Hati yang Tertinggal

3
136

“Ada yang ketinggalan?” tanya Kak Tania saat melihatku terhenti di depan pintu rumah. Kubuka tas tangan, melihat sekilas handphone, tissue dan beberapa lembar uang di dalamnya. Aku menggeleng ragu. ‘Adakah yang tertinggal?’ batinku.

###

Aku melihat cerminan wajahku dari kaca mobil, cantik. Kak Tania memang paling ahli masalah rias merias. Ia bawel sekali menyuruhku bergegas menyelesaikan sholat magribku, padahal ia cuma butuh waktu kurang dari setengah jam untuk merias wajahku. Dan voila… lihatlah aku sekarang, seperti cinderella.

Drrrt…. Handphoneku bergetar. Pesan dari Lia. “Di hutan, kulihat dua cabang jalan terbentang. Kuambil jalan yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan (Robert Forst, The Road Not Taken)”, keningku berkerut. Pikiranku melayang ke beberapa hari yang lalu.

“Ta, kamu tahu? Sekarang ini banyak sekali model teman yang hanya mendekat pada kita ketika ia butuh bantuan kita. Ketika ia sudah dapat yang ia mau, ia melupakan kita. Ia bahkan lupa pernah merajuk pada kita,” Lia tersenyum padaku. “Senangkah kamu punya teman seperti itu, Ta?” lanjutnya.

Klik. Kubaca lanjutan pesan dari Lia “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan durhaka dan jalan ketaqwaannya (QS. Asy Syams [91] : 8)”. Tanganku bergetar, dingin.

###

Perkenalkan. Namaku Alice Ariesta, teman-temanku biasa memanggilku Esta. Sekarang, aku sedang menuju sekolah. Malam ini adalah malam perpisahan sekolahku. Malam yang membuat semua siswa sibuk beribet-ribet ria mengurus penampilan mereka. Aku ralat, tidak semua siswa. Lia, sahabatku, memilih menghabiskan malam bersama keluarganya. Aku sudah memaksanya untuk datang, tapi ia cuma tersenyum dan menggeleng pelan. “You’ll understand my reason sooner or later.

Celakanya, aku justru baru mengerti alasan Lia sedetik yang lalu.

“Hei, udah sampe Esta. Ngelamun aja. You do look pretty, don’t worry!” ujar kak Tania. Aku refleks membuka pintu mobil dan turun. Aku pandangi mobilku yang menjauh. Ada perasaan gamang di sini.

Teman-teman yang melihatku langsung menghampiriku, mengajakku segera melewati red carpet dan berpose di backdrop unik buatan panitia.

“Esta, kamu cantik banget! Pasti dandan dari jam 5 ya?” ujar salah seorang teman sekelasku. Aku cuma tersenyum tipis. “Makasih.” Kulirik jam di tanganku 07.01, biasanya aku sedang asyik membaca Al Qur’an dan terjemahannya. Dentuman musik mulai terdengar, aku memandang panggung megah itu, tapi pikiranku melayang entah ke mana.

###

Aku bangun malam, setiap hari. Ya. Aku bangun malam dan mengambil air wudhu untuk tahajud. Kadangkala aku terkantuk dalam rukuk dan sujudku. Tapi tak jarang pula aku menangis dalam sujudku, “Ya Rabbi… aku ingin lulus dengan nilai yang baik”, tak pernah bosan aku lantunkan pintaku pada-Nya.

Puasa Senin-Kamis aku jalani. Kantin aku jauhi, istirahat pertama sholat dhuha, istirahat kedua sholat dhuhur berjamaah. Sholat wajib hampir tak pernah kutunda, “Bagaimana kalau aku mati sebelum sampai di rumah?” begitu kataku, saat seorang teman mengajakku langsung pulang sehabis intensifikasi.

Aku lulus dengan rata-rata 9, diterima di perguruan tinggi negeri. Aku bahagiaa sekali. Bahagia melihat senyum kedua orangtuaku.

Aku menangis dalam diamku. Aku hina Ya Rabbi, bagaimana bisa aku membalas semua nikmat ini dengan menjauh dari-Mu? Aku tergesa dalam sholat Magribku, seolah itu hanya sekedar formalitas, penggugur kewajiban. Jangan tanya kemana sholat tahajud, dhuha dan sunnah-sunnah yang lain. Sholat wajib saja, hampir kutinggalkan saat aku keasyikan hunting gaun untuk malam ini.

Aku tidak tahu diri, ya Allah. Bukankah aku tidak suka pada teman yang hanya datang padaku untuk meminta bantuan? Tapi aku… aku…? Aku merengek pada-Mu, menangis dan merajuk pada-Mu untuk sebuah nikmat yang ingin kukecap.

“…sesungguhnya AKU dekat. AKU kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepadaku…” (QS. Al Baqarah [2] : 186).

Janji-Mu sudah lunas, ya Rabb. Nikmat ini sudah kukecap, hanya saja aku…?

###

“Kamu kenapa, Ta? Sakit? Dari tadi diem aja.” tanya Andi. Aku menggeleng.

I left my heart,

Aku ingin pulang… aku ingin pulang. Aku meninggalkan hatiku. Bukankah ia yang menjerit hingga langkahku terhenti di depan pintu rumah?

###

Aku terisak dalam tangisku, saat tiba-tiba sebuah sentuhan lembut menyentakku.

“Esta?” suara kak Tania membangunkanku. Aku terjaga dari tidurku, masih terisak, walau tanpa air mata.

“Kenapa sayang? Mimpi buruk?” Kak Tania terlihat khawatir. Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil. Aku belum bisa meredakan sesenggukan tangisku saat Kak Tania pergi mengambilkanku air putih. Mimpi tadi begitu nyata tergambar. Penyesalan ini begitu dalam merasuk, menggedor-nggedor pintu hatiku. Kenapa kau tinggalkan?

###

Mentari pagi tersenyum malu-malu, mengintip dari balik awan. Sungguh cuaca yang indah bagiku, yang memang tidak begitu suka terpapar teriknya sinar mentari. Apalagi jam 10 nanti, akan ada foto angkatan untuk buku kenangan sekolahku.

Aku menggumamkan syukur di bibir, teringat karunia yang sudah Allah SWT. berikan padaku, dan sekolahku. Tidak hanya lulus 100%, sekolahku juga meraih peringkat pertama di provinsi Jawa Tengah karena nilai rata-rata ujian nasional tertinggi pertama untuk jurusan IPS dan tertinggi kedua untuk jurusan IPA.

Kurapikan seragam putih abu-abuku, bisa jadi hari ini hari terakhir seragam ini kukenakan ke SMA tercinta. Sedang asyik mematut-matut diri di depan cermin, tanpa sengaja mataku terarah ke gaun putih tulang yang tergantung tak jauh dari tempatku berdiri. Dengan ragu, aku mendekat, lalu meraba detail demi detailnya. Aku menggeleng pelan. Bismillah, kuatkan aku Ya Rabb dalam memegang teguh keputusan ini.

###

Bukan hal yang mudah ketika aku harus meniti jalan yang sepi, yang jarang dilalui orang. Padahal aku terbiasa lewat jalan tol yang mulus-mulus saja. Sekarang aku harus mengambil jalan yang lebih terjal, yang berkerikil, yang kebanyakan orang enggan menempuhnya. Bukan. Bukan karena mereka tidak mau, tapi lebih banyak karena mereka tidak mau tahu.

Jarum jam tanganku masih menunjukkan pukul 9 lebih 15 menit. Sekolahku masih sepi oleh siswa kelas 12 yang hendak berfoto bersama. Aku merutuki diriku yang memang seringkali datang terlalu awal.

Kulangkahkan kakiku ke mushola hijau yang letaknya agak terpencil di pojok barat daya sekolahku. Aku teringat, pagi ini aku belum sholat dhuha. Aku tersenyum sendiri, mengingat dulu, hampir semua siswa kelas 12 mendadak jadi rajin sholat dhuha. Termasuk aku, yang tadinya jarang sekali menginjakkan kaki ke dalam mushola Ulul Albab, karena letaknya yang jauh dari kelas. Ah, mungkin lebih tepatnya karena aku saja yang malas, jarak ini hanya alibi.

Di tikungan menuju mushola, kurang lebih 1 meter lagi aku harus berjalan, sesosok yang kukenal tiba-tiba muncul. Aku tersentak. Menghentikan langkahku. Debar ini tak menentu, saat yakin kalau sosok itu adalah Andi. “Tidak, tidak. Stay calm, stay calm!” bisikku dalam hati, menenangkan diriku yang hendak salah tingkah. Aku tundukkan mataku, berpura-pura tidak melihatnya.

“Esta!” sapa Andi. Mau tak mau aku tegakkan pandanganku. Lalu menyengir, balik memanggil namanya.

“Esta…” Andi seolah ingin memulai percakapan. Aku belum siap.

“Sorry Ndi, aku buru-buru.. Esta duluan ya..” potongku cepat. Kemudian berlalu meninggalkan dia yang masih terpaku, entahlah mengapa.

###

Aku sudah menyelesaikan sholat dhuhaku, namun entah mengapa aku enggan bergeming. Hanya duduk bersila dengan mukena melingkupi tubuhku. Sekelebat bayangan pertemuan tak terdugaku dengan Andi membuatku menggeleng-geleng keras.

Hmmm. Aku tahu ia tadi hendak menagih jawabanku. Tapi sungguh aku belum siap menjawabnya. Aku masih ingat sekali pintanya waktu itu. Ah, aku sendiri separuh tak percaya ia memintaku menjadi pasangannya di malam promnite. Beruntungnya diriku, ucap teman-temanku. Siapa yang tidak ingin menjadi pasangan promnite seorang Andi, ketua OSIS yang prestasinya cemerlang, wajahnya pun lumayan. Ahhhh… kuusapkan wajahku dengan tanganku.

Tidak. Tidak. Tidak.

Kuberanikan diri mengetik 5 huruf itu : tidak. Cepat-cepat kukirim ke nomer handpone Andi di phonebook-ku. Aku tak ingin ada hal yang menggoyahkan keputusanku. Aku tak mau meninggalkan hatiku, seperti mimpi buruk semalam. Tidak terimakasih. Aku tidak ingin terlambat dan menyesal.

Tak sampai lima menit, Andi membalas pesanku. ‘Maksudnya?’. Aku tertawa dalam hati. Jelas saja Andi tidak mengerti maksudku. Memang apa arti dari sebuah kata ‘tidak’. Lalu dengan perasaan lebih ringan, kujelaskan maksudku. Tak lupa kuucapkan maaf dan terima kasih. Aku tersenyum. Aku tahu ini keputusan yang tepat.

###

“Eh, ini masuk ke anak-anak atau dewasa Din..” terdengar suara seorang siswi di sebelah mushola, tepatnya di sekretariat ROHIS sekolahku. Kulihat di bagian atas pintu sekre ROHIS yang agak terbuka.

Akhwat. Sebuah papan yang menginformasikan orang luar siapa yang sedang di dalam sekre, akhwat (perempuan) atau ikhwan (laki-laki). Aku yang sedang menali sepatu, tertarik untuk mengintip, ups.. seseorang menangkap bayanganku.

“Esta bukan?” tanyanya. Akhirnya kuberanikan diri menengok ke dalam. Kulihat empat siswi berkerudung sedang mensortir pakaian.

“Untuk apa nih? Bakti sosial?” tanyaku asal. Mereka mengangguk.

“Boleh bantu nggak?” tanyaku ragu. Lalu satu demi satu menjawab dengan ramah, intinya : tentu saja boleh. Agak kagok, aku ikut dalam kesibukan mereka. Ikut tertawa, setiap kali mereka kebingungan mengklasifikasikan baju dewasa yang modelnya memang ’kekecilan’.

Aku malu sendiri, kalau ingat aku seringkali berpikiran tidak-tidak pada mereka. Aku kira, aktivis rohis hanya mau berteman dengan aktivis rohis. Atau, minimal-minimalnya berteman dengan mereka yang sudah berjilbab. Maklum, aku hanya mengenal satu orang dari mereka : Dinda. Ternyata, mereka sangat ramah pada siapapun. Termasuk aku yang belum berjilbab.

###

“Siap! Tiga… dua… satu!” Klik. Klik.

Beberapa sinar flash disambut meriah oleh senyum kami.

“Lagiii…. ” seru sebagian besar siswa.

Aku tersenyum bahagia. Beginilah teman-teman seangkatanku, termasuk aku, kalau sudah berhadapan dengan kamera.

Foto ini, akan menjadi salah satu pengingat ketika kami sudah lulus dan terpisah satu sama lain. Meniti jalan masing-masing. Mungkin ada beberapa yang sama atau satu jalur, namun lebih banyak yang akan menempuh jalur yang berbeda. Cita-cita kami bagai pelangi, tak satu warna namun tetap satu tujuannya menghias langit biru.

Setelah asyik berfoto ria, kami lalu membuat lingkaran-lingkaran yang lebih kecil berdasarkan kelas. Dito, ketua kelas kami membuka pembicaraan. Cowok bekulit hitam manis dan berkacamata itu menjelaskan beberapa pengumuman terkait beberapa acara terakhir di sekolah yang bisa kami ikuti. Ada tasyakuran yang diselenggarakan ROHIS, malam perpisahan atau biasa dikenal dengan sebutan promnite yang diselenggarakan OSIS dan acara wisuda yang diselenggarakan oleh sekolah secara resmi.

“Ada yang mau ditanyakan?” tanya Dito sembari membetulkan letak kacamatanya. Beberapa tangan terangkat, dan satu demi satu pertanyaan mengenai promnite dan acara wisuda mengalir. Aku hanya menyimak dengan tenang. Sesekali mengulangi jawaban Dito karena teman-teman dibelakangku tidak mendengar dengan jelas jawaban dari Dito.

“Oke, karena nggak ada pertanyaan lagi. Kita sudahi ya. Makasih atas kehadirannya dan partisipasinya. Kalau ada pertanyaan lagi tentang informasi yang tadi WA aja ya. Sudah punya semua kan?” tutup Dito.

Kami pun kemudian bubar jalan tanpa hormat.

Baru beberapa langkah aku meninggalkan kerumunan siswa-siswi angkatanku, sebersit keheranan muncul. “Kenapa tadi nggak ada yang tanya tentang tasyakuran ya?”. Bukankah tadi kata Dito, tiap kelas wajib memberi sumbangan dalam bentuk buku, pakaian bekas, atau uang? Kenapa tidak ada yang tanya kapan pengumpulan terakhirnya? Kenapa pula, aku tadi tidak bertanya? Pertanyaan demi pertanyaan silih berganti di otakku. Membuatku memutuskan untuk mengambil ponsel dan menulis sebuah pesan singkat ke Dito.

###

“Hush!” Dinda menatap seorang akhwat bernama Ika. Menegurnya, agar berhenti mengeluh. Ini untuk kedua kalinya, aku membantu anak-anak ROHIS untuk mempersiapkan acara tasyakuran.

Kali ini aku sudah tidak sekaku sebelumnya. Kulihat wajah Ika yang kini dilipat, berusaha untuk tidak meluapkan kemarahannya lewat kata-kata.

“Memangnya kalau untuk acara promnite, Ika tahu sekolah menyediakan dana berapa?” tanyaku pada Ika. Tadi dia memang misuh-misuh mengenai dana dari sekolah yang menurutnya sangat kecil.

“Ika sih tidak tahu secara pasti, tapi kemarin Ika dengar dari panitia. Promnite tahun ini rencananya akan menghabiskan paling tidak 80 juta rupiah.” Jawab Ika. Lalu menegaskan kembali kata delapan puluh juta rupiah, sampai sekali lagi. Dinda kembali membuat Ika terdiam dengan jurus ‘hush’-nya. Dan sekre ROHIS pun kembali lengang. Kami kembali sibuk pada kegiatan masing-masing, ada yang menyortir pakaian, menyortir buku-buku sampai yang menghitung uang.

Aku terpekur. Memikirkan kembali kata-kata Ika. Miris sekali rasanya, mendengar bahwa tahun ini rencananya 80 juta rupiah akan dihambur-hamburkan secara percuma hanya dalam satu malam. Kenapa aku baru sadar sekarang. Dulu tak pernah sama sekali terbesit di otakku, kalau acara promnite yang menjadi ‘hotnews’ kelas XII memiliki berbagai sisi negatif.

Delapan puluh juta, kalau saja uang sebanyak itu dibagikan saja kepada mereka yang lebih membutuhkan pasti jauh lebih bermanfaat. Air mataku mengambang di pelupuk mata. Ada rasa syukur yang menggunung di benak. Terimakasih ya Allah, yang menakdirkanku untuk tanpa sengaja berada dalam percakapan tadi.

###

“Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.” QS. Yunus [10] : 12

Sungguh aku telah meninggalkan hatiku, kalau kubiarkan setelah diberi nikmat, aku justru mengingkarinya. Hatiku pasti sudah tertinggal Ya Rabb, kalau kubiarkan aku mendekat saat sedang butuh, kemudian diberi nikmat malah melenggang pergi menjauhi-Mu.

###


3 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here