Karim Sang Pemberani – Cerita Anak

0
11

Di sudut mushola sekolah yang sejuk, Karim sedang duduk bersila. Jari telunjuknya pelan-pelan meraba baris demi baris tulisan di buku catatan kecil berbungkus sampul hijau muda. Buku itu sudah agak lecek di bagian ujungnya karena terlalu sering dibuka.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar…” bisik Karim sangat pelan. Suaranya hampir tenggelam oleh suara angin siang itu.

Karim ingin sekali ikut lomba azan di Festival Muharram sekolah minggu depan. Dia sudah berjanji pada kakeknya di kampung melalui telepon. “Kakek ingin dengar Karim azan di pengeras suara masjid suatu hari nanti,” kata Kakek waktu itu. Sejak hari itu, Karim berlatih setiap malam di depan cermin kamarnya.

Namun, ada satu masalah besar. Baru membayangkan saja, lututnya sudah gemetar. Karim itu pemalu sekali.

***

“Anak-anak, dengarkan Pak Guru sebentar,” suara Pak Rofik, wali kelas 3, memecah keheningan kelas setelah istirahat selesai. “Hari ini kita akan memilih dua perwakilan kelas untuk lomba azan. Kita seleksi sebentar di depan kelas, ya?”

Deg! Jantung Karim rasanya melompat ke tenggorokan.
“Wah, asyik! Aku pasti ikut!” seru Amar, teman sebangku Karim, sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Satu per satu anak maju ke depan. Hingga akhirnya…

“Selanjutnya, Karim. Ayo maju, Nak,” panggil Pak Rofik sambil tersenyum hangat.
Karim berdiri. Kakinya mendadak berubah menjadi seberat batu. Seluruh isi kelas mendadak menatapnya. Karim berjalan lambat sekali ke depan papan tulis. Ketika dia berbalik menghadap teman-temannya, tangannya mulai terasa dingin dan berkeringat.
“Ayo, Karim! Kamu pasti bisa!” bisik Amar dari bangkunya.

Karim membuka mulutnya. “Al… Al…”

Glek. Tenggorokan Karim rasanya terkunci. Suaranya tidak mau keluar. Wajahnya langsung memerah karena malu. Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Dia merasa sangat gugup di depan kelas.

Pak Rofik yang melihat hal itu segera berjalan mendekat. Beliau menepuk pundak Karim dengan lembut. “Tidak apa-apa, Karim. Tarik napas dulu. Duduklah kembali untuk menenangkan diri, ya.”

Karim berjalan kembali ke bangkunya dengan menunduk dalam. Dia merasa gagal. Dia merasa dirinya adalah seorang penakut.
Saat bel pulang berbunyi, hujan deras tiba-tiba mengguyur sekolah. Byuuur!

Karim masih duduk di kelasnya yang mulai sepi. Dia tidak bisa pulang karena tali sepatunya mendadak putus saat hendak dipakai. Diperhatikannya buku catatan hijaunya dengan sedih.

“Hei, melamun saja!”
Karim mendongak. Amar tahu-tahu sudah duduk di bangku sebelah Karim sambil menyodorkan buah jeruk , “Nih ada buah jeruk kesukaanmu Rim, biar kamu tidak cemberut lagi.”

“Terima kasih, Mar,” gumam Karim pelan. “Kamu tadi hebat sekali. Azanmu lantang. Kamu pasti yang terpilih.”
“Rim, kamu tahu tidak? Tadi pas di depan kelas, sebenarnya kakiku juga gemetar, lho!”
Karim terbelalak. “Masa? Tapi suaramu tidak bergetar sama sekali.”

“Hehe, aku akali saja. Pas maju, aku pejamkan mata sedikit lalu membayangkan sedang azan di dalam kamarku sendiri yang sepi,” kata Amar sambil terkekeh. “Lagipula, suaramu itu jauh lebih merdu dari suaraku, Rim. Aku pernah dengar kamu latihan di mushola kemarin. Kakekmu pasti bangga kalau dengar.”

Tiba-tiba, pintu kelas terbuka. Pak Rofik masuk untuk menutup jendela kelas agar air hujan tidak masuk. Beliau tersenyum melihat kedua muridnya masih di sana. Pak Rofik berjalan mendekat, lalu duduk di kursi persis di depan meja Karim.

“Karim,” panggil Pak Rofik lembut. “Kamu tahu apa artinya pemberani?”
Karim menggeleng pelan. “Anak yang tidak punya rasa takut seperti Amar, Pak.”

Pak Rofik terkekeh, lalu menggeleng. “Bukan, Nak. Berani itu bukan berarti kita tidak punya rasa takut. Berani itu adalah ketika hatimu sedang gemetar dan takut, tetapi kakimu tetap memilih untuk melangkah maju.”

Pak Rofik menyentuh pundak Karim lagi. “Di kelas ini sekarang sepi. Hanya ada Pak Guru dan Amar. Mau mencoba sekali lagi?”
Amar langsung mengangguk heboh. “Ayo, Rim! Kita kan Tim Jagoan Mushola!”
Karim menatap Pak Rofik lalu menatap Amar yang tersenyum lebar. Rasa hangat tiba-kira muncul di dadanya. Dia menarik napas panjang, mengembuskannya perlahan, lalu berdiri tegak di samping mejanya.

Karim memejamkan mata. Dia membayangkan wajah kakeknya yang tersenyum.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar…”
Suara Karim mengalun. Awalnya agak lirih, namun perlahan-lahan menjadi semakin bersih, merdu, dan mantap. Lantunan azannya bergema indah di dalam ruang kelas, berpadu dengan suara gemercik hujan yang mulai reda.

Amar sampai melongo mendengarnya, sementara Pak Rofik tersenyum sangat bangga.
Begitu kalimat terakhir selesai diucapkan, Karim membuka mata. Jantungnya masih berdebar, tetapi kali ini rasanya sangat lega. Ada perasaan bahagia yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
“Wah! Keren banget, Karim!” puji Amar sambil bertepuk tangan heboh.

“Suaramu sangat indah dan penuh penghayatan, Karim,” kata Pak Rofik sambil menepuk kedua bahu Karim. “Pak Guru punya kabar baik untuk Karim. Tadi sewaktu pulang sekolah, Ayahnya Faiz menyampaikan kabar, tanggal 10 nanti Faiz ijin tidak masuk sekolah karena harus ke luar kota menghadiri acara keluarga. Dan tanggal 10 itu bertepatan dengan lomba Azan di sekolah kita. Karim nanti menggantikan Faiz. Jadi kalian berdua yang akan mewakili kelas untuk lomba Azan.”

Karim sempat ragu sebentar. Berdiri di panggung lomba pasti akan menakutkan. Namun, dia melihat ke arah Amar yang langsung mengacungkan jempolnya.
Karim tersenyum manis. “Mau, Pak! Bismillah, Karim mau coba!”

***

Satu minggu kemudian, suasana aula sekolah sangat ramai oleh penonton Festival Muharram.

Di balik panggung, Karim meremas ujung seragam batik biru-putihnya. Tangannya kembali terasa dingin. Namun kali ini, dia tidak ingin lari lagi.

“Ingat, Rim. Gemetar itu biasa, yang penting tetap maju!” bisik Amar sambil menyodorkan tangannya.
“Satu, dua, tiga, tos!” seru mereka berdua kompak sambil melakukan high-five.

Saat namanya dipanggil oleh pembawa acara, Karim melangkah maju ke atas panggung dengan lebih percaya diri. Walau masih terasa gugup, dia tetap berani mencoba. Jantungnya memang masih berdegup kecang, tetapi senyumnya mengembang lebar.

Sebuah suara mengalun dari mulutnya. “Allahu akbar, Allahu akbar!”

Karim tak terlalu berharap akan kemenangan. Baginya, bisa maju untuk lomba adzan dengan usaha terbaiknya, adalah kemenangan itu sendiri.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here