Rahasia Dua Hati

0
76

“Pakeeeet!” suara itu membuat Ana terhenyak dari duduknya di depan TV. Dia segera menyambar kerudungnya yang tergeletak di sandaran kursi, lalu melangkah cepat ke arah pintu.

”Ya, Bang,” jawabnya setelah pintu terbuka. Didapatinya abang kurir yang berdiri masih dengan helm dan jaketnya, mengangsurkan sebuah bungkusan.

”Rumah Bu Ana, jalan Belimbing 5?” tanya abang kurir memastikan.

Ana mengangguk dan menerima paket itu. ”Bentar ya Bang, saya ambil uangnya,”

Tak menunggu jawaban, Ana sudah masuk dan meraih uang yang sudah disiapkannya di meja TV. Dia sudah bisa memperkirakan paket itu akan datang hari ini. Terlalu sering dia belanja online di marketplace dan dia sangat hafal dengan segala pernak-perniknya.

”Ini ya, Bang, terima kasih,” ucap Ana sambil menyerahkan uang yang langsung dihitung oleh abang kurir.

”Pas ya, Bu, terima kasih, permisi,” ujarnya sambil berlalu dari hadapan Ana.

Ana lalu kembali duduk di depan TV, tapi kali ini dia tak lagi fokus melihatnya. Ada yang lebih menarik kini di hadapannya. Paket itu. Seakan-akan memanggil untuk segera dibuka. Untuk kesekian kali dia membeli gaun tidur. Saat melintas penawarannya di toko merah beberapa hari yang lalu, dia sudah tertarik dengan modelnya. Padahal baju tidur dan lingeri koleksinya jika setiap hari berganti, akan bisa dipakai 2 bulan sekali saking banyaknya.

Entahlah, sejak peristiwa itu. Ana suka sekali belanja online. Bukan membeli barang penting untuknya ataupun untuk suami dan anaknya. Namun barang remeh temeh yang dia beli untuk kepuasan batin dan eksistensinya sebagai perempuan. Yah, soal harga diri di mata suaminya.

*****

”Pah, bagus nggak?” tanya Ana sambil menunjukkan baju tidur yang sudah dibuka tadi siang. Sore itu Hendra, suaminya,  sudah berganti pakaian sepulang kerja dan duduk di ruang tengah.

”Hmmm…” Hendra hanya meliriknya sekilas.

”Bagus nggak?” kejar Ana sambil nggelendot manja.

”Iya, bagus,” jawab Hendra datar. Dia sudah lelah ditanyai hal yang sama untuk setiap paketan yang dibeli istrinya. Hampir setahun belakangan istrinya jadi hobi belanja online. Barang-barang yang tidak penting, menguras isi kantongnya, tapi dia tidak bisa menolaknya.

”Kan kamu sudah punya banyak kayak gitu, Mah,” ujar Hendra.

”Tapi ini beda Pah, bahannya silky lho…”

”Ya sama aja fungsinya buat baju tidur kan?”

”Beda,” sanggah Ana sambil merengut.

”Mengapa sih, Mah, harus beli-beli barang yang nggak penting itu?” pertanyaan lembut Hendra itu justru membuat Ana murka. Wajahnya memerah dan menatap tajam ke arah suaminya.

”Papah….!” Ana menggeram.

Hendra tersadar. Dia segera memeluk istrinya, ”Iy… Iya… Mamah boleh membeli apa saja yang Mamah mau,” ucap Hendra terbata.

”Ingat janji Papah setahun lalu ya!” ketus Ana berucap dan meninggalkan suaminya sendiri di ruang tengah.

Hendra meremas-remas rambut kepalanya.

Peristiwa itu memang mengubah semuanya. Salahnya juga.

*****

Peristiwa itu….

Setahun lalu. Saat Ana memaafkan pengkhiatan suaminya atas ikatan pernikahan yang telah mereka bangun belasan tahun. Perempuan kedua hadir di hati Hendra dan merenggut keharmonisan rumah tangga mereka. Sungguh sakit yang teramat sakit bagi Ana. Dia mengakui memang hanya ibu rumah tangga yang tidak bekerja, mengurus anak semata wayang mereka yang tumbuh dengan segala kebutuhannya. Dunia Ana hanya rumah, anak, dan suami. Semuanya dia berikan demi keutuhan keluarga. Ana merasa sangat beruntung dengan kehidupannya

Namun, semua itu dibalas dengan pengkhianatan Hendra, yang di depan mata Ana adalah suami yang baik dan bertanggung jawab. Pekerjaan yang mentereng di sebuah perusahaan multinasional, sangatlah cukup memberi kelimpahan materi untuk keluarganya.

Hendra khilaf. Dia merasa jenuh dengan kehidupannya yang monoton dan bermain hati dengan perempuan teman kerjanya. Di mata Hendra, perempuan yang ditemuinya setiap hari dengan pakaian rapi dan wangi, dengan tawa renyah dan wajah cerah, adalah perempuan yang mampu memberinya warna baru. Dia terbelenggu. Dan hubungan asmara itu nyaris meruntuhkan bangunan kesetiaan Ana saat diam-diam dia mengetahuinya.

Pertengkaran hebat malam itu terjadi. Dua manusia yang telah mengikat janji dan memiliki buah hati itu di ambang keraguan. Akankah bisa tetap bertahan atau mencukupkannya sampai di sini.

Wanita kedua itu tahu diri dan memilih pergi.

Hendra kembali.

Ana memaafkannya dengan luka yang menganga demi anaknya.

Mereka kembali bertiga di rumah itu tapi tetap ada sesuatu yang beda. Ana menjadi lebih sensitif dengan tingkah suaminya. Hendra menjadi sangat hati-hati. Yang sama adalah anak mereka yang menganggap semuanya baik-baik saja.

*****

Siang itu bel rumahnya berbunyi. Ana tak sedang menunggu abang kurir paket. Siapa kiranya tamu siang ini. Langkahnya gegas menuju pintu.

Begitu pintu terbuka. Ada dua wajah lelaki yang menatapnya tak ramah. Ana mengernyit.

”Rumah Pak Hendra?” tanya salah satu.

Ana mengangguk pelan.

”Istrinya?” tanyanya lagi.

Sekali lagi Ana mengangguk.

Laki-laki itu kemudian menyodorkan kertas bertuliskan angka-angka.

”Ini peringatan pertama untuk suami ibu agar melunasi hutangnya!” gertak lelaki itu.

Ana tercekat. ”Hu… hutang?” dilihatnya kembali kertas itu. Ada tiga digit angka pertama yang membuat kepalanya seketika berdenyut. Sebanyak ini untuk apa hutang Hendra, batinnya.

”Saya beri waktu sebulan, kalau pak Hendra tidak memenuhi tanggung jawabnya, jangan salahkan kami kalau kami akan mengambil asetnya ini.” gertak lelaki itu lagi sambil meninggalkan halaman rumah Ana.

Sementara Ana masih tak percaya dengan kertas yang ada di tangannya. Lampiran halaman belakang menunjukkan itu benar-benar tanda tangan Hendra, tertanggal enam bulan yang lalu. Meskipun fotokopi, Ana mengenal betul lekuk tanda tangan suaminya. Asli.

Bagaimana mungkin Hendra punya pinjaman sebesar ini. Gajinya dari perusahaan selama ini sangat-sangat cukup untuk keluarganya, bahkan lebih. Itulah sebabnya Ana santai saja menggunakannya untuk belanja online yang menurutnya tak seberapa jika dibandingkan dengan penghasilan suaminya.

Apakah mungkin sebab pengkhiatan yang dulu dilakukannya? Untuk memenuhi keinginan perempuan itu? Ana berpikir keras. Setahun belakangan ini dia sudah begitu detil mengawasi suaminya. Tak ada lagi komunikasi antara mereka. Perempuan itu telah berjanji meninggalkan keluarga mereka, bahkan pergi jauh dari kota ini.

Lalu mengapa hutang Hendra bisa sebanyak ini?

*****

”Untuk apa uang sebanyak ini kau pinjam?” tatap mata Ana berkilat. Sambil menunjukkan kertas tagihan yang diterimanya tadi siang.

Belum juga Hendra melepaskan penatnya di sofa, istrinya telah menghadangnya di balik pintu dengan amarah yang sama seperti setahun lalu. Amarah sebab pengkhiatan yang dilakukannya. Tapi Hendra telah janji tak akan mengulanginya dan akan memberikan yang terbaik untuk istrinya.

”Untukmu, Mah” jawab Hendra lunglai.

”Maksudnya apa?”

”Ya untuk membayar barang-barang remeh temeh dan nggak penting itu, yang kaubeli setiap hari dari marketplace itu,” Hendra merebahkan tubuhnya di sofa. Sungguh ia lelah, tak ingin bertengkar dengan istrinya dalam kondisi seperti ini. Dia ingin mengatakan sejujurnya, mengakhiri sandiwaranya selama ini.

Ana semakin tak paham dengan jawaban Hendra. Dia hanya menggunakan gaji suaminya, yang sejak peristiwa setahun lalu, Ana tambahkan satu poin. Mungkin terlihat konyol, tapi menyenangkan: menghabiskan uang suaminya untuk belanja online. Dia ingin menguji janji setia suaminya dan itu terbukti dengan izinnya belanja apa saja yang Ana inginkan. Dan itu Ana rasakan jadi cara ’balas dendam’ terbaiknya atas pengkhiatan suaminya dulu.

”Aku nggak paham, Pah! Aku hanya menggunakan gaji yang kauberikan!” teriak Ana.

Hendra menggeleng pelan.

*****

Sejam sebelum pulang ke rumah.

Hendra berjalan gontai memasuki toilet SPBU, dia harus segera berganti pakaian dan pulang seperti biasanya. Ini telah dilakukannya enam bulan terakhir. Berangkat dengan baju rapi seperti hari-hari biasanya dia kerja di perusahaan multinasional itu, lalu pulang di jam yang biasanya. Dia tak pernah bilang pada istrinya bahwa dia tak lagi bekerja di sana.

Peristiwa setahun lalu, telah membuat performanya di kantor benar-benar menurun dan akhirnya dia harus terima kena efisiensi. Saat membangun kepercayaan di depan istrinya sebab pengkhianatan yang termaafkan, tak mungkin Hendra menyampaikan kabar buruk itu. Dia harus tetap terlihat baik-baik saja. Hendra menganggap ini ’hukuman’ untuknya yang telah melanggar kesetiaan rumah tangga. Tak apa. Ada mata bening Diandra anaknya yang menyimpan banyak harapan baik di masa depan.

Namun untuk tetap terlihat baik-baik saja padahal sesungguhnya dia tak bekerja, Hendra harus melakukan sesuatu. Mencari pekerjaan tak semudah yang dia bayangkan. Padahal di tanggal yang biasanya dia harus memberikan uang belanja ke istrinya. Maka begitulah dia pada akhirnya memutuskan untuk sementara.

*****

Malam itu Ana dan Hendra berangkat tidur saling memunggungi. Pertengkarannya sore tadi terhenti karena Diandra pulang dari sekolah. Mereka tak ingin membuat memori buruk dalam benak anaknya dengan pertengkaran. Maka diam sementara adalah cara mereka komunikasi sambil berpikir, mengapa ini semua bisa terjadi. Sekian tanya dan duga muncul dalam benak mereka.

Ana tak menyangka kalau suaminya tak lagi bekerja. Dia merasa dibohongi. Tahu begitu dia tak akan membeli barang-barang tak penting itu setiap hari. Hendra pun merasa dicurangi dengan hobi baru istrinya yang ternyata hanya untuk menguji. Berarti ’pertobatannya’ atas pengkhianatan itu belum bisa diyakini istrinya. Padahal dia telah sungguh-sungguh kembali dalam pelukan keluarga. Usahanya seperti sia-sia.

Mereka sama-sama diam. Menata gejolak emosi yang sejak sore tadi meluap dan nyaris meletus andai tak ada Diandra. Ah, Diandra cantik. Anak itu selalu jadi alasan untuk mereka kembali.

Ini hanya salah paham, batin Ana.

Ini masih bisa diperbaiki, batin Hendra.

Keduanya tiba-tiba membalikkan badan dan bertemu wajah.

”Maafkan aku,” ucap keduanya hampir bersamaan.

Langit di luar kamar tampak indah dengan bulan purnama penuh.

*****

Previous articleSemangkuk Sup Hangat – Sebuah Cerpen
Next articleSeperangkat Alat Sholat yang Sah
Rianna Wati
Rianna Wati, lahir di Wonogiri 5 November 1980, saat ini tinggal di Surakarta bersama keluarga kecilnya. Aktivitas menulis dilakukannya sejak SMA dan bergabung dengan Forum Lingkar Pena (FLP) sejak kuliah di Fakultas Sastra UNS. Saat ini menjadi staf pengajar di Prodi Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya UNS. Gelar S2 diraihnya dari prodi Ilmu Sastra UGM dan saat ini sedang menyelesaikan program doktoralnya di Kajian Budaya UNSBuku-buku fiksi yang pernah terbit diantaranya Elegi Cinta di Karimunjawa, Jatuh Cinta Pada Bunga, Ramai-Ramai Masuk Surga, Biar Cinta Bicara, Cinta adalah Luka, Kata Orang Aku Mirip Nabi Yusuf, Arvayuna, Romansa, Petrichor, Salju Sungai Seine, Simfoni Hati dan beberapa buku kolaborasi hasil penelitian dan pengabdian masyarakat. Bisa dihubungi di email: riannawati@staff.uns.ac.id, FB Rianna Wati, Twitter @riannawati dan IG Rianna Wati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here