Mengenalkan Nilai Moral pada Anak Melalui Cerita

2
137

Judul : Maryam Putri yang Baik Hati
Penulis : Novi Anggraheni
Penerbit : Lintang, Indiva
Tebal : 128 halaman
ISBN : 978-602-1614-89-1

Moral merupakan ajaran tentang baik buruk suatu sikap yang berlaku di masyarakat. Baik itu tentang kewajiban, perbuatan dan lain sebagainya, termasuk itu akhlak dan budi pekerti. Dalam hal ini pedidikan moral harus ditanamkan sejak dini kepada anak. Kenapa? Karena anak merupakan cikal bakal penerus bangsa. Anak sangat patut dibekali pendidikan moral yang baik. Dengan bekal moral yang baik akan membantu anak menjadi sosok yang bertanggungjawab dan memiliki sopan santun.

Salah satu cara mudah dalam mengenalkan nilai moral pada anak adalah melalui cerita. Ketika anak membaca, mereka akan mengenal langsung nilai moral dari kisah-kisah yang dibaca, maka dengan sendirinya akan melatih anak untuk lebih peka tentang suatu kejadian dan memiliki kesadaran sendiri. Dengan begitu anak tidak akan merasa digurui oleh orang-orang dewasa untuk melakukan ini dan itu.

Dan di antara buku yang patut dikenalkan pada anak adalah “Maryam Putri yang Baik Hati”. Buku ini terdiri dari 19 kisah dengan tokoh utamanya adalah Maryam. Dan dalam buku ini anak akan diajak mengenal lebih dalam tentang kejadian sehari-hari yang kerap terjadi pada keseharian mereka.

Kisah pertama berjudul “Jam Karet” mengajarkan untuk menjadi anak yang selalu tepat waktu dan disiplin. Berkisah tentang Maryam, Raisa dan Aya yang membuat janji untuk pergi ke rumah Aza. Hanya saja setiap kali membuat janji Aya selalu datang terlambat, sehingga membuat teman-temannya lelah menunggu (hal 7). Sampai sebuah kejadian membuat Aza sangat menyesal karena selalu terlambat.

Ada juga kisah “Sisa-sisa untuk Allah” mengisahkan tentang Maryam yang selalu menyepelekan sesuatu. Dia selalu mengakhirnya salat dengan alasan lelah. Selain itu jika diajak infak, Maryam selalu menolak dengan berbagai alasan. Dia selalu bilang akan memberi infak jika memiliki uang saku lebih. Padahal dia selalu menghabiskan jatah uang sakunya. Dan ketika diajak mengaji Maryam selalu bilang kalau akan mengaji jika ada sisa tenaga. Padahal salahnya sendiri yang selalu menghabiskan waktu untuk bermain hingga kelelahan (hal 13). Dalam kisah ini anak diingatkan untuk tidak menyepelekan sesuatu. Kalau salat harus tepat waktu, jika berinfak tanpa menunggu sisa uang yang dimiliki, dan tidak membuang waktu sia-sia agar bisa mengaji.

Tidak kalah menarik adalah kisah berjudul “Koruptor Cilik”. Di mana dalam kisah ini Maryam dan teman-temannya diharuskan membeli sebuah kamus Bahasa Inggris. Bu Risa memberikan kamus dulu dan besoknya baru harus dibayar. Bu Risa memberitahu jika harga kamus adalah 25 ribu. Namun, Aza mengajak Maryam untuk meminta uang 50 ribu kepada orangtua, agar sisa uangnya bisa dipakai untuk membeli mainan. Maryam pun bingung, apakah dia mengikuti saran Aza atau tidak (hal 34-35). Dari kisah ini dapat dipetik pelajaran untuk selalu bersikap jujur. Jangan sampai kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita.

Selain tiga kisah ini, tentu saja masih banyak cerita-cerita lain yang tidak kalah menarik dan seru. Di antaranya adalah kisah Nilai Tertinggi, Gosip, Sok Tahu, Jadi Ahli Sedekah, dan kisah-kisah lainnya. Di sini anak akan belajar tentang pentingnya bersikap jujur, tidak mengungkit pemberian, tidak suka menyontek, sportif, anjuran untuk tidak menjelek-jelekkan teman, mengenalkan keutamaan sedekah, menjadi anak disiplin dan masih banyak lagi.

Dipaparkan dengan gaya bahasa yang lincah dan segar, yang pastinya akan mudah dipahami anak. Sebuah buku yang patut dibaca untuk anak. Jadi selain mengenalkan dan menanamkan moral pada anak, secara tidak langsung kita mengajak anak untuk senang membaca buku. Karena sebagaimana diketahui dengan membaca akan membuka sejuta pengetahuan.


2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here