Mbah Dawam dan Keinginan Umrahnya

0
54

“Umrah, mati. Umrah, ajal. Umrah, mati.”
Kata-kata itu yang selalu meluncur dari bibir tua Mbah Dawam, saat ia lari-lari kecil dari bukit di belakang rumahnya, menuruni lembah yang tidak begitu curam hingga menaiki bukit di pojok kampung. Sesekali ia menghentikan langkahnya. Tubuh tuanya memang tidak bisa dibohongi. Nafasnya pun tidak panjang lagi. Namun ia akan segera bersemangat melanjutkannya kembali sampai tujuh kali pulang balik.

Anehnya, Mbah Dawan sama sekali tidak menyadari kalimat yang selalu meluncur dari bibirnya itu. Dalam bayangnya, ia sedang menjalani sa’i, baina Shafa wal Marwah, tempat yang tidak berapa lama lagi akan segera ia datangi.
Sudah beberapa hari ini Mbah Dawam sibuk mempersiapkan diri untuk pergi umrah. Bahkan sejak ia mendapatkan kepastian keberangkatan dari biro umrah di mana ia mendaftarkan diri, Mbah Dawam sudah mulai menfokuskan perhatiannya pada hal-hal yang diperlukan untuk keperluan ibadah yang sudah sangat lama ia impikan itu. Satu harapnya, saat menjalani sa’i dan thawaf, ia akan bisa melakukannya dengan khusyu’, karena ia ingin sekali mempersembahkan ibadah tersebut hanya untuk Sang Khalik, Dzat yang entah kenapa akhir-akhir ini terasa begitu dekat.

Sejatinya Mbah Dawam pingin sekali bisa naik haji. Namun dengan sistem kuota dan daftar tunggu yang makin hari makin lama, kemungkinan bagi Mbah Dawam untuk bisa berangkat haji semakin kecil. Atau hampir bisa dibilang mustahil. Lagian, ia juga tidak akan sanggup membayar ongkos haji, karena untuk umrah saja ia harus rela memotong sebidang tanah di ujung jalan masuk kampung.
“Alhamdulillah, akhirnya bisa ke tanah suci,” ucap Mbah Dawam terbata-bata. Kalimat itu sudah tidak terhitung berapa kali terucap dari bibir nya. Jelas sekali tergambar kalau keinginan bisa ke tanah para nabi itu begitu tinggi.
“Jangan lupa, kula nanti didoakan ya, Pakne!”
“Pasti, Mbokne. Aku bisa berangkat kan juga karena keikhlasanmu,” jawab Mbah Dawam dengan seulas senyum. “Orang-orang sudah dikabari to, Mbokne?”
“Sudah, Pakne. Bahkan nanti malam para jamaah minta dikumpulkan di mushola, sekedar kumpul-kumpul untuk nguntapke panjenengan,” jawab istri Mbah Dawam itu tidak kalah bahagianya.

Saat itu pun tiba. Mbah Dawam sangat bersemangat. Diantar keluarganya dengan mobil rental, Mbah Dawam mendatangi biro umrah di kota, sekitar 75 km dari rumah. Sudah banyak orang di kantor itu saat rombongan Mbah Dawam tiba. Sesuai daftar yang ia terima, memang ada sekitar tujuh puluhan orang yang akan berangkat bareng Mbah Dawam.

Tampak sekali wajah-wajah sumringah menebar harap. Cerah, secerah matahari yang sudah makin meninggi. Saling peluk. Saling jabat tangan. Saling rangkul. Begitulah suasananya. Haru. Bahkan beberapa kali Mbah Dawam mengusap air mata, saking trenyuhnya.
“Maaf, Bapak-Bapak. Ibu-Ibu. Dengan sangat terpaksa kami umumkan, kalau hari ini Bapak-Bapak dan Ibu-Ibu belum bisa berangkat. Ada sedikit masalah dengan dokumen.”

Pengumuman yang diberikan oleh salah satu pengurus di biro umrah itu tiba-tiba merampas senyum yang baru saja mengembang. Sontak suasana langsung gaduh. Ada yang langsung meminta klarifikasi. Ada yang minta diperjelas alasannya. Ada yang pingin tahu kapan kepastian keberangkatannya. Ada yang protes mengapa baru diberi tahu setelah semua berkumpul. Ada juga yang mempertanyakan uangnya.

Namun di antara hiruk-pikuk suasana tersebut, Mbah Dawam duduk bersimpuh. Pandangannya nanar. Setelah pengumuman itu ia dengar sendiri dari pengurus biro umrah, tiba-tiba tubuhnya limbung.
“Pakne tidak usah terlalu dalam memikirkannya. Kita ikuti saja orang-orang yang tadi diajak rembugan sama pengurus biro,” ujar Mbok Dawam sambil mengusap punggung suaminya, mencoba memberi dukungan moril.
Injih Pak, tidak usah dipikir terlalu dalam. Pasti nanti berangkat,” sahut Herman, anak bungsu Mbah Dawam.
“Aku hanya ingin bisa segera ke tanah suci, Mbokne,” jawab Mbah Dawam sesenggukan.
“Iya, Pakne. Kula paham. Semua yang daftar juga ingin segera ke sana,” sahut Mbok Dawam, mengusap air mata suaminya dengan penuh cinta. “Kamu gabung ke orang-orang yang sedang ngurus kejelasannya, Man. Biar segera dapat jawaban.”
Injih, Mbok,” jawab Herman.

Herman pun bergegas bangkit. Kalau saja tidak khawatir dengan gejolak hati bapaknya, dia sudah sejak tadi ingin bergabung dengan orang-orang, memperjuangkan kepastian keberangkatan umrah. Ini bukan tentang uang. Tapi tentang harapan besar yang sedang tersemat di hati bapaknya.
“Ngapunten, Pak. Berdasar hasil rembugan tadi, hari ini memang positif tidak bisa berangkat,” sedikit pelan Herman menyampaikan kabar yang baru saja didapatnya.
“Kenapa, Le?” tanya Mbah Dawam, mendongakkan wajahnya.
“Katanya sebagian visa belum jadi,” jawab Herman.
“Visa itu apa?” tanya Mbah Dawam lagi. “Apa karena bayarannya kurang?”
“Saya juga kurang tahu, Pak. Tadi diumumkan, keberangkatan diundur dua hari lagi. Kalau mau menunggu di sini dipersilahkan. Mau pulang dulu juga bisa. Nanti akan ada kabar selanjutnya,” jawab Herman, masih dengan nada selembut mungkin.

“Kita pulang saja Pakne. Dua hari kan tidak sebentar. Nanti kambing dan sawah siapa yang ngurus kalau semua di sini,” usul Mbok Dawam.
“Saya juga berpikiran begitu, Pak. Kita pulang saja dulu,” imbuh Herman.
“Terus nanti kalau jamaah bertanya, gimana. Malu, tadi sudah pamit, kok sudah di rumah lagi,” ujar Mbak Dawam, menutup wajahnya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana komentar orang-orang kampung. Ia ingat betul, saat menjual sebagian tanah untuk umrah saja, ada yang nyinyir. Padahal itu tanahnya.

“Jangan terlalu dipikirkan, Pak. Biar nanti saya yang jawab kalau ada yang tanya,” jawab Herman.
Mbah Dawam tidak punya banyak pilihan. Ia memang harus pulang. Benar kata istrinya, dua hari akan lebih bermanfaat jika di rumah. Lagian, batalnya berangkat itu kan bukan salahnya.

#####

Heboh suasana rumah begitu Mbah Dawam tiba, persis seperti yang ia bayangkan. Namun Herman memenuhi janjinya. Dia yang lebih banyak bicara menjelaskan kronologisnya. Sedang Mbah Dawam langsung masuk kamar dan merebahkan harapnya di pembaringan.
Selama dua hari di rumah, Mbah Dawam tidak mau keluar rumah. Malu, kecewa dan perasaan lain, mengganggunya. Untuk sementara, sholat jamaah, Herman yang menjadi imam. Namun untuk kajian sehabis subuh, terpaksa ditiadakan, karena Herman belum bisa menggantikan Mbah Dawam. Mbok Dawam sudah berusaha membujuk suaminya untuk pasrah dan mengembalikan semua ke Tuhan. Tapi kekecewaan Mbah Dawam masih mengendap di pikirnya. Makanya ia bersikukuh baru mau keluar rumah setelah benar-benar berangkat umrah, dan kembali.

Dua hari berjalan terasa lamban. Kalau dulu sehabis subuh, Mbah Dawam selalu latihan lari-lari kecil, dua hari ini ia lebih banyak di kamar, hingga saat tiba keberangkatan ke kota, tempat kantor biro umrah berada, kondisi Mbah Dawam sedikit drop. Namun, ia bersikukuh untuk segera berangkat.

Sampai di tujuan, suana sudah ramai. Hampir sama dengan dua hari lalu. Namun ada yang berbeda dengan kantor itu. Kali ini, belum ada satu pengurus pun yang menyambutnya. Bahkan kantor masih tutup. Tak ayal, begitu melihat kondisi kantor, kasak kusuk pun menyeruak.
Beberapa orang mulai mengontak pengurus biro. Namun nihil. Beberapa mulai berkelompok, membicarakan kemungkinan terburuk. Kali ini Herman langsung ikut, karena ia merasa harus berbuat sesuatu untuk bapaknya. Ia tidak mau bapaknya akan semakin terpuruk dengan ketidakpastian keberangkatan umrah.

“Apa akan ditunda lagi?” tanya Mbah Dawam.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu, Pakne. Kali ini pasti berangkat. Bukannya pengurus sudah berjanji hari ini bisa berangkat?” ujar Mbok Dawam.

Tiba-tiba Mbah Dawam setengah berlari menuju kantor. Langkahnya tertatih, menyibak kerumuman orang. “Bagaimana umrahku? Bagaimana umrahku?”
Teriakannya yang parau, membuat beberapa orang yang semula kasak-kusuk mengalihkan pandangannya. Suasana menjadi begitu haru. Terlebih saat Mbah Dawam duduk bersimpuh di pintu gerbang kantor itu.

“Ya Rabb. Bagaimana umrahku? Hamba ingin segera ke tanah suci. Hamba ingin segera bisa mencium hajar aswad. Hamba ingin segera bisa melihat ka’bah-Mu,” tangis Mbah Dawam pecah. Luapan kekecewaan nampak sekali dari paraunya.
Mbok Dawam mencoba memapah Mbah Dawam kembali ke tempat semula. Namun Mbah Dawam terus saja tergugu. Beberapa orang yang ikut simpati, membantu Mbok Dawam. Namun tubuh Mbah Dawam makin melemah. Bahkan kemudian jatuh tersungkur setelah berteriak panjang, “Umrahkuuuuuu!”

Orang-orang segera menggotongnya, mencoba memberikan pertolongan. Namun nihil, karena Mbah Dawam keburu menghadap Dzat yang selama ini ingin sekali ia temui.
“Di mana orang yang bertanya tentang umrah tadi?” tanya pengurus biro, begitu tiba di kantor. “Fa aina sa-ala ‘umrota?

Orang-orang hanya bungkam. Tidak ada jawaban. Kekecewaan mereka sudah tidak bisa ditolelir. Ini bukan lagi tentang uang. Bukan lagi tentang kepastian keberangkatan, namun tentang harga diri. Mereka membayar untuk bisa berangkat umrah. Bahkan ada yang sampai menjual tanah. Tapi, kepercayaan itu telah dikhianati oleh orang-orang yang sudah mencampuradukkan kepentingan dunia dengan embel-embel agama.

“Kembali kami memohon maaf, karena kami tidak bisa memberangkatkan jamaah umrah hari ini. Semua uang akan kami kembalikan,” jelas ketua biro.
Orang-orang hanya terdiam. Bahkan apa yang diucapkan pengurus biro itu menjadi sangat basi, karena janji yang kemudian mereka ingkari telah merenggut harapan seorang kakek, yang begitu ingin bisa menghadirkan pengabdian terbaik untuk Tuhannya di detik terakhir hidupnya.

Ambulan segera datang. Begitu juga dengan polisi. “Fa aina sa-ala ‘umrata?”. Suasana tiba-tiba aneh, karena kalimat itu meluncur dari bibir-bibir yang selama ini tidak pernah mengucapkan lafadz Arab. Anehnya lagi, semua sangat paham tentang arti dari lafadz itu.
Apakah Mbah Dawam sudah mengadu pada Tuhan yang baru saja ia temui dan mempertanyakan umrahnya? Lalu malaikat turun ke bumi? Yang jelas, fa aina sa-ala ‘umrata, menjadi berdengung di telinga setiap yang hadir di tempat itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here