Belahan Jiwa

1
77

“Dua orang ustaz muda, kenalan ayah di pengajian rutin saban minggu, tsiqoh minta bantuan dicarikan akhwat yang siap menikah. Ayah pikir, tak ada salahnya jika ayah ajukan dua putri ayah saja. Ternyata mereka menerima. Jadi insya Allah, besok mereka akan datang untuk memulai proses ta’aruf.”

Kalimat Yahya mengalir setenang Sungai Martapura. Wajahnya bercahaya. Seakan menemukan emas murni dua puluh empat karat seberat satu kilogram.

Andhira, sang istri, manggut-manggut di sisi lelaki itu. Senyum yang terkuak di bibirnya, mencerahkan suasana malam dengan langit nyaris tak berbintang.

Laili mengepal tinju. Rupanya inilah pembicaraan serius yang dimaksud ayahnya ketika meminta seluruh anggota keluarga berkumpul di ruang tengah malam ini.

Pernyataan Yahya tak menuai tanggapan. Malah hening yang menyambut. Ruang tengah serasa sepi melebihi kuburan. Seakan kalimat tersebut begitu menyeramkan. Bahkan angin pun seolah-olah enggan lewat.

Laila hanya menunduk dengan sebaris senyum polos. Tanpa sebait pun ungkapan. Laili tak bisa menebak, apakah kembarannya itu diam karena sepakat ataukah takut mengemukakan pendapat?

“Bagaimana menurut kalian?” tanya Andhira hati-hati. Ketar-ketir melihat warna muka Laili yang mulai memerah dan matanya yang terbeliak. Terbaca pemberontakan di sana.

Laila mengangkat mukanya, perlahan. Menatap lembut.

“Jika Ayah menilai mereka layak untuk Laila, insya Allah Laila siap.” Suara gadis ini mengalun seperti semilir angin pegunungan yang menyejukkan. Tak dinyana, jawabannya begitu mantap. Tak ada tanda keraguan sedikit pun di raut wajahnya yang ayu.

Laili terperangah. Secuil pun tak menduga respon Laila, kembarannya yang masih sibuk menempuh masa co-ass di fakultas kedokteran ULM itu.

Yahya tampak kian berseri-seri. Andhira mengangguk-angguk sambil tersenyum haru. Sekilas, pandangan dua orang tua itu bertaut. Lalu, sama-sama mengangguk. Semringah.

Sorot mata sang ayah kemudian terhunjam tepat ke mata Laili.

“Nah, kau dengar jawaban saudarimu, Nak? Bagaimana denganmu sendiri?”

Intonasi kalimat Yahya tidak mirip pertanyaan yang meminta pendapat secara baik-baik. Lebih mirip tekanan.

Laili terpaksa menyiapkan mental. Tadinya ia bersiap mengajak Laila berkoalisi untuk menentang. Ternyata Laila memilih patuh kepada ayah. Tampaknya Laili harus berjuang sendirian. Menghunus argumen yang paling tajam. Lidahnya agak kelu karena emosi berjejalan. Pepat di dada ini telah terpendam lama.

Sejak mereka kembali dalam satu keluarga, ayahnya memaksanya memakai kerudung dan jilbab. Salatnya, yang biasanya dibiarkan ibu bolong-bolong, kali ini dikontrol ayahnya dengan ketat. Nonton televisi tak boleh lama-lama. Dengar musik dibatasi. Tiap Subuh dan Magrib dijejali murottal dari radio. Jalan-jalan bersama teman, selalu ditanya, mau ke mana dan pulang jam berapa.

Padahal dulu, bersama ibunya tidak begitu. Yang penting Laila memberi kabar via SMS atau chat WA, itu sudah cukup. Karena ibu terlalu sibuk. Di rumah, Laili bebas semaunya karena hanya ada Mbok Inah yang tak bakalan mengusik dirinya. Laili suka bolos sekolah. Cari kuliah pun di tempat yang jadwalnya santai.

‘Ayah ternyata lebih galak dari sipir penjara, lebih disiplin dari tentara.’ Laili membatin geram.

Keberanian disalurkan ke seluruh urat darahnya. Sudah saatnya panji pemberontakan dikibarkan. Ia menegakkan kepala. Rambut ia sibakkan, dagu pun diangkat tinggi.

“Tidak, Ayah. Laili tidak siap. Jikapun kelak harus menikah, Laili akan memilih calon suami sendiri!” Nada suaranya penuh tantangan.

Andhira ternganga. Yahya terperanjat. Sepasang mata kedua orang tua itu sontak menggempur sadis wajah Laili.

“Calon suami yang bagaimana maumu? Yang salatnya seperti bintang jatuh, sekejap menyala lalu lenyap? Ngajinya belepotan? Yang kalau lagi libur; suka ngelayap, nonton tivi, dan dengar musik seharian? Begitu?” Dentum suara ayah menerjang gendang telinga Laili tanpa ampun, telak menghunjam hingga ke hati.

Jlebb!

Dadanya serasa disambit belati. Menancap tepat di jantung hati. Laili tersentak gemetar. Ia tak terbiasa dibentak keras. Namun, bukannya takut dan mengkeret, jantungnya malah terasa kian terbakar. Mata bulatnya sontak berapi.

“Coba tengok saudarimu! Seharusnya dia jadi teladan buatmu! Berkaca sajalah kau, lihat refleksi calon suami pilihanmu di situ!”

Badai berkecamuk dalam dada Laili. Emosi mengaliri arus darahnya, menyesap hingga ke ubun-ubun. Seandainya ayah tak membanding-bandingkan, gejolak batinnya tak akan meruap sebesar ini.

Dia bukan Laila. Meski penampilan mereka bak pinang dibelah dua. Jangan pernah sekali-sekali menyamakan mereka. Jangan.

‘Laila si penurut, minus cita-cita itu’, tuding Laili dalam hati, ‘ritme hidupnya adalah cetakan ayah!’ Bagi Laili, Laila tak lebih dari boneka hidup dengan remote control di tangan ayah. Mungkin karena sejak kecil tumbuh besar di bawah asuhan tangan ayah yang suka perintah-perintah. Tidak seperti ibu.

Sementara Laili, berjiwa bebas, pemuja feminis. Sosok ibu dengan jenjang karier prestatif adalah teladan sempurna.

Sejak ibunya meninggalkan ayah dan membawa serta dirinya yang baru enam tahun, kehidupan mereka morat-marit diguncang prahara. Status ekonomi ibunya yang di atas angin, menyinggung perasaan kelelakian ayah, sehingga mereka jarang akur. Watak yang sama keras, menjerumuskan keluarga mereka dalam jurang kehancuran.

Akan tetapi, saat ia dan Laila menginjak dewasa, ibu dan ayah tersadar akan usia tua, terbuai pesona lama. CLBK, istilah ABG sekarang. Mereka rujuk dan nikah kembali.

Di sinilah ia; Laili dan Laila, akhirnya bersatu setelah sekian lama dibentang jarak dan waktu.

Serupa, tapi tak sama. Karakter mereka seperti air dan api, siang dan malam, yin dan yang, bumi dan langit. Tak seharusnya ayah mempersamakan perlakuannya. Malangnya, ibu menurut saja. Menurut Laila, ibu sudah tobat. Bagi Laili, itu kiamat.

Andhira memandang Yahya dengan sorot mata bersalah, penuh permohonan maaf. Yahya menarik napas panjang saat sang istru menggenggam tangannya. Tanpa kata, terjadi dialog batin antar suami istri. Saling memahami. Belajar dari kesalahan masa lalu. Berhenti saling menyalahkan.

“Ayah, aku bukan Laila! Aku berbeda! Jangan pernah bandingkan aku dengan Laila! Dan tak perlu mengatur-ngatur hidupku! Aku berhak mengatur diri sendiri!” Bom waktu itu akhirnya meledak juga. Buncahan emosi Laili meruap. Ia bangkit berdiri, lalu berlari pergi ke kamar, menyisakan gema isak tangis membahana.

Andhira tak kuasa menahan gerimis di wajahnya pula. Menyadari kekhilafannya di masa lalu terhadap Laili. Lalu, mempererat genggamannya di tangan Yahya sambil tersedu sedan.

Yahya menepuk-nepuk pelan bahu Andhira.

“Ayah, Laili benar.” Mendadak suara bening Laila menyelisik. “Kami tidak sama. Jadi, mohon lebih lembut pada Laili. Ia masih perlu proses. Izinkan Laila mendekatinya. Dan sebaiknya Laili tak dipaksa menikah jika ia merasa belum siap.”

Yahya dan Andhira menoleh. Termangu sejenak. Lalu, menatap penuh harap pada anak gadis mereka yang satu ini.

Yahya benar-benar bersyukur, telah menyekolahkan Laila di lingkungan pesantren. Bahkan sejak baligh sudah dilibatkan dalam aktivitas organisasi keislaman. Ia tumbuh menjadi gadis yang dewasa dan mandiri.

“Ibu juga akan berusaha meluruskannya, Yah,” akhirnya Andhira menimpali. “Izinkan ibu memperbaiki kesalahan di masa lalu. Ibu dan Laila akan berusaha mendampingi Laili menjalani prosesnya ….”

Yahya akhirnya mengangguk. Luruh. Bagaimanapun, Laili belahan jiwanya pula.

Di luar, langit masih tak berbintang. Rembulan purnama bertakhta, bermahkotakan mega, tanpa saingan. Saksi bisu peradaban.

***

Tamat

Eva Liana, Kandangan, HSS, Kalsel.

Kamus:
Tsiqoh = percaya
Akhwat = perempuan
Co-ass = sarjana kedokteran yang sedang menempuh pendidikan lanjutan profesi sebagai dokter umum.
ULM = Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin.
Murottal = bacaan Alquran dengan nada yang indah


1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here