Roti dan Kabut Asap

4
147

Rika melepas masker yang menutup wajahnya. Mulutnya cemberut. Dua kantong kresek besar yang ia bawa, ia letakkan begitu saja di lantai. Ibu yang sedang menyapu lantai, menoleh lalu bertanya. “Ada apa, Rika?”

Rika tak menjawab. Dia menunjuk ke arah kantong kresek yang penuh berisi roti.

“Oo, itu yang bikin kamu cemberut. Hari ini roti kita tidak laku lagi, ya?” tanya ibu seraya menghampiri Rika. Ibu kemudian berlutut, mengeluarkan roti dari dalam kantong kresek dan menghitungnya satu per satu. Hanya sepuluh bungkus roti yang laku hari ini.

“Gara-gara kabut asap, semua sekolah yang kutitipi menyuruh muridnya pulang cepat. Roti kita jadi nggak laku lagi, Bu,” keluh Rika.
Selama ini, Rika menitipkan roti buatan ibunya ke kantin-kantin sekolah dasar yang tidak jauh dari rumah. Rika duduk di kelas lima SD, dan jam sekolahnya dimulai pada siang hari. Jadi setiap pagi, dia akan mengantarkan roti dengan bersepeda. Kemudian, keesokan paginya dia akan mengantarkan roti yang baru seraya mengambil sisa roti kemarin.

Namun sejak seminggu ini, kabut asap di kota Pekanbaru kian menebal. Sudah seminggu ini pula, roti-roti buatan ibu selalu bersisa banyak. Biasanya, ibu akan menyuruh Rika mengantarkan sisa roti itu ke panti asuhan di ujung gang untuk dibagikan kepada anak-anak yatim piatu.

“Kalau begitu, mulai besok Ibu berhenti dulu membuat roti.” Ujar ibu.
“Trus, kalau ibu nggak buat roti, kita dapat uang dari mana, Bu?” tanya Rika sambil menatap kedua mata ibu. Sejak ayahnya meninggal, ibu memang berjualan roti untuk membiayai hidup mereka berdua.

“Tabungan ibu masih ada kok, walaupun jumlahnya tidak banyak.” Jawab Ibu lembut. “Nanti kalau kabut asapnya reda dan sekolah-sekolah mulai normal, ibu akan bikin roti lagi.”

Rika sejenak menatap roti-roti di dalam kantong kresek. “Roti yang ini, diantar lagi ke panti asuhan, Bu?”
Ibu mengangguk. “Anggap saja kita menolong memberi makan anak yatim piatu, Rika.”
“Menolong sih menolong, Bu. Tapi kalau tiap hari diantar ke sana, ‘kan ibu juga yang rugi.”

Ibu tersenyum seraya membelai kepala Rika. “Menolong orang tidak pernah rugi, Rika. Lagipula, kalau tidak diberikan, memangnya mau kita habiskan sendiri?”
“Bagaimana kalau Rika coba titip di warung mbak Aina, Bu?”

Ibu cepat menggeleng. “Roti buatan ibu tidak ada bahan pengawetnya, jadi cepat berjamur. Juga tidak baik kalau kamu sering-sering di luar dengan kondisi udara seperti ini. Nanti setelah diantar ke panti asuhan, langsung pulang ya. Jangan lupa pakai maskernya.”
Rika hanya mengangguk. Ia merapikan kembali roti-roti di dalam kantong kresek lalu berpamitan hendak ke panti asuhan.

***

Seperti biasa, anak-anak panti asuhan Cahaya Pelita yang sudah terbiasa dengan kedatangan Rika, menyambut roti-roti yang Rika bawa dengan riang gembira.

“Terima kasih ya Rika.“ Ibu Santi sang pengurus panti menyalami Rika dengan raut sukacita. “Sejak seminggu ini, anak-anak memang Ibu larang main di luar. Makanya, mereka senang sekali kalau ada yang mengantarkan makanan ke panti.”

“Sama-sama, Bu. Saya pamit dulu.” Ujar Rika. Melihat anak-anak panti asuhan yang langsung berebut makan roti buatan ibunya, hati Rika pun turut senang. Sejenak, ia lupa rasa kesalnya pada kabut asap yang menyebabkan roti buatan ibunya jadi kurang laku.

***

Saat pulang sekolah, kening Rika langsung berkerut melihat ibunya yang tengah membuat adonan roti di dapur.
“Lho, katanya ibu mau berhenti dulu bikin roti?”

“Alhamdulillah, ibu nggak jadi ambil tabungan ibu, Rika.” Ibu menjawab dengan tangan berlumur margarin dan mata berbinar. “Tadi siang Ibu Santi datang kemari. Roti yang kamu antarkan ke panti asuhan, rupanya disuguhkan Ibu Santi pada seorang donatur yang datang tak lama setelah kamu pulang. Kebetulan, donatur itu baru buka usaha kedai kopi. Dan ia sedang mencari tambahan makanan ringan untuk dijual di kedainya. Jadi, tadi dia memesan seratus buah roti lewat Ibu Santi. Seandainya laku, untuk seterusnya dia akan memesan lagi roti kita.”

“Benarkah, Bu?” Kedua mata Rika terbelalak. Dan saat melihat ibunya mengangguk, Rika spontan berteriak, “Alhamdulillah!”
Sesaat, Rika ingat ucapan ibu, bahwa menolong orang itu tidak pernah rugi.

Mungkin, kalau tadi aku tidak mengantarkan roti ke panti asuhan, belum tentu ada orang yang memesan roti buatan ibu, ucap Rika dalam hati seraya tersenyum senang.

SEKIAN


4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here