Rajin Ibadah tapi Mengapa Bisa Depresi?

6
171

Pernah dengar kalau ada orang yang mengatakan rajin shalat tapi kok depresi. Atau depresi pasti karena kurang iman dan kurang bersyukur. Saya pribadi tidak mau menyalahkan atau membenarkan kalimat dan ungkapan tersebut. Terlebih dahulu saya ingin menjelaskan bahwa merasa depresi (feeling depressed) dengan depresi (depression) itu sendiri agak berbeda.

Feeling depressed sering muncul dari perasaan merasa rendah, merasa sedih, merasa terpuruk. Tapi merasa depresi ini bukanlah depresi. Sebab depresi itu sendiri bahkan bisa jadi tidak merasakan sedih, atau kata lainnya bukanlah kesedihan biasa. Sederhananya.

“Saya tidak bisa lagi merasa senang. Rasa antusias terhadap sesuatu hal tidak sebesar dulu lagi. Bahkan rasa gembira atau joy hilang, termasuk hal yang dulu disenangi. Ibaratnya tidak ada lagi menariknya hidup yang dijalani.”

Seperti dalam film Inside Out, perasaan yang hilang dari tokohnya adalah joy (senang) dan sadness (sedih). Dimana hanya tersisa marah dan takut. Jadi depresi itu tidak hanya sekadar sedih sebenarnya.

Faktor Penyebab Depresi

Beberapa faktor yang menyebabkan depresi antara lain:

  1. Hormon serotonin atau hormon bahagia yang kurang seimbang
  2. Genetik atau faktor keturunan misalnya ada anggota keluarga yang menderita depresi
  3. Zat kimia di otak yang tidak seimbang
  4. Benturan akibat kecelakaan yang menyebabkan gegar otak juga bisa berakibat depresi

Faktor Pemicu Depresi

Sedangkan beberapa faktor pemicu depresi antara lain:

  1. Karena peristiwa traumatis yang dialami
  2. Mendapatkan tekanan batin, entah karena masalah keuangan atau masalah rumah tangga
  3. Mindset atau pola pikir yang salah, seperti toxic positivity yaitu menuntut diri sendiri dan orang lain untuk selalu berpikir dan bersikap positif namun menolak atau menyangkal emosi negatif. Padahal emosi negatif penting untuk dirasakan dan diekspresikan, bukan ditolak demi terlihat baik-baik saja. Hal ini justru akan berdampak buruk bagi kesehatan mental. Sebagai manusia, adakalanya kamu merasa sedih dan kecewa, juga merasa bahagia dan puas. Jadi tak perlu disangkal semua emosi yang dirasakan.

Gejala-Gejala Depresi

Sebelum kamu mendiagnosis diri sendiri, ada baiknya mengenali gejala-gejala depresi antara lain:

  • Mudah marah
  • Menarik diri dari interaksi dengan orang lain
  • Kesulitan dalam berpikir
  • Tidak bisa konsentrasi
  • Sulit tidur atau sebaliknya malah banyak tidur

Selain itu, penderita depresi juga mengalami beberapa kondisi, seperti:

  • Perasaan murung terus-menerus
  • Kehilangan minat/kehilangan kesenangan
  • Atau kehilangan selera makan, sebagaimana yang saya alami dengan tidak makan seharian tanpa merasa lapar sedikitpun. Juga bisa sebaliknya penderita menjadi makan secara berlebih-lebihan hingga mengalami kenaikan berat badan yang banyak, sebagai kompensasi.
  • Merasa tidak berharga dan merasa bersalah.
  • Mengalami kelelahan dan kehilangan tenaga
  • Dihampiri pikiran-pikiran buruk berulang-ulang, terutama pikiran tentang melakukan percobaan bunuh diri dan kematian. Dimana kasus terburuknya penderita benar-benar melakukan aksi bunuh dirinya. Akibat pikiran mereka sendiri yang berpendapat bahwa orang-orang di sekitar mereka akan merasa lebih baik kalau mereka tidak ada.

Adapun feeling depressed bisa jadi karena kurangnya kedekatan dan keyakinan pada Tuhan, yang membuatmu mudah sedih, rendah diri dan terpuruk ketika mendapatkan masalah. Tentu kita juga butuh kedekatan dengan manusia, untuk bercerita, berbagi suka dan duka. Sebab terkoneksi dengan manusia lain juga sama pentingnya dengan kedekatanmu pada Tuhan, sebab itu merupakan sebuah kebutuhan jiwa agar tak tercipta ruang kosong bagi batinmu, yang membuatmu menjadi kesepian dan bersedih.

Satu hal yang harus kamu yakini di saat terpuruk, bahwa sesungguhnya apa yang Tuhan berikan yang menurutmu buruk, bisa jadi menurut-Nya hal itu baik bagimu. Jadi kamu akan memiliki harapan penuh, bukan hanya pasrah dan berserah diri. Yakin bahwa ada kekuatan yang lebih besar yang akan menolong yaitu Tuhan yang Maha Baik, Maha Kasih. Bukan kekuatan yang menghukum, atau menyalahkan dan menyulitkan tapi akan memberi bantuan.

Kesimpulannya depresi adalah suatu keadaan atau penyakit dengan gejala rasa sedih yang berkepanjangan dan hilangnya minat melakukan kegiatan yang biasanya kamu sukai, diikuti dengan ketidakmampuan menjalankan kegiatan yang biasa dilakukan sehari-hari setidaknya selama dua minggu. Jadi, orang yang rajin beribadah bukan berarti tidak bisa terkena depresi, karena depresi dipengaruhi banyak faktor.

Hal pertama yang harus kita lakukan saat mengalami gejala-gejala seperti yang saya sebutkan di atas adalah; curhat dengan orang-orang terdekat. Entah itu teman, anggota keluarga, pasangan, dan psikiater. Sadari bahwa kita tidak bisa sendiri, jadi bicaralah pada orang-orang yang bisa kita percaya, juga pada Yang Kuasa.

Sejatinya keyakinan kita terhadap Tuhan berhubungan dengan keimanan. Manusiawi bila iman kamu terkadang naik maupun turun, sebab kamu bukan malaikat. Ketika kamu merasa kurang yakin dengan kekuatan Tuhan sebagai sumber harapan yang memberikan kekuatan, maka sebenarnya keimananmu sedang melemah atau turun. Suatu saat keimananmu akan naik kembali seiring keyakinanmu yang semakin kuat pada-Nya. Hal terpenting adalah kamu harus aware atau memiliki kesadaran lebih dulu bahwa kamu sedang depresi, sehingga bisa melakukan sesuatu atau mencari solusi untuk memperbaikinya.

Yuk, mulai sekarang jaga kesehatan mentalmu, dengan lebih aware pada emosi dan pikiranmu. Bukankah dalam diri yang sehat terdapat jiwa yang sehat?

Tentang penulis:

Irhayati Harun pernah kuliah di fakultas psikologi UMS, hingga senang menulis buku tentang psikologi manusia. Kamu bisa berkunjung ke blog www.duniaiir.com untuk membaca tulisan seputar psikologi.


6 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here