Kucing Bita

6
219

Bita memelihara seekor kucing. Namanya Ipus. Bulunya cokelat muda. Orang Jawa bilang, warna kembang asem. Tapi, bagian kaki berwarna putih. Kalau diperhatikan, keempat kaki Ipus seperti memakai kaus kaki berwarna putih. Lucu sekali.

Ipus adalah seekor kucing jantan yang patuh dan penurut. Dia tidak nakal dan tidak pernah mencuri makanan. Jika sudah waktunya makan, sedangkan Bita lupa memberi makan, maka Ipus mendekati majikannya itu. Dia menggosok-gosokkan kepala ke kaki Bita sambil mengeong-ngeong. Biasanya, Bita langsung ingat.

“Aduh, Ipus. Aku lupa memberimu makan. Maaf, ya? Ayo, kita ke dapur. Aku ambilkan makan buat kamu.”

Ipus sangat lincah. Orang Jawa bilang, trengginas. Dia suka berburu tikus yang berkeliaran di rumah Bita. Karena itu, sekarang, tidak ada seekor tikus pun yang berani berkeliaran di rumah Bita. Tikus-tikus itu takut diterkam Ipus.

Bita amat menyayangi Ipus. Meski begitu, sebenarnya, Mama tidak suka kalau Bita memelihara kucing. Sebab, Mama alergi bulu kucing. Tapi, Mama amat menyayangi Bita. Mama tidak ingin Bita sedih. Mama pun mengizinkan Bita memelihara kucing. syaratnya: Ipus tidak boleh naik meja, kursi, atau kasur. Ipus juga tidak boleh tidur bersama Bita. Ipus hanya boleh tidur di dalam kardus yang sudah disediakan Mama di depan gudang.

***
Suatu sore, Mama sedang mencuci piring di dapur. Sementara Bita sedang main di luar rumah.

Saat sedang membilas piring dari sabun, tiba-tiba Mama mendengar suara mendesis. Waktu menoleh, Mama melihat seekor ular tidak jauh dari kakinya.

Mama kaget sekali. Saking kagetnya, Mama jadi susah bicara.

Plop! Entah dari mana, tiba-tiba Ipus melompat. Dia langsung menerkam dan menggigit leher ular itu.

Ular itu bergerak-gerak mau melawan. Tapi, cengkeraman dan gigitan Ipus terlalu kuat. Tidak lama kemudian, ular itu mati. Dari lehernya yang sobek akibat gigitan Ipus, mengalir darah segar yang berbau amis sekali.

Mama pun bisa bernapas lega.

“Terima kasih ya, Allah. Engkau mengirimi kami kucing yang begini cerdik,” kata Mama.

Sejak saat itu, Mama sangat menyayangi Ipus. Meski begitu, Mama tetap saja alergi bulu kucing.


6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here