Kubawa tubuh telanjangku
tak cukupkah hamba bertafakur untuk membasuh keruh tiap inci kenistaan?
Sempat aku melupa, tiap kemurnian
jalanmu yang ditasbihkan kitab-kitab suci
perihal kehambaanku kerap melupa
pada kefanaan gambar telanjangku
Aku menjadi congkak di dalam kefakiran
dan kerdil perihal memaknai cinta
ruhku bertudung dosa
Aku ingin menjadi pemabuk seperti
kekasihmu, seolah-olah telah kau kultuskan
ia yang terbebas dosa
dan aku yang terpencil, semestinya aku
telah menujumu, tapi aku selalu terjaga
pada hal-hal yang candu selain
bisik tartil ayat-ayatmu
Biar kugenapkan diri menjadi yang
paling tenggelam dengan memujamu
dan bermukim di antara percik air yang
kubasuh hingga singgah di mataku
yang tak pandai berdalih; hidup
hanya perihal kembali
Biar kuziarahi yang telah jauh bermakam
dalam hatiku agar bisa kujangkau
khidmat penghambaan yang konon seputih tulang-tulang sebelum alpa
dan waktu kembali pada mulanya
Selebam apa aku bersimpuh
tak cukupkah kularungkan keruh
di antara terbata-bata kelu bibirku
mengembuskan harum sajadah dan asma-asma? Betapa sunyinya, selain
engkau tiada yang tahu di jendela mana
kutunggu anginmu singgah menjemputku
yang tak berdaya di sini
Pengakuan
Haus ini memanggil-manggil selantang
suara azan, sementara jiwaku terus mengelana di antara repih ayat-ayat yang rimbun mencari pintu di kelam mataku
Aku ingin menyaru di dalam keheningan
agar bisa jauh kuselami rindumu,
sebelum kau terbangkan seribu malam
sebelum waktu jauh terjerembab lebih dalam
Puisi seperti apa yang dapat mengantarkanku di biru langitmu?
Mana mungkin kuseka air mata sendiri
bila akulah debu yang hilang sebelum sempat mengetuk pintu
di selasar purba kalbu, lama tak kusirami
dengan kecupan semerbak wirid kerinduan
terlepas dari segala kepincangan
dan aku buta, menunggumu menjemputku di sini
Pintu
Bila kumasuki malam, seluruh pintu
adalah doa-doaku yang hendak
menghuni rumahmu
Bolehkah aku, ya Rabb
menenggelamkan sujud seperti senjamu
yang terbentang sebelum Kau hapus
segala riwayat dan aku terjebak
oleh keterbatasan waktu dan usia
Di bawah bibir bulanmu yang melengkung,
aku hanya anai-anai kecil, ingin sekali
kugapai, tapi apalah, sayapku hanya
mampu menengadah pasrah dalam
lusuh sajadah
Aku hanya pencari anugerah, ya Rabb
yang kelak ingin Kau tuntun dalam
gegap gempita dan denting sunyi untukku meminta sebaris rindu, takwa, cinta, dan segalanya, ya Rabb, jangan pernah biarkan aku sendiri
Izinkan Aku Kembali
Izinkan aku kembali pada keheningan malam
Biar bisa kubaca seluruh luka tubuh yang legam
Agar bisa kuungkap betapa nista perjalanan
Di atas sajadah yang kering di peraduan
Dalam kesedihan yang menyelimuti rindu
Aku merindukan kasih sayang-Mu
Saat hati jatuh, terluka, dan merana
Kucari-cari engkau di selasar paling tua
Izinkan aku kembali pada detak syahdu
Ayat-ayat yang kerap kutinggal dalam laku
Tak pernah kusentuh suci air pelerai sendu
Dalam syukur atas segala nikmat-Mu
Aku ingin kau bawa pada kepulangan yang syahdu
Dalam setiap langkahku dan tiap detak jantungku
Seperti langit formosa suci tanpa debu
Diri-Mu ialah pintu taubat yang ingin kutuju































