Simfoni Bunga Rumput 02

0
300

Belum baca bagian pertama? Silakan klik: Simfoni Bunga Rumput 01

Si gadis itu kini benar-benar menangis sesenggukan. Galak-galak tapi cengeng. Tapi biar bagaimanapun, Kinanti akhirnya jatuh kasihan juga. Meski kadang tomboy dan sering seradak-seruduk, siapa pun tahu, jika Kinanti memiliki hati selembut sutera. Saat masih di desa, di Wonogiri sana, sejak bocah, Kinanti kecil lebih banyak bermain di sawah, belusukan di hutan jati, atau mendaki bukit-bukit bahkan pegunungan nan menjulang tinggi. Tetapi, kalau sudah masalah hati, Kinanti benar-benar titisan sang puteri salju.

Pelan ia beranjak menuju si gadis, menepuk pundak si ibu galak yang tengah mencekal lengan gadis itu. “Bu Anah, sudahlah … biarkan adik ini pergi!” ujarnya, sok bijak.

“Tapi Neng Kinan! Gadis sombong seperti dia harus dikasih pelajaran.”
“Sudahlah … saya ikhlas kok!” dengan lembut Kinan mencoba melepaskan cekalan Bu Anah, wanita gemuk itu. Lalu ia menatap si gadis berkacamata hitam yang mungkin dua atau tiga tahun lebih muda darinya itu.

“Aku nggak akan menuntutmu. Sekarang sebaiknya kamu segera pergi. Tetapi, tolong jangan diulangi lagi perbuatan ugal-ugalanmu. Jakarta ini nggak selalu ramah. Mobilmu bisa diremuk massa jika kamu melakukan hal itu sekali lagi!”

“Nah, untung orang yang kamu tabrak ini orang paling baik sedunia! Coba kalau gue yang Lo tabrak, mampus Lo!” komentar Bu Anah.

Gadis itu mendengus, lalu melangkah cepat. Namun begitu membuka pintu mobil, ia menatap kerumunan orang-orang itu dengan pandangan mengancam. “Kalian belum tahu siapa gue! Awas ya, akan gue balas perlakuan kalian!”

Setelah mengeluarkan bunyi berderum yang kencang, sedan merah bermerk BMW itu pun melaju dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan kemarahan yang terekspresikan pada gumpalan asap tebal dan deru keras yang memekakkan telinga. Para manusia yang berkerumun di tempat itu pun geleng-geleng kepala.

“Dasar anak tak tahu diri!” kecam si bapak. “Kalau aku jadi dirimu, Mbak Kinan, sudah kuhajar bocah tak waras itu!”
“Kali dia lagi nge-drug … soalnya kelihatan PD banget! Cantik-cantik pecandu narkoba …. Hiiyy!”

Kinanti menebar senyum culunnya yang kata orang lumayan nggemesin itu. “Kamu itu nggak ada cantik-cantiknya blas, tapi senyum kamu suka bikin orang kesengsem,” demikian kata mereka biasanya. Hih, ada-ada saja. Mau ngejek aja kok, nanggung.

Alhamdulillah, lokasi tabrakan itu masih dekat dengan komplek rumah kontrakannya. Wajar jika ia mengenal hampir semua orang yang menolongnya itu. Bu Anah, penjual gado-gado. Pak Salim, satpam sebuah Toserba, Bang Jupri karyawan pabrik tekstil, Bang Edo montir sebuah bengkel, dan beberapa yang lain, termasuk segerombolan anak-anak sekolah berseragam SMP dan SMU.

“Anak muda memang biasanya ugal-ugalan,” kata bang Jupri, bujangan yang banyak orang bilang, naksir Kinanti, menyesalkan. “Apalagi anak orang gedean. Lihat nomor polisi mobil ini!” Jupri menunjukan secari kertas. “Cuma dua digit. Pejabat asli tuh! Makanya, gayanya sok banget!”

“Alaaah … pejabat zaman sekarang …, nggak mutu. Paling-paling preman urakan yang tiba-tiba dapat kekuasaan dan kekayaan nomplok! Biasa jadi orang susah, tiba-tiba kaya … lupa daratan deh!”

“Mestinya kita bisa kasih pelajaran yang setimpal, biar tuh orang pada nyesel dan belajar ngormatin orang kayak kita-kita!”
“Sepakat!”
“Kalau BMW itu lewat dan ugal-ugalan lagi, setop aja. Kan kita udah catat nomor polisinya. Kalau nggak mau berhenti, lemparin batu aja! kita bikin remuk itu mobil, kapok dah!”

Kerumunan manusia itu masih tampak menyimpan bara emosi. Mereka sibuk menggelar konferensi jalanan. Tak jelas siapa pemimpin konferensinya, karena masing-masing berlomba untuk mengeluarkan vokalnya. Biar saja … hak mereka! Demokrasi kan bukan cuma milik orang-orang yang duduk di gedung DPR/MPR.
Kini Kinan menghampiri sepeda motor bututnya yang nyaris ringsek ditubruk bodi BMW mulus itu.

“Neng Kinan nggak papa?” tanya Bu Anah, prihatin.
“Cuma lecet dikit! Dikasih bethadine juga sembuh,” Kinan meraba telapak tangan kanannya. Untung ia memakai jaket yang menutupi jilbab dan baju panjangnya. “Hanya saja …,” kini ia melirik motor bututnya yang tergolek di tepi jalan. “Kayaknya motor itu butuh opname lama di bengkel, deh!”

Baru kemarin motornya keluar bengkel. Sekarang, masuk bengkel lagi. Padahal persediaan uangnya sudah mulai menipis, dan tanggal muda masih lama, dua minggu lagi. Minta duit bapak di kampung? Nggak mungkin! Mereka barusan mengeluarkan uang banyak untuk memperbaiki rumahnya yang rusak diterjang badai.

Belum baca bagian pertama? Silakan klik: Simfoni Bunga Rumput 01

“Makanya, nggak usah pakai motor! Biaya perawatan tinggi. Lagipula bahaya! Ini Jakarta. Bukan Semarang atau Solo. Kamu nekad banget, sih!” semprot mas Danu, abangnya, kemarin ketika mendapat laporan motornya masuk bengkel lagi.
“Biar mobilitas lebih tinggi,” Kinanti membela diri. “Kalau dipikir-pikir, biaya bengkel itu jauh lebih murah dibanding jika harus naik bus.”
“Kamu ini cewek, Kin. Berjilbab lagi!”

“Emang ada larangan nggak boleh naik motor? Mas sama aku, naik motornya mungkin malah lihaian aku. Ya, kan? Ngaku aja …!! Apalagi jarak tempat kita sama kampus juga nggak terlalu jauh. Nggak sampai sejauh Cileduk-Bekasi.”
“Polusinya tinggi!”
“Aku selalu pakai helm dan slayer untuk menutup wajah. Insya Allah aman. Apa kalau naik bus, dijamin tidak kena polusi? Di Jakarta, tiap hari tinggal di rumah aja kena polusi.”

“Ah, sulit bicara sama kamu. Diseruduk tronton baru tahu rasa Lu!”
“Eh, ucapan itu sebagian dari doa, lho Mas ….”

Kinanti tersenyum kecut. Ucapan mas Danu benar. Bukan diseruduk tronton memang, tetapi diserempet sedan, BMW mulus dengan nomor polisi dua digit. Mobil pejabat. Kalau mau dieksploitasi, mestinya bisa jadi ladang basah. Apalagi saksi-saksinya kuat, dan dia mahasiswa fakultas hukum, punya kakak pakar hukum, aktivis sebuah lembaga advokasi independen, punya kenalan banyak pengacara.
Kurang apa lagi?

Mungkin saja rekening tabungannya membengkak setelah kejadian itu. Bisa buat modal usaha kelak. Bikin kantor hukum kek, atau pabrik kecil-kecilan. Ih, komersil banget jadi orang lo, Kin…. Cewek matre, cewek matre, ke laut aje!

Tetapi sudahlah … tak usah cari gara-gara. Masalah biaya bengkel bisa dipikirkan nanti. Bisa pinjam Fitri atau Icha dulu. Lalu ia harus lebih giat 2 kali lipat mengajar les privat. Biar penghasilannya naik dua kali. Gampang! Yah, anggap saja kejadian ini sebagai peringatan agar ia bisa lebih hati-hati dan … lebih lihai lagi menjadi crosser, hihi ….

Ia melirik jam tangannya. Uh, pukul setengah sembilan. Setengah jam lagi ada rapat di kampus. Biasa, rapat BEM Fakultasnya. Kali ini membahas penerimaan mahasiswa baru. Memang sih, ia bukan ketua umum. Namun biasanya, ketidakhadirannya bisa membuat kacau semua urusan. Maklum, orang penting, sekjen.

“Sini, Dik Kinan! Biar motornya aku betulin!” ujar Bang Edo, montir bengkel langganannya menawarkan jasa. Ah, kebetulan sekali beliau ada disini. Lumayan, meski tidak berarti gratis, tetapi setidaknya ada yang bisa ia percaya untuk mengurusi motornya. Kerja Bang Edo termasuk bagus, dan tarifnya murah karena langganan.

“Oke. Kinan percayain deh, motornya sama Abang! Sekarang, Kinan mau ke kampus dulu ya?”
“Naik apa?”
“Bus aja!”
“Nggak gue antar ajah?” pak Salim menawarkan motor RX-nya untuk dibonceng, tetapi Kinan menggeleng santun. Membonceng lelaki yang bukan mahram, ih … enggak lha yauw!

“Naik bus aja, Pak. Lagian … pak Salim juga harus buru-buru kan?”
“Ati-ati yaa?” ujar Bu Anah.

Kinan mengacungkan ibu jarinya, lantas mengemasi tas dan jaketnya, membenahi kerudung dan pakaiannya yang acak-acakan, dan buru-buru menyetop sebuah metromini yang kebetulan melintas. Lincah seperti Cheetah, ia meloncat ke pintu, mencoba menembus penumpang yang berjubel memenuhi metromini. Untung hari masih relatif pagi. Meski di luar sudah cukup panas, dalam bus masih teduh. Tidak terlalu dicemari polusi bau keringat, brrr ….! Kalau mas Danu tahu, sebenarnya yang paling membuat ia keberatan naik bus adalah … bau keringat itu. Maklum, hidungnya cukup sensitif.

* * *

Di depan gedung pencakar langit yang menempati tanah seluas hampir dua kali lapangan sepak bola, dengan tempat parkir yang selalu dijejali mobil-mobil mewah yang sedang ngetrend, Kinanti jelas terlihat seperti gadis lugu yang dipaksa turun gunung dan bergaul dengan merak-merak penuh gebyar yang rajin menebar pesona. Tampang dia memang mahasiswa tulen. Mengenakan kerudung putih polos, rok hitam, kemeja panjang berwarna terang dengan motif kotak-kotak kecil, kacamata minus bundar, sepatu kets, jaket angkatan yang gombrong, dan tas gembong. Tetapi siapa pun tahu, kampus Kinanti bukanlah kampus bagi mahasiswa tulen. Kampus para artis, mungkin ungkapan itu lebih tepat, meski tidak semua mahasiswa yang kuliah d isitu selebritis. Lagaknya aja yang mirip artis beken. Nyaris semua gaya, dari yang funkie seperti Marchel dan Sania, rapi dan elegan—khas pria metrosex seperti Pierce Brosnan, jazzy seperti Norah Jones, eksotis seperti Naomi Chambell, seksi seperti Madonna sampai yang ceking kayak kurang makan seperti Britney Spears, ada di kampus dengan ribuan mahasiswa itu.

Kampus Kinanti, Universitas Majapahit, adalah sebuah universitas swasta yang cukup favorit di pusat kota Jakarta. Biaya kuliah di situ jelas selangit. Hanya bisa dijangkau oleh kalangan yang duwitnya berjibun. Ketika pertama kali diajak oleh mas Danu tiga tahun silam, saat ia dalam kondisi frustasi berat gara-gara tidak tembus UMPTN, ia dibuat terpana untuk beberapa saat di depan gerbangnya.

“Wah, gedungnya bagus banget. Ini kampus apa mall, sih? Mas, berapa sih, gajimu sebulan?”
“Kok nanyanya gitu?” Mas Danu yang juga dosen di unversitas itu tampak tersinggung.

“Kuliah di sini, berapa besar biayanya? Ingat, Bapak di desa cuma pensiunan PNS dan ibu guru TK. Aku jelas nggak mau morotin duit mas hanya untuk sekolah di tempat ini. Bisa-bisa mas juga nggak nikah-nikah gara-gara harus membiayaiku, lagi. Lagian, mas kan lagi ngumpulin modal buat bikin kantor hukum sendiri. Wah, yang bener aja … daripada pailit, mending aku nganggur dulu aja, nunggu UMPTN tahun depan. Aku cukup bisa bersabar, kok!”

“Mas kan dosen di sini, Kin. Prestasi mas cukup bagus. Buktinya, mati-matian dekan menahan keberadaan mas untuk tetap bertahan di sini, padahal kalau mau, mas bisa hengkang ke universitas negeri. Tapi, at least, Mas senang kok, fakultas hukum di sini kredibel banget. Dana risetnya gede banget, tahu ngga? Mahasiswa pun, kalau pinter, bisa akses itu dana. Kemarin aku sempat ngobrol sama beliau, cerita tentang kamu. Beliau menjamin, kalau kamu bisa rangking satu saat tes seleksi, kamu akan kuliah bebas biaya disini! Memang di sini ada kebijakan begitu.”

“Iya kalau rangking satu. Kalau nggak?”
“Kalau rangking dua, potongan 75 persen.”
“Kalau tiga?”
“Limapuluh persen. Tetapi kalau nggak sampai menembus 2 besar, kamu jelas bukan adik mas, tahu nggak?! Masak adik Danu Prasojo bego kayak gitu,” sentak mas Danu, sadis. “Makanya belajar yang keras. Kuliah di sini fasilitasnya sangat lengkap, tak kalah sama negeri, bahkan mungkin lebih. Apalagi fakultas hukumnya. Di situ kamu akan kuliah.”

“Mas, tapi aku kan nggak suka hukum. Aku pengin kedokteran.”
“Buktinya nggak nembus?” ketus mas Danu. “Artinya, kamu nggak bakat!”
“Karena aku ngambilnya universitas nomor satu semua. Coba kalau ngambil yang kelas menengah?”
“Terus, kamu mau nunggu tahun depan?”
“Ya.”
“Keburu tua!”
“Cuma satu tahun?”

“Satu tahun itu lama, diajeng! Dalam waktu setahun, orang sudah bisa membangun sebuah waduk raksasa, atau beberapa gedung pencakar langit. Apa kamu mau menyia-nyiakan waktu kamu? Sudahlah, nggak usah banyak protes. Kamu ini suka ngeyel, jadi bakat kamu jelas di fakultas hukum. Dokter yang ngeyelan itu malah bikin pasien bingung. Bukannya sembuh, penyakitnya malah tambah parah. Berapa banyak orang yang akan bisa kamu tolong kalau kamu besok menjadi pengacara terkenal? Alumni kampus ini banyak yang sudah jadi pengacara papan atas, tahu nggak?”

“Tapi aku pengin kedokteran!”
“Wong masak aja suka gosong karena ditinggal kemana-mana, mau masuk kedokteran? Kamu ini pelupa berat, Kin! Bisa-bisa gunting operasi kau tinggal di perut pasien.”

Mas Danu, abang semata wayangnya itu memang keras, cenderung diktaktor, tak ada yang sanggup meruntuhkan jika ia sudah berpendapat. Termasuk bapak dan ibu di kampung, yang tampaknya sangat percaya kepada anak sulungnya itu. Setelah melewati sekian banyak perdebatan panjang yang melelahkan, Kinanti pun terpaksa menurut. Ia belajar keras, membaca buku-buku IPS yang sudah lama ia tinggalkan karena saat SMU mengambil program IPA, juga melahap buku-buku tebal sang kakak yang dosen hukum itu. Hasilnya, sesuai harapan. Nilai tes seleksinya tertinggi. Maklum, saingannya nggak ada yang selevel. Ia pun masuk universitas swasta bonafid itu dengan nyaris tanpa biaya. Bahkan ia mendapat beasiswa dari yayasan yang menaungin universitas itu setiap bulannya. Jumlahnya lebih besar, paling besar dari beasiswa-beasiswa yang pernah Kinanti terima selama ini.

Tetapi, beban yang harus ditanggung dengan menjadi mahasiswa berprestasi ternyata sangat berat. Ia harus senantiasa mempertahankan apa yang pernah ia dapatkan. Jika IP-nya kurang dari 3,51 serta merta ia mendapat surat teguran. Jika tiga semester berturut-turut IP-nya tidak cum laude, beasiswa terancam dipotong 50%. Bete banget, kan? Ia juga harus selalu siap menjadi duta kampus jika terdapat acara-acara eksternal. Harus berusaha keras mengharumkan nama baik kampus dalam setiap event.

Alhamdulillah, selama 4 semester kuliah dan kini menginjak semester 5, baru sekali Kinanti mendapat suara teguran, ketika IP semesternya cuma 3,45. Itu pun segera mendapat permakluman, karena menjelang ujian, ia mendapat tugas untuk menjadi wakil kampus dalam Kontes Calon Advokat tingkat nasional, dimana ia berhasil menyabet gelar juara pertama.

Beban berat yang harus disandang lainnya adalah, ini dialami oleh orang-orang dari kalangan menengah ke bawah yang kuliah di tempat itu: mengatasi lingkungan pergaulan yang berbeda 180 derajat dibanding pergaulan Kinanti sebelumnya. Hampir 90% mahasiswa universitas tersebut, khususnya fakultas hukum dan ekonomi, berasal dari kalangan borju yang sangat biasa gonta-ganti mobil, HP dan fasilitas-fasilitas papan atas lainnya. Otak mereka rata-rata memang kosong, tetapi soal gengsi, jangan tanya! Masih mahasiswa, tetapi gayanya seperti eksekutif muda.
Sementara, Kinanti yang besar di lingkungan desa yang sederhana, benar-benar sulit memahami pola hidup mereka. Dalam beberapa sisi, hal tersebut cukup merepotkan juga. Mati-matian ia membangun citra positif kampus, sementara sebagian besar mahasiswa lainnya justru dengan sangat enteng berlomba-lomba menjatuhkan reputasi. Perilaku glamour, pergaulan serbabebas dan etos belajar yang sangat rendah membuat universitas itu lebih dikenal sebagai sarang anak-anak muda bermasalah. Bukan rahasia umum jika di kampus itu mudah dijumpai ayam-ayam kampus yang bertarif mahal. Hiiy!

“Kesempatan, Kin …,” ujar Hendro, kakak kelas satu tingkatnya yang juga mahasiswa bebas biaya.
What?”
“Kesempatan ngobyek.”
“Maksud Kak Hendro?”
“Kesempatan jadi orang kaya terbentang di depan mata.”
“Kok bisa?”

Hendro hanya nyengir kuda, tak menjawab keheranan Kinanti. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Kinanti menjadi paham dengan sendirinya. Hampir semua mahasiswa di angkatannya selalu memasrahkan ke Hendro jika mendapat tugas-tugas kampus.

Tentu saja tidak gratis. Mana ada yang gratis di dunia saat ini? Ungkapan itu memang sangat Kinanti benci, tetapi nyatanya … that’s a fact! Satu makalah dihargai sekitar dua ratus hingga empat ratus ribu. Benar-benar mental calo! Harga satu jawaban saat ujian atau kuis bisa mencapai setengah juta, sedangkan menggarapkan skripsi—ini benar-benar gila, bisa mencapai lima sampai duapuluh juta rupiah.

Pantas Hendro bisa beli mobil baru dan bergaya seperti mahasiswa borju pada umumnya. Padahal ia cuma anak seorang purnawirawan militer pangkat rendahan. Ia tahu pasti ‘dapur’ cowok asal Wonogiri itu. Termasuk kebiasaannya menyontek saat ujian. Tahu sendiri kan, orang yang sudah cerdas, metode nyonteknya pun makin cerdas. Wajar saja jika IPK-nya sudah mencapai 3,91. Pekan depan kabarnya ia ujian skripsi, dan beberapa tawaran pasca sarjana sudah berdatangan.
“Yang penting, Kin … bisa nabung! Buat ngambil S2 di luar negeri. S2 dalam negeri mah … nggak mutu! Biar gratis gue juga nggak bakalan mau. Coba bayangin, pengacara muda, cerdas, doktor lulusan Harvard … betapa kerennya?!”

Kinanti bukannya tidak pernah mendapat tawaran-tawaran seperti itu. Kakak kelasnya, anak seorang konglomerat besar bahkan pernah menjanjikan sebuah mobil. Bayangin, mobil bo! Bukan gres memang, mobil second, tetapi waw! Bagi Kin, itu sudah sangat luar biasa. Sudah tujuh tahun si anak konglomerat itu kuliah, tapi tak lulus juga, hingga terancam DO. Syaratnya, Kinanti membuatkan untuknya skripsi … tak usah terlalu berbobot, sederhana saja. Jika skripsi itu berbobot alias mutunya tinggi, justru akan membuat para dosen curiga.

“Bagi Papa, gelar sarjana itu sebuah tuntutan, Kin. So, please bantu aku yaa? Tenanglah … aku ini orang yang tahu membalas budi kok!”
Kinanti cuma tertawa kecil mendengar permohonan sang kakak kelas. Bukan hanya dia yang menolak, ketika ia bercerita ke mas Danu, sang kakak itu pun marah besar. “Jika sekali saja kamu ketahuan berbuat lancung seperti itu, aku tak akan segan-segan meminta dekan untuk memecat kamu sebagai mahasiswa!”

Kinanti pun hanya nyengir kecil.
“Masak panjenengan nggak percaya siapa Kinanti, sih? Kin kan aktivis masjid kampus, masak mau begituan.”
“Ah, aktivis masjid yang curang juga banyak.”
“Berapa? Satu, dua?”
“Dua orang aktivis masjid, kalau udah culas, itu udah kehitung banyak.”

Mas Danu memang keras, sangat keras. Tetapi sebenarnya ia sangat baik. Hatinya lembut, mudah tersentuh. Itu yang membuat Kinanti jatuh hati dan jujur saja, sangat menghormati sang kakak.

Kembali ke masalah di atas ya …, sebenarnya Kin sering merasa jengah jika berada di lingkungan kampus. Bayangkan, seorang gadis dengan jilbab rapi, tampang sederhana tanpa make-up, yang masih sering memakai tas gendong dan sepatu kets, mengendarai motor butut lagi, ada di antara nona-nona manis yang penuh gebyar persis artis-artis papan atas. Juga cowok-cowok modis yang selalu berbau wangi ….

Apa mereka bisa menerima kehadirannya?
Jelas tidak!
Ia sering dipandang remeh, dipandang sebelah mata. Semula, ia jelas nggak betah. Tapi lama-lama, masa bodoh! Yang penting, ia tidak pernah mengganggu mereka. Dan dalam waktu tak lama lagi, insya Allah ia lulus. So, ia bisa segera berkata seraya melambaikan tangan: selamat tinggal Universitas borju!
Sekarang, tabah-tabahin dulu deh … siapa tahu kampus ini malah bisa menjadi ladang amal baginya.

BERSAMBUNG KE BAGIAN TIGA.

Catatan Penulis

Novel “Simfoni Bunga Rumput” ditulis pada tahun 2005 dan pernah terbit sebagai buku di FBA Press. Penayangan di website ini setelah melewati proses rewrite dengan penambahan bab-bab baru. Karena ditulis tahun 2005, setting novel ini tentu sangat berbeda dengan Jakarta saat ini. Ingin baca novel ini secara lengkap? Silakan klik NOVEL SIMFONI BUNGA RUMPUT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here