Lia masih menatap layar laptopnya, mengetik kata per kata, berharap tugas ini bisa ia selesaikan hari ini juga. Mendadak, kawannya Santi datang menghampirinya.
“Hei, kamu tidak pulang, Lia?” tanya Santi.
“Sebentar lagi selesai kok” jawab Lia yang sedang fokus mengerjakan tugasnya.
“Yasudah aku duluan ya, semangat!”
“Iya, terimakasih banyak”
Santi pun mengambil tasnya dan meninggalkan Lia. Tak lama setelah itu, Lia pun selesai mengerjakan tugasnya dan bersiap untuk pulang. Di perjalanan menuju rumah, ia melihat sesuatu yang membuatnya tergiur. Dimsum. Makanan yang sudah lama tidak dia konsumsi. “Sudah lama sekali aku tidak memakan dimsum, terakhir kali saat kelas 4 SD. Aku tidak membawa uang pula,” pikirnya. Lia hanya menatap gerobak dimsum itu dan berjalan pulang menuju rumahnya.
Sesampai di rumah, Lia segera membuka tabungannya yang berbentuk kucing tersebut. “Ada sih, tapi uang ini untuk kebutuhanku sebulan ini, belum untuk memprint tugas-tugasku. Bagaimana, ya?” pikir Lia. Lia tidak ingin terlalu memusingkan hal tersebut. Dia pun segera membersihkan diri, melaksanakan sholat Maghrib dan Isya, lalu bersiap untuk tidur.
Keesokan harinya, ia pergi bersekolah dan bertemu dengan Santi. Dia baru ingat bahwa Santi memiliki printer di rumahnya. Ah, mungkin itu bisa mengurangi pengeluaran untuk memprint tugas-tugas Lia.
“Halo Lia, bagaimana? Tugas kemarin sudah kamu kerjakan?”
“Halo juga Santi, alhamdulillah aku sudah kerjakan tugas kemarin.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Ragu-ragu Lia mengungkapkan maksud hatinya, “Santi, apakah kamu memiliki printer? kalau iya, boleh aku memprint tugas-tugasku?”
“Iya, aku punya printer di rumah. Kalau ingin ngeprint, ke rumahku saja setelah ini,” jawab Santi.
“Terimakasih banyak ya,” ucap Lia, gembira. Dia bisa menghemat uangnya.
“Sama-sama, Lia.”
Setelah pulang sekolah, segera Lia pergi ke rumah Santi untuk memprint tugas-tugasnya. Dia mengucapkan terimakasih kepada Santi dan segera pulang. Tapi sebelum itu, tentu dia ingin membeli dimsum terlebih dulu. “Akhirnya keinginan ku segera terwujud,” gumamnya.
Lia pun bergegas membeli dimsum dan tidak sabar untuk menyantapnya.
Namun, baru dia menenteng plastik berisi dimsum itu, tanpa sengaja pandangannya tertuju pada ibu-ibu sekitar umur 40-an bersama anaknya yang terlihat murung. Mereka berdiri bersandar di tembok dekat warung dimsum itu. Sang anak bahkan terlihat menangis.
Lia pun merasa iba dan segera menghampiri ibu tersebut.
“Permisi ibu, maaf sebelumnya. Saya melihat anak ibu terlihat sedih, mengapa demikian?” tanya Lia.
“Aku lapar kak,” ucap anak kecil itu dengan polos, sambil menyeka air matanya.
Lia termenung. Dia memang memiliki hati yang sangat lembut. “Kamu lapar, ya? Kakak ada sedikit makanan, memang tidak membuat perutmu kenyang, tapi setidaknya mengganjal perutmu yang kosong,” ucap Lia seraya menyodorkan plastik yang berisi dimsum yang ia beli tadi.
Si ibu tampak terkejut. “Tidak usah, Nak. Ibu tahu kamu juga lapar kan, Nak? Untukmu saja,” kata ibu tersebut, buru-buru.
“Tidak bu, saya kenyang sekali dan makanan ini lebih, Bu. Daripada mubazir lalu dibuang,” ucap Lia. Aduh, tidak papa ya, berbohong untuk kebaikan? Sebenarnya Lia juga lapar. Tetapi, di rumah pasti sudah ada makanan tersedia. Sementara, anak itu tampak sangat kelaparan. “Ini Bu, terima saja!”
“Ya Allah Nak, mulia sekali hatimu. Terima kasih banyak ya, ibu doakan semoga apa yang kamu impikan terwujud,” ucap ibu itu, terharu.
“Aaammiiinn, terimakasih bu untuk doanya.”
“Iya, sekali lagi terimakasih ya, Nak.”
“Sama-sama Bu, ya sudah saya pamit Bu, assalamualaikum!” ucap Lia sambil beranjak pergi.
“Waalaikumsalam.”
Lia pun segera pulang karena langit semakin gelap. Setelah Lia mandi dan melaksanakan sholat Maghrib, tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar. “Assalamualaikum Lia, ada di dalam?” Salam seseorang yang tidak asing suaranya.
Lia pun membuka pintu yang masih mengenakan mukena, ternyata benar dugaan Lia bahwa yang mengetuk pintu adalah Ibu Rini, tetangga samping rumah. “Waalaikumsalam, ada apa, Bu?” tanya Lia
“Maaf menganggu, ibu hanya ingin memberikan ini,” jawab ibu Rini.
“Apa ini, bu?” tanya Lia lagi.
“Tadi ibu membuat dimsum cukup banyak, ibu berfikir untuk dibagikan ke para tetangga,” ucap ibu Rini.
Rahang Lia menganga, matanya membelalak tidak percaya seolah-olah aliran listrik tiba-tiba mengalir melalui pembuluh darah dan membuat Lia tertegun sejenak.
“Benarkah, bu?” tanya Lia sambil masih terpana.
“Kamu pikir ibu berbohong?”
“Terimakasih buu, saya sangat senang, te… terimakasih, ya,” ucap Lia sambil menerima piring dari Ibu Rini dengan hati masih berdebar.
“Iya sama-sama, ya sudah ibu pamit pulang, ya. Wassalamualaikum,” ucap ibu Rini.
“Waalaikumsalam” jawab Lia.
Lia masih terpana dengan rezekinya sore itu. Di piringnya ada dimsum dari Bu Rini, jumlahnya 3 kali lipat lebih banyak dibandingkan yang ia beli tadi. “Ya Allah, terimakasih ya Allah telah mewujudkan apa yang aku inginkan, bahkan ini lebih dari cukup,” gumam Lia, gembira dan sangat terharu.

































mashaAllah💗💗💗
Bagus. ceritanya mengetuk dan menyentuh hati
kebaikan akan dibalas dengan kebaikan, insyaallah
Kebaikan akan dibalas dengan kebaikan,
insyaAllah, bagus ceritanya BS jadi contoh
BAGUSS