Pedang Cahaya

1
111

Denting gelang hiyang berpadu sedu-sedan Nara. Sukma gadis berwajah bulat telur itu seakan-akan menguap ke alam patilarahan. Kakinya pun serasa tiada menjejak bumi lagi, meski raga masih terpancang beku, dipaku desau mamang balian jaya.

Malam itu, angin di gunung, angin di lembah, serta segala angin dari empat penjuru arah, terasa mendesing, mengepung, terpilin beriring paduan suara tabuhan gendang kulit menjangan dan gemerincing gelang hiyang. Semuanya bersatu padu menyapu tubuh gadis jelita bermata sipit itu. Berupaya meluluhlantakkan jiwa beningnya, membius rasa, dan menyeretnya untuk membuang logika. Menyuarakan apa yang diinginkan roh nini datu.

Tidak. Batin Nara menjerit. Peluh membanjiri tubuh gemetarnya. Batinnya bertarung melawan desakan halusinasi bisik yang menguasai lidahnya hingga bergetar liar, digantungi perintah menyuarakan ketundukan.

Tangan Damang Kincay terulur menyentuh lunak ubun-ubun cucunya. Sekilas, ia melihat kilat bayang putrinya yang telah lama meninggal akibat perdarahan pascapersalinan. Duka lara menyelisik ke bilik hatinya, mengiris hingga membusai perih di mata. Setetes bening terbit di ujung-ujung matanya.

Sang kakek sempat terhuyung dalam lamunan. Namun, hanya sekedipan mata, ia tersentak oleh denting gelang hiyang Balian Danum, yang bertugas mengingatkan. Damang Kincay kembali memusatkan perhatian.

Hawa gaib meresap lewat jemari sang balian, menembus kulit kepala Nara. Kekuatan itu menyelinap lewat rengkahan tulang tengkorak, lalu merembesi pori-pori lapisan pelindung otak, dan mentransfer sinyal yang menjelmakan bisikan melumpuhkan. Tangan tak kasatmata memaksa serabut saraf meletikkan impuls untuk menerjemahkan ketundukan atas kehendak roh leluhur.

Tekanan itu semakin menguat.

Endapan rasa di jiwa Nara, terurai. Terbongkar. Melayang. Mengapung ke permukaan. Menutupi dua pertiga kesadarannya.

“Jawablah, Cu.” Suara Damang Kincay lembut membujuk.

Iya, Awat. Aku bersedia.

Kalimat itu telah berada di ujung lidah Nara. Namun, sepertiga bagian kalbunya meneriakkan kesalahan. Ini tidak semestinya. Ada sesuatu yang ganjil. Menggelisahkan. Untungnya, jauh di ujung sana, ada sudut hati yang terlewat dibungkus gelap. Meski redup, samar cahaya masih tertangkap.

Demi Allah, Zat yang jiwaku dalam genggaman-Nya. Ya Allah, perkuatlah cengkeraman-Mu. Jangan biarkan kuasa kegelapan mengaburkan nalarku.

Senyum Damang Kincay terurai meriah bak anggrek bulan. Diamnya Nara sudah cukup sebagai jawaban. Ia menarik tangan dari ubun-ubun sang cucu. Gelang hiyang di pergelangannya berdenting pelan.

“Karena dua umbun telah bersepakat. Dan tiada hambatan kecocokan di antara kedua belah pihak. Maka tradisi perkawinan dipersingkat. Aku, selaku damang merangkap pengulu adat, sekaligus wakil keluarga Nara, memutuskan dengan berbagai pertimbangan, untuk meresmikan perkawinan adat di balai malam ini jua!” Suara Damang Kincay terdengar penuh keyakinan. Dadanya membusung terkembang, seolah-olah nyaris meledak oleh kebahagiaan.

Kalimat sang damang disambut gemuruh sorak gembira para tamu. Seisi balai bergetar nyaris runtuh. Beberapa tamu asing maju, meminta izin menjepretkan kamera ke arah paras jelita cucu kepala suku.

Bubuhan balai, kerabat Nara, berseri-seri pula. Gendang ditabuh gencar, disusul lincah gerak para balian yang kembali menggelar tandik.

Jantung Nara berdegup sekencang tabuhan gendang. Keringat semakin deras membasahkan kerudung dan jilbabnya. Mukanya pucat pasi, urat-urat tubuhnya seolah dilolosi. Lemas. Getar dingin merambat dari dada hingga ke ruas-ruas jari. Bening bola mata sipitnya yang dinaungi bulu mata lentik, berputar meliar dan beberapa kali mengerjap cepat. Sepasang jemarinya bertaut, diremas-remas. Basah oleh keringat dingin.

Kuasa aneh mencengkeram jiwanya, melemahkan jantung, dan merusak pengendalian otaknya. Mamang para balian, tabuhan gendang dan denting gelang hiyang, menguarkan hawa mistis yang menyelubungi pamatang. Mengguncang kesadarannya. Nara kian gemetar. Panik.

Kenangan itu melintas sekilat petir menyambar.

Langit mendung. Hujan tumpah. Sungai menderas banjir. Guntur menggelegar bersahutan. Jembatan lapuk. Salah injak. Jatuh. Ia akan jatuh. Jatuh dari ketinggian lalu tercebur ke banjirnya Sungai Amandit dengan kederasan menggila, yang sukar dilawan oleh perenang paling jago di dusunnya sekalipun.

Nara merasa terbuang ke Sungai Amandit, pada alam bawah sadar. Dalam jatuhnya, ia menggapai-gapai sepertiga kesadarannya. Memanggil kebiasaan yang telah tujuh tahun mengaliri arus darahnya setiap lima waktu. Ya, ia rutin menjalankan itu tiap habis sholat. Menurut penjelasan Ustaz Salman, Allah akan melapisi manusia dengan benteng pelindung yang tidak hanya menangkal, tapi juga menghanguskan keburukan, melalui amalan itu. Sebenarnya tak apa hanya dibaca bakda Subuh dan Maghrib. Akan tetapi, Nara suka membacanya di lima waktu sholat fardhu.

Tak perlu berpikir. Ayat-ayat itu langsung bersinar dalam benak Nara. Bak pedang cahaya membelah kegelapan, melesat ke ujung lidahnya. Mengambil alih kendali gaib yang membekukan lidah itu.

“Allahula ilaaha ila huwal hayyul qoyyuum …. ”

Usai melantunkan baris awal Ayat Kursi, Nara tersentak bagaikan terbangun dari mimpi menakutkan. Seakan ada duri tercerabut dari jantungnya. Selanjutnya, lidahnya pun lancar melafazkan lanjutan ayat suci pamungkas, penangkal pengaruh gaib itu.

Kesadarannya terpanggil sempurna. Benaknya terang-benderang oleh keyakinan. Ia kembali berpijak ke realitas. Meski masih gemetar, tetapi nyali telah tertanam kembali di dada.

Ia berdiri perlahan, lalu menebar pandang ke semua orang. Sikapnya serius dan fokus. Tangan yang basah keringat dikepal kuat. Ia adalah Nara. Gadis yang sejak lahir tak pernah kenal ayah ibu. Kenyang dicerca dan dipandang sebelah mata. Apalagi semenjak memutuskan melanjutkan kuliah jauh di mata keluarga. Namun, ada satu hal yang kuat digenggamnya. Ia punya prinsip, keyakinan dan cita-cita. Lebih berharga daripada nyawa.

Damang Kincay melihat Nara. Lalu, diangkatnya tangan sebagai isyarat agar musik dan tarian dihentikan.

Sekejap lengang ruangan itu. Entah mengapa, semua yang hadir bungkam dan terlempar dalam ketegangan. Perhatian mereka tertancap pada gadis belia di pusat balai.

“Awat, aku tidak bisa memenuhi harapan pian! Aku menolak perjodohan ini!”

Sunyi. Tak terdengar sahutan siapa pun. Bahkan angin pun mati, enggan menimbulkan bunyi. Semua orang terperanjat. Gadis muda itu telah berani melanggar ketentuan damang yang mereka segani di hadapan seluruh tamu. Damang yang kesaktian ilmu baliannya menggetarkan bumi, mengguncang langit. Pendekar Dayak yang lihai kuntau dan terampil ilmu mandau dengan kekuatan tak terduga, menakutkan lawan-lawannya. Kemampuan sang damang memimpin dan kebijaksanaannya pun tak diragukan lagi. Tak sebait pun ada yang berani membantah, jika damang sakti ini berkehendak. Maka itulah, sungguh membuat darah tersirap, melihat kenekatan seorang gadis remaja, melawan kehendak sang kepala suku, yang notabene adalah kakeknya sendiri.

Damang Kincay hampir tak kuasa bernapas. Mata tuanya yang mulai katarak, terbelalak. Darah di bawah kulit wajahnya tersedot arus kekagetan. Pucat. Sang damang meriang dan gemetar. Pembuluh jantungnya menyempit. Nyeri berpilin di dada kiri, membuatnya meringis.

Nenek Lamiang, sang pinjulang, didera rasa terkejut yang sama. Refleks ia menghambur ke hadapan Nara. Bertepatan dengan gerakannya, tubuh Damang Kincay mendadak oleng.

Balian Sanja meloncat sigap, menyambut tubuh lemah pemimpinnya. Ia terperangah, menemukan Damang Kincay telah hilang kesadaran.

“Lihatlah akibat penolakanmu!” Pinjulang Lamiang berseru murka pada Nara dengan tatapan mencorong tajam. “Hantu-hantu di hutan ibukota, agaknya telah merasuki pikiranmu!” tudingnya gemas. “Anak tak tahu diuntung! Lahirmu saja harus dengan tumbal nyawa ibumu! Susah payah kami merawatmu. Dan kini, balasanmu adalah membikin malu!”

Sang pinjulang tampaknya tak kuasa mengendalikan emosi lagi. Para umbun yang menyaksikan, diam-diam berpikir, agaknya kemarahan arwah leluhur ikut merasuk ke dalam diri sang pinjulang yang biasanya lebih banyak bertindak sebagai pengamat dan pembantu balian ini.

Jantung Nara serasa ditikam mandau berkali-kali. Tubuhnya langsung lunglai, lalu jatuh terduduk. Menggigil. Terguncang. Air matanya pun berderai tak bisa ditahan-tahan. Tangisan itu bukanlah wujud rasa bersalah menolak kehendak kakeknya, hingga sang kakek terserang nyeri dada. Melainkan karena rasa syukur telah terlepas dari cengkeraman kekuatan hitam, berkat pertolongan Allah Sang Maha Gaib. Pengaruh hitam itu mulanya hendak ditanamkan ke benaknya, agar ia tunduk dinikahkan, sehingga terikat adat selamanya.

Setitik pun Nara tak menyesali keputusannya, meskipun hingga detik ini, umbun balai tak mendukung jalan hidup yang telah dipilihnya. Jalan itu, sebuah pembebasan hakiki, yang memerdekakan sukma raganya dari penghambaan kepada makhluk menuju penghambaan kepada Allah Sang Maha Gaib.

Resiko apa pun, kini ditantangnya dengan kepala tegak berbekal pedang cahaya ilahi.

***
Tamat
Kandangan, Kalsel, 27.09.2021

Kosakata bahasa Dayak Meratus (Loksado):
Hiyang = dewa
Patilarahan = alam supra natural
Mamang balian jaya = mantra dukun utama
Nini datu = leluhur
Damang = kepala suku
Balian = dukun
Awat = kakek
Umbun = kepala keluarga
Pian = kamu (halus)
Pengulu Adat = pemimpin upacara adat
Balai = rumah adat Dayak Meratus
Bubuhan balai = warga rumah adat
Tandik = lompat, tarian lompat
Pamatang = ruang upacara/pemujaan
Pinjulang = wanita yang bertugas membantu balian

***
Tamat
Kandangan, Kalsel, November 2022

Bionarasi penulis:
Eva Liana. Novelis. Domisili di Kandangan, Kal-Sel. Penyuka fiksi historis dan pecandu kopi. Suka menulis sejak sekolah menengah. Telah menerbitkan 14 novel dan 15 antologi opini, puisi, dan cerpen. Penulis online di Wattpad, Storial, dan KBM App. Sangat menyukai diskusi literasi. Bisa dihubungi di WA 083125456101

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here