Lampu remang-remang angkringan Mbok Minah memantul lembut pada benda yang melingkari jari manis Hana. Hana mengangkat tangannya, lalu memutar-mutar cincin di hadapannya naik dan turun.
“Sini,” pintaku, mengulurkan tangan, meminta cincinku kembali.
“Sebentar, Jong,” Hana menoleh. Menatapku, memohon dengan senyumnya yang menggemaskan. Lesung di pipi kirinya tampak, namun kulihat matanya tidak mengikuti irama. Matanya membesar.
“Hai, hai, Assalamu’alaykum.…”
Aku dan Hana menoleh ke depan bersamaan. Diana melambai-lambai kecil dari celah pintu kain angkringan, lalu mengambil tempat di seberang kami.
“Wa’alaykumussalaam….”
Angkringan Mbok Minah berada diantara Kos-Kos Putri, menjadikannya angkringan paling nyaman untuk kami. Mbok Minah adalah teman ngobrol favorit anak-anak Kos Putri di sekitar angkringan. Bahkan kami bertiga hampir selalu bertemu di sini untuk makan malam tanpa perlu mengucap janji.
Aku sudah selesai makan, menyeruput air es yang masih separuh. Memutuskan untuk memperhatikan Hana yang sedang mengamati Diana. Hana yang setahuku selalu tersenyum manis itu meluruskan bibirnya yang terkatup.
“Mbok, susu jahe satu,” ujar Diana memesan minumannya.
Setelah itu, Diana meraih piring kecil berwarna merah dan mengisinya hingga penuh. Namun ia belum selesai. Tangannya masih bergerilya di atas keranjang makanan yang berjejer.
Tepat saat tangannya meraih ujung tusuk sate jamur krispi, arah matanya tersangkut pada jari manis di tangan kanan Hana yang berada tepat di depannya.
“Hana?!” teriak Diana tiba-tiba.
Aku kaget, cepat sekali tangan Diana menangkap tangan Hana. Menariknya hingga tubuh mungil Hana hampir menabrak dan mengacaukan meja reyot penuh makanan.
“Hana, udah…?”
Pertanyaan Diana menggantung. Hana masih diam sejak tadi. Aku meyakinkan diriku ada sesuatu yang tidak beres tentang mereka.
“Hana, cepat sekali yaa… ehm….”
Sedetik Diana mengamati cincin pada jari manis Hana dengan lekat, sebelum melepaskan tangan Hana kemudian. Kepalanya miring, lalu wajahnya sumringah. Hana dan Diana, mereka menatap satu sama lain. Sebenarnya apa yang mereka bicarakan dengan mata itu?
“Cepat… apa?” tanyaku. Menatap Diana dan Hana bergantian.
“Itu…” Diana menyambut pertanyaanku, tampak semangat seperti akan menyampaikan berita besar. Sedangkan Hana mengerutkan kedua alisnya, menjatuhkan pandangan tajam pada cincin malang di tangannya. Cepat ia berdiri.
“Jong, ayo pulang,” Hana mengajakku pulang, berjalan menuju Mbok Minah yang sedang mendengar curhatan pelanggannya sambil terkantuk-kantuk. Melakukan pembayaran dengan tergesa. Aku semakin bingung dibuatnya.
***
“Nih, makasih ya.” Hana tersenyum padaku, lima menit setelah kami berjalan bersama tanpa percakapan. Ia mengulurkan cincin bermasalah itu padaku.
“Iya, sama-sama,” aku mengembalikan cincin itu pada tempatnya, jari kelingking di tangan kiriku. Tanpanya, tanganku akan memperlihatkan garis belang yang aneh.
“Kamu tahu nggak?” Hana mendongak, melihat ke arahku.
“Enggak,” jawabku.
“Ha ha ha, kamu emang praktis, ya Jong,” Hana tertawa kecil, mungkin suasana hatinya sudah tidak sekelam tadi.
“Ceritanya panjang, mulai dari mana yaa….” Hana melihat ke langit, tidak ada apa-apa di sana. Sepertinya hujan akan turun lagi.
Malam itu sepanjang perjalanan pulang ke kos, kami berjalan lambat-lambat. Hana bercerita tentang seorang laki-laki yang katanya aku kenal. Meminta kesediaannya untuk menikah hanya dengan chat Whatsapp. Hana yang ketakutan dan menangis saat membacanya, mengadu pada Mbak X, seorang kakak tingkat yang kebetulan sedang bertamu di kamarnya. Mereka berdua, Hana dan Mbak X, berdiskusi patah-patah, dengan pikiran Hana yang kalut.
“Waktu itu aku mungkin lupa mengatakan pada Mbak X untuk tidak menceritakannya pada siapapun, Jong. Tapi… bukannya hal seperti itu seharusnya ia simpan sendiri tanpa perlu aku minta,ya? Padahal, kupikir dia yang paling paham agama di antara senior kita,” ucap Hana. Aku mulai menebak-nebak arah ceritanya.
Ia tidak menyebut nama, hanya X saja, Mbak X, membuatku menahan paksa sel-sel detektifku agar tidak bangkit dan membangun menara prasangka.
“Aku saja tidak kamu beritahu.” Aku menggoda Hana, yang begitu cepat merasa bersalah dan segera meminta maaf padaku. Aku tertawa.
“Ngga papa, Hana. Proses seperti itu lebih baik jika sedikit orang yang tahu, yang berkepentingan saja. Itu yang aku baca dari buku, sih. Kalau sudah menikah baru nanti walimah atau disyiarkan, bahwa gadis itu sudah ada yang punya, gitu…”
Kami sampai di depan kos, lalu aku mengajak Hana naik ke tangga jemuran di samping kiri pintu masuk. Di samping jemuran ada tumpukan bata tempat kami biasa duduk melamun.
“Iya, kan? Makanya karena Mbak X yang kebetulan ada di kamar, awalnya aku bersyukur banget. Soalnya aku panik banget, refleks kasih liat chat itu ke siapapun di dekatku. Kalau orang lain, entah jadi seperti apa? Tapi ternyata… dia sama saja,” sambung Hana tampak kecewa.
“Terus? apa hubungannya sama cincin ini?” tanyaku. Mengangkat tangan kiriku yang sudah kembali bercincin.
“Aku ngetes aja. Sejak kemarin, tiga temen kita nanyain ke aku, ‘Han, kamu udah dilamar, ya? Kamu mau menikah, ya?’ Kan aku dongkol yang ditanyain begitu.” Hana menjawabku dengan lirih. “Aku tak tahu, mengapa banyak orang yang tiba-tiba bertanya soal pernikahan dan lamaran, padahal tak ada seorang pun yang aku kasih tahu, kecuali Mbak X.”
“Ya, mungkin karena cincin itu.”
“Kamu juga bercincin, apa ada yang nanyain kamu sudah dilamar?”
Aku tertegun. Menunduk, melihat cincinku. Cincin pemberian almarhum Nenek.
“Tahu nggak?” Hana mengeluarkan pertanyaan nomor satunya, tapi kali ini aku tidak berselera mencandainya. “Laki-laki itu tahu alamat kos kita, mengirimiku hadiah-hadiah. Laki-laki itu mengunjungi rumah orangtuaku di kampung. Menurutmu siapa yang memberinya semua alamat itu? Ada berapa orang yang tahu masalah ini?”
Aku semakin tercenung. Bahkan aku yang teman akrab Hana, tak tahu apa-apa.
“Teman laki-laki itu, teman Mbak X, berapa orang yang tahu? Apa yang mereka bicarakan di belakangku, Jong?” Suara Hana mulai bergetar. Aku mulai memahami perasaannya.
“Setiap bertemu teman-teman organisasi, aku selalu takut. Aku takut mereka tahu, aku takut mereka semua tahu. Menggosip tentangku. Menertawakanku di belakang.”
Rupanya laki-laki dan mbak X masih dalam organisasi yang sama dengan kami. Aku yakin itu. Aku sudah bisa mengerti Hana dengan segala kegundahannya dengan sikap teman-temannya itu. Bagi mereka kabar pernikahan mungkin dianggap bukan hal yang perlu dirahasiakan, bagi Hana, itu sebuah peristiwa yang harus dijaga dengan sebaik mungkin agar tidak bocor. Ah, sebenarnya aku juga berpendapat sama. Jika aku mengalami hal seperti Hana, aku akan sangat marah.
“Cincinmu, sekarang kamu tahu kan, kenapa aku meminjamnya di depan Diana?”
“Iya, Han. Aku paham.”
Aku paham pertanyaan menggantung Diana tadi. Ternyata Diana menjadi salah satu dari mereka yang mengerti persoalan Hana tanpa Hana tahu.
Kami terdiam kembali. Aku merangkul pundak Hana yang bergetar.
Malam itu, bersahut-sahutan antara suara guntur dan suara isak tangis Hana. Hatiku tersayat, benci mendengar suara batinku yang berteriak ‘siapa dia?’ Mbak yang namanya ditutupi dengan baik oleh Hana, yang membuatku ingin menamparnya seratus kali.
Malam itu, saat rintik hujan mulai turun. Cincin di jari kelingkingku menampakkan pengkhianatan besar yang sering dilakukan seorang manusia kepada manusia lain. Pengkhianatan yang menjadi seperti gorengan di angkringan Mbok Minah. Siapa saja bebas mengambil dan mengunyahnya. Bahkan mereka yang ‘terlihat’ memahami agama pun tidak terlepas darinya.
“Hana, sudah gerimis. Ayo turun. Soal mereka, biar mereka yang membayar atas kelakuan mereka di akhirat nanti…. Sekarang, yang penting kita bisa belajar, bahwa menjaga rahasia dan amanah itu adalah hal sangat penting yang harus kita pegang teguh.”
“Siapa yang mengunyah dan menelan, dia harus membayar.”































