Tiga “Dosa Penulis” Pemula yang Wajib Dihindari

0
95

Sebagai pemula, tidak bisa dipungkiri akan melakukan kesalahan. Itu adalah suatu kewajaran. Namun, sebagai pembelajar sejati, tidak baik bila kita menoleransi kesalahan tersebut. Membiarkan kesalahan terus terjadi, sama halnya seperti memupuk dosa kecil yang lama kelamaan akan menjadi dosa besar. Sesuatu yang mengerikan, bukan? Karena demi kualitas yang kian meningkat hari demi hari, kesalahan-kesalahan tersebut sudah sepatutnya dihindari.

Begitu juga untuk para penulis. Inilah tiga dosa besar yang sering dilakukan oleh penulis pemula yang harus Anda ketahui dan wajib dihindari:

1. Menulis dan mengedit dalam waktu bersamaan

Kesalahan ini merupakan langganan dari para penulis pemula. Dengan modal semangat juang yang tinggi, mereka akan menulis dan menyunting secara serentak. Biasanya, baru sampai pada paragraf kedua, ia sudah sibuk memangkas naskah di bagian sana sini. Merasa kurang “Wow” di bagian pembuka, ada yang tidak nyambung dan seterusnya. Bukannya melanjutkan kata demi kata berikutnya. Hasilnya jadi ibarat kertas kosong yang tak ada hasil.

Sibuk memikirkan kesempurnaan naskah bisa menjebak. Itulah yang terjadi pada penulis pemula. Umumnya, mereka terlalu berekspektasi tinggi. Anda tidak boleh sampai terkena jebakan seperti itu. Anda harus menyadari, bahwa menulis dan menyunting adalah dua pekerjaan yang berbeda, meski sama-sama di depan layar komputer atau laptop. Dalam menulis, kerja otak yang dominan adalah otak kanan yang mana menjadi pusat jalannya kreativitas dan imajinasi. Sedangkan ketika dalam mengedit, otak yang aktif adalah otak kiri yang logis, runut, dan sistematis. Memakai dua bagian otak dalam satu waktu bak seseorang diminta melirik ke kanan dan ke kiri dalam detik itu juga. Hasilnya tentu bisa kacau balau.

Nah, penulis bijak adalah yang adil dalam bertindak. Kala ia sedang menulis naskah, tugasnya adalah menulis, bukan menyunting. Demi profesionalisme, ia tidak akan merombak tulisannya. Tidak peduli apakah tulisan satu dengan yang lainnya ada kesinambungan atau tidak. Ia hanya menulis, menulis, dan menulis. Selama naskahnya belum selesai, ia tidak akan melakukan tugas lain.

Lalu, kapan baru boleh menyunting? Ya, berilah jarak waktu antara menulis dan menyunting. Paling cepat dalam waktu satu sampai tiga jam kemudian. Penulis sekaliber Raditya Dika saja mengedit tulisannya setelah seminggu berlalu. Alasannya agar ia menjadi pembaca yang baik, agar peka dengan goresan-goresan luka dalam naskah, seperti: typo, tidak nyambung, dan lain-lain.

2. Tidak bisa memakai perlengkapan perang

Cara terbaik sebelum memulai perang adalah melengkapi persenjataan dan mengatur strategi. Tidak bisa asal main terjun ke medan. Sebab, itu sama halnya dengan merencanakan bunuh diri sendiri. Sebagai seorang penulis, hal tersebut juga berlaku. Sebelum menulis, ada baiknya Anda menyiapkan kelengkapannya, seperti: kamus, tesaurus dan EBI. Kabar baiknya, kini semua itu bisa diunduh di smartphone. Yang mana, tentu lebih praktis untuk dipelajari di mana pun Anda berada.

Jika stok kosa kata sudah mentok, Anda bisa membuka tesaurus untuk mengecek sinonim dan antonim kata. Dengan begitu, tulisan Anda tidak miskin diksi. Kemudian, bila ragu dengan penulisan yang tepat dalam satu kata, Anda bisa membuka kamus untuk mengetahuinya. Misalnya, antara nasihat atau nasehat, apotik atau apotek. Itu mungkin hal sepele. Namun, penulis militan tak akan membiarkan kesalahan murahan seperti itu berlaku pada dirinya. Setidaknya, meski sebagai pemula, mental Anda sudah setingkat dengan master. Anda juga sudah bisa dikatakan siap berperang walau masih tertatih dengan persenjataan seadanya.

3. Malas membaca dan riset

Menulis itu sama seperti memanah. Olahraga yang disebut meneladani Nabi Muhammad saw tersebut tidak bisa dipandang sebelah mata. Anda tidak bisa langsung menarik busur panah mengenai sasaran. Faktanya, memanah butuh keseimbangan tubuh, kefokusan, dan kekuatan fisik yang cukup. Seseorang yang sudah terlatih saja belum tentu bisa menembak tepat sasaran.

Letak kesamaan menulis dengan memanah ada di bagian terakhir tadi. Menulis butuh ketepatan. Nah, ini bisa didapat dari hasil riset terlebih dahulu sebelum menulis. Jangan sampai, opini yang dibuat menyalahi fakta dan data. Oleh karena itu, ada yang mengklaim bahwa memilih menjadi penulis merupakan jalan untuk menjadi pembaca yang baik. Sebab, tulisan yang baik lahir dari orang-orang yang gemar membaca. Namun, Anda juga tidak boleh salah langkah dalam hal membaca ini. Terkadang, banyak penulis pemula yang awalnya sudah menggebu-gebu untuk membaca, tiba-tiba berbelok arah dengan menonton film drama korea, misalnya. Rasa malas itu hinggap kembali dan ia tidak jadi melakukan aktivitas membacanya. Untuk itulah, tanamkan di hati Anda baik-baik. Jangan tergiur oleh hal lain, sebelum Anda menuntaskan bacaan walau hanya satu judul cerita pendek, contohnya.

Dari ketiga dosa besar yang sering dilakukan oleh para penulis pemula di atas, bisa menjadi bahan pertimbangan bagi Anda yang baru memulai terjun ke dunia tulis-menulis. Setidaknya, hindarilah agar Anda tidak bekerja dua kali dalam menyusun naskah.

Semarang, Maret 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here