Roti Kebul – Cerita Anak

3
125

Setiap melewati penjual roti kebul, Janu selalu berhenti. Dia melihat uap yang membumbung dan terbang mengikuti angin. Hidungnya kembang kempis membaui aroma wangi. Pikiran membayangkan betapa manis dan dingin roti warna-warni itu. Anak berusia 10 tahun yang berrambut keriting langsung menelan ludah.

Aku sudah lama tidak dapat uang jajan, kata Janu dalam hati.

Janu berlari kecil mengitari stadion. Dia terus memikirkan bagaimana cara agar bisa merasakan roti kebul tanpa minta uang pada ibu atau ayah. Aku ada ide! bisiknya pada diri sendiri.Keringat sudah membasahi kaus merah yang dia pakai. Napasnya sudah naik-turun. Dia mengatur napas dan melangkah menuju tempat parkir sepeda. Mengambil botol berisi minum, kemudian duduk. Dari jauh tampak adik dan kedua orang tuanya mendekat.

“Kita enggak jajan. Ini ibu bawa kacang rebus dan apel,” kata ibu.

Mereka menikmati kacang rebus dan apel sambil duduk di dekat sepeda. Di depan mereka beberapa remaja sedang berlatih memanah. Ibu menyarankan lihat sebentar, baru pulang. Janu tidak fokus melihat, dia tidak sabar ingin segera pulang. Dia akan menjalankan ide baru.

***

Janu sudah mirip pemulung. Dia mengumpulkan botol dan kardus bekas dari rumah ke rumah tetangganya. Tidak peduli orang-orang yang menatapnya heran. Keinginan untuk mencoba roti kebul lebih banyak memenuhi pikiran. Keringat bercampur debu melapisi kulit sawo matangnya.

Lumayan banyak barang yang Janu dapat. Dia meletakkannya di samping rumah. Bergegas mandi untuk berangkat mengaji. Kali ini ada harapan baru di hati untuk bisa menjualnya. Uang hijau berangka dua dengan jumlah nol empat membayang di depan mata. Bayangan tangan Janu yang kecil membeli roti kebul juga melenkapi khayalan.

Seperti Janu yang kemarin, dia mengayuh sepeda dengan kencang menuju rumah Pakde Sidik. Segera ambil urutan pertama mengaji dan langsung pulang setelah selesai. Sesampainya di rumah, kedua matanya membelalak. Dia terlihat kebingungan dan mencari sesuatu.

“Apa ada yang mindahin kardus dan botol bekasku?” tanyanya agak keras tanpa menyebut siapa yang dia tanya.

“Oh. Tadi ayah kasihkan pemulung, karena berantakan dan kotor.”

Kedua pundak Janu lunglai. Matanya menghangat dan berkaca-kaca. Ayah tampak binung dengan sikap anaknya yang biasa suka kebersihan. Janu langsung masuk rumah dan ke dalam kamar. Harapan untuk mendapat uang dan menikmati roti kebul jadi datang dan pergi.

***

“Aku mau ke rumah Pakde Sidik,” izin Janu, setelah salat Ashar.

“Ngajinya kan libur, mau apa?” tanya ibu.

“Tenang, Bu. Janu hanya main sebentar,” sahutnya.

Janu mengayuh sepedanya ke arah barat. Sampai di rumah Pak Sidik, ternyata Janu meminta botol-botol bekas air mineral dan kardus bekas. Pak Sidik merasa senang, karena sampah anak-anak yang mengaji di sana bisa cepat bersih. Janu mengumpulkan semua ke dalam karung yang dia bawa dari rumah.

Sekarang, botol air mineral dan kardus sudah banyak. Dia akan menata dan menjualnya pada ibu bertopi. Ibu itu biasa memarkir sepeda di halaman rumah, dan membeli barang rongsok. Ibu bertopi juga membeli botol air mineral dan kardus bekas.

“Saya pamit pulang, Bude, Pakde,” kata Janu.

“Ya. Enggak usah ngebut naik sepedanya,” pesan Pakde Sidik.

Janu hanya mengayuh pelan sepedanya saat masih dekat dengan rumah Pakde Sidik. Setelah agak jauh, dia mengayuhnya dengan cepat. Seekor induk ayam buru-buru mengajak anak-anaknya untuk minggir, ketika Janu lewat. Serombongan bebek berhenti dan menepi, menghindari roda sepeda Janu yang berputar cepat.

Sampai di rumah, Janu membersihka dan menjemur semua bawaannya di halaman rumah. Janu langsung mandi dan bersiap salat Maghrib. Setelah salat Janu murajaah sebentar. Dia merasa sangat mengantuk dan tertidur. Angin yang membawa hujan menjadikan suhu dingin dan Janu kian pulas.

“Apa sudah salat Isya, Janu?” tanya ibu sambil mengguncang pelang pundak Janu yang tidur masih memakai sarung.
“Eh. Belum, Bu,” sahutnya masih dengan mata memejam.

Telinganya mendengar suara gemuruh air. Dia baru ingat kardus dan botol air mineralnya masih di halaman. Janu langsung bangun dan jalan cepat ke ruang tamu. Dia menyibak gorden dan menatap berlembar-lembar kardus yang basah dan terendam air hujan. Janu melihat botolnya sudah bubar barisan.

***

Sore ini Janu pulang mengaji. Dia meletakkan Al-Quran dan pamit sebentar pada ibunya untuk ke warung dekat sekolah. Di warung itu banyak kardus. Sampai di warung, Janu bertanya tentang kardus bekas. Pemilik warung mengira kalau Janu akan membuat kerajinan, sehingga memberikan sangat banyak kardus padanya.

Janu merasa sangat senang. Lihat saja kedua pipinya yang memerah dan kedua matanya yang berbinar. Dia yakin, pada saat ibu bertopi datang nanti dia bisa menjual botol dan kardus yang dia kumpulkan. Janu berpamit pulang pada ibu pemilik warung. Dia mengayuh sepeda dengan kencang menuju rumah.

Baru saja Janu akan masuk rumah, telinganya mendengar suara sepeda. Dia menoleh. Dahinya mengernyit. Dia merasa ini rezeki, karena ibu bertopi datang tepat, ketika Janu sudah memiliki banyak botol dan kardus bekas. Tanpa pikir panjang anak berpipi gembil itu langsung jalan cepat menghampiri ibu bertopi.

“Bu, saya mau jual botol dan kardus,” kata Janu.
Ibu bertopi memandangi Janu.
“Ibu bisa beli, kan?” tanya Janu.
“Maaf, Nak. Saya jual singkong. Tidak beli botol dan kardus.”

Janu langsung melihat isi rombong di boncengan sepeda milik ibu bertopi. Ternyata isinya singkong. Wajah Janu memerah. Dia minta maaf dan langsung jalan cepat ke teras rumah. Janu tertawa, tetapi sedih. Dia tertawa karena keliru mengira ibu itu pembeli rongsok, dan sedih karena sebentar lagi hari Minggu, dia belum dapat uang untuk beli roti kebul.

“Janu, ada telepon dari Om Anhar,” kata ibu pada Janu yang masih duduk selonjoran di teras.
Baru saja Janu akan bicara, baterei HP habis. Dia belum tahu Om Anhar mau bicara apa. Janu menyerahkan HP ke ibunya. Melihat anaknya beda dari hari biasanya, ibu bertanya.

Janu hanya menjawab, “Tidak ada apa-apa, Bu.”

***

Terdengar suara mobil parkir di halaman. Telinga Janu sudah hapal suara mobil itu. Om Anhar datang. Oh, mungkin kemarin saat telepon Om Anhar akan memberitahu Janu kalau beliau akan datang. Sejenak, Janu lupa akan keinginannya membeli dan makan roti kebul. Dia langsung menghambur memeluk adik ibunya itu saat keluar dari mobil.

Om Anhar mengusap kepala Janu. Janu hanya tersenyum. Sudah dua tahun dia tidak bertemu Om Janu. Om Janu tinggal di Jakarta, dan setelah pandemi corona baru bisa ke Yogyakarta sekarang. Mereka pun masuk dan duduk di kursi ruang tamu. Mengobrol secara bergantian. Kadang terdengar tawa dari keduanya.

“Eh, calon atlet lari. Om besok mau ikut, dong, ke stadion,” kata Om Anhar.
Janu tidak langsung menjawab.

“Bisa, kan? Katanya banyak penjual makanan di sekitar stadion itu. Nanti Om traktir kamu makan apapun yang kamu mau,” bujuk Om Anhar.

Kedua mata Janu berbinar. Dia seperti anak TK yang mendapat bingkisan kejutan.

“Apa boleh pilih roti kebul?” tanya Janu hati-hati.

“Apa pun,” jawab Om Anhar singkat. Kedua mata Janu berkaca-kaca.[]


3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here