Pulau Bidara

0
89

Pohon ini menjuntai. Berduri tajam. Berbuah lebat. Berdiri kokoh di halaman rumah Nek Tino. Di halaman rumah warga. Hampir semua warga menanamnya. Bahkan, tumbuh merimbun dengan sendirinya. Di petak-petak tanah. Di ruas-ruas jalan. Karenanya, pulau ini disebut Pulau Bidara. Pulau dihuni para penyuka buah bidara. Pulau yang tumbuh berimbun-rimbun pohon bidara. Berbagai jenis. Lonjong, bulat, pepat, semua ada. Beraneka rasa. Manis, kecut, dan yang berkolaborasi dari keduanya. Meski berbeda, semua sama. Sama-sama berduri. Tajam. Agak melengkung. Kulit pasti dibuat sobek jika tertikam duri tajamnya. Makanya, karena berduri pohon ini juga menjadi alasan lain banyak warga menyukainya. Ranting-rantingnya dibuat pagar, agar maling mengurungkan niat jahatnya. Apalagi maling, domba pun akan mikir seribu kali untuk menerobosnya.

Dulu, dua tahun yang lalu sewaktu aku duduk di bangku kelas dua SD, Nek Tino bilang, pohon bidara ini dari puncak hingga ke akar semua berguna. Ranting berdurinya, kayunya, akarnya, semua aku tahu kegunaannya. Buahnya, apalagi. Bijinya dibuat kalung. Membuatnya sungguh mudah. Tinggal dilubangi paku, digetok pelan-pelan. Dipasangi benang. Kalung biji bidara siap menggantung di leher. Kadangkala dibuat biji tasbih dan banyak dijumpai di surau-surau. Cara buatnya sama seperti membuat kalung. Lebih menarik lagi, jika dicat dengan pewarna alami yang diambil dari tumbuhan sekitar. Aku sering membantu Kek Tino, membuat tasbih biji buah bidara sewaktu ia masih hidup. Tapi daunnya? Aku menanyakannya pada Nek Tino.

Nek Tino menjawab, “Buat ramuan segala macam penyakit.”
Namun gumamku heran, kenapa gatal-gatal di kepalaku tidak kunjung Nek Tino obati pakai daun bidara?
Akhirnya, pada keesokan harinya. Selepas aku tahu manfaat daun bidara untuk mengobati semua macam penyakit, seperti kata Nek Tino kemarin itu. Aku oleskan kulit kepalaku dengan rebusan air daun bidara. Bahkan, aku buat keramas. Bukan sembuh yang didapat, namun tambah parah.

Setelah tahu gatal-gatal di kepalaku kian parah lantaran dirinya yang asal jawab, Nek Tino memberiku saran lain, “Bukan direbus, tapi ditumbuk halus kemudian dicampur dengan tumbuhan lain.”
“Apa itu, Nek?” tanyaku penasaran.
“Kamu tak akan tahu. Itu susah nyarinya!” jawabnya sekenanya.
*****

Walau kau menaikinya setinggi puncak, kau tak akan jatuh. Sebab, hantu-hantu, jin-jin dan para dedemit tidak akan mengganggumu meski kau bergelayut dan bergelantungan seperti tupai seharian di atas sana. Jin-jin, dedemit, dan semua kroni-kroninya tidak suka mendiami pohon bidara. Begitu Cak Acis menjelaskan beberapa hari yang lalu.

Aku manggut-manggut. Dalam hati aku percaya. Mungkin karena itu pula, pohon bidara ditanam di halaman rumah. Mungkin pula karena berduri hantu-hantu tidak berani membangun hunian di atas pohon bidara.

Karena penjelasannya itu, aku kian berani menaikinya. Cak Acis sering menyuruhku naik ke puncak buah bidara rumah Cak Edi, karena rasanya yang paling manis sepulau ini. Dia tidak bisa naik. Lebih tepatnya, phobi ketinggian.
“Cak Acis, banyak durinya! Bajuku banyak yang sobek, nih!” aku teriak.
Jika aku teriak begitu, maka Cak Acis memutar ulang jawaban yang sudah-sudah, “Semakin sobek bajumu, hantu-hantu semakin tak berani mendekatimu!” teriaknya dari bawah.

“Terus goyangkan, Cong!” teriaknya lagi.
Gruuduuuukk… gruuuduuuuk…!
Buah bidara berjatuhan. Bunyinya serupa reruntuhan atap gedung. Cak Acis tersenyum. Menyeringai. Sedikit nyengir. Memunguti buah bidara yang berjatuhan di atas tanah itu satu persatu. Ditaruhnya dalam keresek. Kemudian, meninggalkan aku sendiri. Ia pergi. Menjauh tanpa permisi. Selalu begitu.

Hari ini Cak Edi datang. Ia pasti membenak. Mengapa daun bidaranya banyak menyampah di halaman rumahnya? Padahal tak ada ribut angin? Ia mendongak. Kali ini ia tahu. Mengendusnya. Bahkan, pelakunya tertangkap basah. Daun dan potongan kecil reranting pohon bidara yang berserakan di halaman rumahnya yang kemarin-kemarin itu, akulah ulahnya. Sebelumnya tidak. Tidak mengetahuinya. Sebab, aku keburu turun dan pergi sebelum ia datang.

Abah dan umi Cak Edi berpisah. Abahnya ke Negeri Jiran dan uminya ke Arab Saudi. Sama-sama jadi TKI. Ia tinggal di rumah saudara uminya. Rumahnya ditinggal, tak berpenghuni. Hanya sewaktu-waktu saja ia menengoknya. Kadang mendiaminya barang sebentar tatkala hatinya dirundung kangen akan belaian sang Umi. Abahnya sudah ia hapus dari pikirannya. Dari memori hidupnya. Lantaran kepalang kasar dan selalu menyakitinya. Bahkan, ketika bertengkar dengan istrinya sehari sebelum terjadi perceraian, ia melakukan percobaan pembunuhan. Cak Edi sewaktu berusia tiga tahun nyaris menjadi korban. Untung dilerai dan digagalkan oleh warga. Cerita ini tidak sulit bagi Cak Edi mengetahuinya. Sebab, banyak warga yang melihatnya. Menyaksikannya. Air mata Cak Edi menetes pelan bila diputar ulang cerita ini.

“Heehh, siapa di atas? Turun!” teriak Cak Edi kencang. Memekik. Diambillah balok kayu. Balok kayu benar-benar tergenggam erat di tangan kanannya. Kanan kirinya mengepal kencang. Dirinya geram. Dua sisi gigi gerahamnya atas bawah benar-benar bertemu. Mengerat. Wajahnya merah padam. Marah.

“Aku, Cak Edi!” suaraku terbata. Gemetar. “Aku, Cak, Kacong!” lanjutku getir.
“Kamu, Cong! Kenapa naik?” tanyanya. Geramnya mulai padam. Bahkan, wajahnya nampak biasa setelah mengetahui bahwa di atas sana adalah aku. Di tatapnya sekilas seperti tak ada amukan di wajahnya yang siap membuatku celaka.
“Iya, Cak!” jawabku pendek.

“Kenapa naik pohon bidara siang-siang panas gini?” tanyanya mengulang.
“Cak Acis yang nyuruh!” aku membela diri. Semua kejujuran ini aku lontarkan dengan nada getir, agar Cak Acis yang dipersalahkan.
“Iya sudah, turun! Hati-hati!” perintahnya.

Aku cepat-cepat turun dengan napas ngos-ngosan. Aku menghela napas pendek. Sesampainya di bawah, aku pura-pura membersihkan daun-daun yang menyampah berserakan. Satu dua lembar daun aku pungut. Pura-pura.

Seketika waktu seolah diam. Hening. Lalu, “Kalau kamu jatuh gimana?” Cak Edi memulai lagi. Kepalanya mendongak cepat. Nampak di lehernya bekas sayatan pisau tumpul ulah Abahnya dulu.

“Cong, siang-siang gini di atas pohon banyak hantunya.” ia menakutiku. Ia pernah mengibuliku. Menyuruhku mencuri uang milik Nek Tino buat membeli jimat palsunya agar aku terhindar dari hantu-hantu jahat tatkala aku pulang dari surau menembus kegelapan sehabis isya’. Aku percaya begitu saja. Aku tak berdaya bila yang mengatakannya orang-orang yang lebih tua usianya dariku, apalagi seusia Cak Edi dan Cak Acis.

“Katanya Cak Acis tak ada hantu di atas pohon bidara. Jin, hantu, dedemit, tak suka mendiami pohon bidara!” jawabku menirukan ucapan Cak Acis.
“Ah, itu akal-akalannya saja, sebab dia suka sekali memamah buah bidara, kemudian menyesap sarinya dan membuang sepahnya.”
“Emang begitu cara memakannya?” kataku menimpali perkataan Cak Edi.
“Cuman Acis yang begitu!” jawabnya. “Buah bidara itu buah kesukaan Acis. Favorit!” lanjutnya sesekali matanya melotot serupa kucing yang hendak menyergap mangsa.
“Jadi, yang benar, ada hantunya?” tanyaku menegaskan.
“Iya!” jawabnya pendek. “Bahkan banyak!” lanjutnya.
Aku bingung.
*****

Alam kian hari menampakkan raut wajahnya yang tak mampu diterka, seiring tangan-tangan manusia makin lama makin tak ramah.
Musim terus berganti. Cuaca dan siklus masa silih berubah. Namun, musim banyak buah bidara yang dulunya banyak berguguran seluas halaman selepas hujan separuh tahun melanda, tak kunjung datang jua. Buah bidara yang bergelantungan serupa lampion kota, warna-warni, kini jarang ditemui. Tak hanya itu, selera warga penyuka buah bidara turut sirna seiring pagar ranting berdurinya berubah wujud menjadi tembok berlapis keramik.

Nasib Pulau Bidara tinggal sebatas sebutan belaka. Tanahnya ditanami gedung-gedung tembok bermuka masam. Pohon bidara turut sirna atas nama kemajuan. Batangnya yang menjuntai, sekarang lunglai. Ranting dan durinya yang merandu menjilati genteng, bernasib genting. Buah dan daunnya yang lebat, habis terbabat. Ia nyaris sirna. Hampir punah. Tak ada halaman rumah yang masih mempertahankan batangnya yang berdiri mengangkang. Tegak menjuntai. Mengakar. Mencengkeram tanah. Yang ada hanya batang-batang ringkih bidara yang telah dianggap semak belukar. Tanpa perhatian. Ia tak lagi berbuah. Apalagi, berbuah cinta dan menjadi saksi akan kisah kecilku yang sarat elegi.

Menjadi batang teduh, tatkala aku dikibuli kawan-kawan yang lebih tua saat bermain kelereng di bawahnya. Menjadi rongga pernapasan, tatkala kemarau menyengat kulit legamku saat menerbangkan layang-layang. Menjadi secarik kisah tentang Nek Tino dan Kek Tino menjalani hari-harinya di gubuk sederhananya. Atau, barangkali menjadi lorong waktu yang me-replay kenangan pahit Cak Edi.
Kini, hantu-hantu, jin-jin, dedemit, dan para kroni-kroninya benar-benar tak lagi takut. Semua bersarang dalam rumah-rumah warga dengan beraninya. Bahkan, merasuk beranak-pinak ke dalam jiwa-jiwa. Menjelma pola pikir dan perilaku.

*)Guru dan penulis tinggal di Pulau Mandangin Sampang Madura.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here