Puisi: Dialah Sang Pelintas Malam

0
71

Sang Pelintas Malam

Jika pekat sempurna menyapa
Kau melangkah dalam tanya
Adakah semua baik-baik saja

Malam itu
Ke ujung kota kau menuju
Nyala api nampak oleh matamu
Dan bocah dengan tangis memilu

Berlari, bergegas
:Wahai pemilik api, apa gerangan yang menimpa
:Kemalaman, kedinginan, kelaparan
:Apa yang ada dalam periuk
:Hanya air untuk menghibur

Engkau Sang Pelintas malam
Pundakmu menjadi saksi
Engkau memikul gandum sendiri
Dengan kasihmu kau melayani
Kau masakkan bubur dengan tanganmu sendiri

Lalu kau dekap bocah-bocah itu
Dalam hangat tak berperi
Tetap menanti
Hingga mata lelap pasti

Engkau sang pelintas malam
Khassyah menuntunmu berjalan
Menyingkap gelap, memenuhi amanat
Kisahmu terabadikan
Tersemat bersama namamu
Al faruq pemimpin kaum beriman

Sang Pelintas Malam

Jika pekat sempurna menyapa
Kau melangkah dalam tanya
Adakah semua baik-baik saja

Malam kesekian
Berjalan kau ke perbatasan
Tenda terpasang dalam kegelapan
Sesosok lelaki dan rintih perempuan

Gegas bersegera
:suara apa itu
:istriku hendak melahirkan
:tak adakah yang membantunya
:tidak

Sang pelintas malam
Kau bawakan semua keperluan
Kembali beserta istri pilihan
Dengan cintamu kau menenangkan
Hingga terdengar tangis menggetarkan

makanlah, engkau telah berjaga sepanjang malam

Lelaki itu tunduk
Benarlah kabar yang ia dengar
Lelaki itu memang Al Faruq
Pemimpin kaum beriman

Tawakkal

Aku mengambil pelajaran
Pada sekelompok kecil golongan
Dihadapkan musuh bergelombang
“Betapa banyak yang sedikit
Mampu mengalahkan yang banyak
Dengan izin yang Maha Berkehendak”

Aku ingat Musa
Ketika Fir’aun selangkah di belakangnya
Tak setitik keraguan menerpa
“Sekali-kali tidak akan tersusul
Sesungguhnya Tuhanku bersamaku
Dia yang akan memberi petunjuk”

Aku mengenang Ibrahim
Saat api akan membakarnya
Telah ditanggalkan takut dari hatinya
“Cukuplah Allah sebagai penolongku
Dan Dialah sebaik-baik pelindung”

Dan aku berkaca pada ketenangan
Sang suri teladan
Sembunyi di gua bersama sahabat pilihan
Aku mencatat sabdanya
“Janganlah takut, sesungguhnya Allah bersama kita”

Iis Nuryati, tinggal di Karanganyar. Menyukai puisi. Puisinya (dalam Bahasa Inggris) pernah dimuat di laman LPMP.jateng dan antologi puisi Mengenang Sapardi Djoko Damono (penerbit Diomedia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here