Mengenang Pipiet Senja, Penulis Produktif Serba Bisa

0
32

Akhir September 2025, tepatnya 29 September 2025, publik Indonesia, khususnya para pegiat literasi di Indonesia dikejutkan dengan sebuah berita duka: seorang sastrawan Indonesia wafat. Pipiet Senja namanya. Beliau wafat di Depok setelah sekian lama menderita sakit thalasemia. Wafat dalam pelukan puterinya yang juga seorang penulis sekaligus pengacara, Adzimatinur Siregar, atau yang lebih dikenal sebagai Zhizhi Siregar. Kepergiaannya ditangisi oleh para pembaca setia dan sahabat-sahabatnya.

Nama Pipiet Senja begitu akrab di kalangan pecinta sastra dan literasi Indonesia. Beliau lahir pada 16 Mei 1957 dan aktif menulis sejak 1977. Menurut Afifah Afra, pimpinan redaksi Filmi yang pernah berinteraksi cukup intens dengan Pipiet Senja, sastra bernama asli Etty Hadiwati Arief yang lahir pada 16 Mei 1957 sempat dikenal sebagai penulis aktif di majalah berbahasa Sunda, Mangle. “Dulu Teh Pipiet pernah bercerita, bahwa beliau sangat aktif menulis di majalah Mangle. Teman-teman di FLP sering bergurau dengan membaca kata Mangle dengan ‘manggel’, seperti ejaan dalam bahasa Inggris,” kenang Afifah Afra.

Penulis Produktif

Menurut berbagai sumber yang diperoleh Filmi, beliau menulis juga banyak menulis di Harian Gala, Mandala, Pikiran Rakyat, Kartini, Panji Masyarakat, Annida, Ummi, Republika, dan sebagainya. Puluhan bukunya terbit di berbagai penerbit, seperti Asy-Syaamil, Mizan, Zikrul Hakim, Gema Insani, Indiva Media Kreasi dan sebagainya. Beberapa judul bukunya di antaranya, “Namaku May Sarah”, “Riak Hati Garsini”, “Mom and Me”, “Bidadari”, dan sebagainya.

Beliau memang dikenal sebagai salah satu penulis perempuan paling produktif, dengan puluhan karya yang melintasi berbagai genre—mulai dari novel, cerpen, esai, hingga buku motivasi. Karena itulah pada tahun 2006, beliau mendapatkan penghargaan dari IBF Award sebagai Penulis Prolifik dan Produktif.

Beliau juga pernah menjadi pembicara sastra di beberapa negara, seperti Mesir, Hongkong, Taiwan, serta mengisi VOI RRI Siaran Luar Negeri sebagai pengasuh acara Bilik Sastra mulai dari tahun 2011 hingga 2020.

Thalassemia

Pipiet Senja bukan hanya menulis untuk dirinya sendiri, tetapi juga menghadirkan suara bagi banyak orang yang membutuhkan inspirasi dan kekuatan. Di balik kesibukan menulis, Pipiet Senja juga dikenal sebagai sosok yang gigih menghadapi keterbatasan fisik. Sejak usia muda, ia harus berjuang melawan penyakit thalassemia, sebuah penyakit genetik di mana protein pembentuk hemoglobin (sel darah merah) tidak terbentuk. Oleh karena itu, seumur hidup Pipiet Senja harus menjalani transfusi darah.

Penyakit tersebut tak membuat semangatnya padam. Dengan bercanda, beliau sering menyebut dirinya sedang ‘menjadi drakula’ saat harus transfusi darah. Justru dari pergumulan dengan sakit itulah lahir karya-karya yang sarat makna, menyentuh sisi kemanusiaan, sekaligus memotivasi pembacanya untuk tidak menyerah pada keadaan.

Produktivitasnya membuatnya dihormati sebagai figur panutan dalam dunia literasi. Beliau sempat menjadi penasihat di organisasi literasi terbesar di Indonesia, Forum Lingkar Pena. Pipiet Senja sering terlibat dalam kegiatan pelatihan menulis, seminar, hingga gerakan literasi di berbagai daerah. Ia percaya, menulis bukan sekadar aktivitas estetis, tetapi juga sarana dakwah, pemberdayaan, dan penyembuhan jiwa. Dengan kepiawaian bahasa yang sederhana namun menyentuh, ia berhasil menjangkau berbagai lapisan masyarakat.
Pipiet Senja juga dikenal serba bisa. Ia menulis tema-tema sosial, agama, keluarga, hingga isu-isu perempuan dengan keberanian dan kedalaman. Baginya, menulis adalah cara untuk meninggalkan jejak kebaikan sekaligus melawan keterbatasan.

Kini, meski jasadnya telah tiada, warisan karya dan semangat hidupnya tetap hidup. Pipiet Senja meninggalkan pesan kuat: bahwa seorang penulis sejati adalah ia yang menulis dengan hati, terus berkarya meski dalam keterbatasan, dan memberikan manfaat bagi orang lain. Kehilangan Pipiet Senja adalah duka bagi dunia literasi Indonesia, namun karyanya akan terus abadi, menjadi cahaya bagi generasi mendatang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here