Rafa duduk diam di ruang makan, sambil menatap semangkuk sup yang mengepul di depannya. Aroma bawang dan jahe memenuhi udara di ruangan itu, membawa kenangan yang membuat sesak di dadanya.
Sudah dua bulan sejak kepergian ibu. Ayah Rafa berusaha mengisi kekosongan itu dengan segala cara. Mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga belajar merajut karena dulu ibu suka sekali merajut membuat taplak meja atau sekedar syal untuk Rafa. Meskipun begitu, ada beberapa hal yang tak bisa digantikan oleh siapa pun. Walau ayah terus berusaha keras meniru dan berlagak seperti yang dulu ibu lakukan.
Hari itu, hujan deras turun sejak pagi. Awan kelabu terlihat seperti menggantung rendah, membuat dunia di luar jendela tampak suram. Rafa yang saat itu baru pulang kuliah merasa payah dan letih oleh tugas-tugas dan presentasi dosennya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan soal masa depan terasa berat sekali seolah menumpuk di kepalanya. Selepas membuka sepatu dan kaos kakinya, Rafa memilih langsung masuk kamar. Ia membaringkan tubuhnya ke kasur empuk dan berusaha tidur sampai dunia beres dengan sendirinya. Akan tetapi, aroma sup dari dapur mengalihkan dirinya.
“Rafa…, Kamu sudah pulang ya, Nak? Ayo makan dulu”, panggil ayah dari balik pintu dapur dengan suara serak namun hangat. Akan tetapi, Rafa tak menyaut.
“Rafa, ini ayah sudah masakin sup buat kamu. Ayo makan dulu, Nak”, panggil Ayah sekali lagi.
Dengan berat hati, Rafa akhirnya bangkit dari kasur dan menuju ke dapur. Di dapur, ayah telah duduk rapi menunggunya untuk makan malam. Rafa pun duduk di kursi kayu yang terasa dingin. Di hadapannya, semangkuk sup hangat buatan ayah tampak sederhana. Beberapa potongan ayam, wortel, kentang, buncis, kembang kol dan seledri memenuhi mangkuk.
“Mari, Nak. Kita makan dulu. Pasti kamu lapar seharian kuliah. Malam ini, ayah buat sup hangat spesial buat kamu”, ucap ayah sambil tersenyum.
Rafa tak menyaut sedikit pun. Ia langsung menyendok satu suapan sup itu. Sup itu terasa kebanyakan jahe dan sedikit keasinan. Meski begitu, kehangatan kuah dicampur jahe itu menyebar ke seluruh tubuhnya, seolah memeluk dan mengobati luka-luka kecil di dirinya.
“Maaf ya, rasanya mungkin aneh”, kata ayah kali ini dengan tersenyum canggung.
Rafa menggeleng sambil berkata, “Tidak, Yah. Ini sudah enak kok”. Padahal, dalam dirinya ia menahan rasa sesak yang mendesak. Merasa bersalah karena seringkali melupakan betapa keras usaha ayahnya menjaga rumah dan keluarga itu agar tetap berjalan dan utuh meski ibu telah tiada.
Mereka makan dalam diam. Sementara itu di luar, hujan tampak tak ada habis-habisnya. Sesekali hujan terdengar mengetuk-ngetuk jendela dengan ritme yang lamban. Suara hujan di luar mengingatkan ayah dan Rafa akan sosok ibu yang dulu ketika hujan deras di malam hari seringkali membuatkan mereka berdua semangkuk sup hangat. Makanan favorit ibu yang sengaja dibuatnya agar merasa hangat saat cuaca dingin. Ingatan itu lantas membuat dada Rafa semakin sesak seolah merasa ibu juga hadir disana dan ikut makan malam bersama mereka.
Setelah sup hampir habis. Ayah mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya. Sebuah foto kecil tampak dipegang olehnya. Foto itu sudah agak pudar, bergambar ayah, ibu, dan Rafa yang sedang tersenyum sambil berdiri berlatar masjid agung ikonik di kota mereka. Foto itu diambil beberapa bulan lalu sebelum kepergian Ibu bertepatan dengan momen Idul Fitri. Nampak jelas wajah riang menyambut hari raya dalam foto itu. Sungguh bertolak belakang dengan suasana malam itu yang dingin dan suram.
Sambil meletakkan foto itu diatas meja makan. Ayah berkata, “Ayah barusan menemukan foto ini di lemari ruang keluarga.” Dengan sedikit penasaran, Rafa mengambil dan mulai memandangi foto itu.
“Kadang ayah suka berpikir, ibu sepertinya pergi bukan tanpa alasan. Ibu pergi bukan karena tidak sayang kita lagi. Tetapi, sepertinya ibu ingin mengajarkan kita untuk kuat dalam menjalani hidup. Ya sesederhana lewat semangkuk sup hangat yang dimakan saat hujan,” ucap ayah dengan nada pelan.
Rafa mengenggam erat foto itu. Dengan mata tertutup, ingatannya mengalir. Ia mengingat bagaimana aroma masakan Ibu. Pelukan hangat yang menyambutnya saat pulang sekolah dan kuliah dulu. Terlebih lagi senyum dan suara tawanya terekam jelas dalam ingatan Rafa. Belum lagi belaian lembut tangan ibu mengelus kepala Rafa yang menenangkan saat petir dan gemuruh mulai terdengar. Hal itu lantas membuatnya tersadar. Sadar bahwa keluarga sebenarnya bukan tentang keutuhan fisik semata, melainkan tentang menjaga cinta itu tetap ada dan hidup meskipun salah satu bagian telah tiada.
“Yah, Rafa minta maaf ya,” bisik Rafa pelan kepada ayah.
“Maaf ya, kalau selama ini Rafa terlalu sibuk dan tidak sadar. Bahwa sebenarnya kita masih punya satu sama lain,” tambahnya kini dengan nada pelan menggetar dan air mata yang sedikit mengalir ke pipinya.
Ayah bangkit dari kursinya dan kini berada di belakang Rafa. Sambil menahan air mata, ia mengelus kepala Rafa dengan sangat lembut. Persis seperti ia mengelusnya dulu saat Rafa masih kecil. Dengan nada pelan dan terisak ayah berkata, “Nak, kamu tidak perlu meminta maaf ya. Kita semua sedang belajar. Belajar untuk bertahan. Ayah tahu ini berat, tapi ayah juga yakin kalau kita pasti bisa menghadapinya.”
Malam itu, setelah meja makan dibersihkan, Rafa mengobrol santai di ruang keluarga bersama ayah. Ia membantu Ayah mencari berbagai resep masakan di ponselnya. Mereka tertawa kecil dan kebingungan sendiri melihat betapa banyaknya jenis masakan dan cara memasaknya ditambah lagi nama-nama bahan masakan yang jarang mereka dengar.
“Bagaimana kalau besok malam kita coba masak ini saja, Yah. Kwetiau pedas manis goreng. Mudah deh kayaknya dimasak, dari tampangnya juga cukup enak deh,” usul Rafa kepada ayahnya.
“Boleh-boleh, bahannya juga ini ayah ngerti dan tahu bentukannya,” jawab ayah.
“Nah, kalau begitu besok pagi sebelum berangkat kuliah aku temani ayah deh ke Pasar buat cari bahan,” balas Rafa dengan semangat.
“Eits, jangan lupa juga kalau selepas makan bantu cuci piringnya ya, ha ha ha,” ledek ayah kepada Rafa.
Sejak kepergian ibu, malam itu menjadi malam pertama rumah itu terasa hidup lagi. Obrolan selepas makan di malam itu terasa seru sekali meski hujan masih deras turun di luar. Hal itu bukan karena semuanya sempurna. Bukan juga karena rasa duka telah hilang sepenuhnya dari dalam hati mereka berdua. Akan tetapi, di tengah rasa kehilangan itu, mereka lebih memilih untuk bertahan. Memilih untuk sedikit demi sedikit menumbuhkan cinta kembali satu sama lain. Seperti halnya cinta yang hadir dari semangkuk sup hangat yang menemani malam dingin mereka.
































