Seorang Masa Lalu

8
157

Wajah teduhnya masih seperti yang dulu. Malah sekarang terkesan anggun dengan pakaiannya yang elegan. Jilbab keluaran terbaru seperti yang aku lihat berseliweran dipromosikan di media sosial. Anisa memang muslimah dinamis. Dia kini menjelma seorang desaigner sekaligus pengusaha beberapa butik di kota ini. Perlahan, penyesalan itu makin terasa sekarang.

“Maafkan aku, Nisa!” ucapku perlahan.
“Maaf? Maaf untuk apa, Pras?” sahut Nisa dengan suara tenang. Tangannya mencoret-coret kertas putih di hadapannya dengan sketsa baju muslimah.
Anisa melupakan peristiwa itu? Atau dia sengaja pura-pura lupa?
Ah, tak mungkin! Sampai detik ini aku tetap mengenang peristiwa itu. Karenanya sekarang aku kembali padanya dan yakin bahwa kesempatan itu masih ada.
“Tak ada masalah antara kita bukan?” mata Nisa menatapku sejenak. “Kau tetap temanku, Pras!”

Lalu aku seperti diseret pada masa-masa kuliah dulu. Aku dan Anisa sama-sama aktif di kerohanian fakultas, bahkan menjadi penggerak kegiatan dakwah di sana. Kebersamaan yang laksana air, menyiram subur benih di hati kami dan menumbuhkannya menjadi bunga-bunga. Indah, bermekaran, bahkan wanginya menyusup di aliran nadi kami. Degup-degup semenjana saat mata kami beradu tanpa sengaja. Aku menikmatinya diam-diam. Nisa pun sepertinya demikian.
Hingga suatu saat, bersama seorang teman muslimahnya, Nisa datang menemuiku dan memintaku menikahinya!

“Nikah?” aku tergagap. Tak pernah menyangka Nisa akan memutuskan demikian.
“Ya,” jawab Nisa mantap. “Aku tak mau berdosa lama-lama dengan memendam perasaan ini padamu!”
“Tapi…”

“Tapi apa? Solusi lain sudah kulakukan dengan berupaya membunuh rasa ini, Pras. Tapi itu tak pernah bisa kulakukan!”
Nafasnya tersengal. Bening itu bergulir seiring dengan kepalanya yang menunduk.
Aku terduduk. Menikah dengan Anisa adalah inginku. Tapi tidak saat ini. Mau kuberi makan apa dia jika uang kuliah pun aku masih minta orang tua.
“Aku…”

“Kau tak percaya bahwa rezeki manusia sudah diatur Allah?” tanya Nisa seperti membaca pikiranku.
“Kau sangsi, Pras?”

Aku terdiam menghitung detak jantungku sendiri. Kumasukkan segala logika dan matematika dalam merumuskan konsep pernikahan. Dan semuanya berakhir pada sebuah kesimpulan. Aku butuh waktu mengumpulkan materi untuk membahagiakan Anisa.

Hingga akhirnya Anisa pergi membawa luka yang nganga.
Lima tahun berlalu dan kini aku kembali menemuinya. Aku menepati janji pada diriku sendiri untuk kembali padanya. Meski tanpa komunikasi, sahabat setia kami sering membawakan berita tentangnya untukku. Anisa masih sendiri.
Aku yakin dia menungguku. Tak mudah membunuh rasa itu. Dan aku yakin Anisa masih menjaganya seperti aku telah melakukannya.
“Sekarang aku telah siap, Nis.” ucapku tegas.

Kening Anisa berkerut, “Siap untuk apa?”
“Permintaanmu lima tahun yang lalu…”
Anisa terhenyak. Namun aku yakin, sebentar lagi dia akan tersenyum bahagia sebab penantiannya telah purna. Anisa akan menitis bidadari dan akulah pendampingnya.
“Itu lima tahun yang lalu, Pras!”

“Tapi tidakkah itu masih berlaku sekarang?”
Nisa tersenyum tipis.
“Perasaanku masih sama, Nisa, selama lima tahun aku berusaha menyiapkan segalanya. Aku telah membuat sebuah istana untuk kita.”
Dan bunga-bunga cinta kita akan semakin menyemarakkannya, mewangi merasuk sukma. Kita akan hidup laksana di surga. Batinku selanjutnya.

Lagi-lagi Anisa hanya tersenyum tipis.
Bahagiakah dia?
Setelah menghela nafas panjang, perempuan dinamis itu kembali bersuara, “Pras, lima tahun aku menyembuhkan luka itu sendiri. Mati-matian aku membunuh cinta yang mulai tunas saat itu, kuncup dan nyaris berbunga. Kau tak pernah peduli bagaimana aku menghabiskan malam-malamku memohon pada Tuhan agar menghapus bayangmu dari ingatanku.“ mata Anisa menatapku lebih dalam. Telaga bening di mata itu masih sama dan aku ingin berenang di dalamnnya.

“Aku peduli, Nis… Aku….”
“Kau tak memberiku seucap kalimat meski itu hanya menitip harap.”
“Saat itu aku tak sanggup, Nis. Khawatir komunikasi intens kita akan semakin menebalkan perasaanku padamu. Menghindarku adalah caraku menjagamu,”
“Pras, lima tahun itu bukan waktu yang singkat. Kita tak pernah berjanji apa-apa bukan?” Anisa mengambil sesuatu dari dalam tasnya.

“Dulu aku tak pernah meminta kau harus punya istana. Sekarangpun aku telah memilikinya sendiri.”
Sesuatu dari tasnya disodorkan padaku.
“Datanglah! Istana yang kami bangun tidak hanya karena materi, tapi dengan hati dan keyakinan pada-Nya!”

Kuamati sebuah undangan manis berwarna merah saga. Sepasang nama yang terukir di sana membuat runtuh bangunan istana cinta yang kujaga. Ardian dan Anisa.

Mendadak, jantungku seperti berhenti berdetak.

*****

Previous articleSapa Perdana Redaksi: Izinkan Berbagi Bahagia
Next articleSimfoni Bunga Rumput 02
Rianna Wati
Rianna Wati, lahir di Wonogiri 5 November 1980, saat ini tinggal di Surakarta bersama keluarga kecilnya. Aktivitas menulis dilakukannya sejak SMA dan bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) sejak kuliah di Fakultas Sastra UNS. Saat ini menjadi staf pengajar di Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNS. Gelar S2 diraihnya dari prodi Ilmu Sastra UGM dan saat ini sedang menyelesaikan program doktoralnya di Kajian Budaya UNSBuku-buku fiksi yang pernah terbit diantaranya Elegi Cinta di Karimunjawa, Jatuh Cinta Pada Bunga, Ramai-Ramai Masuk Surga, Biar Cinta Bicara, Cinta adalah Luka, Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf, Arvayuna, Romansa, Petrichor, Salju Sungai Seine, Simfoni Hati dan beberapa buku kolaborasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat. Bisa dihubungi di email: riannawati@staff.uns.ac.id, FB Rianna Wati, Twitter @riannawati dan IG Rianna Wati.

8 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here