Romansa Sepasang Burung

2
88

Dua sejoli itu seperti sepasang burung. Namun, Er dan Dee merupakan sepasang burung dengan deskripsi yang berbeda: Er bebas, sedangkan Dee terpenjara.

“Aku ingin menjadi seperti seekor burung bebas*, Dee,” ucap Er di suatu sore sembari mereka merayapi jalur Ngaglik-Ploso Kuning di atas sepeda motor hitam usia lanjut, yang menguji kesabaran ketika jalanan menanjak, dan untunglah saat itu jalanan menurun.

“Melompat di punggung angin, dan melayang ke hilir, hingga arus berakhir*,” Er, pemuda gagah itu, memang senang sekali berbicara dengan metafora, yang sering membuat Dee, istrinya, berpikir keras tentang apa yang dimaksud Er. Namun ia senang dengan jiwa pujangga lelakinya itu.

“Suatu saat kehidupan kita akan berubah, Dee. Jalan-jalan yang kita lalui adalah jalanan di Eropa, atau Amerika, atau Jepang. Kita juga tidak perlu bersusah payah menahan lelah duduk di atas motor karena kita akan menunggangi Ertiga. Tidak perlu pusing juga setiap akhir tahun mencari tempat berteduh yang murah untuk tahun selanjutnya.”

Kedua tangan Dee semakin erat memeluk pinggang Er seakan tak mengizinkan pemuda itu pergi jauh dari dirinya, dan kepala Dee, disandarkan ke punggung lebar dan hangat milik Er. Sore itu sejuk sehingga Dee membayangkan mungkin seperti inilah Eropa? Atau Amerika ketika musim dingin? Dee tidak tahu mana yang lebih mirip, tetapi mendengarkan mimpi Er selalu menyenangkannya.

Er, sebagaimana penyebutan anak-anak muda masa kini, memiliki privilese, yang membentuk cara berpikir dan bersikapnya. Meski sejak selesai duduk di pelaminan bersama Dee kehidupan mereka tersengal-sengal, Er memang pernah terbang ke London di suatu masa. Ia menghabiskan kanak-kanak dan remajanya dalam keluarga yang tidak dapat dibilang kekurangan, tapi tidak dapat pula dikatakan berkecukupan. Sejak kanak-kanak, Er telah ditempeli prestasi, dan keluarganya melimpahkan dukungan kepada upaya-upayanya.

Karena latar belakang kesulitan keluarganya, Er tidak suka menengadahkan tangan dan selalu mengejar apa yang diinginkannya dengan caranya sendiri, yang selalu ia dapatkan setelah itu. Mimpinya seolah hanya dibatasi oleh angkasa.

lalu (ia) mencelupkan sayapnya
di cahaya mentari yang jingga
dan dengan berani (ia) menguasai langit*

Namun Dee seperti burung yang mengintai di sangkar kecilnya. Sulit baginya untuk melihat tembus jeruji kemarahannya. Sayapnya patah dan kakinya terikat*.

Maka dibukanya paruhnya dan bernyanyi*.

“Aku malu menceritakan tentang keluargaku, Er,” ucapnya di malam hari pelaminan. Saat itu mereka tidak di rumah Dee yang ramai, tetapi di kamar hotel yang cahayanya sedikit menyilaukan mata, dan aromanya menggelitik hidung, tetapi kasurnya yang empuk mengingatkan Er terhadap jelly. “Tetapi kupikir kau harus tau apa yang tidak terlihat ini. Dan mungkin aku tidak dapat menyelesaikan semua cerita malam ini. Mungkin juga di masa depan aku akan menceritakannya berkali-kali.”

Er memeluk dari belakang dan menenangkan Dee, tetapi ia tidak mengeluarkan suara dari tenggorokannya. Kata orang, wanita lebih perlu banyak didengarkan daripada ditanggapi, pikir Er.

Dee terdiam sejenak, lalu berkata, “Aku bingung akan mulai dari mana,” kemudian terdiam kembali. Er membelai lembut rambut Dee yang segelap malam.

“Rumah di Pabelan, Magelang ini baru ditempati papa mama beberapa tahun terakhir. Aku sendiri baru tahun kemarin. Sebelumnya kami berpindah-pindah rumah di Jogja,” urai Dee akhirnya. “Rumah ini bukan atas nama papa mama tetapi atas nama Bude karena beliau membiayai sebagian besar harga pembelian rumah dan tidak berkenan mencantumkan nama papa mama.”

“Bude tidak ingin rumah itu dijual diam-diam dan tanpa persetujuan lagi oleh mama, seperti rumah lama kami. Uang pensiun dini papa ratusan juta habis.”

Er ingin bertanya kenapa tetapi ia menahan diri. Sepertinya masih banyak yang perlu Dee tumpahkan.
“Papa mama pindah ke sini untuk melarikan diri dari penagih hutang. Sejujurnya kami sudah tidak punya apa-apa lagi.” Suara Dee tercekat. “Jangan berekspektasi banyak dariku, Er.”

Er memeluk Dee erat dengan satu tangan sementara tangan yang lain membelai rambut. Bibir Er berulang kali mengecup kepala Dee malam itu hingga mereka tertidur. Di hari-hari kemudian, Er mendapatkan potongan-potongan kehidupan istrinya itu. Meski berasal dari keluarga berada, yang bahkan sejak kecil ia telah dijaga oleh pengasuh, Dee sangat sulit untuk sekadar meminta dibelikan buku. Ibunya, yang berlebihan khawatir akan anak putrinya itu, sayangnya juga menghalangi Dee menjelajahi sudut-sudut kota Jogja, sehingga bahkan Er yang berasal dari pulau seberang lebih tahu tentang kota kenangan itu dibanding Dee.

Er mengumpamakan Dee burung terpenjara*.

Tegak di kuburan mimpi-mimpi
Bayangnya menjeritkan teriakan mimpi buruk
Sayapnya patah dan kakinya terikat
maka ia buka tenggorokannya dan bernyanyi*
***

Sepasang burung bernama Er dan Dee bertemu, meminggirkan perbedaan mereka, dan dimabuk cinta. Namun cinta tidak selamanya mekar. Seperti bunga yang terkadang harus gugur. Terkadang pula badai datang.

“Tidak usah ikut campur, Dee. Kau tidak tau apa-apa.” Er berteriak-teriak di satu malam. Rambutnya berantakan, tetapi mukanya lebih mengkhawatirkan: lebih kusut daripada baju yang telah berbulan-bulan berada dalam tumpukan.

Er, yang ingin menggerakkan maju hidup mereka, dan memenuhi janjian penuh mimpinya kepada Dee, mendaftar kerja demi kerja, dan beasiswa demi beasiswa. Catatan prestasi Er adalah sumber kepercayaan dirinya untuk menempuh jalan itu. Celaka, tak satupun aplikasinya tembus. Er hancur sehancur-hancurnya dan emosi lelaki itu rentan meledak seperti ranjau darat sisa perang dunia.

“Tenang, Er, tenang.” Sejak awal Dee tahu, Er keras kepala dalam hal-hal yang dianggapnya masalah lelaki. Dee dianggap tidak mengerti dan sejujurnya pikir Dee, ia memang tidak mengerti.

“Aku toh sebenarnya tidak meminta apa-apa kepadamu.” Dee takut. Rumah tangga mereka, yang bata-batanya sedang disusun, diambang rubuh.

Er mendengar ucapan Dee, lalu bangkit menuju pintu ruang depan rumah mereka yang berjamur, membukanya, dan menggebraknya hingga tertutup. Lelaki itu pergi menembus malam perkampungan.

Benih cinta Dee tertanam terlalu dalam untuk Er. Meski kerap bertengkar, Dee tak bosan-bosannya menyemangati Er, dan mengurangi beban Er di rumah, dan membiarkannya istirahat, dari beban pikiran dan mental yang menggelayutinya. Dee yakin sepenuhnya dengan kualitas Er, meski Er mulai tidak percaya.

Cinta Dee tulus, dan ia percaya begitu juga cinta Er. Hidup hanya sedang menguji mereka. Namun setelah bersatu dengan Er, Dee banyak membaca dan mendengar kisah dua sejoli beda latar belakang yang gagal.

Burung terpenjara bernyanyi
dengan getar penuh ketakutan
akan segala ketidaktahuan
namun tetap ia mendamba
dan nadanya terdengar
hingga bukit yang jauh
karena si burung terpenjara
bernyanyi tentang kebebasan*
***

Satu pagi di bulan kedelapan, Dee memergoki Er termenung menatap layar laptopnya. Di sana, Dee melihat, pengumuman beasiswa menuliskan nama Er: lulus. Seminggu kemudian, Er bergegas mengabari Dee lagi: lamaran kerjanya diterima.

Senyum Er yang seperti mentari dan sangat disukai Dee itu telah kembali. Er bahagia karena ia kini akan dapat melepaskan cengkraman masa lalu dari Dee.

Dua sejoli, yang seperti sepasang burung beda deskripsi itu, kini akan menjadi lukisan, yang ramai dipandangi orang-orang.

***

*dipetik dari puisi Maya Angelou, The Caged Bird, yang diterjemahkan.


2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here