata: Kinanti.
“Gimana?” bisik Icha yang duduk di sampingnya. “Udah pada kenal?”
Kinanti menggeleng seraya menunjukkan kertas itu pada Icha. “Kamu ada yang kenal?”

Icha terkekeh ketika membaca huruf-huruf yang diblok stabillo hijau muda itu. “Ini mah para trouble maker mahasiswa baru, Kin….”
“Maksudmu?”
“Hampir semua aku tahu. Hm, cuma mahasiswa kuper kayak kamu yang nggak tahu sepak terjang mereka!”
“Eh, bukannya kuper, tapi an-gos tahu?”
“An-gos?” Icha mengangkat alisnya, tak paham.
“Anti gosip. Nggak kayak kamu.”
“Huu!!” Icha menyoal pundak Kinanti, gemas.
“Ayo, jelasin siapa mereka? Bukan dalam rangka nge-gosip lho. Ini penting untuk pengenalan awal.”

“Ah, Lo ini benar-benar kuper. Mereka kan begitu terkenal. Si Liza ini, dengar-dengar pecandu narkoba. Clarissa, galak, sok kaya, maklum, babenya pejabat teras dan manjanya minta ampun. Tika, playgirl kelas kakap. Belom-belom, baru beberapa hari masuk kuliah, sudah ada senior yang diputusin atas pacaran mereka yang usianya baru tiga hari. Tiga hari putus, Gila nggak?”
Kinanti mengerucutkan mulutnya, namun tetap diam, membiarkan Icha meneruskan ocehannya.

“Trus, Angel ini… pendiamnya bukan main. Angkuh, tetapi sekali ngomong, nadanya ketus banget, bikin sakit hati. Kabarnya, dia pernah jadi korban perkosaan dan sudah punya anak usia 3 tahun. Selanjutnya Tracy, dia ini model beken. Jangan tanya karakternya, serasa paling cantik di dunia. Nah, kalau Ayu ini… bahaya. Kabarnya, dia itu…,” Icha berbisik di telinga Kinanti. “Penyanyi klab malam nyambi perek!”
“Heh, yang bener?”
“Entah sih… itu baru gosip sih, cuma… mereka berenam ini memang mahasiswa baru yang paling terkenal! Selebritis.”

Kinanti termangu memandangi barisan nama yang mendadak berubah menjadi monster yang menari-nari di depannya. Anton yang tampaknya merasa bersalah mendesah pelan.
“Sori, Kin…. keenam anak itu memang sengaja kita gabung jadi satu kelompok. Ketika kutawarkan sama teman-teman tadi, tak ada yang berani menangani. So, setelah berembuk, kami berpikir yang paling tepat menghandle mereka adalah… kamu!”
“Kenapa mesti aku?” Kinanti mengetuk-ngetuk gagang kacamatanya, bete. “Atas dasar pertimbangan apa?”

“Kamu mahasiswa paling berprestasi, Kin. Kamu juga alim, tegas dan… berani. Pendek kata, citra diri kamu kan terbangun sangat baik selama ini. Entah nanti,” Andien nyengir bandel. “Sepertinya, mereka bakal segan sama kamu.”
“Kedua, kamu datangnya telat, Kin….” cetus Gagah seraya tersenyum. “Jadi jangan salahkan kalau cuma dapat kelompok sisa.”
“Tak usah dijadikan beban yang berat,” hibur Zaky, sok akrab. “Mereka memang sudah error. Tak ada target untuk kamu. Asal mereka sadar bahwa mereka itu mahasiswa, itu sudah cukup!”

“Heh, makna sadar sebagai mahasiswa itu nggak sembarangan, lho, Zak!” protes Kinanti. “Kita sadar sebagai mahasiswa, artinya kita ngerti, apa sih sebenarnya peran mahasiswa, apa kewajibannya, apa idealismenya. Dan itu sulit….”
“Kita sama-sama merasakan kesulitan,” potong Gagah. “Perbedaan karakter keenam orang itu dengan mayoritas mahasiswa sini sebenarnya tidak terlalu besar.”
“Kita tak lagi punya waktu untuk membicarakan hal itu,” tegas Anton. “Keputusan sudah final. Nanti siang, semua mahasiswa baru dikumpulkan di aula, dan para pemandu akan bertemu dengan kelompok masing-masing!”
Kinanti pun hanya bisa menghempaskan tubuh ke sandaran kursi lipat seraya menghela napas panjang.


Pecandu narkoba
Playgirl kelas kakap
Korban perkosaan dan sudah punya anak usia 3 tahun
Model beken yang merasa paling cantik di dunia
Penyanyi klab malam sekaligus ‘perek’ dan …
Si galak yang manjanya tak ketulungan

Kinanti menatap sosok-sosok yang duduk bersila di atas lantai dengan mulut merengut itu. Seperti mayoritas mahasiswa lainnya, mereka tampil modis, cantik dan gaya. Tampangnya the have semua. Ia pun menghitungnya, satu, dua… cuma lima. Mana yang satu?

“Kita mau diapain, sih?” tanya seorang dari mereka, paling cantik, paling langsing dan paling modis. Mungkin ini yang bernama Tracy, model beken itu. Wajahnya yang ayu dibalut dengan gaya yang kemayu memang cukup membuat orang gemes. Tetapi kalau merasa menjadi orang tercantik di dunia? Wah, ini mah sudah masuk kategori patologi sosial.

“Iya, nich! Sebel. Mana aku ada janji sama cowok baru gue lagi! Senior ini ada-ada saja. Gue pikat terus diputusin baru tahu rasa,” ketus mahasiswa dengan rambut panjang yang dikepang kecil-kecil. Funky, tapi manis juga. Playgirl itu? Tika? Kedua mahasiswa baru itu, Tracy dan Tika tampak terlihat akrab dan kompak.

Sekali lagi Kinanti menatap ke-6… eh, ke-5 adik binaanya itu. Dandanan mereka sudah seperti orang dewasa. Make-up berkelas rata-rata menghiasi wajah masing-masing, lengkap dengan busana yang lumayan mengumbar aurat. Rata-rata mengenakan celana jeans ketat dan kaos ngatung. Risi, euy! Kin mendadak merasa menjadi gadis gunung yang imut dan lugu di hadapan mereka.

“Adik-adik… kenalkan, nama saya Kinanti, pemandu kalian selama Pomaru dan satu semester ke depan.”
Kelima mahasiswa baru itu melengos, seakan tak mau menggubris ucapan Kin barusan. Kin pun menelan ludah. Ia jelas-jelas tak dianggap, nich….
“Semua mahasiswa baru disini, selama satu semester wajib mendapat bimbingan kemahasiswaan. Kebetulan, BEM Fakultaslah yang ditunjuk menjadi pelaksananya.”
“Heh! Bete banget, ya? Kita kan sudah mahasiswa, tapi masih diatur-atur aja!” teriak salah satu dari mereka. Mahasiswa yang Kin duga bernama Tracy.
“Alaaah… dicuekin juga selesai!” sahut yang lain. Yang ini mungkin Tika.
“Tahu gini, mending kabur seperti Clarissa!”

“Senior kurang kerjaan!”
Lagi-lagi Kinanti menelan ludah. Situasi benar-benar tidak nyaman. Gimana nih, enaknya? Ia masih mondar-mandir memikirkan penciptaan kondisi yang paling untuk menghadapi mereka ketika sebuah bentakan yang terdengar jelas di belakangnya membuat ia nyaris terjengkang saking kagetnya.
“Lu mau coba-coba kabur ya?!”
Ya Rabbi, keras banget.
“Mau menentang senior?!”
Kin sontak berbalik. Tampak olehnya kini, Gagah, sang kabid kaderisasi tengah menyeret seorang mahasiswi yang meronta-ronta, berusaha memberontak menuju ke arah Kin.

“Ayo gabung sama kelompok kamu!” bentak Gagah lagi dengan sepasang mata melotot. Astagfirullah, sejak kapan Gagah yang full smile itu bisa berubah menjadi segarang itu?
“Nggak mau! Kamu nggak usah ngatur-ngatur gue, senior brengsek! Jangan sok ganteng Lo! Muka badak kayak gitu dipamerin!”
“Kamu ini yunior, tahu!” sengit Gagah lebih keras. “Coba ngaca sedikit biar tahu diri! Kamu aja yang sok cantik, padahal orang utan saja malas lihat kamu. Ayo, gabung sama kelompok kamu!”
“Tidak mau!”

“Gabung!” suara Gagah benar-benar menggelegar, tampaknya ia betul-betul sangat marah. Telunjuknya menuding mahasiswi itu, gemetar. “Sekali lagi, Clarissa! Gabung dengan kelompok kamu, atau terpaksa aku tampar mulut kamu yang jelek itu! Jangan bikin aku semakin marah, tahu nggak?!”
Dih, kata-kata Gagah ini, sarkatis banget. Tumben!
Setelah mengeluarkan makian keras, mahasiswi itu pun beranjak menuju Kinanti. Clarissa? Kin menggigit bibir. Semakin dekat gadis itu berjalan, ia semakin bisa mendeteksi dengan jelas.

Gadis berkacamata hitam yang BMWnya menabrak motor bututnya tadi pagi.

Bersambung ke BAGIAN EMPAT.

CATATAN PENULIS:

Novel “Simfoni Bunga Rumput” ditulis pada tahun 2005 dan pernah terbit sebagai buku di FBA Press. Penayangan di website ini setelah melewati proses rewrite dengan penambahan bab-bab baru. Karena ditulis tahun 2005, setting novel ini tentu sangat berbeda dengan Jakarta saat ini. Ingin baca novel ini secara lengkap? Silakan klik NOVEL SIMFONI BUNGA RUMPUT.


4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here