Wahai Pemilik Hati Izinkan hati kami lebih indah daripada yang tampak di pelupuk mata. Segala puji bagi Allah yang menjadikan hidup ini begitu indah dan penuh warna. Namun, di balik segala keindahan yang terlihat oleh mata, ada sesuatu yang jauh lebih mulia untuk kita prioritaskan dalam perbaikan diri, yaitu hati.
Hati yang indah dan selamat adalah hati yang terus dipupuk dengan air ilmu, kesabaran, dan prasangka baik kepada Allah. Hati yang selalu diarahkan hanya kepada-Nya.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itu adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hati yang indah adalah hati yang penuh kesadaran bahwa penilaian dan ridha Allah jauh lebih penting untuk diperjuangkan.
Wahai pemilik alam raya Jadikan setiap kejadian sebagai jalan pendewasaan diri.Allah menjalankan kehidupan manusia dengan begitu istimewa. Terkadang dalam satu masa, Dia menguji hamba-Nya: apakah ia bersyukur ketika diberi nikmat, ataukah ia kembali kufur ketika nikmat itu diambil atau dicabut.
Dalam hidup, kita juga kerap melihat bagaimana kebaikan dan totalitas yang kita tumpahkan dengan penuh rasa di dalam sebuah pekerjaan atau hubungan bisa dengan mudah menguap begitu saja. Dan terkadang kit juga mudah terjebak dalam sikap mudah menyimpulkan, tetapi sangat enggan melakukan proses klarifikasi sehingga banyak yang berhenti hanya pada justifikasi semata.
Belum lagi cara memandang dan mengukur kebahagiaan sering terkadang digambarkan dengan banyaknya jumlah like, subscriber, follower,dan ramainya kolom komentar dengan pujian. Maka ketika kita dapati kenyataan berbeda muncul dimana arah hati manusia berbalik membenci dan memusuhi, hati kita pun mudah rapuh, bahkan terasa seperti dunia akan runtuh seketika.
Padahal, luka itu sering kali adalah panggilan. Panggilan bahwa Allah ingin kita kembali hanya bergantung kepadaNya semata. Allah seolah berkata “Janganlah sibuk mencari ridha manusia, karena mencari ridha mereka adalah sesuatu yang mustahil untuk dicapai.”
Allah berfirman: “Dan sungguh, Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buahbuahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Luka bisa saja berubah menjadi cahaya ketika kita bisa memahami makna atau hikmah dalam sebuah peristiwa. Allah tidak ingin hati yang bersih dan suci diduakan dengan makhluk yang penuh keluh kesah dalam hidupnya. Kesucian dan ketinggian kehambaan hanya pantas dipersembahkan kepada kekasih sejati yang tak pernah mengingkari janji yaitu pemilik kerajaan langit dan bumi.
Mari kita perbaiki hati setiap hari. Karena pada akhirnya, yang abadi bukanlah pujian manusia, melainkan keindahan hati yang kita bawa kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Wahai Pemilik Hati, izinkan hati kami tetap indah di sisi-Mu. Amin.






























