Tidak Bisa Bahasa Inggris – Cerita Humor

0
64

Cerita ini terjadi ketika aku masih kelas 2 Madrasah Tsanawiyah, sekitar tahun 2014. Saat itu paman dan bibiku sedang mempersiapkan diri untuk berangkat Haji. Sedangkan aku sedang mempersiapkan diri untuk menghadapi lomba fahmil quran mewakili sekolah.
Sebelum bibi dan paman berangkat ke Tanah Suci, aku dan Ibu berkunjung ke rumah mereka.

Kami mengobrol banyak hal dan salah satunya tentang oleh-oleh. Aku dengan polosnya meminta dibelikan Al-Quran cetakan Arab yang ada terjemahan bahasa Inggrisnya. Selain itu aku juga minta tasbih dan kurma Ajwa. Bibi hanya mengiyakan tanpa menanyakan tentang barang-barang yang aku minta itu. Ibu sedikit mencubitku karena merasa apa yang kuminta terlalu banyak dan takut merepotkan bibi. Tapi bibi terlihat santai saja dan tampak senang ketika keponakannya minta dibelikan Al-Quran. Aku yakin dia bangga, karena keponakannya minta dibelikan hal yang tidak biasa. Meskipun hanya perasaanku saja tetapi aku cukup percaya diri ketika itu hehehe.

Setelah selesai berbincang-bincang, kami pamit pulang. Aku tidak yakin bibi maupun paman ingat apa yang aku pesan, tapi semoga saja dengan niat baik Allah memudahkan itu. Tapi ketika mengantarkan mereka ke asrama Haji aku sempat mengingatkannya.

Aku bertanya, “bibi ingat enggak kemarin aku pesan apa?”
Dia menjawab, “kurma sama tasbih kan?”
Ternyata keputusanku untuk mengingatkannya adalah hal yang tepat.
“Alquran terjemahannya jangan lupa,” kataku.

Bibi pun mengangguk.

Singkat cerita, bibi dan paman pun pulang dari Mekkah dengan selamat. Aku dan Ibu menunggu di rumahnya untuk menyambut kedatangan mereka. Mereka sampai di rumah pukul 9 malam. Dan Ibu sudah berpesan agar jangan dulu menanyakan oleh-oleh.
“Nanti jangan aneh-aneh ya, Bibi sama Paman capek abis perjalanan jauh. Besok lagi tanya oleh-olehnya,” kata Ibu.
Aku pun mengiyakan meskipun sangat bersemangat ingin menanyakannya.

Sesampainya di rumah, mereka disambut para kerabat dan keluarga termasuk aku dan Ibu serta bapak. Mereka berpelukan sambil menangis haru. Aku rasa apa yang mereka lakukan sedikit berlebihan, harusnya kan mereka bergembira karena akhirnya keluarganya ada yang naik Haji, pikiranku kala itu. Tidak lupa, aku juga salim dan yang membuatku terkejut adalah pipiku dicium paman, hal yang agak risih tapi juga mengharukan. Aku bingung ingin menangis tapi malu.

Seusai kepulangan bibi dan paman, Ibu tidak pernah mengajakku ke rumah mereka lagi. Selang beberapa hari bapak pulang dari pasar dengan membawa tas kecil berisi tasbih, kurma, air zamzam dan yang paling kutunggu-tunggu adalah Alquran dengan terjemahan bahasa Inggris. Aku yang tidak sabar pun langsung meminta tas itu dan segera membukanya. Semacam unboxing oleh-oleh haji tapi dengan cara yang grasak-grusuk.

Ketika melihat Alquran itu aku diam sejenak. Aku mencoba membaca tulisan di covernya. Tampak seperti bahasa asing, tapi ini bukan bahasa Inggris pikirku. Setelah kubuka, berbekal kemampuanku membaca tulisan arab gundul aku akhirnya tahu, kalau bibi dan paman telah keliru membelikan aku Alquran terjemahan. Karena yang ia belikan adalah Alquran terjemahan bahasa Albania.

“Kok bahasa Albania?” tanyaku.

“Lho, itu bukannya bahasa Inggris?”

Setelah diklarifikasi, rupa-rupanya bibi dan paman tidak paham dengan bahasa Inggris sama sekali, sehingga ketika melihat ada tulisan dengan susunan huruf yang asing dikira bahasa Inggris. Aku kecewa sekaligus ingin tertawa. Dan demi menghargai pemberian bibi dan paman, aku menyimpannya sampai sekarang aku kuliah. Kalau saja nanti aku tertarik belajar bahasa lain mungkin bahasa Albania cukup menarik. Dan karena tidak dapat Alquran terjemahan bahasa Inggris, aku akhirnya membeli Alquran dengan terjemahan bahasa Indonesia untuk persiapan lomba fahmil quran.


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here