Hadiah untuk Nisa

4
182

Ayah adalah sosok yang tidak melahirkan, tapi ia hebat, heroik di mata anak-anaknya. Ayah hebat itu berusaha menyenangkan hati anaknya dengan selalu berkata “Ayah ada… Ayah punya… Ayah bisa”

Ayah hebat itu selalu menceritakan kebaikan istrinya kepada anak-anaknya. Walau istri masih sibuk di ruang domestiknya, belum sempat membersamai mereka. Dia menanamkan cita-cita tinggi dan izzah pada keluarganya. Mengajarkan perjuangan dan mencintai ilmu. Termasuk memberi hadiah yang membuat anak-anak dan istrinya mencintai ilmu.

“Annisa… Ayah ada hadiah untuk Nisa, lho!” ungkap pak Rahman, ayah Nisa membawa bingkisan ditangannya.

“Yang benar, ayah! Mana?” balas Nisa ingin segera melihat hadiah yang dikatakan Ayahnya itu.
Nisa berhenti dari menyusun legonya dan langsung menghampiri ayahnya yang sudah duduk bersimpuh di karpet getah. Fatih juga menghampiri Rahman, sedari tadi dia asik bermain dan bolak-balik buku kakaknya, serta mainan lego Nisa.

“Ayo, kita buka sama-sama ya!” ajak ayahnya memandu Nisa membuka bungkusan kado dengan corak bunga tulip.

“Ada apa didalam, ayah?” tanya Nisa masih penasaran sambil membuka kertas kado secara acak. Bahkan sudah mulai terlihat sedikit bagian dalamnya.

“Ayo sayang, dibuka sekarang! Nanti juga tau apa isinya” pinta ayahnya sambil memperhatikan Nisa membuka kado.
Fatih yang berusia setahun kegirangan merangkak mengelilingi antara ayah dan kakaknya. Dia ngoceh cadel dan berteriak ‘mimimii’. Terlihat benar kegirangannya. Sesekali menabrak Nisa membuat sedikit repot dan bergidik.

“Tadaaaa…” Ayah Nisa memamerkan isi kado. Terlihatlah tiga buah buku baca bergambar. Buku baca tanpa mengeja. Warna yang begitu simetris, membuat anak-anak berusia seperti Nisa sangat menyukainya.

“Ayah, ada buku! Hahaha… Nisa suka, Nisa suka. Buku Nisa jadi banyak deh.” Girangnya sambil berlari-lari kecil dihadapan Rahman, ayahnya.

“Bukunya bagus sekali, yah!” Nisa terpesona dengan warna dan corak buku tersebut, walau terlihat agak tipis. Lumayanlah untuk ekonomi kelas mereka. Yang penting Nisa bisa belajar baca itu sudah bagus bagi Rahman.

“Iya, sayang. Nisa, suka?” tanya lelaki yang dipanggil ayah itu.

“Suka, Ayah. Terima kasih ya, Ayah sudah kasih kado buat Nisa” ungkap Nisa sambil mencium pipi ayahnya.
Fatih juga ikutan cupika cupiki setelah berusaha keras merengkuh tubuh Rahman dan berdiri menuju wajahnya.

“Ayo, bukunya disimpan di meja atas dulu, ya. Nanti malam kita belajar bersama-sama.” pinta ayah Nisa agar dia menyimpan bukunya ditempat yang aman. Mereka terbiasa menggunakan waktu malam untuk bermain dan belajar bersama.

“Iya, sebentar, yah. Nisa mau baca dulu.” Unggahnya yang masih terpesona dengan warna dan corak buku tersebut.

Tidak lama setelah itu, terdengar suara tangisan beserta omelan.

“Adik Fatih, nakal. Huaaa… hua…” terlihat Nisa menuju ke dapur kepada Ayahnya sambil menangis kencang.
Dari arah depan juga terdengar suara tangisan Fatih yang telah mendapat ayunan tangan bebas dari Nisa.
Sementara ibunya kembali repot dengan kantor domestiknya sehingga belum bisa bersama mereka.

“Adik Fatih itu nakal. Kakak tidak mau bermain sama adik lagi. Huaaa… huaa…” Nisa masih terisak menangis.

“Kenapa, sayang? Itu dik Fatih juga menangis, kenapa, nak?” tanya Rahman kaget kedua anaknya menangis. Lalu menggendong Nisa menuju kedepan rumah di mana Fatih berada. Rahman mengusap kedua kepala anaknya sambil menenangkan mereka.

“Tidak mau. dik Fatih, nakal. Dia mengambil dan merusak buku Nisa. Bukunya sudah robek” tangisnya yang belum mereda. Kini diikuti memukul adiknya itu. Bertambahlah menangis adiknya. Setelah tangan mungil Nisa mendarat didada dan wajah Fatih.

“Annisa. Sudah sayang. Sudah nak!. Tidak boleh memukul adik Fatih. Sakit nanti adiknya. Kasian dik Fatih.” Rahman coba menenangkan kedua buah hatinya. Kini mereka hampir mereda didalam pangkuan Rahman ayahnya.

“Kenapa Nisa marah dan memukul, dik Fatih?” tanya ayahnya sambil menenangkan

“Dik Fatih merusak dan merobek buku baru, Nisa tadi” rengeknya sesekali terisak.

“Kenapa dik Fatih merusak buku Nisa? kan bukunya sudah di meja dan aman” selidik ayahnya dengan bertanya

“Nisa tidak menyimpan bukunya, yah. Bukunya dibawah dan dimainkan adik, hingga rusak.” jelas Nisa bahwa dia lupa menyimpan bukunya ditempat yang aman seperti yang dikatakan oleh ayahnya.

“Itukan, apa kata ayah, coba” sanggah Rahman.

“Iya, Nisa lupa tadi ayah suruh simpan dimeja biar aman dan tidak diambil oleh dik Fatih. Karena Nisa tadi langsung main sama teman didepan.” sambung Nisa menjelaskan.

“Lalu kenapa dik Fatih dimarahin dan dipukul?”

“Nisa, kesal sama adik. Adik nakal.”

“Sudah, istighfar, sayang.” pinta ayahnya.

“Astagfirullahalazhiim” ikut dan turut Nisa bersama ayahnya.

“Tidak boleh marah-marahin lagi ya, nak. Kan Nisa hafal hadist tentang jangan marah-marah. Coba dibaca ayah mau dengar”

ﻻ تغضب ولك الجنة

“Laa taghdhob walakal jannah. Jangan marah, maka bagimu surga.” bacaan hadist pendek keluar dari lidah Nisa yang mungil berusia tiga tahun itu.

“Iya, sayang. Tidak boleh marah-marahin lagi ya, biar masuk surga. Dan tidak boleh juga memukul dik Fatih. Kasian adik kesakitan dan menangis”

“Ayo sekarang Nisa salaman sama dik Fatih ya, sayang “. Rahman mendekatkan mereka dan mereka pun saling bersalaman. Fatih sedang asik bermain lego yang dibolak-baliknya sedari tadi dipangkuan kiri ayahnya. Sementara Nisa sudah bisa tersenyum lagi dan akur bersama adiknya.

“Ini bukunya? Sini ayah perbaiki, nanti bisa dibaca lagi, kok.!” jelas ayahnya.
Sekarang senyumnya Nisa semakin melebar karena bukunya masih bisa diperbaiki dan dibaca. Untuk Fatih, ayahnya memberikan buku yang tebal dan awet. Biar bukunya tidak rusak dan bertambah mencintai buku sejak dini. Merekapun bermain bersama dengan gembira.


4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here