KEHILANGAN MAKAM IBU

1
61

Lebaran kali ini istriku mengingatkan agar kami sekeluarga ziarah ke makam ibu. Aku setuju dan peristiwa kehidupan di masa lalu kembali terngiang di kepala. Ibu dimakamkan di sebuah Tempat Pemakaman Umum (TPU), di salah satu pemakaman ibukota. Sebenarnya waktu itu aku ingin membawa mayit Ibu ke kampung halaman, menguburnya di sebelah makam kakek. Sudah menjadi tradisi bagi kami, seluruh makam sanak famili dimakamkan secara berdekatan. Orang-orang di kampung kami melakukan hal demikian; makam sanak keluarga dimakamkan saling bersisian dengan makam saudara lainnya.

Di ibukota, tentu saja makam Ibu saling berdekatan dengan entah makam siapa. Kalau saja waktu itu aku memiliki cukup uang, tentu saja aku memilih memakamkan Ibu di kampung, bersebelahan dengan makam Kakek dan Nenek, juga Paman dan Bibi yang sudah lebih dulu pergi ke alam baka. Menguburkan Ibu di TPU itu pun bukan perkara mudah. Kalau saja tidak dibantu oleh Pak Kuslan, lelaki langganan warung kopi Ibu, mungkin aku akan kebingungan bagaimana memakamkan Ibu. Atas bantuan Pak Kuslan, akhirnya Ibu dimakamkan di TPU itu.

Di Jakarta, di sebuah tempat di mana aku dan almarhumah Ibuku tinggal, perkara menguburkan orang yang telah meninggal tidak semudah di kampung. Di kampungku, sewaktu Kakek meninggal dunia, kami cukup melapor pada ketua RT saat hendak menguburkannya. Setelah itu tetangga-tetangga kami, tanpa diperintah, pergi ke pemakaman menggali lubang kubur. Mayit kakek diperlakukan sebagaimana seorang muslim meninggal dunia. Dimandikan, disalatkan, setelah itu dibawa oleh sanak keluarga dan dibantu tetangga-tetangga dekat dengan sebuah keranda jenazah menuju areal pemakaman.

Di kampung kami, bila memerlukan keranda, tinggal bilang pada pengurus masjid. Sebab keranda itu memang milik masjid, yang artinya milik bersama. Semua penduduk bebas menggunakan keranda tersebut, untuk keperluan membawa mayit ke tempat peristirahatan terakhir.

Yang terjadi di Jakarta, tempat di mana aku dan almarhumah Ibu menetap, sungguh berbeda. Ketika Ibu meninggal, ternyata mencari keranda jenazah tidak mudah. Pada saat aku, sebagai anggota keluarga si mayit, bertanya di mana bisa mendapatkan keranda jenazah, aku ditanyai dari yayasan apa, dan telah bergabung berapa lama. Saat itu tentu saja aku kebingungan. Ternyata, menurut orang yang biasa mengurus jenazah di tempat aku tinggal di Jakarta ini, bila tidak bergabung dengan salah satu yayasan yang biasa mengurus jenazah, urusannya bisa berbelit-belit. Meskipun pemerintah setempat sudah memudahkan untuk urusan ongkos penguburan yang murah, di lokasi pemakaman kenyataan berbeda.

Kalau saja aku memiliki sejumlah uang untuk membayar segala keperluan pemakaman Ibuku, urusan bisa lancar. Biaya itu, menurut rincian yang disebutkan si pengurus makam, untuk petugas penggali makam, untuk administrasi pengurus TPU, membayar mobil ambulan, tenda, dan lain sebagainya. Belum lagi biaya yang harus aku keluarkan untuk membeli kain kafan, kapas, minyak wangi, dan keperluan jenazah lainnya. “Kalau kamu terdaftar dalam Yayasan Melati, semuanya sudah tinggal beres. Segala keperluan mayit dari rumah hingga ke pamakaman akan diurus pihak yayasan,” ucap pengurus TPU yang kutemui, dengan nada sangat ramah sekali.

Untung waktu itu ada Pak Kuslan. Kalau saja tidak ada beliau, mungkin Ibu akan kumakamkan di dalam rumah kontrakan, atau mungkin kuhanyutkan ke sungai Ciliwung. Sebab aku sudah hilang akal. Untuk biaya mengurus mayit Ibu ketika masih di rumah kontrakan saja sudah menghabiskan seluruh modal dan barang dagangan Ibu. Malangnya, harta yang kami miliki itu tak cukup untuk membawa mayit Ibu ke kampung. Kalau saja bisa, tentu aku tak akan serepot itu.
***

Sebelum Ibu wafat, aku dan Ibu telah hidup bersama-sama mengontrak sebuah rumah petak. Ibu membuka kedai kopi kecil-kecilan di dekat salah satu terminal bus kota. Sepanjang aku sempat, aku membantu Ibu membawakan dagangannya dari rumah kontrakan hingga ke kedainya. Meski Ibu kerap melarangku, aku tak pernah peduli. Ibu bilang padaku, “Sam, kamu tidak usah bantu Ibu. Ibu bisa mengurus dagangan ibu sendirian. Kamu ke kampus saja.”
“Tenang saja Bu, Sam bisa bagi waktu. Sam masih punya waktu buat bantu-bantu Ibu.”
“Tidak usah, Sam. Nanti kamu malu sama teman-teman kamu. Masak sih punya Ibu cuma jadi penjual kopi…”
“Bu…!”

Saat itu cukup lama aku menatap Ibu. Ibu membalas tatapanku dengan senyuman. Aku tak membalas senyumnya, melainkan menggeleng-gelengkan kepala. Aku hanya mau mengatakan, sebaiknya Ibu jangan berkata begitu. Tapi mulutku mendadak kelu. Tak terasa, airmataku tumpah ruah.
“Kamu kenapa? Kok, malah nangis? Anak laki-laki jangan cengeng, ah!”
“Bu…” kugenggam tangan Ibu yang sudah mulai keriput, “Kenapa Ibu ngomong kayak gitu…?” akhirnya kata-kata itu keluar juga.
“Memangnya Ibu ngomong apa, Sam…?”
“Ibu pikir, Sam malu ya punya Ibu penjual kopi…? Sam nggak malu, Bu! Sam justru bangga sama Ibu…”
“Sam, Sam… masak sih, kamu bangga punya Ibu penjual kopi…?”
“Benar, Bu! Sam bangga sekali memiliki orangtua seperti Ibu! Ibu banting tulang siang malam demi Sam…”
“Sam..” Ibu membelai rambutku yang panjang. Rambutku memang agak gondrong. Soal rambutku ini Ibu tak pernah menyuruhku memotongnya. Malah Ibu pernah bilang ketika rambutku kupangkas agak pendek, “Sam, kalo Ibu perhatikan kamu kok lebih ganteng rambut gondrong…?” Entah Ibu sungguh-sungguh dengan ucapannya waktu itu, atau cuma main-main. Sejak saat itu, aku tak pernah memangkas rambutku jadi pendek.

“Sam…” Ibu kembali menyebut namaku sambil membelai-belai rambutku.
“Ya, Bu…”
“Apa yang Ibu lakukan selama ini, memang sudah menjadi tanggungjawab Ibu. Kamu kan tahu, Bapak kamu itu nggak bertanggung jawab. Dia menelantarkan hidup kita. Kalau bukan Ibu, siapa yang mengurus kamu…”
“Tapi Bu…”
“Sudahlah, Sam. Ibu mampu mengurus kamu tanpa bantuan bapakmu itu. Yang penting, kamu harus terus belajar. Nanti kalau kamu sudah lulus, kita pulang kampung saja. Nanti Ibu akan kembali menetap di sana, dan kamu bisa bekerja. Sebab kalau kamu jadi orang pintar, Ibu yakin kamu akan diterima bekerja di mana saja…”
“Ya, Bu. Sam janji, kalau Sam lulus dan bekerja, Sam akan merawat Ibu…”

Waktu itu kupeluk Ibu erat-erat. Dan tanpa kusadari, ternyata itu adalah pelukan terakhir aku dan Ibu. Karena beberapa minggu kemudian, Ibu berpulang menghadap Sang Maha Pencipta.
Kepergian Ibu seperti sebuah gelegar petir di siang bolong. Aku tersentak ketika temanku mengabarkan, bahwa Ibu tergeletak kaku di dekat meja dagangannya. Langganan ibu yang sedang mengopi di tempat Ibu berjualan, masih menurut temanku, langsung membawa Ibu ke rumah kontrakan. Setelah itu barulah diurus, yang dibantu oleh Pak Kuslan.

Aku tidak tahu kenapa Ibu mendadak meninggal dunia. Barangkali Ibu menyimpan penyakit yang tak pernah kuketahui. Sebab selama ini Ibu tak pernah mengeluh di depanku. Bila di suatu kesempatan kulihat wajahnya memucat, beliau selalu mengatakan baik-baik saja. Aku yakin, Ibu menyimpan penyakit yang sudah teramat parah, namun hanya ia rasakan saja. Ibu tak mau memeriksakan diri ke dokter, karena ia pikir biaya kuliahku yang besar lebih penting. Ibu… (Sungguh, menyadari hal ini airmataku tak bisa berhenti menetes!)

Sebenarnya, bulan depan aku sudah harus mengajak Ibu menghadiri wisudaku. Aku ingin menunjukkan pada Ibu, inilah hasil jerih payahnya selama ini. Anak Ibu menjadi seorang sarjana. Anak seorang penjual kopi di terminal jadi orang pintar. Masih lekat dalam ingatanku, biaya terakhir yang Ibu keluarkan untuk membiayai skripsiku, adalah lebih dari setengah modal dari barang dagangannya. Ibu mengatakan akan meminjam dengan Pak Kuslan, seorang sopir bus yang kudengar pernah menjadi teman Ibu semasa di kampung.
***

Setelah Ibu wafat dan dimakamkan, aku kembali ke kampung dengan gelar sarjana. Selama lima tahun, aku cuma dua kali ziarah ke makam Ibu di Jakarta ini, itu pun hanya saat lebaran. Itu terjadi dua tahun lalu. Sudah setahun ini, aku tak bisa datang berziarah ke makam Ibu. Hal itu menyangkut kesibukan pekerjaan baruku di kantor gubernur. Aku diterima bekerja di pemerintahan sebagai seorang pegawai negeri. Tuhan, seandainya Ibuku masih hidup, pasti beliau akan senang sekali.

Mengingat TPU tempat Ibu dimakamkan, aku jadi terbayang akan kesulitan yang kurasakan beberapa tahun silam, ketika aku kebingungan bagaimana harus memakamkan Ibu. Ini sebuah pelajaran hidup yang bisa kuambil hikmahnya, untuk kujadikan sebagai bekal hidupku dikemudian hari.
Setelah menjabat sebagai salah satu kepala bidang pemerintahan di daerahku, aku menginstruksikan kepada pemuka masyarakat dan para pengembang pemukiman baru, agar mereka memperhatikan Tempat Pemakaman Umum di daerah mereka masing-masing. Dengan didirikannya banyak hunian baru berupa perumahan real estate, kompleks-kompleks RSS (Rumah Sangat Sederhana), biasanya menyediakan berbagai fasilitas. Ada fasilitas olahraga, pusat perbelanjaan, pendidikan, rumah ibadah, dan lain-lain. Lebih-lebih ada sebuah pengembang yang membangun lapangan golf.

Satu hal yang kerap kali terlewatkan oleh mereka adalah, fasilitas pemakaman. Seringkali aku menegur pengembang, mengapa mereka lupa memerhatikan pemakaman? Hal itu kulakukan bukan hanya karena aku mengingat mayit Ibuku ketika meninggal dunia, tetapi coba bayangkan, dimana para penghuni perumahan baru itu dimakamkan jikalau keluarga anggota mereka meninggal dunia, bila tidak menyediakan fasilitas pemakaman? Terutama bagi keluarga yang tidak mampu. Apakah mereka dimakamkan di rumah masing-masing? Atau jangan-jangan -ini tentu cuma guyon- untuk efesiensi lahan mereka dimakamkan dengan posisi berdiri…? Aku khawatir kejadian yang pernah menimpaku ketika mengurus mayit ibuku di ibukota terjadi pada orang lain.

Oh, aku sekarang sudah berada di TPU dimana Ibuku dimakamkan. Lebaran kali ini tidak berbeda dengan biasanya, banyak orang mendatangi makam sanak keluarga mereka untuk berzirah. Aku berjalan menuju ke tempat di mana mayit Ibu ditanam. Sudah hilir mudik hampir tiga kali, aku tak juga menemukan makam Ibu. Apakah aku datang ke pemakaman yang salah? Kurasa tidak. Mendiang Ibu memang dimakamkan disini. Aku masih ingat benar, Ibu dimakamkan di sudut paling belakang tak jauh dari dinding pembatas pemakaman dengan rel kereta api.

Aku memerhatikan nama-nama pada batu nisan. Dan ternyata memang tidak kutemukan nama Ibuku. Jangan-jangan aku memang salah alamat. Tapi, rasanya aku tidak salah. Lebih baik kuhubungi pengurus TPU.
Seorang lelaki yang beberapa tahun kutemui, lelaki ramah yang murah senyum, segera kusapa.
“Saya mencari makam…” aku menyebutkan nama almarhumah, sekaligus mengingatkan si pengurus makam tentang siapa aku sebenarnya.

Lelaki itu nampak mengingat-ingat. Setelah memerhatianku dengan seksama, sepertinya dia ingat siapa lelaki muda yang dulu tak henti-hentinya mengeluarkan airmata di dekat makam ibunya.
“Maaf, Nak. Karena masalah administrasi, makam Ibu kamu telah kami satukan dengan makam lain yang baru…”
“Maksud Bapak…?”
“Mungkin kamu lupa pada peraturan di TPU ini? Kalau terlambat membayar iuran tahunan selama dua tahun berturut-turut, maka pihak TPU berhak menggantikan makam itu dengan makam baru…”

Mendengar kata-kata si pengurus makam, sesaat aku terdiam seperti patung Jenderal Sudirman yang berdiri tegak diapit gedung-gedung menjulang. Kini semakin kusadari, betapa mahalnya ongkos hidup di kota besar seperti Jakarta, hingga manusia yang sudah meninggal dunia pun meninggalkan beban biaya hidup.

Setelah mendengar penjelasan si pengurus TPU, aku segera membayar hutang makam Ibu yang belum dibayar. Meski lelaki baik itu menolak, aku tetap memaksa agar ia mau menerima uang pemberianku. Aku berharap, semoga almarhumah Ibuku tidak memiliki beban hutang setelah ia meninggal dunia. Dan aku pun selalu berdoa, semoga Ibu memiliki rumah yang lebih besar dan indah di kehidupan selanjutnya, tanpa harus menyewa seperti di TPU yang sempit dan kecil ini.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here