Pagi ini, di hari terakhir tahun 2025, saya membuka jendela kamar. Meskipun jembatan merah berdiri gagah di sebelah tenggara, seperti hari-hari sebelumnya di bulan Desember, yang sibuk menyambut pandangan saya bukanlah birunya langit atau hangatnya cahaya hangatnya bagaskara, melainkan pagi yang berlumur cat kelabu. Mendung bergelanyut rendah, seakan lelah digelantungi beban di udara. Alih-alih mencecap kopi pagi, saya justru menangkap datangnya isyarat tentang hari yang basah dan mungkin dipenuhi kilat serta dentuman petir. Ada kesunyian yang khas pada hari terakhir tahun ini. Sebuah hening sesaat yang memaksa kita berhenti sejenak dan menoleh ke belakang.
Hari akan segera berganti. Dalam hitungan jam, kita akan menjejakkan kaki di tahun baru. 1 Januari 2026. Sebagai seorang Muslim, saya mengakui pergantian tahun Hijriah sebagai penanda waktu. Namun, bagaimanapun, saya hidup di sebuah negeri yang menggunakan kalender Gregorius, sistem penanggalan berbasis peredaran matahari. Maka, tahun demi tahun yang berlalu dalam kalender ini tetap menjadi bagian dari pentahapan hidup. Kalender ini adalah penanda usia, pengalaman, kegagalan, dan harapan yang kadang membumbung tinggi, namun kadang juga harus terhempas dan kandas.
Tahun 2025 adalah tahun yang menyisakan banyak peristiwa untuk direnungkan. Bencana alam yang melanda Sumatera menjadi salah satu catatan paling getir. Bukan hanya sekadar musibah geografis yang mengirimkan hujan air mata, musibah ini juga menjadi cermin yang memantulkan betapa rapuhnya sistem mitigasi bencana kita. Waktu berjalan, sebulan berlalu, namun kerapuhan itu kian nyata. Banyak penyintas dipaksa menjalani hari-hari berat dengan beban yang berlipat, bukan hanya karena kehilangan rumah dan keluarga, tetapi juga karena lambannya respons, minimnya koordinasi, dan ketidaksiapan sistem.
Kita perlu jujur mengakui bahwa sinergi masih menjadi barang mahal di negeri ini. Alih-alih membangun kolaborasi yang solid, berbagai elemen justru sibuk saling menyalahkan, saling mencurigai, dan saling menegasikan peran satu sama lain. Padahal, dalam situasi krisis, yang paling dibutuhkan adalah kekompakan. Seperti peribahasa tentang lidi: satu batang mudah dipatahkan, tetapi ketika ia bersatu, kekuatannya berlipat ganda.
Kekhawatiran pemerintah terhadap intervensi asing tidak seharusnya berujung pada kecurigaan terhadap warga sendiri atau terhadap inisiatif-inisiatif bantuan kemanusiaan. Lebih-lebih, bencana di Sumatera, yang meliputi tiga provinsi (Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat), merupakan bencana dengan paparan wilayah yang sangat luas, bahkan ada yang menyebut hampir setara luasnya dengan Pulau Jawa. Skala sebesar itu tidak mungkin ditangani secara terfragmentasi. Kita tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Sinergi lintas sektor, lintas daerah, dan lintas komunitas adalah keniscayaan, bukan pilihan.
Masih belum terlambat untuk berbenah. Peristiwa bencana di Sumatera harus menjadi tonggak perbaikan di berbagai bidang. Peristiwa ini bukan sekadar catatan duka yang awalnya kita tangisi, namun perlahan dilupakan. Bencana ini harus memantik pertanyaan yang lebih mendasar, “Sampai kapan eksploitasi alam dilakukan tanpa kendali? Sampai kapan penambangan dan penggundulan lahan dibiarkan berlangsung secara ugal-ugalan? Sampai kapan kepentingan ekonomi terus menjadi nakhoda kapal di lautan Nusantara? Kapan … kapaaan?”
Tahun ini pastinya akan ditutup dengan getir. Benar, kehidupan memang selalu merupakan pergantian antara sabar dan syukur. Namun, keduanya muncul karena sebab akubat. Maka, bencana ini seharusnya menjadi momentum untuk belajar membaca sinyal alam dengan lebih jujur. Kita semua harus berusaha hidup selaras dengan harmoni yang diatur oleh hukum semesta. Jangan membuat aturan baru yang meniadakan peran alam. Manusia hadir di muka bumi ini bukan untuk menaklukkan alam apalagi merusaknya. Jika benar manusia adalah perusak bumi, maka benarlah kekhawatiran malaikat saat Allah SWT hendak menjadikan Nabi Adam sebagai khalifah di muka bumi, yakni bahwa anak turunan Adam akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah sesama. Padahal, Allah SWT menurunkan Adam A.S. ke bumi untuk berdamai dengan alam, bahkan menjadi pengelola yang adil dan bijakasana.
Untuk menjadi pengelola alam semesta (khalifatu fil ardhi), Allah SWT memberikan Nabi Adam ilmu khusus yang tidak diberikan kepada malaikat dan Iblis. Dan karena anugerah ilmu itulah, akhirnya Malaikat bersujud kepada Nabi Adam. Namun, Iblis yang merasa menjadi ‘si paling-paling’, paling senior, paling pintar, paling taat, menolak bersujud, dan akhirnya diusir Allah SWT dari surga.
Kini, anak turunan Nabi Adam juga harus mengelola bumi dengan ilmu. Sains harus menjadi pijakan dalam memutuskan. Tidak tergoda untuk melakukan kerusakan, apalagi hanya sekadar ingin mengejar cuan.
Saya menutup jendela kembali, sembari berharap, semoga mendung kelabu itu hanya menggantung di langit, jangan sampai menetap dalam bayang-bayang masa depan kita. Saya pun menuruni tangga, menuju dapur, menuang kopi dan mencecapnya. Kopi terakhir di tahun ini, terasa lebih pahit dari biasanya.
































