Cerita Anak: Jangan Hina Ibuku!

0
116

“Kacang godhog ! Asin-asrep !” teriak Urip sambil berlari mengitari Bekti yang tengah berjalan menuju kantin sekolah. Bibirnya melengkung tak simetris, menyunggingkan senyum mengejek.

Beberapa anak yang tengah duduk sambil makan jajan di beranda depan kelas, tertawa mendengar teriakan anak berambut ikal itu.
Namun tidak dengan Bekti. Dia justru membelalakkan mata pada Urip.

“Beli kacang godhog-nya, Mas!” ulang Urip. Pandangannya tetap mengarah pada Bekti dengan sorot mata menghina.
Muka Bekti berubah merah padam. Dia menjulurkan tangan, hendak merenggut lengan Urip. Tapi, dia kalah cepat. Secara tangkas, Urip berkelit. Dia berhasil menghindar dari cengkeraman tangan Bekti. Lalu berlari menjauh.

“Kacang godhog! Kacang godhog!” ejekan Urip makin menjadi. Tanpa menunggu lama, Bekti langsung mengejar Urip.
Kejar-mengejar pun tak dapat dielakkan. Bekti mengejar dengan amarah. Sedang Urip malah tertawa-tawa sambil mengulang-ulang teriakan, “Kacang godhog! Asin-asrep!”

Hup!
Setelah sekian waktu mengejar, akhirnya Bekti bisa menangkap lengan Urip.
“Berani kamu sama aku?!” sergah Urip dengan napas terengah-engah. Butir-butir keringat berlelehan di wajah dan lehernya. Badannya meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Bekti. Sayang, tenaga anak yang sedang dikuasai amarah itu terlampau kuat. Urip tidak bisa menyentakkannya.

“Apa?! Mau apa kamu? Berani sama aku? Aku laporkan sama bapakku, baru tahu rasa kamu!”
Bekti tidak menyahut pertanyaan Urip. Matanya tetap melotot pada teman sekelasnya itu.

Lantaran tidak bisa melepaskan cengkeraman Bekti, Urip pun naik pitam. Dia mengayunkan tangan pada wajah anak laki-laki di depannya itu yang langsung disambut dengan hentakan kepalan jari-jemari, tak kalah kerasnya.

Kedua anak kelas empat itu jatuh berguling, saling bergumul.

***

Bekti menundukkan muka. Sesekali bibirnya meringis, mendesiskan sakit. Sedangkan Ibu duduk di depannya sambil membalurkan ramuan beras kencur yang sudah diencerkan ke bagian-bagian wajah Bekti yang lebam.

“Bagaimana rasamu setelah babak bunyak begini? Enak?!” dengus Ibu. Kentara benar dari nada bicaranya, kalau perempuan bertubuh tambun itu tengah jengkel sekaligus kecewa.

Bekti tidak menyahuti kalimat ibunya.
Sebab, dia tahu, Ibu tidak betul-betul butuh jawaban. Ibu hanya sedang melampiaskan kekesalan hatinya saja.
“Sudah berapa kali Ibu bilang, ‘Jangan suka berkelahi. Tidak ada manfaatnya. Malah banyak kerugiannya!'”
“Bukan aku yang mendahului. Urip dulu yang mulai,” sanggah Bekti.

“Tapi kamu terpancing ‘kan?!”
“Habis! Dia mengejek Ibu!”
Ibu mengembuskan napas. “Urip bilang apa? ‘Kacang godhog! Kacang godhog’ lagi?!”
Bekti mengangguk.

Ibu menjauh. Dia meletakkan piring lepek berisi sisa beras kencur di tempat cuci pecah belah. Kemudian kembali duduk di sisi putra semata wayangnya. “Terus, setelah menang dari perkelahian dengan Urip, kamu yakin kalau besok atau lusa, dia tidak akan mengejekmu lagi?” cecar Ibu.
Bekti diam.

“Kenapa malah diam? Mana keberanian dan kegagahan yang kamu miliki waktu berkelahi dengan Urip?!”
Sekali lagi, Ibu mengembuskan napas dengan keras.
“Kamu pikir, bagaimana perasaan Ibu waktu dipanggil ke sekolah karena kamu berkelahi? Apa Ibu bangga? Apa Ibu bahagia punya anak jagoan berkelahi?!”

Bekti menunduk muka, kian dalam. Sungguh, dia tidak ingin mengecewakan Ibu yang sudah susah payah mengandung, merawat, dan membesarkannya.

Karena keinginan tidak mau mengecewakan Ibu itulah yang selama ini membuat Bekti selalu rajin belajar. Dia ingin pintar. Dia ingin membanggakan sang ibu, orang tuanya semata wayang.

Dia sangat tahu, selama ini, sebagai orang tua tunggal, Ibu sudah bekerja keras semata demi menghidupi keluarga. Pagi dan malam, Ibu menjadi buruh cuci dan setrika pakaian orang-orang dari perumahan. Siang hingga menjelang petang, Ibu berkeliling menyusuri jalan-jalan desa untuk menjajakan kacang godhog atau kacang rebus.

Bekti tidak bisa banyak membantu Ibu, kecuali sekadar mencucikan kacang mentah dari lekatan tanah sebelum direbus, mengangkati jemuran, dan membereskan rumah sepulang sekolah.

Bekti dan Ibu memang tinggal berdua saja di rumah peninggalan Kakek. Bekti tidak pernah bertemu Bapak yang konon pergi meninggalkan rumah sejak anak kelas empat SD itu mengeram dalam perut Ibu.

Tidak ada yang tahu—termasuk Ibu—di mana sesungguhnya Bapak berada? Ada yang bilang Bapak pergi ke luar negeri, menjadi TKI. Ada juga tetangga yang cerita kalau Bapak pergi melaut, kemudian menghilang setelah kapal yang ditumpanginya karam. Entahlah. Kabar tentang Bapak serba bersimpang siur. Bekti tidak tahu mana kabar yang benar?

Sebab itulah, dia tidak lagi bertanya soal Bapak. Kata Ibu, walaupun tidak ada Bapak, yang penting dia dan Ibu sehat, bisa bahagia meski hidup sederhana. Tak kalah pentingnya, dia bisa tetap menimba ilmu dengan baik.

Ya. Sejauh ini, sekolah Bekti tidak ada masalah dan selalu lancar. Meski tidak sangat pintar, dia juga tidak tergolong siswa bodoh. Yang jelas, sampai dengan pembagian rapor semester satu kemarin, namanya selalu tercatat dalam daftar peringkat sepuluh besar.

Namun mulai awal semester dua, ketenangan dan semangat belajar Bekti terganggu sejak kedatangan siswa baru, pindahan dari luar kota.

Urip namanya.

Entah kenapa, anak berambut ikal dan berkulit merah tembaga itu suka sekali mengejek teman. Sikapnya juga usil.
Bekti termasuk di antara anak yang sering jadi sasaran kejahilan Urip. Mulanya, Bekti tidak terlalu menggubris omongan-omongan miring yang Urip lontarkan. Tapi belakangan, Bekti menganggap sikap Urip sudah keterlaluan, terutama saat teman barunya itu suka mengejek pekerjaan Ibu sebagai penjual kacang godhog.

Dan siang ini menjadi puncak kekesalan Bekti saat Urip dengan lantang menirukan suara Ibu saat menjajakan dagangan, di depan teman-teman sekolahnya. Sungguh, Bekti tidak malu dengan pekerjaan ibunya. Sebab, seperti kata Ibu, berjualan kacang godhog itu seratus persen halal dan tidak merugikan orang lain.

Namun, Bekti tidak terima dengan cara Urip yang menjadikan pekerjaan dan cara berjualan Ibu sebagai bahan olok-olok juga lelucon.
Amarah Bekti makin meletup manakala Urip malah melayangkan kepalan tinju. Padahal, Bekti hanya mau memperingatkan anak laki-laki itu supaya tidak mengulangi perbuatannya. Bekti pun kemudian gelap mata lantaran tidak bisa mengendalikan emosinya.

“Jangan merasa hebat hanya karena kamu menang berkelahi. Orang yang paling hebat itu bukan orang yang paling kuat tenaganya. Orang yang paling hebat itu orang yang bisa mengendalikan amarah!” cetus Ibu, membuat Bekti semakin menundukkan muka.
Bekti menyesal karena sudah mengecewakan Ibu. Dia menyesal karena tidak bisa mengekang emosi.

***

Kekecewaan Ibu karena perkelahian anaknya, membekas terus di benak Bekti. Dia berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatan itu. Karenanya, dia selalu berusaha menghindari Urip. Tetapi, seperti tidak ada bosannya, Urip tetap saja datang mengganggu.

“Kenapa sih kamu ngomong, ‘Kacang godhog-kacang godhog,’ terus? Mau beli? Sini! Bisa sama aku. Mau pesan berapa?!” tukas Bekti saat Urip sudah terlalu banyak bicara. Bukannya menyahut, anak itu malah tertawa yang segera ditinggal pergi Bekti.

***

Senja beranjak turun. Sementara angin yang berembus, terasa lembab dan mengandung air. Jika menengok ke atas, gumpalan awan gelap tampak bergayutan di langit. Tentu sebentar lagi hujan luruh. Ibu segera mempercepat langkah. Dia tidak mau disergap hujan di tengah jalan.

Sisa dagangan di tampah dan rinjing, sudah ditutupi lembaran plastik. Sampai di rumah nanti, dia akan mengangin-anginkan kacang-kacang yang belum laku dan merebusnya kembali esok hari untuk dijual lagi.

Sampai di dekat kebun tebu, Ibu mendapati seorang anak laki-laki menyalipnya menggunakan sepeda. Anak itu melewati Ibu sambil berteriak nyaring, “Kacang godhog! Asin-asrep!” Kemudian, anak itu tertawa sambil tetap menggenjot pedal sepeda.
Ibu tahu siapa gerangan anak laki-laki itu? Tidak lain tidak bukan, dia adalah Urip.

Ibu diam saja. Tidak memikirkan atau mengambil hati perbuatan anak yang bermaksud mengejek tersebut.
Di depan sana, ada seorang laki-laki yang menghentikan laju sepeda Urip. Laki-laki berperawakan jangkung itu keluar dari mobil yang diparkir tidak jauh dari posisinya berdiri.

Kelihatannya, laki-laki itu menanyakan sesuatu pada Urip. Mungkin, menanyakan arah atau letak suatu tempat. Terbukti, Urip seperti tengah menerangkan sesuatu sambil tangannya menunjuk-nunjuk suatu arah. Entah bagaimana, tiba-tiba, laki-laki itu merengkuh kedua bahu Urip. Kelihatannya, dia mengajak Urip turun dari sepeda dan masuk mobil.

Dari tempatnya, Ibu tidak bisa mendengar jelas isi percakapan keduanya.
Hanya saja, Ibu merasa ada sesuatu yang tidak beres, karena Urip justru meronta-ronta, menolak masuk mobil. Sementara cengkeraman tangan laki-laki itu di lengan Urip, kentara makin kuat.

Ibu berlari mendekat. Lalu tanpa ba-bi-bu, segera menabrakkan diri dari arah belakang laki-laki jangkung. Meski berpostur subur, tubuh Ibu keras lagi kencang, ditempa oleh kebiasaan hidup sehari-hari yang lebih banyak membutuhkan kekuatan jasmani.
Hentakan tiba-tiba dari arah belakang, membuat keseimbangan laki-laki itu goyah. Namun sebelum dia betul-betul jatuh karena kembali diseruduk Ibu dari arah punggung, Urip bisa melepaskan diri dari rengkuhannya.

Anak berambut ikal itu melompat dan menarik sepedanya yang rubuh.
“Culiiiiik! Penculiiiiik! Tolong ada penculiiiiik!” teriak Ibu sekuat tenaga.
Teriakan Ibu yang sangat keras, mengagetkan sekaligus menciutkan nyali laki-laki jangkung. Dia tidak tahu kalau perempuan yang baru saja menyerangnya sudah terbiasa berteriak nyaring saat menjajakan dagangan. Dia cepat-cepat berdiri dan langsung meloncat masuk mobil. Kendaraan roda empat pun menderu dan bergegas kabur dari sana.

Orang-orang yang rumahnya berdekatan dengan kebun tebu, berbondongan keluar. Keadaan yang semula sepi, berubah ramai.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Ibu pada Urip yang disambut anggukan kepala si anak berambut ikal.
“Syukur ahamdulillah kalau begitu,” ucap Ibu. Senyumnya melengkung sempurna. Lega.
Kendati ragu, Urip ikut tersenyum. Wajahnya yang sempat pucat dan jantungnya yang tadi berdegup tak karuan, perlahan berangsur normal kembali.

***

Berita usaha penculikan Urip dan tindakan heroik Ibu, meloncat dari mulut ke mulut. Keberanian Ibu melawan penjahat, menjadi buah bibir orang-orang. Kabar itu bahkan sampai ke telinga teman-teman dan para guru di sekolah.

“Pantas saja Urip jadi sasaran penculikan. Bisa jadi, penculik itu tahu kalau Urip anak orang kaya,” komentar seorang guru.
“Huss! Anak orang kaya atau bukan, tetap saja tidak pantas jadi sasaran penculikan!” timpal guru lain.
“Tapi ngeri ya, kalau ada tindakan penculikan. Ini kejadian kedua kalinya di desa kita,” imbuh guru berikutnya sembari bergidik.
Obrolan pun semakin menghangat.

Bekti mendengarkan saja komentar-komentar dari orang-orang di sekelilingnya. Dia tidak banyak menanggapi, selain hanya sekadarnya saja. Tetapi yang jelas, dia amat bangga dengan perbuatan Ibu. Sekaligus salut karena mau menolong anak yang gemar mengejek keluarga mereka.

Bekti berharap, setelah kejadian tempo hari, Urip tidak lagi mengolok-oloknya.
Dan Bekti merasa harapannya mulai terwujud tatkala beberapa hari ini, Urip tidak berkomentar apapun setiap kali bertemu atau berpapasan. Anak itu tidak lagi berkata dan bersikap menjengkelkan. Sebaliknya, tiap kali bertemu muka dengan Bekti, Urip justru kelihatan malu.

Ekspresi malu yang sama, kelihatan pula saat dia dan kedua orang tua beranjangsana ke rumah. Mereka datang bersilaturahmi sekaligus untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongan Ibu. Bekti senang Urip sekeluarga datang ke rumahnya. Bukan karena banyaknya buah tangan yang mereka bawa. Tapi karena pada kesempatan itu, Urip meminta maaf lantaran sering mengejek pekerjaan Ibu. Dia bahkan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa. Tidak pada Bekti, tidak juga pada anak-anak lain.

“Nah, begitu dong. Berani berbuat salah, harus berani minta maaf,” ujar ayah Urip setelah anaknya selesai bicara.
“Sekarang, ayo, salaman. Jabat erat tangan Bekti,” sambungnya.
Bekti tersenyum tulus menyambut uluran tangan Urip. Bagi dia, jabatan tangan itu bukan cuma sebagai permintaan maaf, tapi juga sebagai tawaran persahabatan. Ya. Semoga saja begitu. Bekti tidak mau bermusuhan dengan Urip. Dia hanya ingin berkawan baik dengan Urip. Sama halnya dia suka berteman dengan anak-anak lain.

“Oh ya, Bu. Hari Ahad besok, di rumah kami ada acara arisan keluarga. Saya bisa minta tolong?” ujar ibunya Urip, mengalihkan pembicaraan.
“Minta tolong apa, Bu?” sahut Ibu.
“Saya mau pesan kacang godhog untuk suguhan. Bisa?”
Senyum Ibu merekah. “Insyaallah, bisa. Mau pesan berapa?”
“Lima kilo saja,” jawab ibunya Urip. “Terus kalau tambah pesan pisang sama ubi rebus, bisa?”

“Sangat bisa, insyaallah.”
“Ini uangnya.” Ibunya Urip menyodorkan sebuah amplop. “Saya titip dulu. Nanti kalau kurang, saya tambahi setelah arisan.”
Ibu mengiyakan, lalu berterima kasih.
Bekti turut tersenyum. Dalam hati, dia berdoa, semoga pertemuan kali ini menjadi awal yang baik buat kelancaran persahabatan dengan Urip di waktu-waktu mendatang.

Bancar Badhog Centre, 16 Februari 2018

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here