Puisi-Puisi dalam Balutan Iman

0
96

Gema Tangis

Gema tangismu, Nai
serupa sulur di tengah lail-Nya
orang-orang merekat mata
sibuk menyusun serangkai mimpi
padahal detak jantung bisa berhenti kapan saja
aku mengendus kepalamu yang kian meronta
seketika sabar berdenting dalam dada
seolah kautiupkan, lantas mendarat tepat di hati
mengalir ke sekujur tubuh bagai sejuk sungai
mungkin Tuhan tersenyum
aroma kemenangan menguar
manakala setan tertawa pongah menjaili umat-Nya
namun iman begitu kuat
ketabahan kian mengikat
jiwa yang sempat goyah
bangkit kembali

Semarang, Juli 2022

Butiran Resah

Butiran resah terbang tertiup pawana
mencari hati-hati yang berjauh iman
menyelubungi hingga lupa akan Tuhan
cahaya di tengah sunyi berkerlapan
namun tiada sesiapa menjemput
dunia semakin terjejal hawa nafsu
menembus ruang-ruang sempit pada dada
seketika ia melepuh tersebab dosa
tanpa diketahui; memorak-porandakan
tiang agama roboh, burung-burung seakan mencemooh
menyergap, mematuk-matuk palung jiwa
ia berdebum ke tanah; mati tak berdarah

Semarang, Juli 2022

Biji-Biji Kesabaran

Kausemai biji-biji kesabaran
sebelum hari usang menembus keabadian
namun tak semua dapat merengkuh
hingga menuai buah kedamaian
hanya orang-orang terpilih berpayung iman
hatinya seketika terbuka lebar
tanpa dioperasikan sesiapa
menggumuli setiap jengkal
lantas merasuk ke dalam jiwa
sementara yang tiada justru sibuk
menyusun pongah di atas kepala
mendongak jemawa
merekalah lalai dari segala lalai

Semarang, Juli 2022

Ruang Khusus

Ingin kucipta ruang khusus
sebagai penemu antara kening dan lembar sajadah
dinding-dinding atas berhias kaligrafi
Lafal Allah maupun Muhammad
barangkali dini hari akan jadi saksi
ketika pelantun surat cinta memeluk sunyi
sesaat gema takbir tahajud
hatinya menjerit, “kapankah akan terwujud?”
hingga percakapan dengan Tuhan lebih leluasa
bilamana ini sekadar mimpi
mungkin esok akan terjatuh sebuah rezeki
dari buah langit bertubi-tubi
‘tuk memoles ruang khusus
kian sempurna selayak purnama

Semarang, Juli 2022

Berlayar

Berangkat memikul dosa di antara mata jengah
senja mengejek dari gantung langit
merdu azan tak jua mampu merayu langkah
sejenak mencium selasar masjid yang menjerit

Kian gegas seperti kesetanan
terbayang para kawan menyulang
duduk berempat diliput tawa kesenangan
memupuk salah; melayang-layang

Macam penumpang baru dalam kapal
walau arah mata angin tak kauhafal
tetap berlayar tanpa sedikit pun sesal
mendenting gelas sampai napas tersengal

Sementara Ilahi tengah mengamati
merekam segala jejak tanpa kausadari
tawa kian membahana saat senja telah pergi
terus berlayar hingga mati

Semarang, Juni 2022


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here