Pinta Dalam Puisi
Di kelam malam yang sunyi
Aku terpaku menatap langit
Yang menyenandungkan tangis
Dari kota yang terjajah kaum zionis
O, apalah daya seorang aku
Yang hanya bisa menitipkan pinta
Dari tengadah tangan yang kelu.
Maafkan bila aku terlalu alpa
Untuk sekadar menopang kesedihanmu
Sebab aku tak bisa apa
Selain memintal sebuah doa
Dengan kusut di dada.
Hanya ini yang dapat aku lakukan
Menyulam puisi demi menyadarkan setiap insan
Bahwa sakit yang kau rasa
Lebih pedih dari luka yang menganga.
Pay. Dung-dang, 2021
Malam Takbiran Di Gaza
Ketika gemuruh petasan menggema,
Orang-orang sibuk dengan baju barunya
Apakah kita pernah berpikir
Tentang saudara kita di Gaza
Yang diselimuti derai air mata
Terpahat derita di lubuk hatinya.
Saat orang-orang mengagungkan asma-Nya
Dengan pengeras suara
Pernahkah kita mengira ketakutan mereka
Yang tak pernah melihat indahnya purnama
Apalagi ketenangan hidup nyata.
O, Tuhan!
Engkaulah Zat yang menakhodai semesta
Sudahilah pembantaian yang melebihi batas manusia
Dengan kasih-Mu
Yang tak dapat diuntaikan kata-kata.
Pay. Dung-dang, 2021
Tirakat Bapak Ibuk
;Ali Badri dan Sitti Juma’atun
Mulai dari tumbuhnya matahari
Hingga tumbang di ujung pagi
Kau cumbui tanah dengan peluh pasrah
Mengayomi lembaran tembakau
Yang kau sulam menjadi kehidupan.
Ketika malam menua kau terjaga
Dengan kerelaan melepas dunia
Tak lain hanya ingin merapalkan doa
Yang kau iringi deraian air mata.
Sumenep, 2020
Perihal Rindu
Siapakah yang menanak rindu
Di tungku ibu
Saat aku sedang menunggu temu
Di pelataran waktu
Mungkin cinta tak cukup dengan kata
Lalu bahagia
Karena masih ada rindu
Yang selalu menuntut
Dengan paksa.
Adalah cinta yang mengutus rindu
Agar menjadi bukti
Bahwa sebelum bahagia
Harus rela menanggung siksa.
Sampang,2021

































Keren puisinya!