Puisi untuk Ayah Ibu

1
142

WAKTU SUBUH

Jelang pagi aku mengingat-Mu,
Sebagai azan subuh mengetuk dada rapuh,
Bangkitkan jiwa dari nyaman dunia fana
Lekas membasuh wajah hingga kaki,
Mengalir bersama doa bertebaran,
Dari mulut yang beku.

Sajadah terbentang,
Songkok dan koko pemberian ibu,
Merekat di badan yang kukuh,
Lantas takbir terucap; hanya tertuju pada-Mu,

Rukuk dan sujud,
Rasa syukur atas rahmat dalam setiap napasku,
Mata berdebu dengan dosa,
Memohon ampun lantunkan doa-doa.
Air mata berguguran.
Jakarta, 2022

RESAH AYAH IBU

Tubuh layu gairah berguguran,
Menatap waktu, mata membeku,
Mentari pagi hangat membelai kening,
Usai jendela terbuka udara sejuk,
Merasuk mengusir jenuh di kepala.

Rintihan ibu; suara merdu penebas rindu,
Ayah termenung melihat anaknya menanam sendu,
Rambut memutih melambai-lambai,
Tertiup lirih angin seolah salam perpisahan.

Detak jantung bernyanyi sedih,
Selang infus menancap erat di tangan,
Bersamaan ibu dan ayah menyentuh,
Penuh kasih sayang.

Bibir menebar doa,
Sepasang mata memupuk harap,
Agar sehat lekas masuk ke dalam diri,
Yang mematung di ranjang rumah sakit.
Jakarta, 2022

MENGINGAT-MU

Sinar mentari menerobos masuk,
Ke relung jiwa beku mencair segala keluh,
Terserak menjadi kata-kata dalam puisi,
Bermandikan air mata dan peluh.

Tuhan, semesta adalah pena yang nyata,
Belajar darinya melihat diri sebagai fana,
Tiada keagungan tanpa pengorbanan.

Siang malam mengingat-Mu,
Kala mata melihat senja dan terdengar azan,
Dari pelantang masjid yang terkepung,
Gedung penantang langit.

Riuh jalan tanda kesibukan manusia,
Hilir mudik ke tempat tujuan bukan kematian,
Tetapi penderitaan jadi rangkaian hidup,
Tak berkesudahan hingga ajal menjemput,
Dengan wajah gemilang.
Jakarta, 2022

PULANG

Aku pulang ke rumah-Mu,
Tak berbusana namun bernoda dosa,
Kuserahkan jiwa terhadap Yang Kuasa,
Sucikan dari najis yang melekat,
Pada wajah keriput.

Kilau cahaya menusuk mata,
Mengisi kelam pandang dengan rindu,
Meruak mawar bermekaran dalam kepala sendu,
Melilit benci, menikam caci,
Menuai asa,
Dalam darah mengalir gairah.
Jakarta, 2022

BIODATA

Ardhi Ridwansyah kelahiran Jakarta, 4 Juli 1998.  Puisinya “Memoar dari Takisung” dimuat di buku antologi puisi “Banjarbaru’s Rainy Day Literary Festival 2019”. Termasuk 115 karya terbaik dalam Lomba Cipta Puisi Bengkel Deklamasi 2021. Puisinya juga dimuat di media seperti labrak.co, litera.co.id,  kawaca.com, balipolitika.com, galeribukujakarta.com, Majalah Kuntum, Majalah Elipsis, Radar Cirebon, Radar Malang, koran Minggu Pagi,  Harian Bhirawa, Dinamika News, Harian Fajar, koran Pos Bali, Riau Pos, Suara Merdeka, Radar Malang, Radar Madiun, Radar Banyuwangi, Radar Kediri, Nusa Bali, Suara Sarawak (Malaysia), koran Merapi, Pontianak Post, Harian Waspada, Harian Analisa, dan Media Indonesia. Instagram: @ardhigidaw. WhatsApp: 087819823958.


1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here