Simfoni Bunga Rumput 08

0
90

Gadis bertubuh kerempeng itu berhenti di balik sebuah gerumbul semak di tepi danau. Napasnya terengah-engah. Tubuhnya gemetar, dengan gigil yang semakin lama semakin kencang. Lemah dia menjatuhkan tasnya di tanah, lalu duduk bersimpuh, membongkar-bongkar tasnya.

Ini dia…!
Seamplop kecil berisi serbuk yang akan mengantarnya ke surga. Sepasang mata Liza seketika berkilat. Cepat ia buka amplop itu, namun….
“Jangan dekati benda laknat itu!” bentak Icha cepat, seraya merebut amplop itu dan meremasnya. “Kau telah diperbudak oleh benda setan ini.”
“Kau…?! Berikan… tolong berikan benda itu ke gue… gue bisa mampus… hanya benda itu yang bikin gue hidup…!”

“Kau benar-benar telah tergantung pada benda terkutuk ini!” Dengan beringas Icha melempar amplop itu ke danau. Meski hanya sebuah amplop kecil, tetap terdengar berkecipak mencubit sedikit kesunyian malam ketika benda itu menyentuh permukaan danau yang tenang. Liza berteriak putus asa, lalu bergerak lemah menuju ke Icha.

“Jangan! Kau… kau jahat…!!”
“Aku harus mengambil semua putaw yang kau punya!” Icha kini menyambar tas Liza, mengobrak-abrik isinya.
“Jangan Kak… jangaaan… itu kehidupan gue. Gue bisa mampuus….!”
Namun Icha tak peduli. Seperti kesetanan ia mengaduk-aduk isi tas besar itu. Ketika didapatkan bungkusan plastik berisi amplop-amplop kecil, serta merta amarahnya meledak.

“Kau ternyata bohong! Kau bilang ke Papa kamu, kalau sudah lama kamu nggak makaw. Buktinya? Ini… ini apa?! Kau benar-benar keterlaluan! Apa kau nggak kapok? Abangmu meninggal gara-gara benda ini, sekarang… kau malah masih terus memakainya….”
“Serahkan putaw itu! Gue sakaw… gue mau mati… Lo nggak mau gue mati kan? Serahkan… serahkan!”
“Tidak! Benda ini harus kulempar ke danau!”

“Jangan buaang… jangaaan!” dengan gemetar Liza menggapai-gapaikan tangannya, mencoba meraih benda di tangan Icha. Tetapi dengan sigap Icha menjauh. Dengan geram ia menginjak-injak bungkusan itu, lalu melemparkan ke danau.
Liza berteriak histeris. Tampaknya ia ingin mengamuk, namun tubuhnya sangat lemah. Ia menggigil, mencakar-cakar, mendesis-desis…. Lalu….
“Ya Allah, Cha! Dia ngambil silet!” seru Kinanti, kaget.
“Rebut silet itu! Ia akan melukai tubuhnya, menghisap darahnya sendiri.”
Kinanti pun menghambur ke Liza, meraih tangannya, mencoba merebut silet itu. Liza meraung-raung. Tubuhnya berguling-guling di atas tanah. Kinanti mendekapnya erat-erat, mencoba mengunci geraknya.

“Cha! Panggil panitia! Liza harus diamankan!”
“Tahan dia, jangan sampai tangannya dibiarkan bebas. Ia akan mencari segala cara untuk melukai dirinya sendiri. Ia butuh menghisap darahnya sendiri. Dia sakaw! Ya Allah… aku nggak menyangka dia ternyata masih jadi pecandu.”
“Iya, iya. Cepetan, Cha! Keburu aku nggak kuat nih, nahan Liza.”
Beberapa menit berselang, beberapa orang panitia berlarian menuju tempat itu. Kini Liza dibuat tak berkutik. Ia digotong beramai-ramai menuju tenda P3K. Dua orang petugas P3K yang berasal dari Korps Suka Rela PMI dengan cekatan mengikat tubuh Liza dengan syal erat-erat.

“Ia tidak boleh bergerak!” katanya.
Karena sudah tidak bisa melakukan apa-apa, Liza pun meraung-raung kesakitan. Seringkali ia mengalami kejang-kejang. Tubuhnya basah oleh keringat. Prihatin Icha menatap kondisi adik sepupunya itu.
“Tenang, tenang…,” ujar petugas P3K tersebut. “Sebentar lagi, dia akan normal kembali, kok.”

“Sebaiknya, kalian sekarang istirahat saja!” ujar Gagah. “Biar Liza sementara kita amankan di tenda P3K. Ini sudah hampir jam jam satu. Jam dua, peserta harus sudah dibangunkan!”
Kinanti mengangguk, ia memang sudah luar biasa mengantuk. Namun Icha menggeleng kuat-kuat. “Tidak, Gah! Percuma, paling aku juga nggak bisa tidur. Biar aku nemenin Liza di sini.”
“Tapi paling tidak, kamu bisa berbaring-baring sebentar, Cha!” kata Kinanti. “Kamu butuh istirahat.”

“Aku akan menemani Liza!” Icha bersikeras. “Kau istirahat saja sana! Biar aku di sini, nemenin Liza. Dia adikku, Kin. Kamu tahu, perasaanku malam ini hancur lebur.”
“Cha…,” Kin menjadi tidak enak.
“Sudah! Kamu lebih butuh istirahat dibanding gue! Kamu kan orang penting di sini!” suara Icha agak ketus. “Kamu yang butuh istirahat, biar besok bisa fresh. Tanpa gue, acara tetap akan lancar berjalan.”
“Baiklah! Aku juga akan menemani kamu, Cha!” kata Kin akhirnya.
“Aku nggak maksa kamu, lho.”

Kin tersenyum kecut. Tapi kemudian dia merengkuh bahu sahabat dekatnya itu, memeluknya. “Cha, sedihmu adalah sedihku juga. Kamu sudah banyak berbagi padaku, izinkan aku juga ikut berbagi kepadamu.”

Icha membalas pelukan Kin. Tangisnya pecah.


Pada acara jurit malam, para peserta diwajibkan berjalan sendiri bersama regunya menempuh rute yang telah ditentukan, sedangkan kakak pendamping hanya memantau dari kejauhan. Hal itu cukup membuat Kinanti resah. Kondisi mahasiswa baru di regunya, yang kini hanya tersisa empat orang, jelas jauh dari kompak. Bahkan siapa orang yang ditunjuk sebagai ketua regu pun hingga kini belum ada kepastian. Clarissa, Tracy, Angel dan Tika … bisakah mereka bekerja sama?

Tetapi… kondisi Liza jelas lebih mengkhawatirkan. Icha tak bisa menemani karena harus mengawasi kelompoknya. Mau tidak mau akhirnya Kin-lah yang harus mengawasi Liza, sementara tanggung jawab pengawasan kelompoknya ia serahkan kepada Gagah. Gagah orangnya cukup tegas, dan berwibawa. Mudah-mudahan ia bisa mengatasi ‘ke-rese-an’ adik-adik binaannya.
“Plis ya, Gah!”
“Tenang, Non! Nanti kalau mereka macam-macam, aku sudah siapin tongkat rotan buat mukul mereka!” canda Gagah.

Suasana tenda sunyi senyap ketika hampir semua penghuninya meninggalkan tempat tersebut. Cahaya remang-remang yang memendar dari lampu badai—generator telah dimatikan pukul 24.00, tampak seperti titik-titik terang yang menyatu di tengah pekat yang luas di hamparan lereng gunung Gede, lokasi perkemahan tersebut. Di lokasi perkemahan kini hanya tersisa beberapa panitia dan peserta yang sakit, termasuk Liza yang hingga kini masih terbaring dengan tubuh lemas di atas karpet. Beberapa buah jaket milik panitia menyelimuti tubuh kerempengnya yang masih diikat oleh syal panitia. Ia tertidur, meski tampaknya tak bisa pulas. Sesekali ia membuka mata, menceracau tak jelas, lalu kembali memejamkan mata. Kin menghitung, sudah lebih dari 5 kali gadis itu mengigau dengan igauan yang tak bisa ia pahami. Gejala sakaw sudah lewat. Namun, siapa tahu bisa kambuh lagi?

Narkoba…. Kin mendesah panjang. Betapa kejam orang yang telah menebarkan racun itu hanya untuk mendapatkan segepok keuntungan. Semakin tua usia bumi, ternyata orang yang kehilangan kemanusiaannya pun semakin membeludak laksana banjir di musim hujan. Entah, mau bergerak semacam apakah bumi yang kian hari kian pekat ini.

Angin dari puncak gunung Gede bertiup kencang, berdesir memasuki celah tenda. Menebar hawa dingin. Menambah kebekuan suasana yang telah beku. Suhu udara mungkin dibawah 20 derajat celcius. Sangat tidak kooperatif dengan darah manusia penghuni alam tropis. Kinanti pun menggertakkan gerahamnya, menahan gigil yang mendera tubuhnya. Sesaat ia menarik kain penutup tenda. Hawa dingin bisa terkurangi, namun tak cukup untuk mengeliminasi gigil yang telah telanjur menguasi tubuhnya.

Pelan ia tatap wajah kuyu Liza yang tampak pias di bawah pijar lampu badai. Wajah yang kehilangan semangat kemudaannya. Betapa banyak orang yang telah dirusak hidupnya oleh narkoba seperti Liza.
Rasa dingin yang menyergap sesaat mendadak lenyap ketika melihat Liza tiba-tiba bergerak kencang. Ia mengelat-ngeliat kencang, berontak. Sementara mulutnya terbuka dan suara teriakannya bergema memecah malam.
“Tolooong! Toloooong…!!”
Ia terengah-engah, matanya melotot.

“Liz…! Kau kenapa?!” Sakaw lagi? Masak, sih….
Tolongin gue… tolooong!”
“Ada apa?”
“Ada… ada orang kejar-kejar gue… mau bunuh gue! Tolooong!”
“Liz!”
“Tolooong!!”
“Liza!”
“Robert. Robert mau bunuh gue…!”
“Siapa Robert?”

“Robert…,” gadis itu mendadak tersadar. Ia termenung, tengok ke kanan dan ke kiri, lalu mendesah berkali-kali seraya memejamkan mata. Tubuhnya terlihat sangat lemas. Ada beberapa titik keringat menyembul di keningnya. Kin mendekat, memijit-mijit punggunya.
“Kau mimpi buruk, ya?”
Liza diam, napasnya masih terengah-engah, terlihat sangat lelah, seperti seorang atlit marathon yang barusan menyelesaikan pertandingan. Kinanti meraih gelas air mineral di kardus, menyodorkan kepada Liza. “Minum, Liz!”
Liza mengangguk. Gelas plastik itu dalam segejap telah kosong. Rupanya dia benar-benar sangat kehausan, padahal udara begitu dingin.
“Siapa Robert?”
“Dia….” suara Liza terputus. Sepasang matanya terpejam. “Dia bajingan!”
Wups! Kasar….

“Gue nggak mau cerita…,” ujarnya, akhirnya.
Kin mengangguk, mencoba untuk mengerti. Liza telah memasuki sebuah dunia antah berantah yang penuh dengan berbagai karakter manusia, bahkan manusia tipe-tipe residivis yang tega menjegal siapapun, termasuk mungkin si Robert itu. Besok saja ia mencari informasi ke Icha, barangkali ia tahu siapa itu Robert.
“Kalau begitu, kamu istirahat saja, ya! Aku akan temenin kamu.”
“Teman-teman yang lain kemana?”
“Sedang jurit malam.”
“Jurit malam?”
“Iya… keluar dari lokasi tenda….”
“Jalan-jalan?”

“Dikerjain senior.” Kinanti tertawa kecil. “Kalau kamu pengin jalan-jalan, besok masih ada kesempatan. Malah lebih enak, bisa menikmati pemandangan. Besok ada acara santai, peserta bebas mau ngapain. Nah, kita bisa gunakan kesempatan itu buat menjelajahi alam Gunung Gede yang indah ini.”
“Dulu aku senang main di alam,” ujar Liza. “Yaah, dulu… ketika Mama dan Papa masih berkumpul. Kita punya vila di puncak. Sebulan sekali kita week-end disana. Lengkap, sama kedua abangku. Kalau pagi, abang mengajak aku menyusuri sungai kecil yang mengalir di belakang vila.”

“Tampaknya, dulu kau punya keluarga yang harmonis, ya?”
“Entahlah… aku nggak tahu, apa tolok ukur keluarga harmonis. Tetapi yang jelas, aku enjoy saja menjalani masa kecilku. Apalagi aku ini memang introvert, pendiam dan tidak punya teman. Keberadaan Mama sangat berarti bagiku. Aku nggak tahu, kenapa Mama kemudian bercerai sama Papa dan nggak mau lagi bertemu dengan kami, anak-anaknya. Mungkin, itulah awal bencana itu….”
“Sejak kapan kamu… ngg, mulai pakai putaw, Liz?” tanya Kin, setelah mereka terdiam dalam selang waktu cukup lama.

Liza tampak tertegun mendengar pertanyaan itu. Ia menggigit-gigit bibirnya yang kering, lalu memejamkan mata. Ada dua tetes air mata menitik dari pelupuk matanya.
“Aku udah cerita, kan… kalau aku ini introvert. Ketika aku kecil, aku ini sangat pemurung. Setelah hubungan Mama dan Papa mulai menegang, aku benar-benar merasa tak punya kawan, karena Papa dan Mama jarang sekali pulang. Papa sibuk bekerja, sedang mama… aku nggak tahu pasti, apa sebenarnya yang ia lakuin. Mama sering pergi ke Hongkong, Paris… atau Bali. Nggak tahu, kenapa Mama harus kesana. Katanya sih, bisnis berlian, tapi aku nggak percaya. Mama itu sangat boros, nggak mungkin bisa bisnis. Andre dan Edgar, kedua abangku juga jarang pulang. Rumah sepi, cuma ada aku dan pembantu. Di sekolah, aku pun nggak punya kawan. Nggak ada yang mau temenan sama aku.”

Liza terisak. Kin membiarkan ia terlarut dalam tangis. Terkadang, tangis itu merupakan obat pelampiasan emosi yang sangat mujarab.
“Tetapi aku nggak mau bersikap macam-macam. Aku tetap rajin belajar, rajin baca. Karena itu, pas masih SMP, nilai ujianku selalu lumayan. Pernah beberapa kali dapat juara kelas malahan. Sampai akhirnya… Mama dan Papa bercerai. Mama kawin lagi. Papa jadi pemarah, ia suka ngamuk-ngamuk. Aku stress berat. Rumah seperti neraka. Akhirnya, ketika aku diajak Andre pergi, aku nurut aja. Disitulah awal bencananya….”
“O, ya?”

“Robert, teman Andre ngedekatin aku. Dia itu ganteng dan penuh perhatian. Aku pun jatuh cinta sama dia.”
“Kamu masih SMP, kan?”
“Iya, kelas 2 SMP. Robert, katanya sih… kuliah. Usia kami terpaut hampir 10 tahunan.”
“Wah!”
“Terus terang, Robert ada cinta pertamaku. Aku tergila-gila sama dia. Pokoknya, apa yang ia minta, pasti aku kasih. Tetapi… ternyata Robert itu bajingan. Dia yang maksa aku pakai putaw. Katanya menguji, apakah aku betul-betul cinta dia. Semula, aku cuma coba-coba aja. Yah, demi Robert, si brengsek itu. Lama-lama, aku jadi ketagihan.”

“Dan kau harus selalu beli benda terkutuk itu ke dia?”
“Ya. Aku nggak punya saluran lain. Pas aku nggak punya uang, Robert pun meminta barang-barang yang kumiliki. HP, TV, sampai komputer. Ketika sudah nggak ada lagi yang bisa kujadikan ganti, aku terpaksa mencuri duwit Papa. Sekali dua kali nggak ketahuan, tetapi ketika keempat kalinya, Papa tahu, dan ia marah sekali. Apalagi ketika tahu aku ternyata pecandu. Aku pun dimasukkan ke RSKO.”
“Jadi kamu sempat sembuh?”
“Ya. Kata dokter sih begitu. Tapi Robert kembali datang… ngejar-ngejar aku. Aku pun kembali make putaw… hingga kini.”

“Papamu tahu?”
“Nggak. Dia tahunya, aku udah sembuh.”
“Terus, duit yang kamu pakai?”
Liza terdiam. Wajahnya tampak sangat gelisah.
“Darimana?”
“Dari uang saku….”
“Cukup?”
Liza makin gugup.
“Robert… mau kasih gratis, asal….”

“Asal apa?”
“Aku juga ikut jual.”
“Jadi, kamu juga pengedar narkoba?” desak Kinanti.
Liza tak menjawab. Tangisnya pecah.
“Liz….”
“Aku… aku ingin tobat. Tapi Robert terus mengejarku. Aku nggak bisa bersembunyi dari dia!”
Kinanti menghela napas panjang.
“Bahkan di alam mimpi pun, dia selalu ngejar-ngejar gue! Gue nggak pernah bisa bebas dari dia.”

“Apa kau masih mencintai dia?”
“Cinta?” Liza tertawa sinis. “Semula dia memang terlihat penuh perhatian. Namun lama-lama, watak bejatnya terlihat. Seringkali gue dipukuli hingga babak belur, apalagi jika nggak bisa kasih duit buat bayar putaw. Sekarang, gue tak lebih ia anggap sebagai budak dia belaka. Gue nyesel. Tetapi gimana lagi?”

Pada saat itu, sesosok tubuh berlarian menuju tenda panitia dengan tergesa-gesa. Zaky! Ia tampak sangat gugup. “Kin, celaka… Kin! Tika… Tika hilang, Kin….!”
“Apa?” sentak Kinanti, kaget. “Yang bener.”
“Suer! Gue kan nggak pernah bohong sama kamu.”
“Hilang di mana?”
“Mana gue tahu?”
“Gagah?”

“Sekarang Gagah sedang ngurusin adik-adikmu yang lain.”
“Di mana mereka?”
“Di dekat perkebunan teh. Semua peserta akan ditarik ke perkemahan sekarang juga. Jurit malam batal. Panitia yang lain sedang sibuk nyariin Tika.”

Sesaat kemudian, terdengar suara ribut peserta yang kembali ke tenda. Kin menyibak kain penutup tenda. Di antara seratusan peserta yang terlihat mengantuk, Gagah berjalan dengan tampang suntuk, mengawal ke-3 anak buah Kinanti yang masing-masing tertunduk kuyu. Cepat Kin bangkit, berlari menuju kearah mereka.
“Zak, tolong panggilin panitia puteri lainnya buat ngejagain Liza!”
“Iya, beres Non!”
Kin pun berlari tergopoh menuju Gagah. “Apa yang terjadi?”

“Tika hilang!” kata Gagah, pendek.
“Bagaimana bisa hilang?”
“Kutanya ke mereka,” Gagah menunjuk ke tiga teman sekelompok Tika, “semua mengaku tidak tahu.”
“Tika pasti diculik makhluk halus!” ujar Clarissa, panik. “Tiba-tiba, dia menghilang begitu saja. Ini benar-benar perbuatan gila yang harus dihentikan. Tempat ini sungguh sangat seram. Pasti banyak setan bergentayangan. Bubarkan saja acara ini. Apakah kalian semua ingin kami kesurupan genderuwo?”

“Diam, kau!” sentak Gagah. “Jangan bikin suasana jadi keruh.”
“Biar saja Tika digondol Genderuwo. Ini pelajaran untuk gadis angkuh seperti dia,” kata Angel, acuh tak acuh. “Memang yang mau berteman sama dia cuma genderuwo kok.”
“Tega sekali kamu ngomong kayak gitu!” desis Tracy, tak senang. “Dan gue adalah temannya, kamu mau bilang gue adalah genderuwo?”

“Kamu juga sama saja,” balas Angel. “Sejak tadi kalian tidak mau nyampur. Berjalan di belakang terus. Mestinya kamu juga ikut disambar genderuwo!”
“Diam!” bentak Tracy, berang.
“Sudahlah…!” lerai Kinanti cepat, sebelum suasana menjadi semakin ribut. Masalah bertengkar, ke-3 mahasiswa binaannya itu memang paling hobi. “Sebaiknya kalian semua kembali ke tenda, dan melanjutkan istirahat kalian!”
Tanpa bersuara, ketiga mahasiswa baru itu berlari menuju tenda.

Sejurus kemudian, Panitia benar-benar disibukkan oleh peristiwa itu. Mereka melakukan briefing sejenak, langsung dipimpin oleh Anton. Hasilnya, mereka dibagi dalam beberapa kelompok kecil yang disebar ke segenap penjuru, dengan tugas utama mencari keberadaan Tika. Mereka pun segera bergerak menuju titik-titik yang menjadi bagian mereka. Hampir setiap semak mereka sibak, setiap pohon mereka sorot dengan senter—siapa tahu Tika digondol Wewe Gombel hingga ke puncak pohon raksasa, namun hingga satu jam berlalu, sosok itu tak juga ditemukan.

“Apa mungkin disembunyikan makhluk halus?” desah Icha, yang ikut dalam kelompok Kinanti bersama Gagah. Mereka sudah mengubak-ubak daerah perkebunan teh yang terletak di sebelah tenggara lokasi perkemahan, namun hasilnya tetap nihil. Rasa capek membuat mereka akhirnya menjatuhkan tubuh mereka ke sebuah lapangan rumput, mencoba beristirahat sejenak. Tak peduli pakaian mereka basah oleh lumpur dan embun yang mulai menitik di helain daun serta ranting.

“Harus kita cari kemana lagi?” Icha terdengar putus asa.
“Apa mungkin dia pulang?”
“Malam-malam gini?” sentak Gagah. “Gila!”
“Lho, siapa tahu kan?”
Saat itu, sebuah pikiran melintas di kepala Kin. Jangan-jangan….
“Ah, kenapa kita tidak coba yang satu ini?”
“Apa, Kin?”
“Kita balik ke tenda! Sekarang!”

Tanpa menunggu persetujuan kedua anggota timnya, Kinanti bangkit dan bergerak cepat menuju lokasi tenda.
“Kin… tunggu, Kin! Tunggu!”
“Hei… jangan mengambil keputusan sendiri! Kita harus musyawarahkan!”
“Nggak ada waktu lagi!” teriak Kin.
“Kin… Kin! Wait me!”
Namun Kin tidak mempedulikan panggilan mereka. Kedua teman sekelompoknya itu pun mau tidak mau tergopoh-gopoh mengikuti jejak Kinanti.

BERSAMBUNG


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here