Sepasang Sepuh di Rumah Tua

1
85

Amplop-amplop berwarna putih dengan noda kecoklatan bertebaran di lantai sesaat setelah tanpa sengaja sikuku menyenggol kotak kayu di atas rak tua di sudut dapur. Tanganku berhenti mencari gunting kebun yang menjadi tujuan awal memasuki dapur. Aku beralih ke amplop-amplop tersebut. Setelah membolak-balik beberapa amplop tanpa prangko, membaca nama dan alamat penerima, suara Kakek Prawi mengagetkanku.

“Belasan tahun lalu, Mirah menulis surat setiap akhir pekan selama berbulan-bulan. Tentu saja surat itu tidak pernah sampai ke alamat tujuan.”

“Maaf, saya tidak sengaja ….”

“Tidak apa-apa. Mirah menunggumu, dia khawatir dan mengira kau pulang tanpa pamit. Bergegaslah!”

Setelah mengangguk, dengan sigap tanganku memungut amplop-amplop yang berserakan, mengembalikannya ke kotak kayu tua dengan tutup tanpa kunci. Kemudian bergegas menuju halaman depan, melupakan gunting kebun yang belum kutemukan.

Derit kursi roda terdengar dari halaman ketika Nenek Mirah susah payah berbalik begitu mendengar derap langkahku dari dalam rumah.

“Akhirnya kau kembali. Jangan lupa siram anggrek ungu di sudut sana.” Tangan Nenek menunjuk ujung pelataran, barisan bunga-bunga terlihat menawan. Nenek sepertinya lupa dengan gunting kebun yang hendak kuambilkan barusan. “Saat masih kecil kau punya mimpi memiliki taman di halaman yang luas. Bapakmu bilang, dia akan mengabulkan mimpi anak perempuan satu-satunya. Dan janjinya benar-benar ditepati. Apa kau senang, Sekar?”

“Eh … Emm …, tentu … tentu saja.” Ragu-ragu aku menjawab. Namun, sepertinya Nenek tidak curiga dengan ekspresiku. Garis bibirnya tertarik dua senti. Kelegaan dan syukur terlihat dari helaan napas panjang dengan pandangan mata menekuri keberadaanku.

Selain taman yang begitu cantik dengan bunga-bunga yang warnanya mengundang pandangan siapa saja yang lewat, pohon rindang yang terlihat menyenangkan untuk berteduh, bentuk rumah yang berbeda dari rumah-rumah mewah di samping kiri kanan, dengan pelataran yang begitu luas, itu yang semula menarik perhatianku setiap kali melewati kompleks perumahan ini untuk mengantar sekolah putraku beberapa minggu terakhir. Rumah tradisional yang tak tersentuh zaman, yang dibiarkan sebagaimana aslinya, namun dirawat dengan cinta dan rindu-rindu yang pernah tumbuh di pelatarannya.

Sepasang sepuh selalu terlihat tengah duduk bersua di beranda tradisionalnya yang khas. Tampak dua cangkir kopi mengepulkan asap-asap tipis berwarna putih. Dan setiap melihat pemandangan itu, tanpa sadar aku memelankan laju motor, bersitatap dengan keduanya. Sampai suatu pagi yang mendung, setelah mengantar putraku dan kembali melewati rumah tradisional itu, kecelakaan kecil menimpaku tepat di depan pagar putih rumah itu. Seorang Kakek bergegas lari, membuka pintu gerbang putih setinggi pinggang orang dewasa dan menolongku. Kuterka usianya sekitar 80 tahunan, namun masih terlihat sehat dan tangkas. Ia memanduku melewati halaman yang luas dan mempersilakan duduk di salah satu kursi di beranda, tepat di sebelah seorang perempuan sepuh yang tengah duduk di kursi roda.

“Sekar? Kau tidak apa-apa? Dari mana saja kau, Nak? Pak, cepat ambilkan air putih dan obat merah. Mana yang luka? Mana?” Nenek begitu khawatir dan aku tak sempat bertanya siapa Sekar yang Nenek maksud.

Tak berapa lama Kakek kembali dengan segelas air putih, kapas, dan cairan pembersih luka.

“Terima kasih, Kek.” Tanganku menerima dan langsung meneguk air putih. Beruntung tidak ada luka serius akibat kecelakaan tadi. Aku hanya tak hati-hati hingga tanpa sadar motorku menabrak pagar besi milik Kakek. Kulirik sekali lagi pagar di depan sana, dan benda itu masih baik-baik saja, tidak rubuh seperti yang kukhawatirkan.

“Kenapa kau panggil Bapak dengan sebutan kakek? Oiya, mana anak kecil yang kau bonceng tadi? Apakah itu cucuku yang sudah tumbuh besar? Ajak kemari dan biarkan dia berlarian dengan riang di halaman seperti kegemaranmu dulu.”

Tatapanku berganti ke arah Kakek yang tengah menepuk-nepuk punggung Nenek dengan lembut.

“Bu, jangan ditanya dulu, dia masih harus istirahat karena terkejut dengan kejadian barusan.” Sambil menatap mata Nenek, Kakek mengatakannya dengan begitu lembut.

Kepalaku yang tadi baik-baik saja meski baru mengalami kecelakaan kecil mendadak pening karena tidak bisa mencerna apa yang Nenek katakan.

“Maafkan Ibu, Sekar. Ibu terlalu khawatir. Kau tumbuh begitu cepat dan cantik, rasanya baru kemarin Ibu melahirkanmu.” Nenek berusaha mendekatkan kursi rodanya padaku kemudian mengelus lembut kepalaku yang berbalut kerudung, membuatku semakin kebingungan. Namun senyum yang menghias bibir Nenek tak dapat menahanku untuk tak membalas senyumnya.

“Maaf saya harus pulang, terima kasih banyak sudah menolong saya.” Meski gugup rasanya aku harus segera meninggalkan tempat ini.

“Tidak perlu berterima kasih, Kakek akan mengantarmu ke depan.” Kakek beranjak berdiri.

“Kau benar-benar tidak terluka, Sekar? Baiklah, baiklah. Jangan lupa besok kunjungi Ibu lagi, kau berjanji pada Ibu akan merapikan tanaman-tanaman di halaman itu, bukan? Ibu akan menunggumu.” Sekali lagi senyum Nenek tampak bersama harapan yang dilayangkan kepadaku.

Tidak tahu harus menjawab apa, aku hanya mengangguk lalu menyalami tangan Nenek. Kakek dengan segera memanduku melewati halaman lagi.

“Maafkan Mirah, Nak. Tolong maafkan. Namaku Prawi, kau boleh memanggilku Kakek, dan Mirah adalah istriku. Terima kasih sudah mau mengobrol dengannya, aku sengaja membiarkan dia menganggapmu sebagai Sekar. Ini pertama kali aku melihat senyumnya lagi sejak belasan tahun lalu. Tepatnya sejak putri kami satu-satunya meninggal ketika melahirkan. Sekar dan bayinya tidak selamat.”

Keterkejutan tak dapat kusembunyikan mendengar cerita Kakek barusan. Aku menoleh pada Nenek yang masih memperhatikan kami dari kejauhan. Senyumnya masih terkembang dan terlihat samar olehku. Keesokan hari dan keesokan harinya lagi, setelah memikirkannya, aku menyempatkan diri mengunjungi rumah itu begitu selesai mengantar putraku yang masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak. Menepati janji Sekar yang hendak merapikan tanaman-tanaman di halaman rumah.

“Saat masih kecil kau kerap berlarian seharian di pelataran, tidak peduli jatuh berkali-kali, dan berkali-kali pula bapakmu menasehati, kau tidak peduli. Apa kau masih ingat saat memanjat pohon mangga itu?” Tangan Nenek menunjuk pohon yang tumbuh rindang tepat di sudut pelataran, menaungi bunga-bunga anggrek yang digantung di dahannya.

Kudorong kursi roda Nenek menuju pohon mangga dan berhenti di bawahnya. Udara pukul sembilan pagi yang segar seperti tengah berkumpul di sekitarku.

“Nenek mengirim surat pada Sekar? Eh, maksudku, Ibu.”

“Kau dan suamimu tinggal begitu jauh, bagaimana agar Ibu tahu kabarmu? Bapakmu bilang kau tak meninggalkan nomor telepon, Ibu tak bisa menghubungimu dengan telepon rumah. Beruntungnya Bapak sudah pensiun jadi Ibu tak terlalu kesepian begitu kau pindah. Tapi Ibu senang kata Bapak sekarang kau tinggal tak terlalu jauh dari sini dan bisa berkunjung setiap hari.”

Senyumku membalas tatapan Nenek Mirah yang tiba-tiba.

“Sekar ….”

“Iya, Bu?”

“Bagaimana kalau kau, suami, dan anakmu tinggal di sini saja? Ada kamar yang kosong, rumah ini juga cukup luas untuk kalian tinggali juga.”

Lagi-lagi ucapan Nenek membuatku terkejut. Memikirkan jawabannya membuat kepalaku kembali pening.

“Udara mulai panas, kita masuk dulu, ya, Bu.” Kudorong kursi roda membelah halaman lalu menaiki beranda.

“Sekar, ngomong-ngomong, kenapa dulu kau tak pernah membalas surat Ibu?”

“Ehm … Sekar … Ehm ….” Suaraku tergagap.

“Sepertinya Sekar harus pulang dulu, Bu. Lihatlah, pekerjaan kalian beberapa hari terakhir, membuat halaman kita semakin cantik sekali. Kalian berdua tidak boleh terlalu lelah.” Kakek tiba-tiba keluar dari ruang tamu, seperti menyelamatkanku dari pertanyaan Nenek yang sukar kujawab.

“Semua ini akan menyulitkanmu, Nak,” kata Kakek saat mengantarku sampai halaman depan. “Kakek kira Mirah akan melupakanmu begitu kau pulang, seperti dia dengan mudah melupakan kejadian-kejadian kecil yang baru dia alami setiap hari.”

Begitu sampai rumah, beberapa kali aku memikirkan kalimat Kakek dan merasa bersalah pada Nenek Mirah karena berbohong dengan memerankan seorang Sekar. Namun, membayangkan mengatakan kenyataannya terasa menyesakkan dadaku.

Minggu-minggu berlalu bersama Nenek Mirah di beranda rumah tradisionalnya, di pelatarannya yang luas, dengan bunga-bunga yang berbaris rapi memenuhi sebagian halamannya, juga yang tergantung di dahan-dahan pohon dan kenangan-kenangan masa kecil Sekar yang meluncur dari lisan Nenek bersama raut kebahagian perempuan sepuh itu ketika mengisahkannya.

Rasanya aku dan Kakek Prawi tak akan pernah sanggup mengakhiri sandiwaraku sebagai Sekar, itu seharga dengan kebahagiaan yang terus muncul dari wajah Nenek Mirah. Namun, ternyata Allah memiliki kehendak yang mengejutkan kami. Rasa bersalah melindap ketika pagi itu ramai oleh kabar berpulangnya Nenek Mirah ketika aku singgah setelah mengantar putraku. Orang-orang telah berkumpul, kulihat ketenangan di wajah Nenek yang tengah berbaring di ranjang besinya. Kakek Prawi menunduk di samping pembaringan sambil terus menggenggam tangan Nenek.

Kulangkahkan kaki kembali ke beranda karena tak sanggup menyaksikan pemandangan menyesakkan itu. Tak berapa lama Kakek menyusulku dan menyerahkan sepucuk surat dalam amplop. “Kakek menemukan ini, sepertinya Mirah sengaja menuliskannya untukmu entah sejak kapan.”

Air mataku tumpah begitu tiba di rumah setelah proses pemakaman Nenek Mirah dan membaca surat itu. Aku dan Kakek sungguh tak tahu kalau ternyata selama ini bukan aku yang berpura-pura menjadi Sekar, putri tunggalnya, tetapi Nenek Mirah yang berpura-pura menjadikanku Sekar dan meminta maaf dalam suratnya.

“Maafkan aku, aku sampai lupa menanyakan siapa namamu, Nak. Terima kasih banyak, aku sangat bahagia bertemu denganmu.” Bunyi paragraf terakhir surat Nenek Mirah.[]

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here