Kurampas Surga Lain Demi Membangun Surgaku

3
112

Meski tak selincah dulu, perempuan yang saban hari kupanggil Emak tetap memperlakukan dua jagoannya bak seorang bocah. Tangan rentanya sibuk meletakkan beberapa piring berisi ayam goreng, tumis genjer, nasi hangat yang masih mengepulkan asap, dan dua gelas susu ke atas meja makan. Lalu kembali ke dapur untuk mengambil sesuatu sebagai pelengkap sarapan pagi.

“Sudah, Mak. Mari kita sarapan bersama.”
Aku mencoba menjeda kesibukannya yang seolah tak pernah ada habisnya. Dia menoleh sejenak, lalu tetap kembali melangkah ke dapur.
Aku bangkit, menghalau langkah lambannya, lalu membimbing tubuh ringkih sisa-sisa perjuangan di masa lalu itu menuju meja makan. Namun ia masih bersikukuh hendak berkutat dalam kerja-kerja tanpa upah yang seharusnya saat ini sudah purna.

“Jangan pikirkan aku. Kalian yang hendak kerja dan sekolah. Aku bisa makan kapanpun aku mau.”
Perempuan bertelapak kaki surga itu selalu punya cara untuk mengalihkan kepenatan agar kedua putranya tak ikut menanggungnya. Meski sudah bukan saatnya lagi kami membiarkan pundaknya yang semakin meringkih, menanggungnya semua.

Belum lebur dari ingatanku ketika ia memutuskan tak menikah lagi setelah bapak mengembuskan napas terakhirnya. Berjuang segigih mungkin demi mewujudkan mimpi anak-anaknya agar tak dipandang sebelah mata oleh orang lain. Seperti pesan bapak beberapa hari sebelum wafat. “Bagaimana pun keadaannya, kalian harus bisa sekolah setinggi mungkin. Jangan risaukan tentang biaya. Percayalah, selalu ada jalan di setiap kesungguhan usaha. Tugas kalian adalah belajar!”

Emak merekam kalimat itu. Diumpamakannya pengobar semangat kala lelah dan penat mulai berusaha memadamkan api perjuangan. Hingga apapun bentuk rintangan yang dihadapi―meski harus berjuang sendiri―selalu mampu dilampauinya. Sampai berbilang tahun demi tahun, kedua putranya tumbuh menjadi pemuda berpendidikan.

***

Aku menggaruk kepala setelah menyimak deretan daftar nama debitur yang menunggak. Beberapa yang bebal, sudah kudatangi dengan sedikit ancaman agar mereka mau melunasi angsuran pokok berikut bunganya.
Sebagai pekerja teladan yang tahun ini masih menyandang karyawan terbaik dan mendapat banyak penghargaan atas kerja-kerja penuh dedikasi, aku harus bisa mempertahankan predikat ini.

Sayup suara azan berkumandang dari kejauhan bersamaan dengan masuknya seorang office boy ke ruanganku. Ia membawakan makan siang yang beberapa saat lalu sengaja kupesan. Setelah menyekrol daftar tunggakan yang bulan ini meningkat, tiba-tiba selera makanku menghilang.
“Yan, kamu sudah makan?” tanyaku pada OB itu saat ia hendak keluar ruangan.
“Em … udah, Pak.”
“Yang bener?”
Pria bertubuh ceking itu tercenung. Tak usah menunggunya mengaku, sebab kutahu dia sedang berbohong. Dia tahu betul jika ada hal yang baginya lebih penting daripada mengisi perutnya siang ini.
“Ini kamu makan aja, ya.” Aku menyodorkan bungkusan yang tadi dibawanya. “Abis itu kamu temenin saya ke rumah nasabah.”
Tanpa menimpali kalimatku lagi, dia pun bergegas meninggalkan ruangan.

***

Wajah berkantung mata dengan kerutan tua di beberapa bagian menyambut kedatanganku. Dengan enggan dan takut-takut, dia mempersilakanku masuk.
Mirip seorang pesakitan yang siap dihujani banyak pertanyaan, perempuan berambut nyaris kelabu di sebagian besar kepalanya itu tertunduk layu. Mungkin usianya belum setua wajahnya. Beberapa bulan lalu dia mengaku usahanya sedang jatuh karena ditipu rekan bisnisnya. Hingga angsuran yang sebelumnya tak ada masalah, kini sudah tiga bulan lebih menunggak.

“Gimana ini, Bu? Hari ini minimal ada yang disetor, ya. Biar tidak kosong sama sekali.”
Perempuan itu menghela napas. Sebelum menanggapi kalimatku, sesuatu di tenggorokannya bergerak naik.
“Saya enggak tahu lagi, Pak. Harus cari ke mana lagi. Buat makan sehari-hari saja kami sekarang kesusahan. Tolong minta kebijaksanaannya lagi, Pak. Saya akan coba cari pinjaman ke saudara di kampung sebelah.”

Dadaku seketika memanas saat jawaban yang sama dengan sebelum-sebelumnya kembali terlontar dari bibir perempuan bertubuh kurus tinggi itu. Namun, sebisa mungkin kuredam emosi ini dalam-dalam.
“Sebenarnya sudah enggak ada toleransi lagi buat keterlambatan dan tunggakan Ibu. Tapi karena saya masih ada kesabaran, saya mau paling lambat besok sore ada uang setoran yang masuk ya, Bu. Kalau tidak ….”

Kulihat sepasang mata cekungnya menggenang. Tiba-tiba wajah Emak perlahan menjelma di hadapanku. Namun, cepat-cepat kutepis bayangan semu itu. Aku tak boleh lemah. Ini adalah konskuensi yang harus ditanggungnya sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.
“Kalau tidak, kami akan menyita jaminan yang ibu agunkan di perusahaan kami.”

***

Lewat pukul sepuluh malam, kendaraanku tiba di depan rumah yang terletak di sebuah komplek perumahan di kota ini. Dengan kunci serep yang kubawa, tak perlu repot-repot membangunkan Emak atau Nando, adikku yang mungkin sudah terbuai dalam mimpinya.
Nyaris saban hari aku harus pulang di waktu-waktu seperti ini. Terlebih jika akhir bulan, pernah menjelang tengah malam barulah aku bisa keluar dari kantor perbankan tempatku mengais rezeki.

Terkadang saat merenung sendirian, terlintas sebuah pertanyaan dalam benak. Sampai kapan aku harus megejar dunia yang seolah tak pernah membuat dahagaku hilang? Sudah berulang kali Emak memintaku mencari pendamping hidup. Kata beliau, usiaku sudah lebih dari matang untuk membangun rumah tangga dan dengan penghasilan yang lebih dari cukup, aku pasti bisa menafkahi keluargaku. Namun ada hal yang Emak tak tahu, aku kehilangan waktu untuk sekadar memikirkan pasangan hidup. Bahkan menggelar sajadah untuk bersujud pada Sang Pencipta pun kadang tak sempat. Kalau pun sempat, itu pun kulakukan di penghujung waktu.

“Bar. Bari. Bangun, Nak.”
Aku terperanjat saat sebuah tepukan lembut bergerak-gerak di ujung pundak. Seorang perempuan paruh baya yang masih menggunakan telekung tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku.
Aku pun refleks membuka mata untuk memastikan bahwa perempuan di hadapanku itu adalah Emak.
“Salat subuh dulu, Nak.”
Aku pun segera bangkit dari sofa panjang di ruang tamu. Ternyata sepulang kerja aku ketiduran tanpa sempat masuk ke kamar untuk sekadar mengganti pakaian dan membersihkan tubuh.

Setelah mandi, salat subuh dan berpakaian rapi, aku duduk menghadap televisi yang saat itu sedang menyiarkan acara berita. Sambil memeriksa laporan pinjaman secara online di ponsel sekaligus menunggu sarapan siap, sesekali aku menyimak berita yang kuanggap menarik. Sampai kedua mataku terbelalak setelah melihat salah satu berita yang berasal dari kota ini. Seorang ibu tega menghabisi nyawa kedua anaknya, kemudian menggantung diri di rumahnya. Dengan saksama kuperhatikan sebuah rumah yang terpampang di layar televisi 40 inchi, tak lain adalah rumah yang kukunjungi kemarin.

… Belum diketahui pasti penyebab Narsih melakukan tindakan nekat ini. Dugaan sementara ia depresi karena memiliki tunggakan utang yang cukup besar dan tak mampu dibayar ….”
Suara announcer wanita itu seketika menggema dan berulang-ulang terdengar di telingaku. Membuat isi dadaku seperti diremas-remas. Tanpa sadar ponsel pintar keluaran terbaru yang kugenggam, terjun bebas ke lantai. Meninggalkan retak seribu di layarnya. Namun, bukan itu yang membuat dadaku terenyuh.
Aku merutuk diri. Merasa bahwa akulah yang paling bertanggung jawab atas kejadian tragis yang menimpa sebuah keluarga yang malang itu. Tak kusadari jika aku telah merenggut surga orang lain, demi menghidupi surgaku.

***

Dengan mengucap, “Bismillah ….” Aku memantapkan hati untuk mengundurkan diri dari pekerjaan yang baru kusadari jauh dari ketenangan dan keberkahan hidup. Dalam hati aku memohon agar Allah mengampuni segala dosa-dosa yang pernah kulakukan.

Bandar Lampung, 25 September 2022

3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here