Pada Bening Bola Matanya – Cerpen Afifah Afra

0
74

“Dokter tidak perlu khawatir!” suara bertekanan tinggi itu memaksa sistem saraf simpatikku untuk bekerja, mengeluarkan adrenalin yang membuatku siaga. Suara yang terlontar bersamaan dengan sorot mata yang seakan mampu membelah perkakas sekeras baja sekalipun. Tubuhku mendeteksi ancaman dari lelaki bertubuh tinggi besar dengan kumis melintang itu.

“Saya yang akan bertanggung jawab! Dengar itu, Dokter!”
Meski menebar ancaman, justru dia pun terengah-engah, seolah instalasi napasnya terancam dipecat karena telah menjelajah beribu anak tangga menara megah. “Saya akan bertanggungjawab. Jika perlu, saya akan membuat pernyataan… hitam di atas putih.”

Aku menghela napas. Relaksasi. Mencoba meregulasi emosiku. Pandanganku hinggap pada sosok perempuan yang sejak tadi menundukkan kepala di samping lelaki yang mengaku sebagai suaminya itu. Ada resah yang sangat kumengerti keberadaannya. Mereka suami istri, sah! Mereka baru memiliki seorang putera, dengan jarak usia yang tak terlampau dekat dengan janin yang mulai memainkan detak jantungnya di rahim sang perempuan itu. Mereka pun tak memiliki masalah dengan keuangan mereka. Sepintas saja, aku bisa melihat bahwa mereka berasal dari keluarga ekonomi papan atas. Mereka datang ke klinik ini memakai sebuah mobil SUV seri terbaru buatan Eropa, sehingga justru tampak kontras dengan klinik bersalin tempatku bekerja yang memang mengambil pangsa masyarakat ekonomi menengah ke bawah.

Lantas, alasan apa yang mendasari mereka untuk…
Tak sadar, kuraba rahimku, pelan. Belum ada tanda-tanda kehidupan makhluk lain bersemayam di sana. Sebuah kenyataan yang membuatku sering merasa putus asa.
“Apa maksud Bapak?” tanyaku, lemah.
“Yah, pakai nanya segala! Sudah cukup jelas bukan? Saya minta dokter menggugurkan kandungan istri saya! Ingat, istri sah saya! Saya tidak berzina. Kami sudah punya satu anak, dan itu sudah membuat kami benar-benar kerepotan.”

Aku menelan ludah. “Saya… saya tidak bisa melakukannya, Pak!”
“Kenapa? Saya bisa membayar ….”
“Bukan soal bayaran. Tapi, soal ….”
“Soal apa? Katakan?”

Aku menghela napas kembali. Kucoba untuk tetap melembutkan suara, meskipun hatiku mulai bergejolak tak menentu. “Bapak, apakah kehamilan istri anda itu justru tidak membuat Bapak merasa… bahagia? Banyak orang lho, yang sudah bertahun-tahun berkeluarga, namun mereka belum memiliki putera, dan mereka begitu rindu dengan celoteh riang bayi-bayi mungil yang meramaikan rumah-rumah mereka yang beku.”

Termasuk mahligai rumah tangga yang kubangun bersama seorang lelaki bernama Damar, Arjuna pujaan hatiku….
“Dokter tak perlu menceramahi saya tentang hal itu! Kami sudah punya satu anak, dan kami belum berencana untuk menambah satu anak lagi, karena itu benar-benar sangat merepotkan! Ini murni kecelakaan, tidak sesuai dengan planning hidup kami. Karena itu, saya datang kemari! Tolong, Dok! Saya berani membayar berapapun yang anda minta jika anda mau menggugurkan kandungan istri saya!”
Kutatap sang istri. Ada kepedihan di sudut matanya. Yah, ibu mana yang tak menyambut kedatangan belahan jiwa, meskipun masih di alam garba, dengan sepenuh kecintaan yang benar-benar natural.

Aku menggelengkan kepala. Tegas. “Tidak, Pak! Saya tidak akan bersedia membunuh sebuah jiwa, meskipun jiwa itu masih berujud embrio sekalipun.”
“Tetapi….”
“Cari saja dokter yang lain! Saya adalah dokter. Pekerjaan saya menyembuhkan orang sakit, meredakan derita yang dialami pasien, bukan membunuh. Saya….”

Braaak!
Saking emosinya, lelaki berkumis baplang itu menggebrak meja. “Baiklah! Ternyata, aku memang datang pada manusia tolol!” cepat dia menyambar lengan istrinya dan pergi meninggalkan klinik tempatku praktek tanpa pamit. Suara raungan mobil mereka menandakan kekesalan hati sang kumis baplang. Namun aku tak mempedulikannya. Karena mendadak ada yang berdenyut di kepalaku, juga di hatiku. Sebuah luka, yang gurat kepedihannya terasa begitu rajam.

* * *

Malam yang biru. Kelegaan terusir menjadi kesepian yang buncah. Setelah para pasien pergi, debar-debar maya kembali mengharu segenap tubuhku. Barusan Mas Damar mengirim pesan.

Dik, aku tak jadi pulang hari ini. Mungkin besok. Aku tidak mendapat tiket terbang hari ini. Maafkan aku!

Lelaki yang setia mendampingiku selama 7 tahun itu tak pulang hari ini. Artinya, libur hari ini akan terlewati dengan kesepian. Mas Damar, ia bekerja di sebuah perusahaan internasional yang bergerak di bidang pertambangan. Ia meloncat dari pulau yang satu ke pulau yang lain. Berjibaku mengejar nafkah yang sebenarnya tak jelas, harus dibelanjakan untuk siapa. Ada alasan yang tak ia ungkap, namun kepekaan hatiku berhasil mendeteksinya. Mas Damar bekerja keras, sangat keras, agar ia bisa melampiaskan kekecewaannya. Atas harapannya yang menumbuk bukit karang, kandas dan tertelan gelombang.

“Dek, setelah kita nikah ini, aku ingin kau segera hamil. Nanti beruntun, anak kita akan terlahir satu demi satu. Aku ingin punya 11 anak, biar bisa jadi satu kesebelasan sepak bola!” ucap Mas Damar, sesaat setelah walimatul ‘ursy kami beberapa selang masa silam. Ucapan yang seringkali menoreh luka di benakku.

Ah, seandainya saja rumah mungil yang kami beli secara patungan itu telah diwarnai dengan celoteh bayi…. Tak perlu 3 orang junior, seperti yang dialami Dewinta, sahabatku yang menikah tepat berbarengan denganku. Apalagi satu tim kesebelasan seperti harapan Mas Damar. Anugerah itu terlalu megah buatku. Cukup seorang bayi yang bisa kupandang dengan debaran yang menguarkan naluri keibuanku.
Cukup seorang bayi, dengan bening di bola matanya ….

“Dok! Pasien!” suara perawat Heni menggugah lamunanku. Kulirik jam tangan dinding. Jam 10 malam. Harusnya aku sudah menutup praktek dan pulang ke rumah. “Keluhannya apa, Hen?”
“Nggak mau ngaku, Dok! Dia bilang, hanya mau ngomong di depan dokter!”

Aku mengangkat bahu, lalu melangkah ke ruang periksa setelah membenahi kerudungku yang acak-acakan.
Seorang perempuan muda, sangat muda, duduk terpekur di kursi pasien. Wajahnya cantik, seperti artis. Apalagi riasannya lumayan berkelas. Seandainya saja ia mau sedikit menggemukkan tubuhnya, tentu ia memiliki keindahan yang sempurna. Sayangnya, gadis-gadis sekarang lebih suka terlihat kurang makan, kerempeng seperti morfinis gentayangan.

“Apa yang bisa saya bantu?” tanyaku, ramah.
Perempuan itu menatapku selintas, seperti takut-takut.
“Dok… saya… saya minta bantuan Dokter!”
“O, ya… tentu saja saya siap membantu, jika saya memang mampu.”
“Saya… saya masih ingin sekolah. Saya tidak mau orangtua tahu dan saya diusir. Saya….”
Ucapan yang sangat khas dari penderita ‘penyakit’ yang juga khas. Kembali ada yang berdenyut di kepalaku. Jangan-jangan….
“Saya… sudah 2 bulan telat haid!”

Tepat dugaanku. Denyut di kepalaku makin kencang. Betapa ingin aku mengatakan kepada Mas Damar dengan sepenuh keceriaan. Mas, aku sudah 2 bulan telat haid….
“Saya… saya ingin Dokter membantu saja….”
“Apakah sudah ada tes urine?”
“Ini… ini hasilnya!” perempuan itu dengan gemetar menyerahkan sebuah alat test kehamilan. Dua garis merah. Positif. Aku mendesah. Gundah. Tepat dugaanku.
“Anda belum menikah?” tanyaku.
“Saya… saya masih kelas 3 SMP.”

3 SMP? Lututku terasa lemas.
“Aku sudah bilang pada Joddy, bahwa aku hamil. Tapi, dia malah kabur. Dia pindah sekolah. Aku bingung, Dok!”
“Siapa Joddy?”
“Pacarku.”
“Jadi….”
“Kami sudah sering ngewe, eh berhubungan, tapi Joddy nggak tanggungjawab.”
“Kau ingin saya menggugurkan kandunganmu?”

Ia mengangguk. Aku menelan ludah, depresi. Bayangan sosok mungil dengan tatapan bening kembali mengaduk-aduk nuraniku. Betapa aku merindukanmu, Nak…
“Maaf, saya tidak bisa!” aku menggeleng kuat-kuat, menyembunyikan isak yang mendadak ingin meledak.
Tanpa menghiraukan panggilan lemah sang gadis, aku tinggalkan ia di ruang periksa. Sempoyongan.
Tak sanggup…! Aku benar-benar tak sanggup!

  • * * *

Seringkali aku tak habis pikir dengan keberadaan perempuan-perempuan muda di sekitarku. Betapa jauh mereka kehilangan kontrol diri, sehingga tega menghancurkan masa depannya sendiri. Hebatnya, mereka merasa ringan-ringan saja menghadapinya. Seperti pasienku hari ini.

“Dokter nggak usah cerewet, deh. Yang penting kan aku datang, dokter ngobatin penyakitku dan aku bayar. Cukup, kan?” tanya gadis berusia awal 20-an dengan dandanan yang kelewat menyolok itu.

Aku memaksa diri tersenyum. “Yaa… saya kan cuman nanya. Soalnya, penyakit Mbak ini… rada ajaib.”
Go… gonore, jelas bukan penyakit ajaib. Penyakit terkutuk, jika diperoleh dari jalan terkutuk. Aku tahu, beberapa perempuan baik-baik terpaksa tertular penyakit itu karena kebiasaan jajan suaminya.

“Biasa Dok, seks bebas. Begini ini risikonya. Untung saja aku tidak hamil. Kalau itu sih, aku sudah cukup lihai…. Ngewe kalau sampai hamil, itu kan bodoh ya Dok?!”
Ia mengucapkan hal itu dengan begitu santai. Seandainya kau tahu, bahwa di dunia ini banyak sekali orang yang ingin menjadi ‘bodoh’ seperti itu….
“Anda salah kalau datang ke saya. Saya dokter spesialis obstetri dan ginekologi, kebidanan dan kandungan. Kalau Anda ingin konsultasi soal penyakit Anda, datanglah ke dokter spesialis kulit dan kelamin.”

Gadis itu buru-buru pamit. Syukurlah. Aku muak lama-lama berhadapan dengan pasien macam itu. Yang sudah terputus syaraf malunya.
Baru saja aku berbenah untuk pulang, Heni kembali muncul dengan selembar kertas karton ukuran F4 berwarna kuning. Status pasien. Aku membacanya sekilas dan mengerutkan kening. “Hen, apa nggak ada jenis pasien lain. Kok sakitnya gini-gini aja sih!” keluhku.
Heni tertawa ringan. “Yah, Dok… masa kita mau ngedikte pasien sakit apa.”

“Allah, berat banget sih, cobaan jadi dokter!”
Tepat dugaanku! Di depanku kini, seorang gadis ABG tunduk muram. Di sampingnya, seorang tante, mungkin ibunya tampak tak bisa menghilangkan kepanikannya.
“Dok… pokoknya aku pasrah sama Dokter saja!” gemetar ia mengambil sesuatu dari tasnya. Sebuah amplop tebal. “Ini ada uang 5 juta. Kalau kurang, saya bisa menambahkan lagi….”

Hebat! Kalau sebulan aku melakukan praktek aborsi ilegal ini 10 kali saja, aku bisa mendapat tambahan penghasilan 50 juta. Meskipun aku seorang dokter spesialis, klinik bersalin yang berdiri di dekat pemukiman kumuh ini tak mampu menggajiku senilai dengan keahlianku. Klinik milik sebuah lembaga sosial ini bahkan sering harus menombok biaya operasional, karena banyak warga di pemukiman liar belum tercover asuransi kesehatan, termasuk yang preminya dibayar pemerintah. Aku tak pernah punya masalah soal uang, karena gaji Mas Damar sangat besar. Tetapi, bekerja di tempat seperti ini benar-benar membutuhkan kesabaran ekstra. Kebanyakan pasien di sini adalah para wanita tuna susila, gadis-gadis dari kalangan bawah yang terlibat pergaulan bebas, dan para perempuan lain yang punya banyak permasalahan sosial.

Sebenarnya aku lelah, tapi aku tak mau menyerah. Ini bagian dari perjuaganku. Tanpa basa-basi aku tinggalkan ruang periksa.

“Hen, bilang kepada ibu itu! Berapapun ia membayarku, aku tak akan pernah mau menjadi pembunuh!” ujarku. Marah.
Lantas aku pun mengurung diri di mushola, meluruh sujud di hadapan-Nya. Allah, aku percaya… jika sekian banyak manusia telah terputus syaraf keibuannya sehingga tega merancah jiwa-jiwa yang menghuni rahimnya, sementara banyak orang yang sudah lama mendamba datangnya jiwa itu namun belum juga mendapatkan, itu semua bukan karena keputusan-Mu tidak adil.

Kau punya skenario lain.
Aku hanya memohon kesabaran Ya Allah…
Bulir-bulir air mataku meluncur deras. Vonis mandul memang belum hinggap padaku. Namun, jika seorang perempuan yang sudah 7 tahun menikah dan belum dikaruniai seorang putera, apakah harapan untuk itu masih layak ia miliki?
Aku sudah menganjurkan Mas Damar untuk sama-sama melakukan pemeriksaan. Tetapi Mas Damar menolak.
“Sudahlah, kita tunggu saja ketetapan Allah untuk kita.”
Aneh. Aku sering mengedukasi orang-orang untuk memeriksakan diri, sementara aku sendiri malah menghindari.

  • * * *

“Dok, bagaimana ini?” suara Lily perawat pengganti Heni, terdengar panik. “Sudah 24 jam dalam persalinan pembukaannya belum lengkap!”

Aku memasuki ruang VK dengan tenang. Sudah ada Bidan Arni yang sudah cukup banyak pengalaman di rumah bersalin ini. Ia yang sejak tadi membantu proses partus, sementara aku hanya bisa mengawasinya saja. Paket yang diambil pasien ini memang hanya paket melahirkan dengan bantuan bidan. Namun sebagai dokter spesialis kandungan yang praktek di sini, tentu aku punya tanggung jawab untuk membantu setiap kelahiran dengan penyulit seperti ini.

“Bagaimana kalau dipacu saja?” tanya Bidan Arni yang sudah terlihat berkeringat. Sejak beberapa jam yang lalu, pasien itu—seorang perempuan muda yang tampaknya masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu, menjerit-jerit kesakitan. Susah payah bidan Arni menahan tubuh perempuan itu untuk tidak jatuh dari tempat tidur.

“Harus ada pernyataan kesetujuan dari keluarganya. Tetapi….” aku menutup mulut. Perempuan itu datang sendiri malam-malam, sempoyongan dengan perut membuncit ….
“Baiklah! Kita induksi saja. Bismillahirrahmanirrahim…!” ucapku akhirnya.
Arni dengan cekatan memasang infus. Oksitosin sintesis diberikan lewat cairan infus. Dan beberapa saat kemudian….

“Mamaaaa…. toloooong!”
His di rahim perempuan itu semakin kuat.
“Mamaaa… semua ini salahku! Tobaaat….!! Aku nggak kuat…!! Ricky… brengsek looo! Lo nggak mau tanggungjawab… lo hamilin gue… trus lo tinggal. Brengseeek…. brengseeek!”
“Istighfar, Mbak! Sebut nama Allah…,” ucap Bidan Arni.
“Allaaah… tolooong gue… ampuni gue… toloooong!!”

Hampir satu jam perempuan itu melolong-lolong, sampai aku melakukan VT. “Sudah sempurna, bukaan lengkap!”
Persalinan pun dimulai, aku dibantu Bidan Arni memimpin persalinan.
“Mengejan, Mbak… seperti kalau mau be-ol itu lho!” ucapku. “Yuk, mulai… satu, dua… tiga…!!”
Episode yang terjadi adalah kesakitan dashyat yang kurindukan. Sakit yang langsung sirna saat suara tangis bayi membuat semua yang ada di ruang ini bernapas lega. Pelan aku angkat bayi yang masih berlumuran darah tersebut, sementara Bidan Arni sibuk mengurusi si ibu.

Seorang bayi mungil yang cantik. Beratnya 3,2 kg dengan panjang 50 cm. Terasa ada getar yang menyelinap di relung hatiku ketika mengelus kulit halusnya. Seperti merasa nyaman, tangis bayi itu mendadak terhenti. Matanya yang masih belum membuka dan melihat sempurna seperti mampu mendeteksi keberadaanku.

Dan… ya Allah, dia tersenyum! Senyum malaikat! Bayi yang baru lahir, seringkali tersenyum tanpa sebab yang terdefinisi secara manusiawi. Tapi, aku merasa bahwa seolah-olah senyum itu ditujukan untukku.
“Sudah pantas, Dok!” goda Bidan Arni. Aku tersenyum, pahit.
“Doakan saja, semoga saya cepat-cepat dapat momongan, ya?! O, ya… ASI si ibu sudah bisa keluar?”
“Sudah! Tadi sudah dicobakan.”
“Oke, sekarang, biarkan si ibu istirahat dulu ya?!”
“Ya, dok!

  • * * *

Baru saja aku sanggup memejamkan mata ketika pintu kamarku digedor.
“Dok… celaka Dok!” suara teriakan Lily, terdengar sangat panik. Buru-buru aku meloncat dari bed dan membuka pintu.
“Ada apa, Ly?”
“Pasien itu… kabur!”
“What?!”
“Kabur. Bayinya ditinggal.”

Cepat aku berlari menuju ruang dimana si ibu semalam beristirahat. Ruang itu sepi. Hanya ada secarik kertas yang tengah dibaca oleh Bidan Arni, serta sebuah kalung emas dengan liontin huruf A. Begitu aku datang, Bidan Arni langsung menyerahkan secarik kertas itu.

Maaf, aku tidak sanggup menjadi ibu yang baik. Aku titip anakku. Kuharap, ia diberi nama Anissa Sholihah. Meskipun aku berlumur dosa, harapan agar ia menjadi wanita yang baik tetap ada. Aku mencintainya, tapi aku bukan ibu yang baik…

Suara tangis bayi itu menyadarkan aku dari keterhipnotisan sesaat. Terhuyung aku meraih sosok mungil yang barusan dilemparkan dari kerajaan nyaman dalam rahim kepada sebuah kehidupan yang keras dan kejam itu….

Tangis itu berhenti ketika aku mendekap tubuhnya. Matanya yang belum membuka sempurna terlihat bening.
Dua tetes air mata membasahi pipiku. Allah, apakah ini adalah jawaban dari doa-doa yang senantiasa aku lantunkan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here