Cerita Humor: Jodoh Woro

0
70

Ini kali pertama kau masuk kantor setelah sebulan lalu melayangkan surat cuti pada Pak Bos. Tak mencurigakan seperti yang mereka desas-desuskan, makan siang tadi, kau masih lahap menyantap pisang emas, sate ayam, dan sayur santan labu kental.

Ketika kau membasuh muka saat wudu pun, tak terlihat sesuatu aneh berguguran dari wajahmu. Lalu apa sebenarnya yang membuat cowok mirip salah satu artis Bollywood itu bisa bertekuk-lutut padamu?

“Woro pasti pasang susuk! Kita lihat saja! Suaminya sebentar lagi sadar wajah aslinya seperti apa. Seharusnya wanita sepertikulah yang dinikahi pria setampan dia!” kata Arum sewaktu kau sudah keluar dari ruangan.

Kau tahu bagaimana Arum, kan? Siapa pun tak akan suka jika berurusan dengannya. Tadi pagi, baru mengendus bau tak sedap ketika di dekatmu saja, dia berkoar-koar pada kami kalau kau belum gosok gigi.

Padahal kutahu, sebelumnya dia pesan sambal jengkol di kantin Bi Sumi. Apalagi sekarang kau bisa meluluhkan hati pria dengan karakter fisik idaman kaum hawa, tentu membuatnya semakin gencar berasumsi tanpa bukti.

Dan tahukah kau? Akibat kerakusan sarapannya tadi pagi, dia jadi bolak-balik ke kamar mandi. Siapa suruh makan sambal jengkol Bi Sumi yang sekali buat, sebesek cabe rawit digerus habis?

Tapi, Ro, Jujur saja. Sebenarnya aku juga penasaran, mengapa wajah kalian yang bagaikan langit dan bumi itu bisa bersanding di pelaminan? Meski kuakui pernikahan itu tidak selalu memandang rupa. Dan kau selalu bilang bahwa kau suka pria yang taat salat dan rajin mengaji, bukan?

Karenanya, kini aku ikut bersama mereka, kawan-kawan kita seruangan, berdiri di samping tiang mengamatimu yang tengah menunggu jemputan. Setengah jam bukan waktu lama bagiku jika nantinya aku mendapatkan hasil dari pengintaian ini. Daripada berprasangka buruk terus, bukankah Allah tidak menyukainya?

Tak lama berselang, sekitar lima belas menit akhirnya yang kautunggu datang. Dengan menaiki sepeda motor sport tahun 1980-an, pria berbadan jangkung dan berkulit putih itu berhenti tepat di depanmu. Ketika helm dibuka, senyuman terpancar dari wajah square-nya.

Wow! Kami semua terpana. Udara panas yang menyengat mendadak sirna.

“Hai, Ro! Ini Suamimu?” Arum tergopoh-gopoh menyambangi kalian. Ia memutar-mutar ujung jilbab merah dan memamerkan gemerincing gelang-gelang di tangan.

“Ya,” jawabmu singkat. Membuang muka.

Di antara kami, kaulah yang masih sabar menanggapi Arum.

“Kenalin dong!” Perempuan itu senyum-senyum sambil mengulurkan tangan, “Arum.”

Suamimu menelangkupkan kedua tangan dengan sopan.

“S-s-saya T-t-t-uki-n-no!” Tersendat-sendat dia menjawab.

“Apa?”

“T-t-t-t-t-u-k-k-ki-no!” ulangnya yang membuat dahi Arum berkerut-kerut.

“Tukino! Kenapa?” sahutmu cepat, “tak ada yang salah dengan nama, bukan?”

Seolah tak mau menambah masalah, kau pun langsung menarik tangan suamimu dan melenggang pergi tak peduli.

Seketika wajah Arum memucat seperti awan yang siap menurunkan hujan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here