Puisi Jiwa

1
144

Misteri Langit

Jiwa hampa mengembara
Menelisik sisi langit
Mengiba pada pujangga ‘iliyyin,
dengan tinta apa kuraih surga?
Lalu bertanya pada penjaga sijjin,
dengan air mata apa kuhapus dosa?

Tanah Karta, 5 Maret 2021

Di Samping Kayu Pusara

Gadis kecil bersimbah peluh
Kaki lunglainya lemah bersimpuh
Di dalam hati yang tak ternoda
tergores luka basah yang masih merah

Dalam bulir air matanya
Tersimpan tanya
Tentang apa sebenarnya yang terjadi
Mungkin ia belum sepenuhnya mengerti

Ia hanya tau
Separuh jiwanya tak bisa lagi disapa

Ia gadis yang dirundung kesah
Orang-orang menatap resah
Tiada tau cara obati luka basah

Gadis kecil dihuyung rindu
Bahunya retak-retak terdepak lara
Wajahnya menghitam diterpa jelaga
Gadis sekecil itu coba meramu rasa

Sang gadis masih meratap
Menatap kayu pusara yang menancap
Tangan ringkihnya gemetar meraba masa
yang tiba-tiba tiada tanpa aba-aba

Ia coba kumpulkan puing hati
Mencoba memahami apa yang terjadi
Lalu berkata
“Adikku sudah di Syurga”

Kartasura, 2 Juni 2020

Kelakar tanpa Ingar: Engkau

Aku tidak tuli. Aku adalah
orang yang mampu berdamai
dengan sunyi.

Aku bukan tak bisa
mendengar. Aku manusia
yang memahami kelakar
meski tanpa hingar.

Aku bukan tak bisa
menyapa. Aku adalah
manusia yang mampu
bersua tanpa kata.

Tanah Karta, 5 Agustus 2021

Penulis: Iffah Diharja


1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here